-

Rusmannulis

Kamis, 20 Mei 2021

SAAT BRANDAL LOKAJAYA TERDAMPAR DI TEMBOK ISTANA (1)

Oleh: Rus Rusman







ORANG menyebutnya sebagai alas Jatiwangi, tak lain adalah hutan yang selalu berwajah gelap meskipun di luar mentari sedang terang benderang. Ini adalah rimba raya yang membentang luas dan memanjang dari barat ke timur memagari pegunungan kapur laut Utara.


Diawali dari belantara gunung Kajar (selatan Lasem) menuju arah timur dan berujung pada kawasan yang ditumbuhi pohon raksasa anggondo Arum (berbahu harum). Sekarang termasuk wilayah Desa Wangi Kec. Jatirogo.


Siang itu surya sudah lama melewati puncaknya, ketika dari sebuah hutan terdengar seekor harimau mengaum keras. Sesaat kemudian hutan itu menjadi sunyi, celoteh kera dan burung-burungpun lenyap. Dan seekor kijang menjerit di bawah dekapan sang raja hutan.


Pada zaman Majapahit alas Jatiwangi memang dikenal sebagai hutan yang angker, gawat kaliwat liwat. Belantara gung liwang-liwung bebasan jalma mara jalma mati, sato saba tan angukubi.


Bukan sekedar *gugon tuhon* jika kawasan ini telah lama menjadi asrama jin setan bekasakan, 

sebuah tempat yang penuh misteri mirip kerajaannya para lelembut. Di samping itu juga sebagai markasnya sekelompok orang sakti yang dikenal sebagai brandal lokajaya.


Bahkan di dalamnya ada kawasan yang disebut *alas ngandhang,* (5 km ke arah barat Kec. Sale) yang dipercaya orang sebagai markas atau ngandhangnya gerombolan yang dipimpin oleh Raden Syaid itu.


Pendek kata hutan Jatiwangi adalah  *Sinagog setan*-nya pulau Jawa, mirip tempat tinggal 200 kaum kathar dan sekaligus tempat orang bidat/sesat itu pati obong di Eropa (kompas.com, 15 tempat misterius di dunia, tgl. 11 Maret 2020).


                ***


HARI MULAI gelap ketika pasukan kecil Kadipaten Tuban beristirahat di pinggiran hutan. Agaknya langit sedang berhias rembulan, memancar redup tersembul di atas laut utara. 


Nampak awanpun berhembus, ada kalanya tebal memutih namun sebentar kemudian menipis bagaikan kapas tertiup angin. Suara binatang malam kadang-kadang terdengar sayup dari kejauhan, menambah suasana keangkeran hutan Jatiwangi di sekitar tahun 1455 M ini.


Para prajurit Tuban itu telah tertidur, melepaskan lelah setelah seharian bertugas mendampingi tentara Majapahit mencari warga Tuban para pembangkang pajak.


Agak jauh dari mereka nampak dua orang laki-laki sedang berbincang dengan serius. Rupanya salah satu di antara mereka adalah Raden Syaid putra Tuban yang telah ditugaskan oleh Ayahanda Wilatikta menemani tentara kerajaan itu.


"Angger Mas Syaid, aku adalah pemomongmu sejak anak mas masih kecil. Kalau hari ini angger menolak untuk kembali ke ayahanda, sama saja angger tidak mempercayai paman lagi. Bukankah aku yang ditugaskan Gusti Tumenggung untuk mendampingimu?"


Sesaat Raden Syaid terdiam. Lalu katanya:


"Baik paman Aji, kali ini sebagai hormatku kepada paman dan juga rasa tanggung jawabku aku akan mengikuti saran paman. "


Betapa gembiranya orang yang dipanggil paman Aji itu. Maka rasa senangnya pada putra Adipati Tuban itu semakin bertambah. 


"Tapi ingat paman, jika ayahanda memaksaku untuk menghadap ke kotaraja aku pasti akan menolaknya."


"Mudah-mudahan Gusti Tumenggung tidak memaksamu, ngger."


"Bukan karena aku takut menghadapi hukuman, paman. Tapi karena aku sudah berjanji tidak akan ke ibukota jika mereka masih membebani pajak yang tinggi kepada rakyat kecil."


Paman Aji mengangguk-angguk. Katanya kemudian :


"Itulah sulitnya, ngger. Sebenarnya aku sependapat dengan angger. Tetapi kenyataan bahwa angger termasuk bagian dari para perusuh itu agaknya yang menambah Gusti Tumenggung sulit bersikap. Apalagi beberapa prajurit ibukota telah terluka akibat kejadian itu."


Kembali anak muda itu terlempar dalam kebisuan. Beberapa saat kemudian iapun menyahut:


"Baiklah paman, mari kita beristirahat. Besuk kita berharap bisa menghadap ayah lebih awal."

Selasa, 18 Mei 2021

SYEH MALAYA MENCARI JATI DIRI

(lakon Wayang Dewa Ruci) 

Oleh: Rus Rusman







Syeh Malaya


KETURUNAN ke-14 *Sunan Kalijaga,* Ny. R.Ay. Supartini Mursidi, suatu malam di tahun 1990, didatangi oleh seorang ulama dari wilayah Demak. Ulama yang bernama Muhammad Khafid Kasri ini mengaku telah mendapat petunjuk gaib tentang keberadaan sebuah buku kuno.


"Apakah ibu menyimpan kitab kuno peninggalan leluhur?" tanya ulama itu kepada pemilik rumah.


Ternyata Ny. Supartini menjawab *tidak*. Tentu saja Kyai Khafid Kasri sedikit heran. 


"Tapi, apakah ibu menyimpan *azimad* yang dibungkus kain putih peninggalan orang tua?" tanyanya lagi agak meninggi. 


Dan kali ini wanita itu menjawab: *ya!*


Legalah hati sang ulama mendengar jawaban itu.  Maka atas seijin pemiliknya azimad itu dibuka. Ternyata isinya adalah lembaran-lembaran kertas dari kulit hewan bertuliskan Arab gundul berbahasa Jawa.


Atas seijin pemiliknya pula isi kitab itu ditransliterasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan menjadi sebuah buku yang diterbitkan Balai Pustaka (1993) dengan judul: *Suluk Linglung Sunan Kalijaga (Syekh Malaya)*


Uraian di atas adalah sekilas cerita dari seorang Mahasiswa UIN Semarang, *Sendi Satriyo Munif* dalam Skripsinya yang berjudul: "Corak Monoteisme Sunan Kalijaga Dalam SULUK Linglung" (2015).


Judul Suluk Linglung itu konon dipilih sendiri oleh sang sunan. Begitu pula dengan isinya. Ditulis dengan tinta China dan terdiri dari tiga bab. 


Bab I berisi tentang kisah beliau saat masih belajar awal tentang Agama Islam. Bab II saat beliau merasa bingung atau *LINGLUNG* karena beberapa pertanyaannya tidak terjawab oleh gurunya. Dan Bab III berisi tentang wejangan Nabi Khidir yang menghadang perjalanannya saat berlayar menuju Mekah.


Suluk Linglung merupakan karya sastra tingkat tinggi yang terdiri dari 91 bait yang pada intinya bercerita tentang kerinduan sang sunan akan ilmu agama. Syeh Malaya bagaikan orang yang baru bangun dari tidur.


Setelah sekian lama ia terkungkung oleh lebatnya hutan *jati wangi* sebagai *berandal lokajaya,* dan yang ada hanya membunuh atau dibunuh.


Kini berkat sentuhan kata Sunan Bonang, berandal itu seperti ingin membuktikan diri bahwa ia telah berubah. Ia ingin mencari jati diri.


*Man arafa nafsahu Faqad arafa Rabbahu*


(Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhan-nya)


Maka berpetuanglah kemudian Syeh Malaya dari satu guru ke guru lainnya. Atas ijin Sunan Bonang, sosok yang dulu bernama Raden Syaid itu kemudian *nyecep ngelmu* ke Sunan Ampel, Maulana Ishaq, dan beberapa guru lain di Malaka dan Pasai.


Puncaknya Tuhan mempertemukan ia dengan Nabi Khidir yang telah *mangejawantah* sebagai anak kecil. Betapa herannya saat itu ketika perjalanan nya ke tanah suci tiba-tiba harus terdampar oleh omongan anak bajang yang seenaknya memintanya pulang ke Jawa.


"Kembalilah kalau tak ingin pengikutmu di Jawa kembali menjadi kafir Semua."


Saat itu Syeh Malaya  lagi-lagi dibuat heran ketika anak kecil di depannya itu tiba-tiba menyuruh masuk ke dalam wadahnya melalui telinga.


Dan saat dirinya mengalami keraguan atas perintah itu, sekonyong-konyong ia bagaikan terhipnotis dan tersedot oleh kekuatan magnet yang sangat kuat.


Maka selagi dirinya berada dalam batas alam sadar dan tidak sadar itu, Syeh Malaya menyaksikan cahaya yang beraneka ragam, ada yang berwarna merah, kuning, hitam, dan putih yang semuanya merupakan pencerminan wujud kejiwaan manusia.


Wejangan ngelmu dari Nabi Khidir yang *sarira bajang* inilah yang konon mengilhami Sunan Kalijaga untuk menciptakan lakon wayang *Dewa Ruci,* di mana ia mengumpakan diri sebagai *Bima* yang memperoleh air perwita sari atau *iman Hidayat* yang sangat ia rindukan.


Wallahu a'lam.


Demikian, semoga bermanfaat.


Tasikmadu,  April 2021.

PRABU HAYAM WURUK

*- Tan Hana Dharma Mangrwa -*


Oleh: Rus Rusman



SEPERTI halnya mentari yang selalu hadir menyinari bumi, atau bulan yang senantiasa berputar di garis orbitnya, maka sang waktupun terus bergulir bagaikan roda yang tak pernah berhenti. 


Dan Tuhan Yang Maha Adil itupun telah menganugerahkan orang-orang hebat dan tangguh pada setiap fase zaman dan di berbagai belahan bumi.


Tak terkecuali di bumi Nuswantara yang konon pada abad ke-14 telah terlahir seorang bayi tampan putra dari pangeran Cakradara dan Ratu Tribuana Tunggadewi.


Seorang anak manusia yang tumbuh dan berkembang di lingkungan kerajaan dan kelak menjelma menjadi rembulan yang sinarnya menyejukkan seluruh negeri.


"Dia seperti Sang Hyang Satamayu yang menghapus duka seluruh rakyat, seperti Sang Hyang Bayu yang melindungi jagad, dan seperti Sang Hyang Pertiwi yang memakmurkan negeri. Maka lengkaplah dia bagaikan rembulan," begitu tulis Mpu Prapanca dalam pupuh 7 Kakawin Negara Kertagama (Damaika dkk., 2018: 36).


RAJA YANG BIJAKSANA


Untuk siapa sesungguhnya Prapanca itu menyanjung? Tiada lain adalah untuk ratu gustinya, ialah *Maharaja Prabu Hayam Wuruk* yang memerintah Majapahit dari tahun 1351-1389 M.


"Rin wighnotsarana prayoga yamaraja sira makaphalan jagaddhita." (Dialah Dewa Yama yang menghapus rintangan dan penghalang dengan penuh bijaksana).


"Hentyan durjjana maryya buddhi kala kewala matakut i wiryya san prabhu". (Para durjanapun berhenti berbuat buruk karena takut pada keperkasaan sang raja).


Demikianlah tak henti-hentinya Sang Pujangga mengelu-elukan kelebihan Prabu Sri Rajasanegara, dan kiranya hal itu tidaklah berlebihan apabila kita membaca sejarah kebesaran negeri Wilwatikta itu. 


Konon raja muda inilah yang berhasil mengibarkan bendera negerinya, terbang laksana burung garuda. Di bawah kepemimpinannya wilayah kekuasaan Majapahit terbentang luas melebihi wilayah Nuswantara saat ini. 


Bersama sang Gajahmada, Hayam Wuruk telah mampu menancapkan kakinya tak hanya di bumi Nuswantara, melainkan hingga ke negeri Tumasek (Singapura), Brunai, dan Serawak (Malaysia).


SIAPAKAH sesungguhnya Prabu Hayam Wuruk itu? Dari jalur ibu telah jelas ia putra Tribuwana Tunggadewi, cucu Raden Wijaya dan cucu buyut Prabu Kertanegara Singosari.


Dari jalur ayah ia adalah putra Pangeran Cakradara. Lalu siapa Cakradara itu? Dalam Babad Tabanan (Bali) disebut sebagai putra sulung Dara Jingga. Adiknya yang juga terkenal di antaranya adalah Adityawarman dan Arya Kenceng (raja Tabanan I).


HAYAM WURUK LAHIR pada tahun 1334 M bersamaan dengan gempa bumi hebat dan meletusnya Gunung Kelud. Saat itu sang ibu sebelum melakukan cuti panjang telah melantik Gajahmada menjadi Patih Hamangkubumi. 


Dan Mahapatih baru itupun menyatakan kesetiaannya dengan sumpahnya yang amat terkenal *Tan Amukti Palapa*.


Bunyi sumpah itu ada dalam Kitab Pararaton : "Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa."


Artinya, "Jika telah mengalahkan Nuswantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, *Tumasik,* demikian saya (baru akan) melepaskan puasa."


Nama Hayam Wuruk mengandung arti *ayam yang terpelajar*. Ayam adalah hewan yang lincah dan produktif, sedang terpelajar bermakna cerdas dan baik hati.


Kecerdasan itu terbukti dengan ia ciptakan semboyan *Bhineka Tunggal Ika* yang ia sampaikan lewat kitab Sutasoma Pupuh 139 bait 5 karangan Mpu Tantular (keponakan sendiri).


Luar biasa, bangga memiliki leluhur Hayam Wuruk, di abad ke-14 manajemen pluralisme kebangsaan telah diterapkannya dengan sangat baik.


Dalam usia yang sangat muda ia mampu merajut kebhinekaan justru menjadi nilai kekayaan dan persatuan bangsa.

Sebagai pengayom rakyat ia telah membuktikan dengan seringnya hadir ke tengah *kawula alit.*


Dalam naskah terjemahan Theodor Pigeaud, *“Java in the 14th Century. A Study in Cultural History”*, 5 vols., The Hague 1960-1963 digambarkan bahwa Hayam Wuruk senang melakukan kunjungan-kunjungan.


Setiap tahun di “akhir musim dingin” atau sehabis panen, Sri Rajasanagara pergi menggunakan pedati yang ditarik sapi, diiringi rombongan besar. Setidaknya tercatat ada kunjungan Pajang (1353), Lasem (1354), Lodaya (1357), Lumajang (1359), Tirib Sompur (1360), Palah Blitar (1361), dan Simping (1363).


Sementara itu Tim kajian yang dimotori olehDaud Aris Tanudirjo, dkk ., Yayasan Djojohadikoesoemo, 2014, menghasilkan karya yang berjudul *Inspirasi Majapahit*.


Diuraikan di situ bahwa perjalanan ini membutuhkan energi, waktu dan biaya yang besar. Rombongan disertai para pejabat tinggi termasuk para penguasa daerah yang tinggal di ibukota beserta 

istri (para Bre). Kereta pedati sekitar 400 dan diiringi pejalan kaki, ada yang naik gajah dan naik kuda. 


Sering melewati ratusan desa yang mencakup kawasan ribuan mil persegi. Tidak heran jika waktu yang dibutuhkan hingga dua bulan lebih. Tapi bagi sang raja kebijakan ini dilakukan tentu memiliki arti yang sangat penting, demikian juga bagi rakyatnya.


TAN HANA DHARMA MANGRWA


SALAH SATU kunjungan yang menarik seperti yang diceritakan *Ichdiana Sarah Dhiba* seorang Pamong Budaya Jawa Timur. Ringkasnya adalah saat sang raja melakukan tetirah ke Lembah Bromo. Ia sengaja bermalam di Madakaripura, sebuah kawasan air terjun yang kemudian ia hadiahkan kepada Mahapatih Gajah Mada. Dilanjutkan menuju ke selatan, menyusuri pantai selatan ke arah timur dan bermalam di Patunjungan.


Rombongan meneruskan ke Rawa Kopek untuk menikmati telaga yang berdampingan dengan laut itu. Dilanjutkan ke daerah *Sadeng* (Jember) dan menginap beberapa hari di sana.


Dari Sadeng berlanjut ke utara melewati Pakambangan dan menuju wilayah Patukangan dan *Keta* (Situbondo) dan menginap juga. Rakyat sekitar begitu bersemangat dan mengelu-elukan sang raja dan rombongannya.


Mengingat Sadeng dan Keta pernah mbalelo dan ditaklukkan ibunda Tribuwana, maka bisa dimaknai ini adalah perjalanan politik meskipun dikemas seperti kegiatan wisata.


ACARA LAIN yang sangat mengagumkan adalah saat baginda mengadakan pesta *Srada* untuk memperingati 12 tahun wafatnya sang nenek (Dyah Gayatri). Upacara keagamaan yang berlangsung selama tujuh hari (1363 M) di Bayalangu diakhiri dengan pesta besar-besaran. 


Pada Pupuh ke-65 dan 66 Negarakertagama, Mpu Prapanca menceritakan kemeriahan itu secara sempurna.


"purnnamakala ... ghurnnan kahala canka len padaha ganjaran i harp acankya mandulur, rin sinhasana cobhitaruhur/ manusa kahananiran/ winursita." (Kala purnama arca dikeluarkan disambut gemuruh dengung salung, tambur, terompet serta genderang. Arca didudukkan di atas singgasana, besarnya setinggi orang berdiri).


Dalam pesta itu semua Adipati hadir, tak ketinggalan sang Baginda sendiri, ibunda Tribuwana dan Mahapatih Gajahmada. Di hari terakhir diadakan karnaval para Nayaka dan semua seni hiburan rakyat tumpah ruah.


Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-desak, Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta para luhur, Sri Nata menari di balai witana khusus untuk para puteri dan para istri.


Hidangan jamuan kepada pembesar, abdi dan niaga dan penonton yang lain mengalir bagai air. Baginda raja pada hari yang ketujuh, menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan makanan, Luas merata kepada empat kasta


Agaknya ada pembagian tugas besar antara Sang Raja dengan Mahapatihnya. Hayam Wuruk lebih berkonsentrasi pada pulau Jawa sedang Gajahmada lebih mengarah pada pemersatuan Nuswantara.


Inilah wujud nyata dari prinsip persatuan yang dicetuskan dalam Kitab Sutasoma, yakni *"Bhineka Tunggal Ika -  Tan Hana Dharma Mangrwa"*

(Berbeda-beda satu jua - Tak ada pengabdian yang menyamainya).


Demikian semoga bermanfaat.


Tasikmadu, April '21

Senin, 17 Mei 2021

SIRNA ILANG KERTANING BUMI

(Raksasa itu tenggelam ke dasar samudra)


Oleh: Rus Rusman





WUS TUMIBA ING mangsa kala, pagi berubah menjadi siang dan siang bergeser ke arah malam. Peradaban demi peradaban silih berganti dan selalu menjadi bahan perdebatan sejak zaman kuno.


Suatu hari seorang filosuf Yunani terkenal, Plato (428 SM), berkata kepada gurunya : "Your heyday has been lost, my teacher!"

(Hari-hari kejayaanmu telah musnah, guru).

Namun sang guru menggeleng, dan tanpa berkata apapun orang tua itu melangkah tertatih-tatih meninggalkan muridnya. 


Besuknya guru Plato itu datang lagi, tapi ia tidak sendiri. Kali ini Socrates ditemani oleh topeng yang melekat erat di wajahnya.


"Hai guru, mengapa kau bertopeng mirip wajahku? Apakah guru tak khawartir nanti jatuh tersandung batu?" teriak Plato.


Socrates menjawab sambil terengah-engah: 

"I have never been afraid of falling (aku tak pernah takut jatuh), bahkan tak takut tenggelam ke dalam lumpur, karena sepeninggal aku, ada muridku 

(seraya menunjuk topengnya)  yang akan mengembangkan ilmuku jauh lebih dahsyat daripada aku."


Plato terkejut mendengar pujian itu, maka dengan tergopoh-gopoh iapun datang merangkul dan menangis di depan gurunya.


"As long as there is a glow on the faces  of the youth (sepanjang masih ada sinar di wajah-wajah kaum muda) maka saat ini nyawaku yang tua dicabut pun tidaklah mengapa." Seru Socrates sedikit parau.


Hebatnya, drama satu babak tentang peristiwa di zaman kuno itu telah menghebohkan dan menginspirasi para ilmuwan sedunia. 


Duh, andai para pengagum Plato itu tahu bahwa di negeri ini telah ada leluhur Nuswantara yang jauh lebih luas cara pandangnya daripada Socrates.


Seperti halnya saat itu di pertengahan abad ke-15, seorang raja duduk di   Singgasana dan berkata kepada orang-orang yang ada di depannya.


"Hari ini aku merasa tinggal di sebuah rumah tua reot yang hanya menunggu robohnya. Namun begitu melihat wajah-wajah muda kalian, seakan kusaksikan cahaya terang menyala di dalam rumah tua ini."


Dan raja itu tiasa lain adalah Prabu Dyah SUHITA yang tengah menerima kedatangan para pemuka agama. Di depan sang raja adalah tokoh-tokoh muda Hindu-Budhistan, para pemimpin Islam dan orang-orang Tionghoa. 


Raja memang memberikan kesempatan kepada semua agama tanpa pilih kasih. Itulah kehebatan raja putri yang satu ini. 


Sabda pandhita pangandikaning ratu, beberapa bulan setelah itu ia buktikan dengan mengijinkan adiknya, Arya Kertawijaya, yang meminta restu menikah dengan Dyah Anarawati (Dwarawati), yakni putri Prabu Kunthora dari Negeri Champa.


Belakangan diketahui bahwa Prabu Kunthora adalah raja di wilayah *Vietnam* (sesuai Encyclopedia Van Nederlandesh Indie)

yang memeluk agama Islam berkat perjuangan Syeh Ibrahim Asmarakandi.


ADALAH pertanyaan besar, apa yang menyebabkan Dyah SUHITA seakan membuka diri bagi kehadiran semua agama? Islam dan agama lainnya seakan menemukan jalan lapang di masa pemerintahan raja ini


Semua itu karena raja menyadari bahwa Majapahit telah harus menerima takdirnya, Sang sandyakala yaitu selarik garis merah di langit senja telah tiba. Dan raja seakan terketuk pintu kalbunya, terterawang dalam sasmita gaibnya.


"Aku tak mungkin menentang kehendak kodrat, telah datang ing mangsa kala, dan tertulis dalam  pakem bahwa yang kecil akan menjadi muda perkasa, dan yang muda akan beranjak tua."


Apa boleh buat, Majapahit yang pernah menerima sandyakala itupun harus menemukan babak barunya, ialah: Sirna Ilang Kertaning Bumi.


Ia adalah seruling senja yang seakan mengiringi hilang lenyapnya suatu zaman, masa di mana keemasan itu telah pergi. Meninggalkan lautan kenangan yang berlalu lalang, ada kalanya indah namun tak sedikit yang terasa getir atau bahkan teramat pahit.


Bunyi sengkalan yang sebagaimana tercantum dalam Serat Kanda dan bermakna sangkakala 1400 caka atau 1478 Masehi.


Tiada lain ialah suatu tahun di mana pukulan telak tepat mengena pada ulu hati sang raksasa yang dulu bernama Majapahit dan membuatnya tenggelam ke dasar samudra.


Lamat-lamat kidung yang mengerikan itu terdengar:


"... Lingsir wengi tumeking ing sirna,

Ojo tangi nggonmu guling,

Awas Jo ngetara,

Aku lagi bang wingo-wingo,

Jin setan kang tak utus,

Dadyo sebarang

Waja lelayu ..."


PRABU BRAWIJAYA


SIRNA ILANG yang pertama dimulai ketika tahun 1447 M Dyah SUHITA wafat dan digantikan oleh Arya Kertawijaya (1447-1451) dengan gelar Sri Maharaja Wijaya Parakrama Wardhana.


Raja inilah yang oleh beberapa sumber disebut sebagai *Brawijaya ke-1*. Meskipun Negarakertagama dan Pararaton tak pernah sedikitpun menyebut hal itu, namun nama Brawijaya telah ramai dibicarakan di cerita-cerita babat dan amat terkenal di masyarakat.


Pada masa pemerintahanya sering terjadi bencana alam, gempa bumi dan gunung meletus.

Bahkan terdapat pembunuhan penduduk *Tidung Galating* oleh keluarga raja.


Ketika Arya Kertawijaya dilantik sebagai raja, ia sudah beristrikan Dewi Anarawati (Dwarawati) dan telah memiliki putra.


Besar kemungkinan pernikahan ini adalah strategi para ulama di zaman itu yang bertujuan untuk membuka pengembangan Islam lebih lanjut. 


Namun agaknya kelompok lain juga tidak tinggal diam. Pada sekitar tahun 1448 M Sang prabu menikahi seorang selir, yakni *Dewi Kiyan* yang merupakan wanita keturunan Tionghoa.


Pada awalnya keluarga raja tidak mempersoalkan hadirnya istri muda ini, tapi ketika sang selir *anggarbeni* timbulah pertentangan hebat.


Sebagai akibatnya sang prabu mengungsikan istri muda itu ke Palembang, sebagai hadiah untuk Arya Damar.


Beberapa bulan kemudian si bayi lahir dan diberi nama Arya Jimbun yang kelak kita kenal sebagai *Raden Patah*.


Hal ini sesuai dengan  Silsilah yang tertulis di dekat batu nisan makam *Ratu Kalinyamat* (cucu Raden Patah) bahwa leluhur mereka adalah Arya Kertawijaya.


Pada tahun 1443 M telah datang ke Palembang rombongan syeh Ibrahim Asmarakandi. Rombongan ini mengantar Raden Rahmat atau Ahmad Rahmatillah (nama muda Sunan Ampel) menghadap ke Majapahit, namun harus singgah di Palembang terlebih dahulu.


Berkat kerja keras Syeh Ibrahim Asmarakandi Arya Damar masuk Islam dan berganti nama menjadi *Arya Abullah* (Arya Dilah).


Seorang ahli pengobatan Portugis, Tomi Peres, berkisah dalam naskasnya yang berjudul *Summa Oriental.* Bahwa sekitar tahun 1510 M penduduk pesisir timur Sumatera sudah banyak yang memeluk Islam.


Rombongan Syeh Ibrahim melanjutkan ke Jawa, singgah di Tuban dan bertemu dengan Syeh Abdurrahman atau Adipati Arya Teja (1948). Namun sebelum sempat melanjutkan ke Majapahit Syeh Ibrahim wafat dan dimakamkan di Gesikharjo Palang.


Arya Teja mendapat amanat mengantarkan ke Majapahit menghadap Prabu Kertawijaya. Setelah Raden Rahmat mengabdi pada bibinya, Dewi Dwarawati, Raden Rahmat memperoleh hadiah tanah di tlatah Ampel Denta.


Sayang sekali sang permaisuri itu harus menghadap Yang Maha Kuasa di akhir tahun itu juga.

Di Mojokerto ditemukan situs makam putri Champa yang diyakini sebagai istri Brawijaya dan berbatu nisan dengan angka tahun 1448 M.


Di Ampel Denta Raden Rahmat berhasil mendirikan pesantren dan beliau lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Pengaruh Sunan Ampel sangat besar,  bahkan mengalahkan Arya Lembusora penguasa Surabaya saat itu. 


Pada suatu kesempatan Sunan Ampel suwan kepada sang Brawijaya dan bercerita tentang kelahiran putra beliau di Palembang.  Mendengar hal itu Prabu Kertawijaya betkenan menghadiahkan tlatah Glagah Wangi (Demak)  untuk putranya. Sengaja dipilihkan yang agak jauh untuk menghindari pertentangan keluarga. 


Dalam pada itu di Palembang, Dewi Kiyan setelah melahirkan Arya Jimbun menikah dengan Arya Dilah dan berputra *Raden Husen*. Kelak Arya Jimbun dan Raden Husen setelah besar menuntut ilmu di pesantren Sunan Ampel.


GELOMBANG PRAHARA


SIRNA ILANG *kedua* telah titi mangsa,  ketika tiba-tiba terdengar kabar bahwa sang *Brawijaya mangkat* (1451M).  Wafatnya raja secara mendadak menimbulkan spekulasi bahwa beliau sengaja dibunuh, dan yang melakukan tindakan nekat itu adalah salah satu orang dekat beliau,  ialah Sang Sinagara. 


Sinagara adalah termasuk kerabat keraton yang berasal dari wangsa Singosari. Ia kemudian menggantikan sebagai raja dan bergelar *Sinagara Rajasawardhana* (1451-1453 M). Gelar ini menandakan bahwa ia masih membanggakan diri sebagai keturunan Ken Arok.


Tetapi pemerintahan sang Sinagara tidak berjalan lama. Pada tahun 1453 M terjadi pertikaian hebat di antara keluarga raja yang menyebabkan raja terbumuh. Dan pemerintahan kosong selama tiga tahun. 


Akhirnya Batara Saptaprabu mengangkat putra Kertawijaya sebagai raja dengan gelar *Suryowikrama Girisawardhana* (1456-1466 M). Dia adalah saudara seayah dengan Arya Jimbun. 


Pada waktu itu kedua pangeran kecil dari Palembang sudah memuntut ilmu di Ampel Denta. Kepada sang Prabu Sunan Ampel juga sering memperkenalkannya. Hubungan antara saudara seayah, di bawah bimbingan Sunan Ampel cukup baik. 


Atas seijin raja, Sunan Ampel menyarankan agar Arya Jimbun mengamalkan ilmunya mendirikan pesantren di Glagah Wangi. Hal ini sesuai wasiat mendiang ayahnya Prabu Kertawijaya. 


Sedang Raden Husen lebih berminat mengabdi kepada kerajaan. Ia diterima menjadi kerabat keraton sekaligus sebagai prajurit Majapahit oleh raja yang tidak lain adalah saudara sepupunya sendiri. 


Pemerintahan Prabu Suryowikrama berlangsung selama sepuluh tahun. Dan setelah beliau wafat digantikan adiknya, yaitu Prabu *Singawikrama Wardhana*(1466-1478). Raja ini disinggung juga dalam prasasri Jiu. 


Agak berbeda dengan kakaknya yang tenang dan bijaksana,  raja yang kali ini bersifat keras dan tegas. Terutama terhadap pihak-pihak yang dianggap mengancam eksistensi kerajaan. 


Atas jalur politik yang diterapkan raja, akhirnya keturunan sang Sinagara memilih menyingkir ke Kediri.  Kali ini mereka bergabung dengan kekuatan lain, yakni keturunan Prabu Jayakatwang yang pernah dikalahkan Majapahit pada zaman Raden Wijaya. 


Dalam pada itu di Glagahwangi Arya Jimbun sudah banyak pengikutnya. Bahkan sudah berkembang menjadi sebuah kadipaten dan miliki tentara yang cukup. 


Namun Sunan Ampel selaku sesepuh para wali berpesan untuk tidak mrmulai peperangan,  mengingat jasa baik mendiang Prabu Kertawijaya.


Tak pelak jalur keras yang ditempuh raja seringkali menimbulkan gesekan. Terjadilah SIRNA ILANG *ketiga*,  ialah peperangan pertama antara tentara Islam dengan Majapahit. 


Peperangan itu mengakibatkan gugurnya senopati Demak oleh Raden Husen, yakni *Sunan Ngudung* yang merupakan suami Nyai Siti Syari'ah binti Sunan Ampel. Peperangan pertama itu terjadi di dekat Tuban (Ahmad Mundzir, Nurcholis, 2016: 26).


Terjadilah perang dingin antara Demak dan Majapahit. Tetapi keberadaan Sunan Ampel senantiasa mampu menjadi air yang meredam suasana. Apapun yang terjadi Demak adalah anak dari Majapahit, tidak boleh ada dendam.


"Yang sudah terjadi sudahlah,  kalian tidak akan mengantar perang kecuali atas ijinku, " kata Sunan Ampel. 


"Daulat kanjeng Sunan, " jawab Arya Jimbun. 


Namun di luar dugaan,  ternyata terjadi ledakan dari sisi lain. Bara api dari Kediri justru yang pecah menjadi percikan-percikan hebat. Munculah kemudian SIRNA ILANG *keempat*. Hantaman dasyat dari tentara kediri telah mengakibatkan gugurnya Prabu Singawikrama.


Kekuasaan Majapahit berpindah ke tangan Putra sang Sinagara,  yakni Prabu *Dyah Wijayakarana Girindrawardhana* (1478). Ibukota kerajaan ia pindahkan ke daerah *Keling* Kediri (Majalah Jayabaya, 2 Desember 2001).


Sebagian sumber mengatakan bahwa Dyah wijayakarana identik dengan Prabu Kertabumi atau *Brawijaya V.*


Untuk memperkuat negara dari serangan musuh, raja mengundang peran *Portugis.* Kedua pihak bermaksud membuat perjanjian. inilah yang kemudian menjadi alasan kuat bagi tentara Islam untuk melakukan penyerangan. 


Pada waktu itu pimpinan para wali dipegang oleh Sunan Giri.  Prajurit Islam berhimpun di samping dari Demak sendiri juga ikut bergabung dari Palembang,  Semarang, Tuban dan para Santri Ampel yang dilatih secara khusus.


MAKA tak ampun lagi ledakan paling dasyat, SIRNA ILANG *kelima* yang oleh Serat Kanda disebut sebagai *Sirna Ilang Kertaning Bumi*, yakni hilang lenyapnya kemakmuran dunia. 


Pararaton tidak mau kalah,  ia menyebut dengan istilah *Sunyo Nora Yugane Wong*, yang bisa diartikan sebagai hilangnya kesabaran seorang anak kepada bapaknya. 

Tentu yang dimaksud anak adalah Kadipaten Demak sedang sang bapak adalah Majapahit. 


Sirna Ilang kertaning bumi menunjukkan tahun caka 1400 atau 1478 Masehi. Adalah waktu kelumpuhan total negeri Wilwatikta. 


Prabu Wijayakarana gugur ing madyaning palagan, dan para walisanga mengukuhkan Arya Jimbun sebagai raja Demak Bintara dengan gelar *Sultan Alam Akbar Al-Fatah* atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Patah. 


Sementara sisa-sisa Majapahit masih menyeruak, pada tahun 1486 M dipimpin oleh *Dyah Wijayakusuma Girindrawardhana* dengan ibukota di *Daha* Kediri. 


Konon kekuasaan beralih kepada *Dyah Ranawijaya Girindrawardana*, dan ibukota dipindahkan ke *Panarukan* Pasuruan sampai akhirnya tak terdengar lagi.


Demikianlah Majapahit yang pernah perkasa telah tutup layar, dan panggung kehidupan baru telah tergelar

.

Dari desa ke desa suara beduk dan kentongan bertalu-talu mengiringi riuhnya para wali dan kawula mengalunkan gending ilir-ilir, menambah sejuknya suasana.


Lir ilir, lir ilir

Tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane

Mumpung jembar kalangane

Yo surako Surak hooree..! ***

Demikian semoga bermanfaat. 

Tasikmadu,  April 2021.

SULUK WUJIL, KOLABORASI DUA PROFESOR JAWA ABAD KE-15

(Bukti kekaguman Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga)

Oleh: Rus Rusman







BERBEDA dengan Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati yang menggunakan artifisial Islam murni dalam mengajarkan agama kepada murid-muridnya, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga lebih banyak menggunakan pendekatan seni budaya dan kemasyarakatan.

Begitulah, hingga suatu saat murid Sunan Bonang yang bernama *Wujil* menghadap gurunya dan berkeluh-kesah:

"Wahai guru, telah sekian lama aku mengecap ilmu darimu, kutelusuri surat demi surat, ayat demi ayat, kuresapi setiap makna, tafakur dan menghayati semua yang guru ajarkan, tapi sekian lama pula aku belum menemukan apa yang kucari. Hatiku masih terasa bimbang, jiwaku kering dan gersang."

Sunan Bonang terdiam mendengarkan keluhan muridnya dan sang guru itupun lantas memejamkan matanya.

"Duhai guru, lantas apa yang mesti aku lakukan?"

Cukup lama Sunan Bonang belum berkata-kata. Terbayang dalam batinnya tentang siapa si Wujil ini sebelum bertemu dan menyatakan diri sebagai muridnya.

Ia adalah seorang hamba Majapahit yang bertugas utama sebagai penghibur raja, seniman keraton dan sekaligus juru taman dan pelantun kidung/tembang. Maka tak heran jika batinnya merasa sangat terikat dengan ajaran-ajaran lama.

Setelah beberapa lama, maka mulailah Sunan Bonang dengan uraian ajarannya yang panjang. Sementara Wujil dengan kesungguhannya mencermati kalimat demi kalimat yang disampaikan gurunya.

Nah, isi petuah Sunan Bonang yang panjang kepada muridnya Wujil itulah yang kemudian disebut sebagai *SULUK WUJIL.*

Suluk artinya *menempuh jalan* (menuju Allah). Dalam konteks Jawa suluk adalah nasehat-nasehat yang ditembangkan atau dilagukan. 

Suluk Wujil adalah karya Sunan Bonang yang paling terkenal, diciptakan pada akhir abad ke-15 yaitu bersamaan dengan bedahnya Majapahit dan lahirnya Kerajaan Demak Bintoro. 

Berbentuk bait-bait syair yang jumlahnya 104 bait, ditulis dengan huruf Jawa (ha, na, ca, ra, ka) dan banyak menyinggung tentang ajaran tasawuf. 

Yang menarik pada bait 44 s/d 67 saat Wujil diminta menemui Syeh Malaya (Sunan Kalijaga), di situ konon Wujil menemukan pengalaman-pengalaman mistik yang sangat berguna. Saat-saat Syeh Malaya bermain tari topeng dari desa ke desa.

Lalu pada bait 89 s/d 104 yang berkisah tentang pertunjukan wayang di rumah Sunan Bonang dengan lakon "Baratayudha."

Usai pertunjukan wayang Sunan Kalijaga yang datang bersama dua muridnya Lawungsalawe dan Wanakarta diajak bertukar pikiran oleh Sunan Bonang tentang lakon wayang yang baru saja dimainkan dalang Penanggungan.

Sangat menarik bagaimana pengakuan Sunan Bonang terhadap eksistensi Syeh Malaya atau Sunan Kalijaga. Meskipun sosok itu dahulu adalah muridnya namun penghormatan sang guru tak ubahnya seperti seorang sahabat.

Wujil yang sudah 10 tahun *meguru,* dan hafal isi Al-Qur'an menjadi jenuh dan gelisah, akhirnya sang guru melengkapinya dengan pengalaman riil. Dan Sunan Bonang tahu pasti kepada siapa ia harus berkolaborasi. 

Maka setelah menerima laporan Santri putri *Niken Satpada* yang baru kembali dari Juwana, Tahulah Sunan Bonang bahwa Syeh Malaya ada di mana. Disuruhlah Wujil menyampaikan surat kepada Syeh Malaya (di daerah Pati). Surat itu dituliskan di atas kelopak bunga teratai.

Di sana bekas hamba Majapahit itu harus menimba pengalaman dengan cara nyantrik sebentar kepada Sunan Kalijaga di Kampung pengambiran, Pati.

Sungguh luar biasa, ternyata teori *Deshooling Society* Yang ditemukan Filsuf Austria, Ivan Ilich (1970), jauh sebelumnya, yaitu abad ke-15, telah diterapkan oleh dua profesor besar di tanah jawa, yakni Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Tentu saja Wujil sangat senang menimba ilmu *kasunyatan* itu. 

Kini iapun tahu bahwa yang disebut ayat-ayat Al-Qur'an bukanlah hanya yang ada di dalam kitab, yang wujudnya berupa tulisan dan hafalan saja.

Melainkan ayat-ayat suci itu ada juga di tengah masyarakat, yaitu apa makna para cantrik wanita (janda) yang mengikuti Sunan Kalijaga,

saat ada orang sakit kita menolong, ada yang kurang makan kita bantu, ada orang berjudi kita sadarkan, bahkan seribu satu persoalan lain di tengah pergaulan.

Dalam pengembaraan Sunan Kalijaga dari kampung ke kampung itu di mana Wujil ikut ambyur di dalamnya, Wujil menerima penuh *darmaning kautaman,* hidup secara *bebrayan,* dan berbagai penerapan nilai dan norma kemasyarakatan lain berdasarkan syariat Islam.

Sadar bahwa pengamalan ilmu di masyarakat butuh mental yang kuat, maka sebelum pergi menghadap Syeh Malaya, Sunan Bonang telah membekali Wujil dengan ilmu Fiqih yang kuat.

Salah satunya adalah isi bait ke-13 sebagaimana diterjemahkan dengan bahasa yang disederhanakan oleh Abdul Hadi (dalam Mundzir Ahmad, Nurcholis, 2016: 183) sebagai berikut:

*"Ingat-ingatlah Wujil,* apakah shalat yang sebenar-benar shalat? Renungkan lah ini: jangan lakukan shalat, andai tiada tahu siapa yang disembah. Bila kau melakukan juga, kau seperti memanah burung tanpa melepas anak panah dari busurnya. Berarti kau melakukan dengan sia-sia. Karena yang disembah wujud *khayalmu semata.*

Pada bait terakhir ada yang tidak kalah menarik, setelah berdiskusi tentang lakon wayang, Sunan Bonang mengajak Sunan Kalijaga (yang Ia panggil "Yayi") untuk berpelukan.

“Kemarilah, Dinda, aku telah menantimu sejak lama”. Keduanya saling berpelukan, dada beradu dada, muka beradu muka, kaki beradu kaki, Kanjeng Sunan Bonang berkata kepada Seh Malaya, “Mari kita memejamkan mata dan jangan ragu”. Dan sekonyong-konyong mereka berdua *sampai di Mekah.*

Wallahu 'alam.***


Demikian semoga bermanfaat.


Tasikmadu, April 2021.

Minggu, 16 Mei 2021

LELAKI BANGSAT ITU MEMILIH SETIA

 Oleh: Rus Rusman




PRIA TINGGI BESAR  dan berdada lebar itu masih duduk di kursi emasnya. Matanya yang biasanya tajam menantang kini nampak lesu tak bercahaya.

Berkali-kali ia menarik nafas panjang sambil mengusap kumisnya yang tebal melintang. 

Entah sudah berapa kali pula iapun bangkit, mondar-mandir tak tentu dan kemudian duduk lagi. Hatinya resah, batinnya gundah.

"Tak hendak melangkah, jika aku masih belum merasa mbak ayumu dalam keadaan benar-benar aman," kata Sang Duryudana itu kepada Kartamarmo adiknya.

Hari itu adalah hari ke-18 atau hari terakhir perang baratayudha, dan tak ada pilihan lain baginya untuk tidak maju ke medan laga.

Semua senopati agung negara Astina telah tewas. Ludhes kewes tanpa sisa.

"Sebagai seorang ksatrita sejati aku tidak akan lari," begitu kata batinnya "aku tidak boleh selak dan tak mau menjadi tertawaan dunia. Tunggulah Bratasena si keparat, pertaruhan terakhir adalah antara kau atau aku, siapa yang akan hancur."

Kini raja Astina itu menggeram bagaikan seekor banteng yang sedang terluka.

NAMUN ada satu hal yang paling menggayuti alam hatinya, satu perkara yang kini membuatnya tak rela, tiada lain ialah dinda ratu Banowati.

Seorang wanita, ibu dari anak-anaknya yang telah lama mendampingi dan selalu menjadi bunga-bunga dalam kehidupannya.

Tregal tregelnya, kenesnya kalau bicara, serta wajah yang mbesengut saat kurang cocok hatinya, semua itu justru bagaikan belenggu cinta bagi sang Duryudana.

Si lelaki yang kondang sebagai raja angkara murka itu selalu kalah dan manggut-manggut saja ketika putri Mandaraka itu mulai sledat-sledot dan berkata harus begini harus begitu.

Jujur harus diakui bahwa semua bayangan istrinya itulah yang sekarang justru membuatnya gelisah, menggoncangkan batin dan nalarnya untuk maju ke medan laga.

Baginya negara Astina boleh saja runtuh, harta kerajaan boleh ludhes tak tersisa, dan semua senopati silahkan saja mati, tapi satu hal ..., tiada lain milikku yang paling berharga.

"Oh Banowatii .. banowati, tak sedikitpun aku rela kau menjadi milik orang lain wong ayuu. Apalagi si laknat Arjuna yang selalu ada dalam bayanganmu."

Maka sambil kembali mengenakan busana senopatinya, raja Astina ini memerintahkan Kartomarmo untuk memboyong mbak ayunya jauh ke tengah hutan.

"Kau akan ditemani paman resi Krepo, bawalah dinda ratu ke tengah belantara agar terbebas dari penciuman Janaka."

"Duh, kakang prabuu, paduka jangan pergi. Masih ada aku, adikmu yang tetap setia menjaga kesugenganmu. Biarlah aku yang maju ke medan laga," jawab Kartomarmo sambil terisak.

"Diam kau Kartomarmo, jangan bodoh. Kali ini adalah giliranku Kartomarmo. Kurawa boleh saja lenyap, tapi tetap harus ada yang tersisa. Dan sudah menjadi takdirmu, kaulah yang tersisa itu," kata Duryudana serasa nengepalkan tangannya.

Kembali ia bangkit melangkahkan kakinya ke sana kemari di depan kursi singgasana. Namun kedua bersaudara itu tetap diam bagaikan terlempar dalam kebisuan.

"Sudahlah adikku. Mungkin aku akan mati, meninggalkan semua yang kumiliki. Dan jika kau memang setia kepada kakakmu ini maka temanilah mbak ayumu. Selamatkan ia, layani sebaik-baiknya seperti selama ini engkau setia kepadaku. Jangan sampai ia bersedih dan keluar air matanya setetespun. Karena jiwaku ada padanya."

Kartomarmo semakin terisak.

"Kau sanggup Kartomarmo?"

"Kasinggihan kakang prabu."

"Bagus, bersumpahlah di depan kakakmu ini dan setelah itu pergilah ke taman keputren. Aku akan langsung melangkah dengan kendaraan gajahku."

"Oh kakang prabuu..! Tidak mengira kalau akhirnya akan menjadi begini. Aku tentu akan setia menjalankan perintahmu, tapi untuk yang terakhir kali, mari aku antar berpamitan kepada kakang mbok ayu."

Prabu Duryudana yang gagah itupun serasa hancur hatinya menerima dekapan Kartomarmo di kakinya.

"Tidak Kartomarmo, aku tidak akan berpamitan. Hati kakangmu ini tentu tidak kuat menyaksikan wajahnya, biarkan ia hanya mendengar cerita tentang kematianku. Katakan agar ia jangan melupakan semua kisah hidupnya bersamaku. Dan yang paling penting, berikan layang cintaku ini padanya. Aku cukup puas dengan menggenggam namanya ke alam surga."

Kartomarmo kembali ternganga. Seperti tak percaya atas keputusasaan kakaknya. Kakang prabu yang selama ini berdiri gagah di hadapan siapa saja, kini bagaikan pohon layu karena cinta.

"Sudahlah Kartomarmoo, kario slamet yayi. Ingatlah semua yang aku pesankan."

Dan raja astina yang kondhang itupun lantas melangkah geloyoran menuju titihan gajahnya. 

Meninggalkan adiknya yang berurai air mata. Meninggalkan gemerlap istana yang menjadi kebanggaannya.

Dan tentu saja meninggalkan pula istri satu-satunya, sang Banowati, yang selama ini menjadi tempat ia menumpahkan segalanya. Tambatan hati yang tidak ada wanita lainnya. 

BEGITULAH, sebagaimana dikisahkan dalam Baratayudha, akhirnya putra sulung Drestarasto itupun mati di tangan Wrekudara.

Semua itu memberikan pelajaran kepada kita, bahwa ternyata wayangpun seperti halnya manusia, tidak ada yang sempurna. Kadang baik dan kadang buruk.

Seperti halnya Puntodewa dan para Pandawa yang tidak lengkap pula sifat kebaikannya, maka dalam gelimang kejahatan Duryudana pun masih ada sebersit mutiara, ialah kesetiaannya pada CINTA.

Karena itu dalam berperilaku Sri Mangkunegara IV  memberikan nasehatnya melalui Serat Darmawasita (1878) sebagai berikut:


Rambah malih wasitaning siwi,

Karya resep mring rewanging linggih. 

Wong kang manut mring caraning bangsa,

watek jembar pasabane.

Wong andhap asor iku,

Yekti oleh panganggep becik.

Wong meneng iku nyata.

Neng jaban pakewuh.

Wong prasaja solahira,

iku ora gawe ewa kang ningali 

wong nganggo tepanira.


Artinya:


Ada lagi petunjuk untuk anakku semua

Sebagai cara saat sesrawung bersama

orang itu harus mengikuti adat suatu bangsa

berwatak dan berpandangan luas

Orang yang rendah hati itu

Pasti akan menerima tanggapan yang baik

Sedangkan orang yang lebih sering diam 

Lebih banyak merasa sungkan

Orang yang lugu sederhana perilakunya

Maka tidak akan membuat orang bosan melihatnya

Sebab ternyata dapat menempatkan diri.**


Demikian, semoga bermanfaat.


Tasikmadu, 10052021 (terbitan II)

MENOLAK KISAH PENYEBAB GUGURNYA SULTAN TRENGGONO

Oleh: Rus Rusman



REMBULAN masih memancarkan sinarnya, ayam jantanpun sudah berkokok dua kali, pertanda sang fajar telah siap menanti.  Dari kejauhan lamat-lamat masih terdengar suara emban Sentika menyenandungkan gambuh piweling. 


Suaranya mendayu-dayu, terkadang terdengar agak jelas namun sekejap kemudian seperti tertiup angin dan hilang ditelan redupnya malam.


"KANG sumembah sungkem ipun ...

Mring Hyang Sukma ...

Elinga sireku ...

Apan titah sadaya ... 


Amung sadermi ...

Tan welangsira andhaku ...

Kabeh kagungan Hyang Manon ..."


"Sujudku dan sungkemku ...

Hanyalah kepada Tuhan semata ...

Ingatlah istriku ...

Bahwa manusia ini ...

Sekedar menerima dan menjalankan ...

Hanya itu pesanku ...

Kita semua hanya milik Sang Pencipta."


Di tengah suasana sunyi itulah tiba-tiba terdengar isak tangis dari dalam bilik Kedaton. Seorang perempuan telah cukup lama menumpahkan kesedihannya. Wajahnya tertelungkup di pinggir pembaringan. Sebentar-sebentar tangannya mengusap air mata yang mengucur membasahi wajah dan sebagian rambutnya.


Siapakah wanita itu? Dia adalah Kanjeng Ratu Pembayun, permaisuri Demak Bintoro yang juga putri sunan Kalijaga. Seorang wanodya  trahing waliyullah linuwih yang sudah pasti seorang istri yang Solehah. Namun saat ini perempuan separuh baya itu sedang menerima ujian dari Allah SWT., ialah dengan wafatnya sang guru laki.


Malam itu suasana haru dan sedih  menyelimuti hati semua orang. Demak Bintoro kehilangan raja kinasih menyusul wafatnya Sultan Trenggono yang terluka saat berjuang dalam peperangan di Panarukan (1546 M).


Jika runtuhnya Majapahit cinandra melalui Sandyakalaning Majapahit dan Sirna Ilang Kertaning Bumi, maka redupnya Kasultanan Demak tergambarkan sebagai murcaning awewadag sang Alam Akbar III (Gelar raja Demak).

Sebagaimana diuraikan MC Ricklesfs dalam buku A Historis Of Modern Indonesia Since 1200 (2001) bahwa Kerajaan Demak berdiri menjelang abad ke-15 atau 1475-1518. Didirikan oleh Raden Patah putra Brawijaya (Ari Welianto, kompas.com Selasa, 17 Desember 2019).

Adalah kerajaan Islam pertama dan terbesar di tanah Jawa, yang tidak lain adalah hasil Karya nyata para Walisongo, yakni orang-orang pilihan Gusti Allah yang dihadiahkan untuk umat-Nya di Nuswantara.


Meskipun sejarah mencatat keruntuhan Demak Bintoro terjadi di tahun 1549 M, yaitu ditandai dengan berdirinya Kerajaan Pajang, namun sesungguhnya suramnya langit itu sudah terasa sejak wafatnya Sultan Trenggono. 


Memang benar setelah itu Demak masih berkibar bersama Sultan Prawoto sebagai penggantinya, tetapi ibarat seekor burung ia sudah kehilangan sayapnya. Demak bagaikan kereta yang kehilangan roda, berjalan terseok dan tinggal menunggu kapan runtuhnya.


Tulisan ini sengaja hanya menyisir sejarah Demak pada bagian akhir, yaitu sekitar wafatnya Sultan Trenggono yang bagi penulis masih meninggalkan pertanyaan besar.


KISAH YANG DIRAGUKAN


SEBAGAIMANA diuraikan dalam berbagai sumber bahwa Sultan Trenggono gugur di medan perang saat mengepung Panarukan (Situbondo) yang saat itu dikuasai Blambangan. 


Namun bukan gugur saat mengangkat senjata di tengah palagan, melainkan karena kemarahan pelayan kecilnya yang nekat menghujamkan pisau   saat sultan sedang memimpin rapat.


H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud dalam bukunya "Kerajaan Islam Pertama di Jawa (2001: 89)", mengisahkan bahwa Sultan Trenggana meninggal karena ditusuk anak umur 10 tahun. Hal yang sama juga tertuang dalam manuskrip karya Gusti Raden Ayu Brotodiningrat, yang berjudul “Kerajaan Demak”.  


Tak ketinggalan pula Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Arus Balik, menceritakan hal serupa, meskipun dengan variasi yang berbeda.


Terus terang ada beberapa kejanggalan yang menggelantung dalam pikiran penulis  dalam menanggapi kisah-kisah di atas.


Pertama, bagaimana mungkin seorang pelayan raja (anak kecil pula) diperkenankan hadir dalam pertemuan penting untuk bisa menyusun strategi perang?


Kedua, anggaplah benar ia berada di dalam ruangan itu, seberani itukah pelayan raja hanya dimarahi karena lupa menyediakan sirih lantas membalas dengan tusukan pisau, bukankah raja saat itu juga dikerumuni para senopati pilihan?


Ketiga, andaikan benar ada pisau yang meluncur ke tubuh sang sultan, semudah itukah sarira Sultan menjadi sasaran empuk bagi tusukan pisau tangan kecil seorang bocah?


Bukankah Sultan Trenggono konon memiliki ajian Lembu Sekilan, dan ajian Macan Putih dari Sunan Kalijaga yang pasti tingkatannya tidak kalah dengan menantunya Mas Karebet.


Diceritakan Mas Karebet yang waktu itu sudah menjadi Sultan Pajang (1550 M), pada suatu malam di tengah tidurnya telah diserang dengan keris oleh utusan Arya Penangsang yang sudah pasti orang pilihan. Tapi berkat aji lembu sekilan sultan muda itu selamat dan justru memberi hadiah kepada orang tersebut.


Sultan Trenggono sudah pasti adalah juga orang yang sakti, ia adalah mertua Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya, ia juga menantu Sunan Kalijaga, dan seorang raja besar yang berhasil menaklukkan banyak kadipaten.


Tercatat di antaranya raja Demak ini mampu merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran, menghalau tentara *Portugis* yang akan mendarat di tanah sunda (1527), menakhlukkan Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan  Malang (1545). 


Pada saat pemerintahanyalah armada laut Demak sangat perkasa di Selat Sunda dan Laut Jawa. Karena itulah untuk menuju ke Maluku, Portugis lebih memilih menyusuri Pantai utara Kalimantan dan Sulawesi Utara (R. Moh. Ali, 1963).


Rasanya menjadi *risih naluri batin* kita mendengar seorang ratu binatara tewas hanya karena sebuah pisau si bocah kecil. Bukankah sering digambarkan kesaktian raja-raja Jawa sebagai insan linuwih, ibarat *tinatah mendat jinara menter,* Ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindro.


Maka kisah tentang gugurnya Sultan Trenggono itu adalah sebuah pelecehan besar bagi kedaulatan dan  martabat ilmu *kanuragan Jawa.*


Mengapa kita mau terbelenggu oleh cerita yang tidak masuk akal itu. Terus terang sebagai pecinta sejarah bangsa, saya (penulis) ingin *memberontak* terhadap cerita murahan ini.


Lagi pula kenapa orang sekelas Pramudya Ananta Tour dan H.J De Graf yang dikenal sebagai Sejarahwan Profesional ikut-ikutan terperosok oleh kisah lucu dan aneh seperti itu? Mungkinkah karena beliau tidak ada pilihan lain kecuali harus menelan pil pahit dari satu-satunya sumber yang bisa dipercaya?


Inilah sebenarnya kelemahan fatal bangsa kita atau para leluhur di zaman dulu. Pada masa itu menulis adalah pekerjaan besar yang hanya bisa dilakukan oleh seorang pujangga. Jangankan menulis untuk membacapun hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang.


Namun sekarang, setelah zaman melompat berabad-abad ke depan, nyatanya tak jauh berbeda pula. Memang sekarang hampir semua orang sudah pasti *melek baca dan tulis,* tapi untuk menemukan orang yang sebenar-benarnya membaca rasanya masih sangat jarang. Apalagi menulis yang  sungguh-sungguh menulis. 


Padahal menulis ibarat melukiskan pikiran dan bekerja dalam keabadian. Orang boleh saja pandai setinggi apapun, tapi kalau tidak menulis ia akan mudah ditelan zaman. Pekerjaan menulis tak ubahnya dengan menggapai umur yang jauh melebihi usia fisik kita. 


KISAH YANG TENDENSIUS


Kembali pada Sultan Trenggono, untuk bisa mengungkap misteri wafatnya beliau, pekerjaan pertama yang harus kita lakukan adalah mengungkap *siapakah sumber pertama* dari cerita yang ngaya wara itu.


Berita kematian Sultan Trenggono pertama kali ditemukan dalam buku catatan seorang warga negara Portugis  *Fernandez Mendez Pinto.*


Orang Portugis itu datang bersama 40 temannya dan ikut ke Panarukan bersama rombongan 7.000 tentara Cirebon yang dikirim oleh Sunan Gunung Jati. Pasukan dipimpin oleh Faletehan atau menantunya. Inilah sebenarnya *ketedoran pertama* yang telah dilakukan oleh pasukan Demak.   


Mengijinkan orang asing (apalagi Portugis) dalam jumlah tidak sedikit untuk suatu tugas negara adalah sebuah kesalahan besar. Meskipun Fernandez Pinto telah diyakini sebagai pengamat perang namun kewaspadaan mestinya tidak boleh berkurang.

Lalu siapakah teman-temannya yang berjumlah 40 orang itu?


Apakah tidak mungkin sebagian  dari mereka adalah *telik sandi* Portugis yang sengaja menyamar sebagai pengamat? Hal itu sangat mungkin mengingat Portugis saat itu berambisi sekali untuk menguasai Nuswantara.


Segala daya upaya tentu dilakukan mereka, apalagi Demak sendiri tak henti-hentinya

menjadi penghalang utama bagi keinginan negeri penjajah. Sejak di zaman Raden Patah Demak telah membuyarkan perundingan Portugis dengan Prabu Girindrawardana dari Majapahit (1478 M).


Begitu pula pada zaman Sultan kedua, yakni Adipati Yunus, Demak bahkan berani menyerang Portugis di  Malaka. *J.C. Van Leur* mengisahkan: 


"Pati Unus, a Moslem who

from Jepara had made an *unsuccessful* attack on Portuguese 

Malaka in 1513 " (J.C. Van Leur, I dalam Djojomardojo, Muljono, dkk., 1982/1983).


Sekali lagi rombongan Fernandez Pinto sangat mungkin adalah pasukan yang disusupkan. Mereka bertugas mengobrak-abrik strategi perang pasukan Demak Bintoro dan kalaupun mungkin menghabisi pelaku utama. Mengapa tidak?


Maka jangan heran kalau Demak selalu gagal dalam penyerangan. Sudah tiga bulan Panarukan berhasil dikepung  namun musuh tetap berhasil bertahan dan bergerilya.


Kontan hal itu sangat membuat pusing Sultan Trenggono. Musuh seperti selalu bisa membaca rencana-rencana perangnya. Bahkan sultan seperti tidak menyadari tentang berkeliarannya orang-orang tak dikenal di dalam pasukannya.


Menurut analisa penulis bukan tidak mungkin orang-orang berkulit putih itu dibekali senjata-senjata khusus. Atau bahan-bahan untuk membuat senjata rakitan.


Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi terhadap diri Sultan Trenggono. Ia sengaja ditembak oleh seorang sniper saat berperang di medan laga. Atau ada bom rakitan yang  sengaja dipasang di perkemahannya.


Kalau dihubungkan dengan jenis luka yang disebut dalam kisah Fernandez Pinto (ditusuk pisau) maka kemungkinan terbesar lebih mengarah pada cara penembakan. 


Dan setelah pekerjaan yang berbahaya itu sudah sukses dilaksanakan, maka giliran tugas Fernadoz Pinto untuk menyusun laporan yang menggelikan.


Tujuannya adalah untuk mengaburkan suasana sekaligus bersih-bersih seolah-olah tentara Portugis tidak tahu menahu tentang persoalan itu.


Sebenarnya jurus *dis-opinion making* itu bukan saja dilakukan Fernandez Pinto saja, namun sebelumnya penulis Portugis lainnya, *Tomi Peres* pada sekitar tahun 1515 M telah juga mempunyai penilaian negatif terhadap Sultan Trenggono. 


Orang ini yang sedang mengumpulkan data untuk bukunya "Summa oriental" berpendapat bahwa Sultan Trenggono terlalu terlena dengan kenikmatan keputren, ia bergaya mewah dan berfoya-foya serta banyak mengabaikan urusan kenegaraan.


Kesimpulan ini jelas terlalu tendensius, terutama jika kita kaitkan dengan kesuksesan Raja Demak ke-3 ini memperluas wilayahnya. Demak menjadi semakin berkibar saat Sultan Trenggono ini memimpin.


Wallahu a'lam.


Demikian semoga bermanfaat.


Tasikmadu,   Mei 2021.