-

Rusmannulis

Selasa, 18 Mei 2021

SYEH MALAYA MENCARI JATI DIRI

(lakon Wayang Dewa Ruci) 

Oleh: Rus Rusman







Syeh Malaya


KETURUNAN ke-14 *Sunan Kalijaga,* Ny. R.Ay. Supartini Mursidi, suatu malam di tahun 1990, didatangi oleh seorang ulama dari wilayah Demak. Ulama yang bernama Muhammad Khafid Kasri ini mengaku telah mendapat petunjuk gaib tentang keberadaan sebuah buku kuno.


"Apakah ibu menyimpan kitab kuno peninggalan leluhur?" tanya ulama itu kepada pemilik rumah.


Ternyata Ny. Supartini menjawab *tidak*. Tentu saja Kyai Khafid Kasri sedikit heran. 


"Tapi, apakah ibu menyimpan *azimad* yang dibungkus kain putih peninggalan orang tua?" tanyanya lagi agak meninggi. 


Dan kali ini wanita itu menjawab: *ya!*


Legalah hati sang ulama mendengar jawaban itu.  Maka atas seijin pemiliknya azimad itu dibuka. Ternyata isinya adalah lembaran-lembaran kertas dari kulit hewan bertuliskan Arab gundul berbahasa Jawa.


Atas seijin pemiliknya pula isi kitab itu ditransliterasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan menjadi sebuah buku yang diterbitkan Balai Pustaka (1993) dengan judul: *Suluk Linglung Sunan Kalijaga (Syekh Malaya)*


Uraian di atas adalah sekilas cerita dari seorang Mahasiswa UIN Semarang, *Sendi Satriyo Munif* dalam Skripsinya yang berjudul: "Corak Monoteisme Sunan Kalijaga Dalam SULUK Linglung" (2015).


Judul Suluk Linglung itu konon dipilih sendiri oleh sang sunan. Begitu pula dengan isinya. Ditulis dengan tinta China dan terdiri dari tiga bab. 


Bab I berisi tentang kisah beliau saat masih belajar awal tentang Agama Islam. Bab II saat beliau merasa bingung atau *LINGLUNG* karena beberapa pertanyaannya tidak terjawab oleh gurunya. Dan Bab III berisi tentang wejangan Nabi Khidir yang menghadang perjalanannya saat berlayar menuju Mekah.


Suluk Linglung merupakan karya sastra tingkat tinggi yang terdiri dari 91 bait yang pada intinya bercerita tentang kerinduan sang sunan akan ilmu agama. Syeh Malaya bagaikan orang yang baru bangun dari tidur.


Setelah sekian lama ia terkungkung oleh lebatnya hutan *jati wangi* sebagai *berandal lokajaya,* dan yang ada hanya membunuh atau dibunuh.


Kini berkat sentuhan kata Sunan Bonang, berandal itu seperti ingin membuktikan diri bahwa ia telah berubah. Ia ingin mencari jati diri.


*Man arafa nafsahu Faqad arafa Rabbahu*


(Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhan-nya)


Maka berpetuanglah kemudian Syeh Malaya dari satu guru ke guru lainnya. Atas ijin Sunan Bonang, sosok yang dulu bernama Raden Syaid itu kemudian *nyecep ngelmu* ke Sunan Ampel, Maulana Ishaq, dan beberapa guru lain di Malaka dan Pasai.


Puncaknya Tuhan mempertemukan ia dengan Nabi Khidir yang telah *mangejawantah* sebagai anak kecil. Betapa herannya saat itu ketika perjalanan nya ke tanah suci tiba-tiba harus terdampar oleh omongan anak bajang yang seenaknya memintanya pulang ke Jawa.


"Kembalilah kalau tak ingin pengikutmu di Jawa kembali menjadi kafir Semua."


Saat itu Syeh Malaya  lagi-lagi dibuat heran ketika anak kecil di depannya itu tiba-tiba menyuruh masuk ke dalam wadahnya melalui telinga.


Dan saat dirinya mengalami keraguan atas perintah itu, sekonyong-konyong ia bagaikan terhipnotis dan tersedot oleh kekuatan magnet yang sangat kuat.


Maka selagi dirinya berada dalam batas alam sadar dan tidak sadar itu, Syeh Malaya menyaksikan cahaya yang beraneka ragam, ada yang berwarna merah, kuning, hitam, dan putih yang semuanya merupakan pencerminan wujud kejiwaan manusia.


Wejangan ngelmu dari Nabi Khidir yang *sarira bajang* inilah yang konon mengilhami Sunan Kalijaga untuk menciptakan lakon wayang *Dewa Ruci,* di mana ia mengumpakan diri sebagai *Bima* yang memperoleh air perwita sari atau *iman Hidayat* yang sangat ia rindukan.


Wallahu a'lam.


Demikian, semoga bermanfaat.


Tasikmadu,  April 2021.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar