Oleh: Rus Rusman
ORANG menyebutnya sebagai alas Jatiwangi, tak lain adalah hutan yang selalu berwajah gelap meskipun di luar mentari sedang terang benderang. Ini adalah rimba raya yang membentang luas dan memanjang dari barat ke timur memagari pegunungan kapur laut Utara.
Diawali dari belantara gunung Kajar (selatan Lasem) menuju arah timur dan berujung pada kawasan yang ditumbuhi pohon raksasa anggondo Arum (berbahu harum). Sekarang termasuk wilayah Desa Wangi Kec. Jatirogo.
Siang itu surya sudah lama melewati puncaknya, ketika dari sebuah hutan terdengar seekor harimau mengaum keras. Sesaat kemudian hutan itu menjadi sunyi, celoteh kera dan burung-burungpun lenyap. Dan seekor kijang menjerit di bawah dekapan sang raja hutan.
Pada zaman Majapahit alas Jatiwangi memang dikenal sebagai hutan yang angker, gawat kaliwat liwat. Belantara gung liwang-liwung bebasan jalma mara jalma mati, sato saba tan angukubi.
Bukan sekedar *gugon tuhon* jika kawasan ini telah lama menjadi asrama jin setan bekasakan,
sebuah tempat yang penuh misteri mirip kerajaannya para lelembut. Di samping itu juga sebagai markasnya sekelompok orang sakti yang dikenal sebagai brandal lokajaya.
Bahkan di dalamnya ada kawasan yang disebut *alas ngandhang,* (5 km ke arah barat Kec. Sale) yang dipercaya orang sebagai markas atau ngandhangnya gerombolan yang dipimpin oleh Raden Syaid itu.
Pendek kata hutan Jatiwangi adalah *Sinagog setan*-nya pulau Jawa, mirip tempat tinggal 200 kaum kathar dan sekaligus tempat orang bidat/sesat itu pati obong di Eropa (kompas.com, 15 tempat misterius di dunia, tgl. 11 Maret 2020).
***
HARI MULAI gelap ketika pasukan kecil Kadipaten Tuban beristirahat di pinggiran hutan. Agaknya langit sedang berhias rembulan, memancar redup tersembul di atas laut utara.
Nampak awanpun berhembus, ada kalanya tebal memutih namun sebentar kemudian menipis bagaikan kapas tertiup angin. Suara binatang malam kadang-kadang terdengar sayup dari kejauhan, menambah suasana keangkeran hutan Jatiwangi di sekitar tahun 1455 M ini.
Para prajurit Tuban itu telah tertidur, melepaskan lelah setelah seharian bertugas mendampingi tentara Majapahit mencari warga Tuban para pembangkang pajak.
Agak jauh dari mereka nampak dua orang laki-laki sedang berbincang dengan serius. Rupanya salah satu di antara mereka adalah Raden Syaid putra Tuban yang telah ditugaskan oleh Ayahanda Wilatikta menemani tentara kerajaan itu.
"Angger Mas Syaid, aku adalah pemomongmu sejak anak mas masih kecil. Kalau hari ini angger menolak untuk kembali ke ayahanda, sama saja angger tidak mempercayai paman lagi. Bukankah aku yang ditugaskan Gusti Tumenggung untuk mendampingimu?"
Sesaat Raden Syaid terdiam. Lalu katanya:
"Baik paman Aji, kali ini sebagai hormatku kepada paman dan juga rasa tanggung jawabku aku akan mengikuti saran paman. "
Betapa gembiranya orang yang dipanggil paman Aji itu. Maka rasa senangnya pada putra Adipati Tuban itu semakin bertambah.
"Tapi ingat paman, jika ayahanda memaksaku untuk menghadap ke kotaraja aku pasti akan menolaknya."
"Mudah-mudahan Gusti Tumenggung tidak memaksamu, ngger."
"Bukan karena aku takut menghadapi hukuman, paman. Tapi karena aku sudah berjanji tidak akan ke ibukota jika mereka masih membebani pajak yang tinggi kepada rakyat kecil."
Paman Aji mengangguk-angguk. Katanya kemudian :
"Itulah sulitnya, ngger. Sebenarnya aku sependapat dengan angger. Tetapi kenyataan bahwa angger termasuk bagian dari para perusuh itu agaknya yang menambah Gusti Tumenggung sulit bersikap. Apalagi beberapa prajurit ibukota telah terluka akibat kejadian itu."
Kembali anak muda itu terlempar dalam kebisuan. Beberapa saat kemudian iapun menyahut:
"Baiklah paman, mari kita beristirahat. Besuk kita berharap bisa menghadap ayah lebih awal."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar