SANG WILATIKTA itupun memandang putranya, sambil bertanya:
“Syaid, bagaimana dengan perjalananmu itu."
Syaid mengangkat wajahnya. Ia sudah menelan sesuap nasi yang terakhir. Jawabnya kemudian, “Kami berhasil dengan baik, Ayah.”
“Nah, sekarang ceriterakanlah. Dari permulaan sampai kau datang lagi menghadap aku saat ini.”
Raden Syaid menarik nafas. Kemudian ia pun mulai menceriterakan pengalamannya mendatangi langsung ke orang-orang yang selama ini membangkang pajaknya padahal mereka tergolong orang berada.
Dikatakannya pula tentang pasukan pengawal Kadipaten yang membantunya karena kebetulan siapa saja yang harus didatangi dirinya tidak hafal.
Arya Wilatikta yang sudah selesai makan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendengarkan ceritera Raden Syaid dengan seksama.
“Menarik sekali,” berkata Adipati Tuban kemudian, “untunglah bahwa kau mendapat kawan para prajurit yang berpengalaman. Jika kau tidak berhasil kita akan malu di hadapan Gusti Prabu. Tuban pun kehilangan pamornya yang terbaik, dan gangguan berikutnya tentu akan menghambat pembangunan kadipaten ini. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan bertemu paduka. Aku akan mengucapkan terima kasih kepada raja, karena langsung atau tidak langsung beliau telah ikut menegakkan Tuban yang agak goyah ekonominya ini.”
Dada Syaid rasa-rasanya menjadi sesak karenanya. Meskipun ayahnya tidak langsung menyebut namanya, tetapi rasa-rasanya kata-kata ayahnya itu memang tertuju kepadanya. Dengan demikian maka Raden Syaidpun kini hanya dapat menundukkan kepala.
“Syaid,” berkata Adipati Wilatikta kemudian, “kau pun tidak boleh melupakan semuanya itu. Kau sendiri mengalami dan melihat, bagaimana sulitnya membangun kadipaten ini. Dan kau tahu sendiri, betapa kelompok penghambat itu selalu ada di mana-mana.”
“Ya, Ayah. Aku tidak akan melupakannya.”
“Bagus,” Ki Wilatikta mengangguk-angguk, “sekarang, jika kau sudah selesai makan, beristirahatlah. Aku ingin berbicara sedikit tentang dirimu.”
Dada Raden Syaid berdebar-debar semakin cepat.
“Kau dapat mempergunakan waktumu sekehendakmu. Jika kau lelah dan kantuk karena semalaman kau tidak tidur, sekarang tidurlah. Aku harap setelah tidur sejenak, kau akan menjadi segar, dan pembicaraan kita akan lancar.”
“Aku sama sekali tidak lelah, Ayah. Jika Ayahanda ingin mengatakan sesuatu, aku sudah siap."
“Tidak, Syaid,” berkata Adipati Wilatikta, “kau perlu beristirahat agar hatimu menjadi bening dan kau dapat mendengarkan penjelasanku sebaik-baiknya.”
“Aku tidak sedang bingung, Ayah.”
Adipati Tuban menggelengkan kepalanya. Katanya, “Sebaiknya kau memang tidur. Menilik ceriteramu, selama kau berada di wilayah barat, kau hampir tidak pernah tidur untuk beberapa malam. Semalam kau tentu juga tidak tidur sama sekali. Karena itu, sekarang pergilah ke bilikmu. Kau perlu tidur meskipun hanya sekejap.”
Raden Mas Syaid tidak dapat membantah lagi. Ia pun kemudian meninggalkan ayahnya dan pergi ke dalam biliknya.
Namun kegelisahan di hatinya terasa menyentak-nyentak di dada, sehingga ia sama sekali tidak dapat tidur. Jangankan tidur, berbaring pun Syaid tidak betah.
Dengan rasa gelisah Raden Syaid duduk di bibir pembaringannya. Sekali-sekali agak ia bergeser setapak. Kemudian berdiri dan melangkah hilir mudik.
Ternyata ayahandanya telah membiarkannya dalam kegelisahan itu. Rasa-rasanya seperti sudah berhari-hari dirinya ini berada di dalam biliknya, namun ayahandanya masih belum juga memanggilnya dan membawanya berbicara.
NAMUN anak muda itu tiba-tiba terkejut ketika pintu biliknya berderit. Dilihatnya Adipati Wilatikta sudah berdiri di depan pintu yang kemudian terbuka.
“O,” desis Syaid, “apakah Ayahanda memanggil aku sekarang?”
Arya Wilatikta tidak menyahut. Tetapi ia melangkah saja masuk dan duduk di tepi pembaringan putranya.
Raden Syaid tercenung sejenak. Sehingga akhirnya ayahnya berkata, “Duduklah. Agaknya lebih baik berbicara di sini daripada di ruang dalam.”
Tiba-tiba dada Raden Syaid terasa menjadi sangat sesak. Jantungnya berhenti berdetak. Tetapi ia pun akhirnya duduk pula di sebelah ayahandanya.
Sejenak keduanya saling berdiam diri, sehingga ruangan itu pun menjadi hening. Yang terdengar kemudian adalah tarikan nafas panjang dari sang Adipati.
Agaknya ia pun merasa sulit untuk segera memulai pembicaraannya dengan anak laki-lakinya. Meskipun kemudian akhirnya terucap juga sebuah pertanyaan.
"Syaid, apakah kau telah mendengar desas-desus yang cukup santer tentang dirimu sendiri?”
Syaid mengerutkan keningnya. Darahnya kini bagaikan benar-benar berhenti mengalir.
“Desas-desus yang kian lama menjadi kian merata di seluruh wilayah Tuban?”
Syaid tidak segera menjawab pertanyaan itu. Tetapi justru ia pun bertanya, “Dalam kaitannya dengan apa, Ayah?”
Adipati Wilatikta memandang wajah anaknya sejenak. Namun selanjutnya dibuangnya tatapan mata itu ke luar pintu.
Lelaki itu kemudian berkata, “Aku kira kau tentu sudah mendengarnya. Hampir setiap orang memperbincangkannya.”
Syaid menjadi semakin gelisah.
“Syaid,” berkata Adipati Wilatikta kemudian, “apa boleh buat, aku memang harus mengatakannya kepadamu bahwa banyak orang-orang Tuban yang berbicara tentang hubunganmu dengan kelompok yang biasa mengganggu ketenangan wilayah kita.”
Meskipun Raden Syaid sudah menduga bahwa persoalan itulah yang akan dibicarakan oleh ayahandanya, namun pertanyaan itu tak urung telah hampir meretakkan dadanya.
“Syaid,” berkata Ki Wilatikta kemudian dengan nada yang dalam, “aku hanya sekedar bertanya. Jika memang hal itu tidak terjadi, maka kau dapat menjawabnya bahwa hal itu tidak benar.”
Syaid berusaha menenangkan hatinya. Rasa-rasanya jika memungkinkan ia ingin menekan jantungnya yang berdentangan semakin cepat dan keras.
“Aku ingin mendengar jawabanmu, Syaid. Katakan dengan jujur pada ayahmu apa yang sebenarnya terjadi. Jika kau berkata sebenarnya, maka kita akan dapat bersama-sama mencari jalan yang terbaik untuk mengatasi persoalan yang bisa menjadi rumit.”
Syaid masih berdiam diri, hatinya masih bergolak sangat dahsyat. Meskipun sudah semalam suntuk ia menganyam perasaan, namun ketika pertanyaan itu benar-benar dilontarkan maka ia pun masih juga menjadi sangat kikuk.
“Syaid,” berkata Arya Wilatikta “kau sudah bukan anak-anak lagi. Jika tahun-tahun lalu kau adalah putra Tuban yang membanggakan karena mampu mengusir para perompak yang sering membuat rusuh di Kambang Putih. Bahkan Eyangmu Arya Teja pernah menyebutmu di paseban agung sebagai mutiara yang kelak mampu mengukir nama kadipaten ini. Namun sekarang ini ternyata kita dihadapkan pada persoalan lain tentang dirimu. Sama sekali bukan maksud ayah untuk memperkecil perjuanganmu bagi Tuban. Tetapi semata-mata karena persoalan yang telah ada kini tidak akan dapat dibiarkan tanpa penyelesaian yang baik.”
Raden Syaid menarik nafas dalam-dalam.
“Syaid anakku,” Adipati Tuban meneruskan, “kau bukanlah anak-anak yang hanya pandai memecahkan belanga namun kemudian kau tinggal lari dan bersembunyi.”
Syaid bergeser setapak. Katanya kemudian dengan nafas yang ditahannya, “Maafkah aku, Ayahanda. Sebenarnyalah bahwa hal yang Ayahanda khawatirkan itu telah terjadi.”
Adipati Wilatikta memejamkan matanya sesaat. Jawaban itu pun sudah diduganya. Tapi seperti anaknya, sejenak ia pun menjadi bingung setelah mendengarnya.
Namun kemudian Arya Wilatikta, orang tua yang masak dengan pengalaman dan pengenalan atas kehidupan itu pun menarik nafas dalam-dalam.
Dengan susah payah orang tua ini berhasil mengendalikan perasaannya yang bergelora. Meskipun nampak sekali ia masih juga merasa tegang yang terlihat dari sorot matanya.
Syaid menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dan dengan dada yang masih berdentangan ia mendengar ayahandanya berkata, “Syaid, setelah kau berhasil menaburi tanah ini dengan bunga yang semerbak dan amat membanggakan ayah dan kakekmu, maka kini kau telah melumuri namamu dengan lumpur yang berbahu amis.”
Raden Syaid tidak menjawab, tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam.
“Anakku,” berkata Ki Wilatikta, “ketika aku berangkat menghadap Raja Majapahit dan menyampaikan permintaanmu agar tidak dijadikannya sebagai tentara kerajaan, seperti yang kau tahu sendiri Sang Prabu telah mengabulkannya. Apalagi setiap orang tahu, bahwa sebenarnya aku adalah salah seorang yang cukup dekat dengan lingkungan istana.”
Adipati Tuban itu terdiam sejenak untuk mengatur pernafasannya, lalu:
"Tetapi, jika kini nyata-nyata justru kau telah terbukti mengganggu kepentingan kerajaan, maka akibatnya tentu akan lain anakku.”
Syaid menjadi semakin tunduk. Ia menyadari sepenuhnya kata-kata ayahandanya. Dan ia pun mengerti akan hal itu. Tetapi ketika semuanya itu terjadi, hatinya serasa gelap dan ia sama sekali tidak ingat apapun juga.
“Syaid,” berkata Arya Wilatikta lagi, “kau masih belum menjawab seluruhnya. Kenapa hal itu terjadi dan akibat yang timbul kemudian dari peristiwa yang pahit itu?”
Syaid tidak dapat ingkar lagi. Maka ia pun kemudian menceriterakan, bahwa sama sekali di luar kesengajaannya bahwa kelompok Lokajaya bertemu dengan prajurit Majapahit yang sedang berkeliling, dan apalagi kemudian terjadi pertikaian.
“Ayahanda, beberapa orang dari prajurit kerajaan itu telah terluka.”
“Ooh !” Arya Wilatikta mengusap dahinya yang berkeringat, “bagaimana mungkin semuanya ini terjadi. Peristiwa yang sama sekali tidak masuk di akal itu ternyata telah terjadi.”
Raden Syaid tidak menyahut.
“Bagaimana ayahmu ini akan menjelaskannya pada paduka Prabu,” berkata Arya Wilatikta sambil mengepalkan tangannya “Syaid, benarkan kau itu anakku? Bagaimana mungkin seorang anak yang baik telah tega menusuk ayahnya sendiri.”
“Ma’afkan putramu ini ayahanda.”
“Diam ! diamlah kau Syaid. Agar kau justru tidak menambah kegetiran ini,” kata Adipati Tuban itu dengan mata merah.
"Oh bapa Arya Teja, apa yang telah paduka lihat dulu sehingga bapa menyebut anak ini sebagai mutiara Tuban. Kini yang terjadi justru sebaliknya bapa.”
Tampaklah kemudian wujud keaslian sang Wilatikta, keras dengan wajah yang merah membara. Dialah Raden Sahur yang sebenarnya, seorang senopati andalan Majapahit yang mewarisi darah Arya Ranggalawe.
“Daaar ..!” Tiba-tiba pintu kamar terbanting dan adipati Tuban ke-8 itu keluar dengan langkah yang tegas dan wajah masih tetap membara.
“Aku sendiri yang akan melenyapkan para berandal tak berguna itu !”
Dengan suara lantang Sang Wilatikta melangkah menuju kamar pusaka. Raden Syaid yang mengikuti dari belakang sudah pasti tahu bahwa ayahnya akan pergi dengan Keris Kyai Loyan dan Tombak Hyang Baruna yang konon merupakan hadiah dari pembesar Majapahit itu.
Oh, kalau itu yang terjadi maka habislah semuanya. Maka Raden Syaid yang menyadari akan hal itu segera berusaha untuk mencegah.
Tak dapat ia bayangkan nanti bagaimana tunggang langgangnya teman-temannya. Mereka sudah pasti akan lari kocar kacir dan akibat terburuk dari semuanya itu adalah mati.
Teman-temannya yang sudah ia bimbing untuk berjuang demi kepentingan rakyat jelata itu akan bergelimangan dengan bersimbah darah. Karena itu tak ada jalan lain baginya kecuali harus mencegah sebisa-bisanya.
Dengan tegopoh-gopoh putra adipati yang sudah biasa berteman dengan orang-orang jelata itu memanggil-manggil serta menangis di depan ayahandanya.
“Ampun ayahanda, aku mohon ampun, Tolonglah jangan lakukan itu !” Katanya sambil merangkul kaki Sang Wilatikta.
“Minggir kau Syaid, minggir kau anak tak berguna !”
Tentu saja adipati Tuban itu berusaha untuk menghindar. Namun tangan putranya yang dengan kencang merangkul kakinya itu telah menghalanginya.
Kini yang ada hanyalah kemarahan. Sambil membentak-bentak kedua tangan sang Adipati yang sejak tadi sudah mengepal ia acungkan kearah anaknya.
Dan hampir saja tangan itu mengenai wajah Raden Syaid ketika dari pintu samping keluar dua wanita yang menangis menyaksikan peristiwa itu. Mereka adalah Dewi Nawang Arum dan Dewi Sari yang merupakan istri dan putri Sang Tumenggung sendiri.
“Oh kanjeng, apa yang kanjeng lakukan terhadap putra sendiri ini ?”
Demikian semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar