-

Rusmannulis

Selasa, 18 Mei 2021

PRABU HAYAM WURUK

*- Tan Hana Dharma Mangrwa -*


Oleh: Rus Rusman



SEPERTI halnya mentari yang selalu hadir menyinari bumi, atau bulan yang senantiasa berputar di garis orbitnya, maka sang waktupun terus bergulir bagaikan roda yang tak pernah berhenti. 


Dan Tuhan Yang Maha Adil itupun telah menganugerahkan orang-orang hebat dan tangguh pada setiap fase zaman dan di berbagai belahan bumi.


Tak terkecuali di bumi Nuswantara yang konon pada abad ke-14 telah terlahir seorang bayi tampan putra dari pangeran Cakradara dan Ratu Tribuana Tunggadewi.


Seorang anak manusia yang tumbuh dan berkembang di lingkungan kerajaan dan kelak menjelma menjadi rembulan yang sinarnya menyejukkan seluruh negeri.


"Dia seperti Sang Hyang Satamayu yang menghapus duka seluruh rakyat, seperti Sang Hyang Bayu yang melindungi jagad, dan seperti Sang Hyang Pertiwi yang memakmurkan negeri. Maka lengkaplah dia bagaikan rembulan," begitu tulis Mpu Prapanca dalam pupuh 7 Kakawin Negara Kertagama (Damaika dkk., 2018: 36).


RAJA YANG BIJAKSANA


Untuk siapa sesungguhnya Prapanca itu menyanjung? Tiada lain adalah untuk ratu gustinya, ialah *Maharaja Prabu Hayam Wuruk* yang memerintah Majapahit dari tahun 1351-1389 M.


"Rin wighnotsarana prayoga yamaraja sira makaphalan jagaddhita." (Dialah Dewa Yama yang menghapus rintangan dan penghalang dengan penuh bijaksana).


"Hentyan durjjana maryya buddhi kala kewala matakut i wiryya san prabhu". (Para durjanapun berhenti berbuat buruk karena takut pada keperkasaan sang raja).


Demikianlah tak henti-hentinya Sang Pujangga mengelu-elukan kelebihan Prabu Sri Rajasanegara, dan kiranya hal itu tidaklah berlebihan apabila kita membaca sejarah kebesaran negeri Wilwatikta itu. 


Konon raja muda inilah yang berhasil mengibarkan bendera negerinya, terbang laksana burung garuda. Di bawah kepemimpinannya wilayah kekuasaan Majapahit terbentang luas melebihi wilayah Nuswantara saat ini. 


Bersama sang Gajahmada, Hayam Wuruk telah mampu menancapkan kakinya tak hanya di bumi Nuswantara, melainkan hingga ke negeri Tumasek (Singapura), Brunai, dan Serawak (Malaysia).


SIAPAKAH sesungguhnya Prabu Hayam Wuruk itu? Dari jalur ibu telah jelas ia putra Tribuwana Tunggadewi, cucu Raden Wijaya dan cucu buyut Prabu Kertanegara Singosari.


Dari jalur ayah ia adalah putra Pangeran Cakradara. Lalu siapa Cakradara itu? Dalam Babad Tabanan (Bali) disebut sebagai putra sulung Dara Jingga. Adiknya yang juga terkenal di antaranya adalah Adityawarman dan Arya Kenceng (raja Tabanan I).


HAYAM WURUK LAHIR pada tahun 1334 M bersamaan dengan gempa bumi hebat dan meletusnya Gunung Kelud. Saat itu sang ibu sebelum melakukan cuti panjang telah melantik Gajahmada menjadi Patih Hamangkubumi. 


Dan Mahapatih baru itupun menyatakan kesetiaannya dengan sumpahnya yang amat terkenal *Tan Amukti Palapa*.


Bunyi sumpah itu ada dalam Kitab Pararaton : "Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa."


Artinya, "Jika telah mengalahkan Nuswantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, *Tumasik,* demikian saya (baru akan) melepaskan puasa."


Nama Hayam Wuruk mengandung arti *ayam yang terpelajar*. Ayam adalah hewan yang lincah dan produktif, sedang terpelajar bermakna cerdas dan baik hati.


Kecerdasan itu terbukti dengan ia ciptakan semboyan *Bhineka Tunggal Ika* yang ia sampaikan lewat kitab Sutasoma Pupuh 139 bait 5 karangan Mpu Tantular (keponakan sendiri).


Luar biasa, bangga memiliki leluhur Hayam Wuruk, di abad ke-14 manajemen pluralisme kebangsaan telah diterapkannya dengan sangat baik.


Dalam usia yang sangat muda ia mampu merajut kebhinekaan justru menjadi nilai kekayaan dan persatuan bangsa.

Sebagai pengayom rakyat ia telah membuktikan dengan seringnya hadir ke tengah *kawula alit.*


Dalam naskah terjemahan Theodor Pigeaud, *“Java in the 14th Century. A Study in Cultural History”*, 5 vols., The Hague 1960-1963 digambarkan bahwa Hayam Wuruk senang melakukan kunjungan-kunjungan.


Setiap tahun di “akhir musim dingin” atau sehabis panen, Sri Rajasanagara pergi menggunakan pedati yang ditarik sapi, diiringi rombongan besar. Setidaknya tercatat ada kunjungan Pajang (1353), Lasem (1354), Lodaya (1357), Lumajang (1359), Tirib Sompur (1360), Palah Blitar (1361), dan Simping (1363).


Sementara itu Tim kajian yang dimotori olehDaud Aris Tanudirjo, dkk ., Yayasan Djojohadikoesoemo, 2014, menghasilkan karya yang berjudul *Inspirasi Majapahit*.


Diuraikan di situ bahwa perjalanan ini membutuhkan energi, waktu dan biaya yang besar. Rombongan disertai para pejabat tinggi termasuk para penguasa daerah yang tinggal di ibukota beserta 

istri (para Bre). Kereta pedati sekitar 400 dan diiringi pejalan kaki, ada yang naik gajah dan naik kuda. 


Sering melewati ratusan desa yang mencakup kawasan ribuan mil persegi. Tidak heran jika waktu yang dibutuhkan hingga dua bulan lebih. Tapi bagi sang raja kebijakan ini dilakukan tentu memiliki arti yang sangat penting, demikian juga bagi rakyatnya.


TAN HANA DHARMA MANGRWA


SALAH SATU kunjungan yang menarik seperti yang diceritakan *Ichdiana Sarah Dhiba* seorang Pamong Budaya Jawa Timur. Ringkasnya adalah saat sang raja melakukan tetirah ke Lembah Bromo. Ia sengaja bermalam di Madakaripura, sebuah kawasan air terjun yang kemudian ia hadiahkan kepada Mahapatih Gajah Mada. Dilanjutkan menuju ke selatan, menyusuri pantai selatan ke arah timur dan bermalam di Patunjungan.


Rombongan meneruskan ke Rawa Kopek untuk menikmati telaga yang berdampingan dengan laut itu. Dilanjutkan ke daerah *Sadeng* (Jember) dan menginap beberapa hari di sana.


Dari Sadeng berlanjut ke utara melewati Pakambangan dan menuju wilayah Patukangan dan *Keta* (Situbondo) dan menginap juga. Rakyat sekitar begitu bersemangat dan mengelu-elukan sang raja dan rombongannya.


Mengingat Sadeng dan Keta pernah mbalelo dan ditaklukkan ibunda Tribuwana, maka bisa dimaknai ini adalah perjalanan politik meskipun dikemas seperti kegiatan wisata.


ACARA LAIN yang sangat mengagumkan adalah saat baginda mengadakan pesta *Srada* untuk memperingati 12 tahun wafatnya sang nenek (Dyah Gayatri). Upacara keagamaan yang berlangsung selama tujuh hari (1363 M) di Bayalangu diakhiri dengan pesta besar-besaran. 


Pada Pupuh ke-65 dan 66 Negarakertagama, Mpu Prapanca menceritakan kemeriahan itu secara sempurna.


"purnnamakala ... ghurnnan kahala canka len padaha ganjaran i harp acankya mandulur, rin sinhasana cobhitaruhur/ manusa kahananiran/ winursita." (Kala purnama arca dikeluarkan disambut gemuruh dengung salung, tambur, terompet serta genderang. Arca didudukkan di atas singgasana, besarnya setinggi orang berdiri).


Dalam pesta itu semua Adipati hadir, tak ketinggalan sang Baginda sendiri, ibunda Tribuwana dan Mahapatih Gajahmada. Di hari terakhir diadakan karnaval para Nayaka dan semua seni hiburan rakyat tumpah ruah.


Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-desak, Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta para luhur, Sri Nata menari di balai witana khusus untuk para puteri dan para istri.


Hidangan jamuan kepada pembesar, abdi dan niaga dan penonton yang lain mengalir bagai air. Baginda raja pada hari yang ketujuh, menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan makanan, Luas merata kepada empat kasta


Agaknya ada pembagian tugas besar antara Sang Raja dengan Mahapatihnya. Hayam Wuruk lebih berkonsentrasi pada pulau Jawa sedang Gajahmada lebih mengarah pada pemersatuan Nuswantara.


Inilah wujud nyata dari prinsip persatuan yang dicetuskan dalam Kitab Sutasoma, yakni *"Bhineka Tunggal Ika -  Tan Hana Dharma Mangrwa"*

(Berbeda-beda satu jua - Tak ada pengabdian yang menyamainya).


Demikian semoga bermanfaat.


Tasikmadu, April '21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar