(Raksasa itu tenggelam ke dasar samudra)
Oleh: Rus Rusman
WUS TUMIBA ING mangsa kala, pagi berubah menjadi siang dan siang bergeser ke arah malam. Peradaban demi peradaban silih berganti dan selalu menjadi bahan perdebatan sejak zaman kuno.
Suatu hari seorang filosuf Yunani terkenal, Plato (428 SM), berkata kepada gurunya : "Your heyday has been lost, my teacher!"
(Hari-hari kejayaanmu telah musnah, guru).
Namun sang guru menggeleng, dan tanpa berkata apapun orang tua itu melangkah tertatih-tatih meninggalkan muridnya.
Besuknya guru Plato itu datang lagi, tapi ia tidak sendiri. Kali ini Socrates ditemani oleh topeng yang melekat erat di wajahnya.
"Hai guru, mengapa kau bertopeng mirip wajahku? Apakah guru tak khawartir nanti jatuh tersandung batu?" teriak Plato.
Socrates menjawab sambil terengah-engah:
"I have never been afraid of falling (aku tak pernah takut jatuh), bahkan tak takut tenggelam ke dalam lumpur, karena sepeninggal aku, ada muridku
(seraya menunjuk topengnya) yang akan mengembangkan ilmuku jauh lebih dahsyat daripada aku."
Plato terkejut mendengar pujian itu, maka dengan tergopoh-gopoh iapun datang merangkul dan menangis di depan gurunya.
"As long as there is a glow on the faces of the youth (sepanjang masih ada sinar di wajah-wajah kaum muda) maka saat ini nyawaku yang tua dicabut pun tidaklah mengapa." Seru Socrates sedikit parau.
Hebatnya, drama satu babak tentang peristiwa di zaman kuno itu telah menghebohkan dan menginspirasi para ilmuwan sedunia.
Duh, andai para pengagum Plato itu tahu bahwa di negeri ini telah ada leluhur Nuswantara yang jauh lebih luas cara pandangnya daripada Socrates.
Seperti halnya saat itu di pertengahan abad ke-15, seorang raja duduk di Singgasana dan berkata kepada orang-orang yang ada di depannya.
"Hari ini aku merasa tinggal di sebuah rumah tua reot yang hanya menunggu robohnya. Namun begitu melihat wajah-wajah muda kalian, seakan kusaksikan cahaya terang menyala di dalam rumah tua ini."
Dan raja itu tiasa lain adalah Prabu Dyah SUHITA yang tengah menerima kedatangan para pemuka agama. Di depan sang raja adalah tokoh-tokoh muda Hindu-Budhistan, para pemimpin Islam dan orang-orang Tionghoa.
Raja memang memberikan kesempatan kepada semua agama tanpa pilih kasih. Itulah kehebatan raja putri yang satu ini.
Sabda pandhita pangandikaning ratu, beberapa bulan setelah itu ia buktikan dengan mengijinkan adiknya, Arya Kertawijaya, yang meminta restu menikah dengan Dyah Anarawati (Dwarawati), yakni putri Prabu Kunthora dari Negeri Champa.
Belakangan diketahui bahwa Prabu Kunthora adalah raja di wilayah *Vietnam* (sesuai Encyclopedia Van Nederlandesh Indie)
yang memeluk agama Islam berkat perjuangan Syeh Ibrahim Asmarakandi.
ADALAH pertanyaan besar, apa yang menyebabkan Dyah SUHITA seakan membuka diri bagi kehadiran semua agama? Islam dan agama lainnya seakan menemukan jalan lapang di masa pemerintahan raja ini
Semua itu karena raja menyadari bahwa Majapahit telah harus menerima takdirnya, Sang sandyakala yaitu selarik garis merah di langit senja telah tiba. Dan raja seakan terketuk pintu kalbunya, terterawang dalam sasmita gaibnya.
"Aku tak mungkin menentang kehendak kodrat, telah datang ing mangsa kala, dan tertulis dalam pakem bahwa yang kecil akan menjadi muda perkasa, dan yang muda akan beranjak tua."
Apa boleh buat, Majapahit yang pernah menerima sandyakala itupun harus menemukan babak barunya, ialah: Sirna Ilang Kertaning Bumi.
Ia adalah seruling senja yang seakan mengiringi hilang lenyapnya suatu zaman, masa di mana keemasan itu telah pergi. Meninggalkan lautan kenangan yang berlalu lalang, ada kalanya indah namun tak sedikit yang terasa getir atau bahkan teramat pahit.
Bunyi sengkalan yang sebagaimana tercantum dalam Serat Kanda dan bermakna sangkakala 1400 caka atau 1478 Masehi.
Tiada lain ialah suatu tahun di mana pukulan telak tepat mengena pada ulu hati sang raksasa yang dulu bernama Majapahit dan membuatnya tenggelam ke dasar samudra.
Lamat-lamat kidung yang mengerikan itu terdengar:
"... Lingsir wengi tumeking ing sirna,
Ojo tangi nggonmu guling,
Awas Jo ngetara,
Aku lagi bang wingo-wingo,
Jin setan kang tak utus,
Dadyo sebarang
Waja lelayu ..."
PRABU BRAWIJAYA
SIRNA ILANG yang pertama dimulai ketika tahun 1447 M Dyah SUHITA wafat dan digantikan oleh Arya Kertawijaya (1447-1451) dengan gelar Sri Maharaja Wijaya Parakrama Wardhana.
Raja inilah yang oleh beberapa sumber disebut sebagai *Brawijaya ke-1*. Meskipun Negarakertagama dan Pararaton tak pernah sedikitpun menyebut hal itu, namun nama Brawijaya telah ramai dibicarakan di cerita-cerita babat dan amat terkenal di masyarakat.
Pada masa pemerintahanya sering terjadi bencana alam, gempa bumi dan gunung meletus.
Bahkan terdapat pembunuhan penduduk *Tidung Galating* oleh keluarga raja.
Ketika Arya Kertawijaya dilantik sebagai raja, ia sudah beristrikan Dewi Anarawati (Dwarawati) dan telah memiliki putra.
Besar kemungkinan pernikahan ini adalah strategi para ulama di zaman itu yang bertujuan untuk membuka pengembangan Islam lebih lanjut.
Namun agaknya kelompok lain juga tidak tinggal diam. Pada sekitar tahun 1448 M Sang prabu menikahi seorang selir, yakni *Dewi Kiyan* yang merupakan wanita keturunan Tionghoa.
Pada awalnya keluarga raja tidak mempersoalkan hadirnya istri muda ini, tapi ketika sang selir *anggarbeni* timbulah pertentangan hebat.
Sebagai akibatnya sang prabu mengungsikan istri muda itu ke Palembang, sebagai hadiah untuk Arya Damar.
Beberapa bulan kemudian si bayi lahir dan diberi nama Arya Jimbun yang kelak kita kenal sebagai *Raden Patah*.
Hal ini sesuai dengan Silsilah yang tertulis di dekat batu nisan makam *Ratu Kalinyamat* (cucu Raden Patah) bahwa leluhur mereka adalah Arya Kertawijaya.
Pada tahun 1443 M telah datang ke Palembang rombongan syeh Ibrahim Asmarakandi. Rombongan ini mengantar Raden Rahmat atau Ahmad Rahmatillah (nama muda Sunan Ampel) menghadap ke Majapahit, namun harus singgah di Palembang terlebih dahulu.
Berkat kerja keras Syeh Ibrahim Asmarakandi Arya Damar masuk Islam dan berganti nama menjadi *Arya Abullah* (Arya Dilah).
Seorang ahli pengobatan Portugis, Tomi Peres, berkisah dalam naskasnya yang berjudul *Summa Oriental.* Bahwa sekitar tahun 1510 M penduduk pesisir timur Sumatera sudah banyak yang memeluk Islam.
Rombongan Syeh Ibrahim melanjutkan ke Jawa, singgah di Tuban dan bertemu dengan Syeh Abdurrahman atau Adipati Arya Teja (1948). Namun sebelum sempat melanjutkan ke Majapahit Syeh Ibrahim wafat dan dimakamkan di Gesikharjo Palang.
Arya Teja mendapat amanat mengantarkan ke Majapahit menghadap Prabu Kertawijaya. Setelah Raden Rahmat mengabdi pada bibinya, Dewi Dwarawati, Raden Rahmat memperoleh hadiah tanah di tlatah Ampel Denta.
Sayang sekali sang permaisuri itu harus menghadap Yang Maha Kuasa di akhir tahun itu juga.
Di Mojokerto ditemukan situs makam putri Champa yang diyakini sebagai istri Brawijaya dan berbatu nisan dengan angka tahun 1448 M.
Di Ampel Denta Raden Rahmat berhasil mendirikan pesantren dan beliau lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Pengaruh Sunan Ampel sangat besar, bahkan mengalahkan Arya Lembusora penguasa Surabaya saat itu.
Pada suatu kesempatan Sunan Ampel suwan kepada sang Brawijaya dan bercerita tentang kelahiran putra beliau di Palembang. Mendengar hal itu Prabu Kertawijaya betkenan menghadiahkan tlatah Glagah Wangi (Demak) untuk putranya. Sengaja dipilihkan yang agak jauh untuk menghindari pertentangan keluarga.
Dalam pada itu di Palembang, Dewi Kiyan setelah melahirkan Arya Jimbun menikah dengan Arya Dilah dan berputra *Raden Husen*. Kelak Arya Jimbun dan Raden Husen setelah besar menuntut ilmu di pesantren Sunan Ampel.
GELOMBANG PRAHARA
SIRNA ILANG *kedua* telah titi mangsa, ketika tiba-tiba terdengar kabar bahwa sang *Brawijaya mangkat* (1451M). Wafatnya raja secara mendadak menimbulkan spekulasi bahwa beliau sengaja dibunuh, dan yang melakukan tindakan nekat itu adalah salah satu orang dekat beliau, ialah Sang Sinagara.
Sinagara adalah termasuk kerabat keraton yang berasal dari wangsa Singosari. Ia kemudian menggantikan sebagai raja dan bergelar *Sinagara Rajasawardhana* (1451-1453 M). Gelar ini menandakan bahwa ia masih membanggakan diri sebagai keturunan Ken Arok.
Tetapi pemerintahan sang Sinagara tidak berjalan lama. Pada tahun 1453 M terjadi pertikaian hebat di antara keluarga raja yang menyebabkan raja terbumuh. Dan pemerintahan kosong selama tiga tahun.
Akhirnya Batara Saptaprabu mengangkat putra Kertawijaya sebagai raja dengan gelar *Suryowikrama Girisawardhana* (1456-1466 M). Dia adalah saudara seayah dengan Arya Jimbun.
Pada waktu itu kedua pangeran kecil dari Palembang sudah memuntut ilmu di Ampel Denta. Kepada sang Prabu Sunan Ampel juga sering memperkenalkannya. Hubungan antara saudara seayah, di bawah bimbingan Sunan Ampel cukup baik.
Atas seijin raja, Sunan Ampel menyarankan agar Arya Jimbun mengamalkan ilmunya mendirikan pesantren di Glagah Wangi. Hal ini sesuai wasiat mendiang ayahnya Prabu Kertawijaya.
Sedang Raden Husen lebih berminat mengabdi kepada kerajaan. Ia diterima menjadi kerabat keraton sekaligus sebagai prajurit Majapahit oleh raja yang tidak lain adalah saudara sepupunya sendiri.
Pemerintahan Prabu Suryowikrama berlangsung selama sepuluh tahun. Dan setelah beliau wafat digantikan adiknya, yaitu Prabu *Singawikrama Wardhana*(1466-1478). Raja ini disinggung juga dalam prasasri Jiu.
Agak berbeda dengan kakaknya yang tenang dan bijaksana, raja yang kali ini bersifat keras dan tegas. Terutama terhadap pihak-pihak yang dianggap mengancam eksistensi kerajaan.
Atas jalur politik yang diterapkan raja, akhirnya keturunan sang Sinagara memilih menyingkir ke Kediri. Kali ini mereka bergabung dengan kekuatan lain, yakni keturunan Prabu Jayakatwang yang pernah dikalahkan Majapahit pada zaman Raden Wijaya.
Dalam pada itu di Glagahwangi Arya Jimbun sudah banyak pengikutnya. Bahkan sudah berkembang menjadi sebuah kadipaten dan miliki tentara yang cukup.
Namun Sunan Ampel selaku sesepuh para wali berpesan untuk tidak mrmulai peperangan, mengingat jasa baik mendiang Prabu Kertawijaya.
Tak pelak jalur keras yang ditempuh raja seringkali menimbulkan gesekan. Terjadilah SIRNA ILANG *ketiga*, ialah peperangan pertama antara tentara Islam dengan Majapahit.
Peperangan itu mengakibatkan gugurnya senopati Demak oleh Raden Husen, yakni *Sunan Ngudung* yang merupakan suami Nyai Siti Syari'ah binti Sunan Ampel. Peperangan pertama itu terjadi di dekat Tuban (Ahmad Mundzir, Nurcholis, 2016: 26).
Terjadilah perang dingin antara Demak dan Majapahit. Tetapi keberadaan Sunan Ampel senantiasa mampu menjadi air yang meredam suasana. Apapun yang terjadi Demak adalah anak dari Majapahit, tidak boleh ada dendam.
"Yang sudah terjadi sudahlah, kalian tidak akan mengantar perang kecuali atas ijinku, " kata Sunan Ampel.
"Daulat kanjeng Sunan, " jawab Arya Jimbun.
Namun di luar dugaan, ternyata terjadi ledakan dari sisi lain. Bara api dari Kediri justru yang pecah menjadi percikan-percikan hebat. Munculah kemudian SIRNA ILANG *keempat*. Hantaman dasyat dari tentara kediri telah mengakibatkan gugurnya Prabu Singawikrama.
Kekuasaan Majapahit berpindah ke tangan Putra sang Sinagara, yakni Prabu *Dyah Wijayakarana Girindrawardhana* (1478). Ibukota kerajaan ia pindahkan ke daerah *Keling* Kediri (Majalah Jayabaya, 2 Desember 2001).
Sebagian sumber mengatakan bahwa Dyah wijayakarana identik dengan Prabu Kertabumi atau *Brawijaya V.*
Untuk memperkuat negara dari serangan musuh, raja mengundang peran *Portugis.* Kedua pihak bermaksud membuat perjanjian. inilah yang kemudian menjadi alasan kuat bagi tentara Islam untuk melakukan penyerangan.
Pada waktu itu pimpinan para wali dipegang oleh Sunan Giri. Prajurit Islam berhimpun di samping dari Demak sendiri juga ikut bergabung dari Palembang, Semarang, Tuban dan para Santri Ampel yang dilatih secara khusus.
MAKA tak ampun lagi ledakan paling dasyat, SIRNA ILANG *kelima* yang oleh Serat Kanda disebut sebagai *Sirna Ilang Kertaning Bumi*, yakni hilang lenyapnya kemakmuran dunia.
Pararaton tidak mau kalah, ia menyebut dengan istilah *Sunyo Nora Yugane Wong*, yang bisa diartikan sebagai hilangnya kesabaran seorang anak kepada bapaknya.
Tentu yang dimaksud anak adalah Kadipaten Demak sedang sang bapak adalah Majapahit.
Sirna Ilang kertaning bumi menunjukkan tahun caka 1400 atau 1478 Masehi. Adalah waktu kelumpuhan total negeri Wilwatikta.
Prabu Wijayakarana gugur ing madyaning palagan, dan para walisanga mengukuhkan Arya Jimbun sebagai raja Demak Bintara dengan gelar *Sultan Alam Akbar Al-Fatah* atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Patah.
Sementara sisa-sisa Majapahit masih menyeruak, pada tahun 1486 M dipimpin oleh *Dyah Wijayakusuma Girindrawardhana* dengan ibukota di *Daha* Kediri.
Konon kekuasaan beralih kepada *Dyah Ranawijaya Girindrawardana*, dan ibukota dipindahkan ke *Panarukan* Pasuruan sampai akhirnya tak terdengar lagi.
Demikianlah Majapahit yang pernah perkasa telah tutup layar, dan panggung kehidupan baru telah tergelar
.
Dari desa ke desa suara beduk dan kentongan bertalu-talu mengiringi riuhnya para wali dan kawula mengalunkan gending ilir-ilir, menambah sejuknya suasana.
Lir ilir, lir ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surako Surak hooree..! ***
Demikian semoga bermanfaat.
Tasikmadu, April 2021.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar