-

Rusmannulis

Minggu, 16 Mei 2021

MENOLAK KISAH PENYEBAB GUGURNYA SULTAN TRENGGONO

Oleh: Rus Rusman



REMBULAN masih memancarkan sinarnya, ayam jantanpun sudah berkokok dua kali, pertanda sang fajar telah siap menanti.  Dari kejauhan lamat-lamat masih terdengar suara emban Sentika menyenandungkan gambuh piweling. 


Suaranya mendayu-dayu, terkadang terdengar agak jelas namun sekejap kemudian seperti tertiup angin dan hilang ditelan redupnya malam.


"KANG sumembah sungkem ipun ...

Mring Hyang Sukma ...

Elinga sireku ...

Apan titah sadaya ... 


Amung sadermi ...

Tan welangsira andhaku ...

Kabeh kagungan Hyang Manon ..."


"Sujudku dan sungkemku ...

Hanyalah kepada Tuhan semata ...

Ingatlah istriku ...

Bahwa manusia ini ...

Sekedar menerima dan menjalankan ...

Hanya itu pesanku ...

Kita semua hanya milik Sang Pencipta."


Di tengah suasana sunyi itulah tiba-tiba terdengar isak tangis dari dalam bilik Kedaton. Seorang perempuan telah cukup lama menumpahkan kesedihannya. Wajahnya tertelungkup di pinggir pembaringan. Sebentar-sebentar tangannya mengusap air mata yang mengucur membasahi wajah dan sebagian rambutnya.


Siapakah wanita itu? Dia adalah Kanjeng Ratu Pembayun, permaisuri Demak Bintoro yang juga putri sunan Kalijaga. Seorang wanodya  trahing waliyullah linuwih yang sudah pasti seorang istri yang Solehah. Namun saat ini perempuan separuh baya itu sedang menerima ujian dari Allah SWT., ialah dengan wafatnya sang guru laki.


Malam itu suasana haru dan sedih  menyelimuti hati semua orang. Demak Bintoro kehilangan raja kinasih menyusul wafatnya Sultan Trenggono yang terluka saat berjuang dalam peperangan di Panarukan (1546 M).


Jika runtuhnya Majapahit cinandra melalui Sandyakalaning Majapahit dan Sirna Ilang Kertaning Bumi, maka redupnya Kasultanan Demak tergambarkan sebagai murcaning awewadag sang Alam Akbar III (Gelar raja Demak).

Sebagaimana diuraikan MC Ricklesfs dalam buku A Historis Of Modern Indonesia Since 1200 (2001) bahwa Kerajaan Demak berdiri menjelang abad ke-15 atau 1475-1518. Didirikan oleh Raden Patah putra Brawijaya (Ari Welianto, kompas.com Selasa, 17 Desember 2019).

Adalah kerajaan Islam pertama dan terbesar di tanah Jawa, yang tidak lain adalah hasil Karya nyata para Walisongo, yakni orang-orang pilihan Gusti Allah yang dihadiahkan untuk umat-Nya di Nuswantara.


Meskipun sejarah mencatat keruntuhan Demak Bintoro terjadi di tahun 1549 M, yaitu ditandai dengan berdirinya Kerajaan Pajang, namun sesungguhnya suramnya langit itu sudah terasa sejak wafatnya Sultan Trenggono. 


Memang benar setelah itu Demak masih berkibar bersama Sultan Prawoto sebagai penggantinya, tetapi ibarat seekor burung ia sudah kehilangan sayapnya. Demak bagaikan kereta yang kehilangan roda, berjalan terseok dan tinggal menunggu kapan runtuhnya.


Tulisan ini sengaja hanya menyisir sejarah Demak pada bagian akhir, yaitu sekitar wafatnya Sultan Trenggono yang bagi penulis masih meninggalkan pertanyaan besar.


KISAH YANG DIRAGUKAN


SEBAGAIMANA diuraikan dalam berbagai sumber bahwa Sultan Trenggono gugur di medan perang saat mengepung Panarukan (Situbondo) yang saat itu dikuasai Blambangan. 


Namun bukan gugur saat mengangkat senjata di tengah palagan, melainkan karena kemarahan pelayan kecilnya yang nekat menghujamkan pisau   saat sultan sedang memimpin rapat.


H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud dalam bukunya "Kerajaan Islam Pertama di Jawa (2001: 89)", mengisahkan bahwa Sultan Trenggana meninggal karena ditusuk anak umur 10 tahun. Hal yang sama juga tertuang dalam manuskrip karya Gusti Raden Ayu Brotodiningrat, yang berjudul “Kerajaan Demak”.  


Tak ketinggalan pula Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Arus Balik, menceritakan hal serupa, meskipun dengan variasi yang berbeda.


Terus terang ada beberapa kejanggalan yang menggelantung dalam pikiran penulis  dalam menanggapi kisah-kisah di atas.


Pertama, bagaimana mungkin seorang pelayan raja (anak kecil pula) diperkenankan hadir dalam pertemuan penting untuk bisa menyusun strategi perang?


Kedua, anggaplah benar ia berada di dalam ruangan itu, seberani itukah pelayan raja hanya dimarahi karena lupa menyediakan sirih lantas membalas dengan tusukan pisau, bukankah raja saat itu juga dikerumuni para senopati pilihan?


Ketiga, andaikan benar ada pisau yang meluncur ke tubuh sang sultan, semudah itukah sarira Sultan menjadi sasaran empuk bagi tusukan pisau tangan kecil seorang bocah?


Bukankah Sultan Trenggono konon memiliki ajian Lembu Sekilan, dan ajian Macan Putih dari Sunan Kalijaga yang pasti tingkatannya tidak kalah dengan menantunya Mas Karebet.


Diceritakan Mas Karebet yang waktu itu sudah menjadi Sultan Pajang (1550 M), pada suatu malam di tengah tidurnya telah diserang dengan keris oleh utusan Arya Penangsang yang sudah pasti orang pilihan. Tapi berkat aji lembu sekilan sultan muda itu selamat dan justru memberi hadiah kepada orang tersebut.


Sultan Trenggono sudah pasti adalah juga orang yang sakti, ia adalah mertua Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya, ia juga menantu Sunan Kalijaga, dan seorang raja besar yang berhasil menaklukkan banyak kadipaten.


Tercatat di antaranya raja Demak ini mampu merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran, menghalau tentara *Portugis* yang akan mendarat di tanah sunda (1527), menakhlukkan Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan  Malang (1545). 


Pada saat pemerintahanyalah armada laut Demak sangat perkasa di Selat Sunda dan Laut Jawa. Karena itulah untuk menuju ke Maluku, Portugis lebih memilih menyusuri Pantai utara Kalimantan dan Sulawesi Utara (R. Moh. Ali, 1963).


Rasanya menjadi *risih naluri batin* kita mendengar seorang ratu binatara tewas hanya karena sebuah pisau si bocah kecil. Bukankah sering digambarkan kesaktian raja-raja Jawa sebagai insan linuwih, ibarat *tinatah mendat jinara menter,* Ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindro.


Maka kisah tentang gugurnya Sultan Trenggono itu adalah sebuah pelecehan besar bagi kedaulatan dan  martabat ilmu *kanuragan Jawa.*


Mengapa kita mau terbelenggu oleh cerita yang tidak masuk akal itu. Terus terang sebagai pecinta sejarah bangsa, saya (penulis) ingin *memberontak* terhadap cerita murahan ini.


Lagi pula kenapa orang sekelas Pramudya Ananta Tour dan H.J De Graf yang dikenal sebagai Sejarahwan Profesional ikut-ikutan terperosok oleh kisah lucu dan aneh seperti itu? Mungkinkah karena beliau tidak ada pilihan lain kecuali harus menelan pil pahit dari satu-satunya sumber yang bisa dipercaya?


Inilah sebenarnya kelemahan fatal bangsa kita atau para leluhur di zaman dulu. Pada masa itu menulis adalah pekerjaan besar yang hanya bisa dilakukan oleh seorang pujangga. Jangankan menulis untuk membacapun hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang.


Namun sekarang, setelah zaman melompat berabad-abad ke depan, nyatanya tak jauh berbeda pula. Memang sekarang hampir semua orang sudah pasti *melek baca dan tulis,* tapi untuk menemukan orang yang sebenar-benarnya membaca rasanya masih sangat jarang. Apalagi menulis yang  sungguh-sungguh menulis. 


Padahal menulis ibarat melukiskan pikiran dan bekerja dalam keabadian. Orang boleh saja pandai setinggi apapun, tapi kalau tidak menulis ia akan mudah ditelan zaman. Pekerjaan menulis tak ubahnya dengan menggapai umur yang jauh melebihi usia fisik kita. 


KISAH YANG TENDENSIUS


Kembali pada Sultan Trenggono, untuk bisa mengungkap misteri wafatnya beliau, pekerjaan pertama yang harus kita lakukan adalah mengungkap *siapakah sumber pertama* dari cerita yang ngaya wara itu.


Berita kematian Sultan Trenggono pertama kali ditemukan dalam buku catatan seorang warga negara Portugis  *Fernandez Mendez Pinto.*


Orang Portugis itu datang bersama 40 temannya dan ikut ke Panarukan bersama rombongan 7.000 tentara Cirebon yang dikirim oleh Sunan Gunung Jati. Pasukan dipimpin oleh Faletehan atau menantunya. Inilah sebenarnya *ketedoran pertama* yang telah dilakukan oleh pasukan Demak.   


Mengijinkan orang asing (apalagi Portugis) dalam jumlah tidak sedikit untuk suatu tugas negara adalah sebuah kesalahan besar. Meskipun Fernandez Pinto telah diyakini sebagai pengamat perang namun kewaspadaan mestinya tidak boleh berkurang.

Lalu siapakah teman-temannya yang berjumlah 40 orang itu?


Apakah tidak mungkin sebagian  dari mereka adalah *telik sandi* Portugis yang sengaja menyamar sebagai pengamat? Hal itu sangat mungkin mengingat Portugis saat itu berambisi sekali untuk menguasai Nuswantara.


Segala daya upaya tentu dilakukan mereka, apalagi Demak sendiri tak henti-hentinya

menjadi penghalang utama bagi keinginan negeri penjajah. Sejak di zaman Raden Patah Demak telah membuyarkan perundingan Portugis dengan Prabu Girindrawardana dari Majapahit (1478 M).


Begitu pula pada zaman Sultan kedua, yakni Adipati Yunus, Demak bahkan berani menyerang Portugis di  Malaka. *J.C. Van Leur* mengisahkan: 


"Pati Unus, a Moslem who

from Jepara had made an *unsuccessful* attack on Portuguese 

Malaka in 1513 " (J.C. Van Leur, I dalam Djojomardojo, Muljono, dkk., 1982/1983).


Sekali lagi rombongan Fernandez Pinto sangat mungkin adalah pasukan yang disusupkan. Mereka bertugas mengobrak-abrik strategi perang pasukan Demak Bintoro dan kalaupun mungkin menghabisi pelaku utama. Mengapa tidak?


Maka jangan heran kalau Demak selalu gagal dalam penyerangan. Sudah tiga bulan Panarukan berhasil dikepung  namun musuh tetap berhasil bertahan dan bergerilya.


Kontan hal itu sangat membuat pusing Sultan Trenggono. Musuh seperti selalu bisa membaca rencana-rencana perangnya. Bahkan sultan seperti tidak menyadari tentang berkeliarannya orang-orang tak dikenal di dalam pasukannya.


Menurut analisa penulis bukan tidak mungkin orang-orang berkulit putih itu dibekali senjata-senjata khusus. Atau bahan-bahan untuk membuat senjata rakitan.


Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi terhadap diri Sultan Trenggono. Ia sengaja ditembak oleh seorang sniper saat berperang di medan laga. Atau ada bom rakitan yang  sengaja dipasang di perkemahannya.


Kalau dihubungkan dengan jenis luka yang disebut dalam kisah Fernandez Pinto (ditusuk pisau) maka kemungkinan terbesar lebih mengarah pada cara penembakan. 


Dan setelah pekerjaan yang berbahaya itu sudah sukses dilaksanakan, maka giliran tugas Fernadoz Pinto untuk menyusun laporan yang menggelikan.


Tujuannya adalah untuk mengaburkan suasana sekaligus bersih-bersih seolah-olah tentara Portugis tidak tahu menahu tentang persoalan itu.


Sebenarnya jurus *dis-opinion making* itu bukan saja dilakukan Fernandez Pinto saja, namun sebelumnya penulis Portugis lainnya, *Tomi Peres* pada sekitar tahun 1515 M telah juga mempunyai penilaian negatif terhadap Sultan Trenggono. 


Orang ini yang sedang mengumpulkan data untuk bukunya "Summa oriental" berpendapat bahwa Sultan Trenggono terlalu terlena dengan kenikmatan keputren, ia bergaya mewah dan berfoya-foya serta banyak mengabaikan urusan kenegaraan.


Kesimpulan ini jelas terlalu tendensius, terutama jika kita kaitkan dengan kesuksesan Raja Demak ke-3 ini memperluas wilayahnya. Demak menjadi semakin berkibar saat Sultan Trenggono ini memimpin.


Wallahu a'lam.


Demikian semoga bermanfaat.


Tasikmadu,   Mei 2021.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar