-

Rusmannulis

Minggu, 16 Mei 2021

LELAKI BANGSAT ITU MEMILIH SETIA

 Oleh: Rus Rusman




PRIA TINGGI BESAR  dan berdada lebar itu masih duduk di kursi emasnya. Matanya yang biasanya tajam menantang kini nampak lesu tak bercahaya.

Berkali-kali ia menarik nafas panjang sambil mengusap kumisnya yang tebal melintang. 

Entah sudah berapa kali pula iapun bangkit, mondar-mandir tak tentu dan kemudian duduk lagi. Hatinya resah, batinnya gundah.

"Tak hendak melangkah, jika aku masih belum merasa mbak ayumu dalam keadaan benar-benar aman," kata Sang Duryudana itu kepada Kartamarmo adiknya.

Hari itu adalah hari ke-18 atau hari terakhir perang baratayudha, dan tak ada pilihan lain baginya untuk tidak maju ke medan laga.

Semua senopati agung negara Astina telah tewas. Ludhes kewes tanpa sisa.

"Sebagai seorang ksatrita sejati aku tidak akan lari," begitu kata batinnya "aku tidak boleh selak dan tak mau menjadi tertawaan dunia. Tunggulah Bratasena si keparat, pertaruhan terakhir adalah antara kau atau aku, siapa yang akan hancur."

Kini raja Astina itu menggeram bagaikan seekor banteng yang sedang terluka.

NAMUN ada satu hal yang paling menggayuti alam hatinya, satu perkara yang kini membuatnya tak rela, tiada lain ialah dinda ratu Banowati.

Seorang wanita, ibu dari anak-anaknya yang telah lama mendampingi dan selalu menjadi bunga-bunga dalam kehidupannya.

Tregal tregelnya, kenesnya kalau bicara, serta wajah yang mbesengut saat kurang cocok hatinya, semua itu justru bagaikan belenggu cinta bagi sang Duryudana.

Si lelaki yang kondang sebagai raja angkara murka itu selalu kalah dan manggut-manggut saja ketika putri Mandaraka itu mulai sledat-sledot dan berkata harus begini harus begitu.

Jujur harus diakui bahwa semua bayangan istrinya itulah yang sekarang justru membuatnya gelisah, menggoncangkan batin dan nalarnya untuk maju ke medan laga.

Baginya negara Astina boleh saja runtuh, harta kerajaan boleh ludhes tak tersisa, dan semua senopati silahkan saja mati, tapi satu hal ..., tiada lain milikku yang paling berharga.

"Oh Banowatii .. banowati, tak sedikitpun aku rela kau menjadi milik orang lain wong ayuu. Apalagi si laknat Arjuna yang selalu ada dalam bayanganmu."

Maka sambil kembali mengenakan busana senopatinya, raja Astina ini memerintahkan Kartomarmo untuk memboyong mbak ayunya jauh ke tengah hutan.

"Kau akan ditemani paman resi Krepo, bawalah dinda ratu ke tengah belantara agar terbebas dari penciuman Janaka."

"Duh, kakang prabuu, paduka jangan pergi. Masih ada aku, adikmu yang tetap setia menjaga kesugenganmu. Biarlah aku yang maju ke medan laga," jawab Kartomarmo sambil terisak.

"Diam kau Kartomarmo, jangan bodoh. Kali ini adalah giliranku Kartomarmo. Kurawa boleh saja lenyap, tapi tetap harus ada yang tersisa. Dan sudah menjadi takdirmu, kaulah yang tersisa itu," kata Duryudana serasa nengepalkan tangannya.

Kembali ia bangkit melangkahkan kakinya ke sana kemari di depan kursi singgasana. Namun kedua bersaudara itu tetap diam bagaikan terlempar dalam kebisuan.

"Sudahlah adikku. Mungkin aku akan mati, meninggalkan semua yang kumiliki. Dan jika kau memang setia kepada kakakmu ini maka temanilah mbak ayumu. Selamatkan ia, layani sebaik-baiknya seperti selama ini engkau setia kepadaku. Jangan sampai ia bersedih dan keluar air matanya setetespun. Karena jiwaku ada padanya."

Kartomarmo semakin terisak.

"Kau sanggup Kartomarmo?"

"Kasinggihan kakang prabu."

"Bagus, bersumpahlah di depan kakakmu ini dan setelah itu pergilah ke taman keputren. Aku akan langsung melangkah dengan kendaraan gajahku."

"Oh kakang prabuu..! Tidak mengira kalau akhirnya akan menjadi begini. Aku tentu akan setia menjalankan perintahmu, tapi untuk yang terakhir kali, mari aku antar berpamitan kepada kakang mbok ayu."

Prabu Duryudana yang gagah itupun serasa hancur hatinya menerima dekapan Kartomarmo di kakinya.

"Tidak Kartomarmo, aku tidak akan berpamitan. Hati kakangmu ini tentu tidak kuat menyaksikan wajahnya, biarkan ia hanya mendengar cerita tentang kematianku. Katakan agar ia jangan melupakan semua kisah hidupnya bersamaku. Dan yang paling penting, berikan layang cintaku ini padanya. Aku cukup puas dengan menggenggam namanya ke alam surga."

Kartomarmo kembali ternganga. Seperti tak percaya atas keputusasaan kakaknya. Kakang prabu yang selama ini berdiri gagah di hadapan siapa saja, kini bagaikan pohon layu karena cinta.

"Sudahlah Kartomarmoo, kario slamet yayi. Ingatlah semua yang aku pesankan."

Dan raja astina yang kondhang itupun lantas melangkah geloyoran menuju titihan gajahnya. 

Meninggalkan adiknya yang berurai air mata. Meninggalkan gemerlap istana yang menjadi kebanggaannya.

Dan tentu saja meninggalkan pula istri satu-satunya, sang Banowati, yang selama ini menjadi tempat ia menumpahkan segalanya. Tambatan hati yang tidak ada wanita lainnya. 

BEGITULAH, sebagaimana dikisahkan dalam Baratayudha, akhirnya putra sulung Drestarasto itupun mati di tangan Wrekudara.

Semua itu memberikan pelajaran kepada kita, bahwa ternyata wayangpun seperti halnya manusia, tidak ada yang sempurna. Kadang baik dan kadang buruk.

Seperti halnya Puntodewa dan para Pandawa yang tidak lengkap pula sifat kebaikannya, maka dalam gelimang kejahatan Duryudana pun masih ada sebersit mutiara, ialah kesetiaannya pada CINTA.

Karena itu dalam berperilaku Sri Mangkunegara IV  memberikan nasehatnya melalui Serat Darmawasita (1878) sebagai berikut:


Rambah malih wasitaning siwi,

Karya resep mring rewanging linggih. 

Wong kang manut mring caraning bangsa,

watek jembar pasabane.

Wong andhap asor iku,

Yekti oleh panganggep becik.

Wong meneng iku nyata.

Neng jaban pakewuh.

Wong prasaja solahira,

iku ora gawe ewa kang ningali 

wong nganggo tepanira.


Artinya:


Ada lagi petunjuk untuk anakku semua

Sebagai cara saat sesrawung bersama

orang itu harus mengikuti adat suatu bangsa

berwatak dan berpandangan luas

Orang yang rendah hati itu

Pasti akan menerima tanggapan yang baik

Sedangkan orang yang lebih sering diam 

Lebih banyak merasa sungkan

Orang yang lugu sederhana perilakunya

Maka tidak akan membuat orang bosan melihatnya

Sebab ternyata dapat menempatkan diri.**


Demikian, semoga bermanfaat.


Tasikmadu, 10052021 (terbitan II)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar