-

Rusmannulis

Minggu, 06 Januari 2019

TUHAN TAHU KAPAN WAKTUNYA


Oleh: RUS RUSMAN.

Ternyata di balik air mata itu kerap ada kenikmatan

Di seberang tangisan itu kelak lahir kegembiraan

Dan di ujung penderitaan itu muncul kebahagiaan

Saudaraku, bisakah semuanya itu kau bayangkan?

Ooo.. andai kita tahu kapan Allah akan memberikannya

Mungkin kita tidak perlu harus bermandi keringat

Tak usah berlari, jatuh terjerembak dan bangkit lagi

Bahkan kitapun mungkin merasa tak penting lagi untuk berdo'a

Tuhan sengaja menyuruh kita belajar dari orang lama

Yang betah berjam-jam duduk bersila memejamkan mata

Bahkan bisikan do'anyapun tak jelas kata dan kalimatnya

Tapi toh Tuhan tetap berkenan menterjemahkan maknanya

Saudaraku, Allah tahu kapan hadiah itu harus kau terima

Bisa jadi permata itu Allah gantungkan di puncak pohon

Untuk mengambilnya tentu harus kau susun anak tangga

Bahkan mungkin belum sempat berhasil keburu habis waktu kita

Lalu kapan, kapan harus aku terima buah dari do'a-do'aku itu?

Oh Tuhan, begitu lamakah Engkau mencoba kesabaranku

Air mata ini rasanya sudah kering mengalir, bahkan membeku

Untuk kembalipun tak mungkin, terlalu jauh sudah langkahku

Jangan pernah berputus asa wahai saudaraku, teruslah berjalan

Sekali lagi Tuhan tahu kapan waktunya, pasti kelak diberikan

Layaknya menabung, lama diunduhnya tentu terkumpul juga

Siapa tahu nanti untuk keturunanmu: anakmu atau cucumu

Dan akhirnya kau pun pasti mengerti apa yang dimaksud oleh Tuhan

Tiada lain ialah "keikhlasan."


Tasikmadu, 291018

Sabtu, 05 Januari 2019

TRADISI KHITANAN DI LINGKUNGAN KERATON



Oleh: RUS RUSMAN.

Tradisi Khitanan Di Keraton Ngayogjakarta

Sunat atau khitan bagi seorang pria dalam agama Islam dan beberapa agama lain merupakan hal yang wajib dilakukan. 

Memang ini perintah agama, namun pelaksanaannya melahirkan cara yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain.

Cara berbeda-beda itulah yang kemudian menjadikan keunikan-keunikan tersendiri, yang tentu saja sangat menarik untuk disimak. 

Bahkan di beberapa tempat tata cara yang khas cenderung mengkristal menjadi sebuah tradisi.

Berikut ini penulis akan bercerita sedikit tentang prosesi sunatan yang berlaku di lingkungan keraton Ngayogjakarta Hadiningrat, bersasarkan bacaan-bacaan yang penulis kumpulkan.

Di lingkungan keraton hajat sunatan sering disebut "supitan" dan berlaku bagi para pria yang akan menginjak jejaka termasuk para pangeran dan putra sentana dalem yang lain. 

Tujuan supitan ini untuk menghilangkan sesuker atau kotoran dalam alat kelamin lelaki.
Tahapan pelaksanaan supitan di lingkungan Keraton Yogyakarta khususnya bagi putra dalem antara lain begini.

1. Tabuh Gamelan

Sore hari sebelum pelaksanaan supitan, gamelan Slendro dan Pelog ditabuh di Gedong Gangsa sebelah utara dan selatan dan berakhir pukul 18.00. Wib. 

Penabuhnya para Abdi Dalem Punakawan Kridamardawa. Sedangkan gamelan Kanjeng Kiai Kebo Ganggang ditata di Bangsal Mandalasana.

2. Tratag dan Krobongan

Bersamaan dengan alunan gamelan dari gedung Gangsa tadi, di dekat Bangsal Kencana para abdi yang lain mendirikan tratag dan menyiapkan krobongan atau pekobongan. 

Tratag adalah bangunan buatan non permanen yang kalau di mayarakat umum disiapkan untuk menyambut tamu bagi keluarga yang mau punya hajat. 

Tratag ini dibuat agak lebar dan di bawahnya biasanya lantas dipasang meja dan kursi. Tapi bisa pula dipasang tikar atau karpet untuk tempat duduk-duduk atau jagongan.

Sedangkan Krobongan berupa bangunan berbentuk bilik kecil   tidak permanen. Bangunan ini di kanan kirinya dihiasi dengan hiasan tetuwuhan (tumbuhan) terutama terdiri dari dua batang pisang lengkap dengan daun dan buahnya setundun dan dilengkapi dengan pohon-pohon lain termasuk bunga-bunga secukupnya. Pohon pisang ini sebagai perlambang kesuburan.

3. Sesaji

Ada juga sekelompok asesaji dipersiapkan oleh Abdi Dalem Wedana Keparak. 

Sesaji supitan ini berupa tumpeng rombyong, tumpeng gundul, pisang ayu, pisang pundutan peken, seekor ayam hidup dalam keranjang, dan sepasang kembar mayang.
 
4. Siraman dan Santap Malam

Pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB, para Bendara Putri dan keluarga dekat Sultan masuk ke dalam Kedhaton untuk menghias tempat tidur para putra yang akan disunat. 

Setelah selesai para putra yang akan disunat dipersilakan menempati Bangsal Kasatriyan ditemani para Bendara Putri dan Abdi Dalem yang sedang bertugas. 

Di Bangsal Kasatriyan ini para putra yang akan disunat menjalani siraman (dimandikan). Usai siraman, para bendara putri dan istri kerabat keraton dipersilakan ke Bangsal Pengapit.

Sekitar pukul 19.00 atau sehabis sholat Isya' para Pangeran dan bendara kakung lainnya memasuki Gadri Kasatriyan untuk santap malam bersama dan acara pada hari itu pun berakhir.

5. Nengga Kerawuhan

Keesokan hari berikutnya, sekitar pukul 8.00 pagi gamelan mulai ditabuh oleh Abdi Dalem Kridamardawa. 

Sedangkan para Putra dalem yang akan disunat sudah mengenakan busana.

Pada sekitar pukul 9.30 para Bendara Putri, istri para Bendara dan istri para Bupati menempati Bangsal Pengapit. 

Sedangkan para Pangeran dan para Bendara putra lainnya menempati sisi timur Tratag Bangsal Kencana yang sebelah utara.

Di tempat lain para abdi Pengulu, para abdi Bupati dan yang lainnya sesudah sowan ing ngarsa dalem keraton kemudian menuju Bangsal Kotak untuk menunggu para Pangeran memasuki Bangsal Kencana. 

Setelah para Pangeran masuk maka para bupati lalu maju ke Tratag Bangsal Kencana.

6. Kerawuhan Ndalem

Pada sekitar jam 10 pagi Sultan memasuki Bangsal Kencana dengan ageman pakaian takwa. 

Putra Dalem yang akan disunat dipanggil dari Bangsal Kasatriyan. 

Setelah menempati Bangsal Kencana, para Putra yang akan disunat melakukan penghormatan atau 'caos bekti' kepada Sri Sultan.

Kemudian Sultan mengutus satu Bendara Pangeran untuk memeriksa kesiapan dan ubarampe Supitan.

Ketika dilaporkan sudah siap, Sultan lantas paring dhawuh supaya para Putra Dalem yang akan disunat memasuki Pengkrobongan masing-masing.

Setelah para putra Dalem yang akan disunat berada di posisi masing-masing maka Abdi Dalem Pengulu memimpin doa secara adat.

Setelah itulah mulai ditabuh gamelan Kanjeng Kiai Kebo Ganggang, dan seorang Pangeran Sepuh ditugaskan untuk memangku Putra Dalem yang disunat.

Setelah selesai disunat kemudian para putra dalem itu duduk di kursi di Bangsal Kencana.

Di saat itu Sultan memberi dhawuh secukupnya dan para Putra Dalem yang telah disunat lalu kembali ke Bangsal Kasatriyan. 

Setelah Sri Sultan jengkar dari palenggahan, upacara khitanan pun selesai.

Sebenarnya banyak acara-acara di lingkungan  keraton yang memberi kesempatan kerabat dan abdi dalem untuk ikut serta. Termasuk acara khitanan atau supitan ini.

Keluarga abdi dalem yang ikut serta disunat dalam upacara ini disebut dengan istilah bela. 

Para pembaca dapat melihat gambar Pekobongan atau krobongan di atas. 

Di dalam bangunan kecil itulah putra dalem atau wayah dalem disunat. Yang membedakan hanya ukurannya.

Sedangkan untuk bela dari Abdi Dalem cukup disunat kamar, jadi tidak disunat di dalam krobongan itu.

Sebagaimana diyakini oleh masyarakat Jawa, Supitan adalah upacara yang sangat penting dan menjadi perhatian istimewa. 

Setiap anak laki-laki harus disunat sebelum usia dewasa. Supitan ini telah dimaknai sebagai upacara peralihan seorang anak laki-laki ke masa-masa dewasa. 

Pada masa dahulu supitan umumnya dilakukan saat anak berusia antara 10 sampai dengan 16 tahun. 

Di samping itu, upacara supitan sering diistilahkan ngislamke (mengislamkan), yaitu semacam mengesahkan atau menandai seorang anak harus menjalankan kewajiban dalam agama Islam yang dianutnya.***

Keterangan:
Penulis adalah pemerhati budaya, tinggal di Tasikmadu Tuban.

Kamis, 03 Januari 2019

SEJENAK TENTANG KONSEP NEGARA

Oleh: Drs. RUSMAN, MPd.

Semenjak manusia dilahirkan, ia memiliki dua hasrat yang amat penting bagi perkembanghan berikutnya, yakni: hasrat untuk menyatu dengan manusia lainnya, dan hasrat untuk menjadi satu dengan alam sekitarnya. Keinginan manusia untuk dapat hidup bersama dengan manusia lain itu disebut sebagai gregarionees.

Para ahli ilmu sosiologi mengemukakan bahwa perasaan gregrarionees inilah yang kemudian melahirkan apa yang disebut dengan interaksi sosial. Tetapi pada sisi lain secara filsafati hakekat manusia adalah "indisidualityas sosialitas".

Dikatakan individualistis sebab manusia selalu ingin berbeda satu sama lain. Dia memiliki gengsi untuk membuktikan diri bahwa dirinya lebih baik, lebih unggul, lebih pantas untuk memimpin, dsb. Sedangkan hakekat sosialitas mengisyaratkan cara bahwa manusia selalu ada bersama, dan ada bersama itu berarti saling ingin bertemu.

Kesadaran untuk selalu bertemu itu melahirkan konsekwensi harus bermasyarakat. Bermasyarakat berarti merupakan penggabungan, dan pengabungan itu merupakan kesatuan yang sewaktu-waktu dapat bubar atau tidak selamanya. Semua yang penulis uraikan di atas melahirkan sikap dalam diri manusia, ialah perasaan ingroup dan outgroup.

Perasaan ingroup itu menciptakan kewajiban kawan-kawan anggota kelompok untuk turut serta dalam kegiatan-kegiatan kelompoknya. Melahirkan kode etik atau kesepakatan, yang pada gilirannya tercipta norma dan nilai sesama. Sedang perasaan outgroup berarti ia merasa tidak diperkenankan turut serta dalam kelompok lain yang berbeda, merasa sebagai orang luar. 

Untuk bisa berkumpul atau bersatu dalam kelompok tersebut ia harus membuktikan dahulu tingkat solidaritasnya dalam kelompok tersebut baik suka maupun duka. Kalau dalam kelas yang lebih besar gabungan dari kelompok-kelompok atau masyarakat-masyarakat yang memiliki perasaan atau nasib sejarah yang sama itu akhirnya membentuk kelompok besar yang disebut "bangsa".

 Bangsa menyadari adanya bahaya yang sewaktu-sewaktu dapat mengancam, maka mereka membentuk "tata ikatan bersama" (body politic) yang artinya adalah bahwa negara merupakan cita-cita bersama dari berbagai kelompok masyarakat itu. Dari sinilah terlihat betapa pentingnya Pancasila yang merupakan basis idealis bagi Bangsa Indonesia. Pancasila merupakan basis cita-cita yang mampu menjadi pedoman tingkah laku dalam berbagai tata hidup.

Maka pada gilirannya Pancasila juga dapat dikatakan sebagai pegangan ethic untuk menjadi penyorot atau pengontrol tingkah laku kita sehari-hari. Pun sebagai pegangan ethic maka Pancasila mengandung dasar statis dan leadstar (bintang utama) yang dinamis yang dibangun dari berbagai unsur kehidupan (life) dalam diri Bangsa Indonesia.

Unsur yang hidup secara statis dan dinamis (pada sisi lain) itulah yang merupakan cita-cita nasional yang sekaligus merupakan respon terhadap situasi yang ditimbulkan oleh masa penjajahan. Demikian sekilas, semoga bermanfaat. Salam!** 


Penulis pernah memberikan kuliah tentang Pancasila pada S1 PGSD
Universitas PGRI Ronggolawe TUBAN.

Rabu, 02 Januari 2019

PROSESI PERNIKAHAN MENURUT ADAT JAWA



Oleh: RUS RUSMAN.

Adat jawa memang dikenal sebagai salah satu adat yang rinci dalam melakukan setiap upacara.

Bahkan tidak sedikit pula yang menyebutnya "ribet" atau rumit.

Meskipun demikian, serumit apapun tetap saja masyarakat akan menerapkannya sebab mereka berkeyakinan bahwa kekurangan sedikit saja dalam upacara adat bisa berakibat tidak baik.

Upacaranya memang terkesan sangat sakral, namun justru hal yang demikian jika dilakukan secara sungguh-sungguh pasti akan banyak maknanya.

Lebih-lebih jika yang akan dihajatkan adalah acara pernikahan, maka sudah pasti kedua keluarga akan sangat berhati-hati dalam melakukannya.

Berikut ini adalah rangkaian prosesi pernikahan menurut adat Jawa. Penulis hanya mengambil secara garis besar saja mengingat dalam kenyataannya banyak unsur-unsur ritual yang sulit dilukiskan melalui tulisan.

Misalnya saat pendirian tratag dan tarub lima hari sebelum punya hajat.

1. Siraman:

Siraman merupakan tahapan penting pertama yang harus dilakukan dalam prosesi pernikahan.

Pada acara ini pihak pengantin wanita melakukan siraman dengan dipandu oleh para sesepuh.

Siraman artinya mandi dengan air setaman yang dimaksudkan untuk mensucikan diri sebelum penganten menjalankan upacara yang sakral.

Ada tujuh orang terpilih yang akan menyiramkan air ke tubuh calon pengantin.

Tujuh dalam Bahasa Jawa artinya "pitu" yang bemakna pitulungan (pertolongan).

Jadi acara ini dimaksudkan agar kedua mempelai selalu dalam pertolongan atau perlindungan dari Allah SWT.

Pada siraman terakhir sang ayah penganten wanita melakukannya kepada putrinya, lalu dituntun masuk ke dalam rumah.

Acara siraman ini kemudian diakhiri dengan "adol dawet" oleh ibu penganten putri, dijual kepada yang hadir tapi membayarnya secara simbolis saja.

2. Midodareni

Pada daerah tertentu prosesi midodareni ini diawali dengan potong tumpeng oleh ayah dsn ibu calon mempelai.

Namun ada juga yang potong tumpeng dilakukan setelah acara siraman dan jual dawet.

Acara Midodareni pada intinya meminta calon penganten wanita untuk mengurung diri di rumah.

Dia harus berdandan cantik bagaikan seorang bidadari setelah mandi air suci, tapi tidak diperkenankan bertemu dengan calon pasangannya.

Ini dilakukan sehari sebelum pernikahan.
Pada saat seperti ini diyakini sebagai turunnya para bidadari dari kahyangan untuk ikut menyambut hari bahagia ini.

3. Injak Telur

Acara injak telur dilakukan pada saat prosesi temu manten dan balang bantal. Kedua mempelai saling membalang (melempar bantal).

Baru kemudian dilaksanakan injak telur. Telur dimaknai sebagai lambang kesuburan seorang wanita.

Harapannya ialah agar kedua pengantin segera memiliki keturunan yang merupakan tanda cinta kasih berdua.

Setelah menginjak telur, pengantin wanita akan segera membasuh kaki pengantin pria yang merupakan bentuk kesetiaan seorang istri kepada suaminya.

4. Sikepan Sindur

Sindur adalah kain yang terbuat dari bahan yang halus dan indah.

Acara Sikepan Sindur ini dilakukan setelah tahapan injak telur selesai, sedangkan kegiatannya berupa membentangkan kain atau sindur kepada kedua mempelai.

Ayah mempelai wanita akan membentangkan kain sindur di punggungnya dengan tangan kanan kiri memegang pucuk kain.

Sementara kedua mempelai yang ada di dalam lingkaran kain ikut melangkah menuju pelaminan, diiring oleh ibu dan kedua mertua serta kerabat dekat kedua temanten.

Bagian ini melambangkan harapan dari orang tua agar kedua mempelai selalu erat karena telah dipersatukan.

5. Pangkon timbang

Pada tahap ini kedua mempelai duduk di atas pangkuan sang ayah temamten wanita.

Pengantin wanita duduk di atas paha kiri dan laki-laki di paha sebelah kanan.

Bagian ini menunjukkan bahwa kelak sang ayah harus dapat membagi kasih sayang secara adil seperti ayah sendiri. Tidak ada perbedaan antara anak dan menantu.

6. Kacar Kucur

Merupakan lambang kesejahteraan dalam berumah tangga. Mempelai pria akan mengucurkan sebuah kantong yang berisi biji-bijian, uang receh dan beras kuning ke pangkuan pasangannya.

Hal ini mengandung arti bahwa tugas suami adalah mencari nafkah dan si istri wajib mengelolanya dengan baik.

7. Dulang-dulangan

Dulangan atau ada yang menyebut Dahar Klimah (suap-menyuapi).

Kedua penganten akan saling menyuapi masing-masing sebanyak tiga kali.

Harapannya agar pasangan mempelai ini selalu rukun dan saling tolong menolong dalam menempuh kehidupan baru sebagai keluarga.

8. Sungkeman

Acara sungkeman merupakan bentuk bakti kedua mempelai kepada orang tua atau sesepuh.

Sungkeman ini dilakukan kepada kedua orang tua masing-masing pihak.

Ada juga yang diteruskan kepada sesepuh yang lainnya, tergantung dari kelonggaran waktu.

Sebelum mengakhiri tulisan ini penulis ingin menambahkan sedikit tentang hal-hal penting yang terkait dengan sarana pernikahan.

1. Janur kuning

Janur dalam bahasa Arab berarti cahaya dari Surga, sedangkan warna kuning bisa diartikan bersih atau suci.

Jadi janur kuning itu melambangkan cahaya Surga yang suci.

Ada pula yang menjelaskan bahwa janur bisa diartikan sebagai "sejatining nur," atau cahaya sejati.

Peggunaan janur kuning dalam acara pernikahan diharapkan dapat memberikan sinar suci yang cerah, meriah dan penuh dengan suasana optimis tentang masa depan.

2. Kembar mayang

Merupakan sepasang hiasan simbolik yang terbuat dari rangkaian janur, debog pisang, buah dan kembang panca warna.

Ukurannya  setinggi satu meter dan nantinya dipasang di sebelah kanan kiri kursi pelaminan.

Kembar mayang ini bisa dikatakan sebagai lambang prestise bagi penganten maupun keluarga sebab posisi tempatnya yang sangat strategis dan dilihat banyak orang.

Sedang makna ritualnya adalah sebagai simbol doa dan harapan keluarga tentang optimisme serta motivasi dalam menjalani kehidupan, mengingat bentuk fisik kembar mayang yang didominasi janur kuning.

3. Tarub

Tarub semacam pintu gerbang buatan untuk memasuki rumah yang yang dipakai hajatan pernikahan.

Ini juga merupakan tanda bahwa keluarga tersebut sedang mengadakan acara pernikahan.

Tarub dibuat dengan sedikit atap di atas lalu di kanan kiri di pasang pohon pisang utuh dengan buah pisang masing-masing satu tundun.

Tarub dibuat dari macam-macam tumbuhan yang masing-masing memiliki makna utama yaitu sebagai lambang kemakmuran dan harapan bagi keluarga baru.***

Keterangan:
Penulis adalah pemerhati budaya, tinggal di Tasikmadu Tuban.

Selasa, 01 Januari 2019

TRADISI MITONI ING ADAT JAWA


Ritual pitung sasi anggarbeni utawa sing luwih dikenal kanthi jeneng "mitoni" yaiku acara sing ditindakake dening wong Jawa nalika kandhutan bayi si ibu lumebu ing sasi kapitu.

Utamané ritual iki ditindakake deneng keluwarga kang arep kagungan putra kapisanan.

Ing umur pitung sasi janin ing kandhutan sacara medhis uga kena diarani wis mapan kanthi becik.

Ing wektu-wektu kaya iki, kabeh anggota kulawarga rumangsa was-was banget nanging uga seneng amarga dina laire jabang bayi wis cedhak.

Pancen ing kasunyatan, ora sethithik janin sing bisa uga lahir ing umur pitung wulan kaya dene ngene iki.

Sawetara para sepuh malah nyebatake bilih umur pitung wulan ing kandhutan punika minangka kandhutan kang kapetang sepuh.

Mlebu wolung sasi kalebu mbalik enom, lan umur sangang sasi dadi umur tuwa sing temenan.

Mulane, tradisi Mitoni diayahi kanthi tujuan supaya janin bisa tuwuh lan berkembang kanthi lancar, séhat sarta aman.

Ing wektu iki isih ana kulawarga sing tetep nuhoni prosesi Mitoni kanti liwat tahapan ritual.

Diwiwiti karo acara sungkeman, siraman, lan nyebarake salad marang para undangan.

Kajaba iku, ana tradisi sing identik karo lambang arupa benda tartamtu sing kebak makna kang luhur.

Mesthi wae ing kene dibutuhake peralatan sing lengkap lan jumlahe ana pitung bab.

Antara liya ana sing wujud bubur pitung werna, beras ketan utawa jadah pitung bentuk, tumpeng, procotan yaiku panganan legi sing dibungkus saka godhong gedhang, sawetara jajan pasar lan peralatan liyane.

1. Sungkeman

Ing acara kasebut calon ibu lan bapak kudu nindakaké sungkem marang wong tuwa kanggo nyuwun berkah supaya aman lan mulus nalika si bayi lahir.

2. Siraman

Program Siraman arupa adus gebyuran kang nduweni tujuan kanggo ngresiki lahir batin lan mental sang ibu lan calon bayi.

Ing pakaryan iki ibu ngagem kain batik lan lenggah terus disiram nganggo banyu mawa kembang setaman. Acara iki ditindakake dening sesepuh wadon lan anggota kulawarga pitung wong sing bakal meku nyiram nganggo cangkang kelapa.

Proses penyiraman kasebut dimulai karo wong sing paling sepuh lan terus dilajengaken karo sing liyane.

3. Cengkiran

Cengkir tegese kelapa enom sing minangka simbol kelahiran bayi sing isih mudha tumaruna lan besuk bakal dadi wong kang dewasa.

Cengkir loro kasebut mengko digunakake dening bapak kanggo ritual brobosan (glundhungan).

4. Brobosan

Ing tahap iki bapake bayi bakal ngetokake utawa ngglundhungake cengkir loro mau saka sajerone kain sing diagem ibune.

Nanging Sadurunge, awak cengkir kudu dilukis kanthi gambar Dewi Komaratih kang nglambangake sawijining wanita utami lan Bethara Kamajaya sing nglambangake priyantun utama.

5. Mecah cengkir

Ing acara iki, cengkir bakal dipecah utawa disigar dening calon bapake bayi minangka simbol mbukak dalan kanggene bayi sing bakal lair saenggo mbesuk laire bisa liwat dalan sing sak mesthine.

6. Pantes-pantesan busana

Ing tahap iki calon ibu bakal ganti busana kaping pitu. Ing pangajab supaya ibu bisa tansah katon resik lan ayu nalika nglairake.

Ing kene bakal ana dialog antarane para pinituwa sing nuntun karo para undangan apadene keluwarga. Kabeh padha ditakoni apa sandhangan si ibu iku cocok utawa ora.

Ing wiwitan nganti pitakonan kaping enem para tamu mangsuli yen durung trep, nanging sing ganti busana kaping pitu ana owah-owahan jawaban yaiku dijawab sampun sae utawa pantes.

7. Angreman

Ing tahapan ik minangka ritual sing paling menarik amarga ibu lan bapak kudu niru tindak-tanduke ayam sing arepe ngendhog.
Maknane ritual iki minangka wujud tanggung-jawabe bapak kanggo urip lan kamulyane calon bayi lan ibune mbesuk.

8. Potong tumpeng

Acara kasebut sajatine ora kalebu acara pitu sing utama. Nanging senadyan mengkana tetep kudu rampung amarga iki minangka wujud syukur dumateng Allah SWT yen prosesi keselamatan wis ditindakake kanthi lancar.

9. Takiran Panting

Takiran panting minangka acara kanggo mbagi wadhah panganan sing digawe saka godhong gedhang lan janur. Bentuke takir sengaja digawe kaya prahu.

Wewangunan takir saka prau kuwi mratelakake yen wong tuwa saklorone siap ngarungi kehidupan kaya dene kapal ing samodra.

Panganan ing takir panting disuguhake minangka sajian lan minangka atur pisungsung marang para sesepuh lan para undangan liyane sing wis kersa rawuh.

10. Dodolan Dawet lan Rujak

Dawet lan rujak minangka panganan favorit wong wadon sing lagi ngandhut. Rujak dumadi saka pitung jinis woh-wohan seger.

Ing acara iki wong sing nampa dawet utawa rujak saka ibune calon bayi kudu mbayar dhuwit minangka syarat.

Bab iki ngandharake bilih calon ibu kudu siap makarya kanggo kesejahteraane sang bayi besuk.

Kaya ngono menggah maknane, ing wasono nyumanggakaken. Nuwun ***

Penulis pemerhati budaya, tinggal di tasikmadu Tuban.

TRADISI MITONI DALAM ADAT JAWA


Oleh: RUS RUSMAN.

Ritual tujuh bulan mengandung bayi atau yang lebih populer dengan sebutan "mitoni" ialah acara yang dijalani masyarakat Jawa saat seorang ibu hamil memasuki bulan ke tujuh.

Terutama ritual ini dilakukan untuk anak pertama.

Pada usia ke tujuh ini, secara medis janin dalam kandungan juga dinyatakan dalam kondisi hampir sempurna.

Pada saat seperti ini semua anggota keluarga merasa cemas sekaligus antusias sebab hari persalinan sudah menjelang tiba.

Bahkan tidak jarang ada kejadian bayi lahir pada usia tujuh bulan seperti ini.

Sebagian orang tua bahkan menyebut bahwa usia tujuh bulan dalam kandungan itu adalah masa-masa kandungan tua.

Memasuki delapan bulan kembali muda dan pada usia sembilan bulan menginjak tua yang sebenarnya.

Untuk itulah, tradisi Mitoni diadakan dengan maksud agar janin dapat tumbuh dan berkembang dengan lancar, sehat serta selamat.

Di kalangan keluarga tertentu menggelar prosesi Mitoni harus dilaksanakan melalui tahapan ritual secara berurutan.

Diawali dengan acara sungkeman, siraman, serta membagikan rujak kepada para undangan.

Di samping itu juga ada tradisi yang identik dengan simbolisasi benda-benda tertentu yang sarat akan makna keluhuran.

Tentu saja memerlukan perlengkapan yang beragam dan jumlahnya serba tujuh.

Antara lain berupa bubur tujuh warna, ketan atau jadah tujuh rupa, tumpeng yang berbentuk kerucut kecil, procotan yakni penganan yang terbungkus daun pisang, beberapa jajanan pasar, serta perlengkapan lainnya.

1. Sungkeman
Pada acara ini calon ibu dan ayah harus melakukan sungkem kepada kedua orangtua guna memohon doa restu agar selamat dan lancar saat pesalinan.

2. Siraman
Acara siraman berupa mandi (gebyuran) yang bertujuan untuk mensucikan lahir dan batin mental sang ibu serta calon bayi.

Calon ibu terbalut kain batik serta duduk lalu disiram dengan air yang ditaburi kembang setaman. Acara ini dipandu oleh seorang sesepuh perempuan dan anggota keluarga tujuh orang yang akan menyiram sang ibu dengan batok kelapa.

Prosesi siraman ini diawali oleh orang yang paling tua dan dilanjutkan dengan yang lainnya.

3. Cengkiran atau rogoh cengkir
Cengkir berarti kelapa muda yaitu sebagai simbol cikal bakal bayi yang kelak menjadi orang dewasa.

Cengkir jumlahnya dua buah yang digunakan sang ayah untuk ritual brobosan (meluncurkan).

4. Brobosan
Di tahapan ini ayah bayi akan meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakai oleh sang ibu.

Sebelumnya di tubuh cengkir harus dilukisi wajah Dewi Kamaratih yang melambangkan bayi wanita cantik dan Dewa Kamajaya yang melambangkan bayi pria rupawan.

5. Belah cengkir
Pada acara ini cengkir akan dipecah atau dibelah oleh sang ayah sebagai simbol untuk membukakan jalan si jabang bayi agar lahir melalui jalannya.

6. Pantes Busana
Pada tahapan ini sang ibu akan berganti busana sebanyak tujuh kali. Ini dimaksudkan agar ibu tetap kelihatan bersih dan pantas saat melahirkan.

Di sini akan terjadi dialog antara sesepuh yang memandu dengan para undangan.

Para kerabat ditanya apakah busana si ibu ini sudah pantas atau belum.

Pada urutan pertama sampai ke enam undangan menjawab belum pantas, tapi pada pergantian budana sing ke tujuh baru dijawab pantas.

7. Angreman
Pada tahapan ini paling menarik karena Ibu dan ayah akan menirukan gerakan ayam yang mengeram telur sambil berkokok keras.

Ritual ini sebagai bentuk tanggung jawab ayah atas kehidupan dan kesejahtreraan sang calon bayi beserta ibunya.

8. Potong tumpeng
Acara potong tumpeng ini sebenarnya bukan termasuk tujuh acara utama.

Namun tetap harus tetap dilakukan sebab merupakan bentuk rasa syukur bahwa prosesi selamatan tersebut telah dilaksanakan dengan lancar.

9. Takiran Pontang
Takiran pontang adalah acara membagi wadah makanan yang dibuat dari daun pisang dan janur yang dibentuk menyerupai perahu.

Bentuk takir perahu ini maknanya bahwa calon orangtua harus siap mengarungi kehidupan layaknya kapal di lautan.

Makanan pada takir pontang disajikan sebagai hidangan dan sebagai ucapan terima kasih yang dibagikan kepada para sesepuh serta undangan lain yang menghadiri upacara tersebut.

10. Jualan Dawet dan Rujak
Dawet dan rujak adalah makanan kesukaan orang hamil. Rujak terdiri dari tujuh macam buah-buahan segar.

Di acara ini orang yang menerima dawet atau rujak dari sang ibu harus membayarnya dengan sejumlah uang sebagai syarat.

Hal ini melambangkan bahwa ibupun harus siap bekerja keras apabila diperlukan demi kesejahteraan sang anak kelak.***

Keterangan:
Penulis adalah pemerhati kebudayaan. Tinggal di Tasikmadu Tuban.

Senin, 31 Desember 2018

WIGATINE "JAGONGAN" KANGGE BEBRAYAN KITA


Karipta dening: Rus Rusman.

"Kumpul, kumpul, kumpuul!" Ngono kuwi yen wong Jawa nembe ngetokke rasa pepinginane ketemu bareng ing antarane tetanggan ana salah sawijining lingkungan.

Woro-woro kanggo klumpukan kaya ngono kuwi kerep ditemokake ora mung nganggo suarane wong nanging uga ing macem-macem srana, umpamane nganggo alat tradisional sing arupa "kenthongan" kanti kode-kode tertamtu.

Khusus ing wektu iki, diskusi diutamakake ngrebug bab pakaryan sing bakal dilakoni sawise ana panyuwun kumpul-kumpul mau. Ora liya yaiku arupa forum utawa majelis kang ora duwe topik sing dianggep penting.

Isining rembugan amung santai, bebas lan diomongke kanthi cara priye wae. Sing seneng ngobrol ya ngobrolo, seneng ngguyu ngakak ya ngguyua, anggere ora nyimpang saka norma lan nilai sing ditrapake warga, aturan formal apadene kemasyarakatan.

Uga, isine omong aja nganti nuwuhake nggeged atine liyan. Malah kepara pahargyan kumpul bareng kuwi bisa ngembangake rasa harmoni lan kesatuan antarane anggota masyarakat.

Miturut ahli Etnografi dan komunikasi Amalia Maulana (2018), pancen masyarakat Indonesia khususe wong Jawa wiwit zaman dhisik wis nduweni sense of community (rasa seneng kumpul).

Awake dhewe wis biasa nerapake group culture. Ketemu senadyan tanpa ana kawigaten khusus. Beda karo yen ing negeri barat, wong kana ketemu yen ana kepentingan. Masyarakat ing kana mung ngakoni anane keluarga inti wae.

Khususe kanggo masyarakat Jawa, sing diarani kumpul-kumpul kuwi duweni sawetara jinis miturut kepentingane.
Antara liya:

1. Dijenengi JAGONGAN yen acara kasebut ana ing papan panggonane wong sing kagungan hajatan.

2. Dijenengi CANGKRUKAN yen kumpule ana pos penjagaan utawa ing papan umum (umpamane ing pinggir dalan).

3. Dijenengi JANDOMAN yen anggone kumpul ana ing papan sing ora direncanakake. Umpamane ketemu ing dalan banjur terus sarujuk omong ngalor-ngidul. Lan isih akeh maneh istilah sing beda ing saben wilayah.

Ing kesempatan iki, penulis luwih fokus ngrembuk acara jagongan amarga forum iki luwih akeh ngandhut nilai-nilai budaya.

Tembung jagongan ing Kamuslengkap.com dimaknai minangka lungguh-lungguh ing papan panggonane wong kang duwe hajatan.

Inti ingkang kapisan ana ing acara jagongan kuwi kanggo mahargya marang wong sing duwe gawe utawa hajatan. Antarane saka kulawarga sabrayat, tetanggan, kanca lan kenalan lawas. Nderek seneng dene dileksanakake pahargyan hajatan iki sambi ndedonga bareng supaya hajatane bisa lumaku kanthi lancar lan slamet.

Inti ingkang kapindho yaiku kumpul karo sesami, ngobrol entheng-enthengan lan santai tanpa topik sing abot sinambi nikmati hidangan khas wong sing duwe gawe. Dene hajatane bisa arupa syukuran bayi, sunatan, pernikahan, lan liya-liyane.

Inti ingkang kaping telu yakuwi njaga kerukunan lan kebersamaan ing lingkungan tetanggan. Bab iki nedhahake manawa kabeh padha setya satuhu nindakake kanggé njagi nilai-nilai kekeluargaan.

Wong sing duwe hajat mesthi seneng banget yen kabeh tanggane kersa rawuh lan ing wektu liya dheweke uga bakal ngrawuhi yen tanggane mbesuk kagungan hajat sing padha kaya ngene ini.

Biasane wektu pahargyan jagongan ana ing jam 9:00 bengi utawa ing sadhuwure, bisa uga paling cepet sak bakdane sholat Isyak wis ana sing miwiti rawuh. Sore sadurunge biasane kanti acara kendurinan sinambi ndedonga bebarengan supaya prayaan kasebut lancar lan diberkahi dening Allah SWT.

Pancen sok kala-kala ana priyantun sing kanti ijin tuan rumah, ngisi wektu kanti cara dolanan kartu lan nyanyi-nyanyi sasenenge. Iku kabeh mung kanggo ngisi wektu lan mung kanggo ndadekake acara supaya tambah regeng lan sumringah.

Mekaten ing wasono nyumanggaaken. Nuwun.***

Penulis pemerhati masalah kebudayaan tinggal di Tasikmadu Tuban.