-

Rusmannulis

Rabu, 02 Januari 2019

PROSESI PERNIKAHAN MENURUT ADAT JAWA



Oleh: RUS RUSMAN.

Adat jawa memang dikenal sebagai salah satu adat yang rinci dalam melakukan setiap upacara.

Bahkan tidak sedikit pula yang menyebutnya "ribet" atau rumit.

Meskipun demikian, serumit apapun tetap saja masyarakat akan menerapkannya sebab mereka berkeyakinan bahwa kekurangan sedikit saja dalam upacara adat bisa berakibat tidak baik.

Upacaranya memang terkesan sangat sakral, namun justru hal yang demikian jika dilakukan secara sungguh-sungguh pasti akan banyak maknanya.

Lebih-lebih jika yang akan dihajatkan adalah acara pernikahan, maka sudah pasti kedua keluarga akan sangat berhati-hati dalam melakukannya.

Berikut ini adalah rangkaian prosesi pernikahan menurut adat Jawa. Penulis hanya mengambil secara garis besar saja mengingat dalam kenyataannya banyak unsur-unsur ritual yang sulit dilukiskan melalui tulisan.

Misalnya saat pendirian tratag dan tarub lima hari sebelum punya hajat.

1. Siraman:

Siraman merupakan tahapan penting pertama yang harus dilakukan dalam prosesi pernikahan.

Pada acara ini pihak pengantin wanita melakukan siraman dengan dipandu oleh para sesepuh.

Siraman artinya mandi dengan air setaman yang dimaksudkan untuk mensucikan diri sebelum penganten menjalankan upacara yang sakral.

Ada tujuh orang terpilih yang akan menyiramkan air ke tubuh calon pengantin.

Tujuh dalam Bahasa Jawa artinya "pitu" yang bemakna pitulungan (pertolongan).

Jadi acara ini dimaksudkan agar kedua mempelai selalu dalam pertolongan atau perlindungan dari Allah SWT.

Pada siraman terakhir sang ayah penganten wanita melakukannya kepada putrinya, lalu dituntun masuk ke dalam rumah.

Acara siraman ini kemudian diakhiri dengan "adol dawet" oleh ibu penganten putri, dijual kepada yang hadir tapi membayarnya secara simbolis saja.

2. Midodareni

Pada daerah tertentu prosesi midodareni ini diawali dengan potong tumpeng oleh ayah dsn ibu calon mempelai.

Namun ada juga yang potong tumpeng dilakukan setelah acara siraman dan jual dawet.

Acara Midodareni pada intinya meminta calon penganten wanita untuk mengurung diri di rumah.

Dia harus berdandan cantik bagaikan seorang bidadari setelah mandi air suci, tapi tidak diperkenankan bertemu dengan calon pasangannya.

Ini dilakukan sehari sebelum pernikahan.
Pada saat seperti ini diyakini sebagai turunnya para bidadari dari kahyangan untuk ikut menyambut hari bahagia ini.

3. Injak Telur

Acara injak telur dilakukan pada saat prosesi temu manten dan balang bantal. Kedua mempelai saling membalang (melempar bantal).

Baru kemudian dilaksanakan injak telur. Telur dimaknai sebagai lambang kesuburan seorang wanita.

Harapannya ialah agar kedua pengantin segera memiliki keturunan yang merupakan tanda cinta kasih berdua.

Setelah menginjak telur, pengantin wanita akan segera membasuh kaki pengantin pria yang merupakan bentuk kesetiaan seorang istri kepada suaminya.

4. Sikepan Sindur

Sindur adalah kain yang terbuat dari bahan yang halus dan indah.

Acara Sikepan Sindur ini dilakukan setelah tahapan injak telur selesai, sedangkan kegiatannya berupa membentangkan kain atau sindur kepada kedua mempelai.

Ayah mempelai wanita akan membentangkan kain sindur di punggungnya dengan tangan kanan kiri memegang pucuk kain.

Sementara kedua mempelai yang ada di dalam lingkaran kain ikut melangkah menuju pelaminan, diiring oleh ibu dan kedua mertua serta kerabat dekat kedua temanten.

Bagian ini melambangkan harapan dari orang tua agar kedua mempelai selalu erat karena telah dipersatukan.

5. Pangkon timbang

Pada tahap ini kedua mempelai duduk di atas pangkuan sang ayah temamten wanita.

Pengantin wanita duduk di atas paha kiri dan laki-laki di paha sebelah kanan.

Bagian ini menunjukkan bahwa kelak sang ayah harus dapat membagi kasih sayang secara adil seperti ayah sendiri. Tidak ada perbedaan antara anak dan menantu.

6. Kacar Kucur

Merupakan lambang kesejahteraan dalam berumah tangga. Mempelai pria akan mengucurkan sebuah kantong yang berisi biji-bijian, uang receh dan beras kuning ke pangkuan pasangannya.

Hal ini mengandung arti bahwa tugas suami adalah mencari nafkah dan si istri wajib mengelolanya dengan baik.

7. Dulang-dulangan

Dulangan atau ada yang menyebut Dahar Klimah (suap-menyuapi).

Kedua penganten akan saling menyuapi masing-masing sebanyak tiga kali.

Harapannya agar pasangan mempelai ini selalu rukun dan saling tolong menolong dalam menempuh kehidupan baru sebagai keluarga.

8. Sungkeman

Acara sungkeman merupakan bentuk bakti kedua mempelai kepada orang tua atau sesepuh.

Sungkeman ini dilakukan kepada kedua orang tua masing-masing pihak.

Ada juga yang diteruskan kepada sesepuh yang lainnya, tergantung dari kelonggaran waktu.

Sebelum mengakhiri tulisan ini penulis ingin menambahkan sedikit tentang hal-hal penting yang terkait dengan sarana pernikahan.

1. Janur kuning

Janur dalam bahasa Arab berarti cahaya dari Surga, sedangkan warna kuning bisa diartikan bersih atau suci.

Jadi janur kuning itu melambangkan cahaya Surga yang suci.

Ada pula yang menjelaskan bahwa janur bisa diartikan sebagai "sejatining nur," atau cahaya sejati.

Peggunaan janur kuning dalam acara pernikahan diharapkan dapat memberikan sinar suci yang cerah, meriah dan penuh dengan suasana optimis tentang masa depan.

2. Kembar mayang

Merupakan sepasang hiasan simbolik yang terbuat dari rangkaian janur, debog pisang, buah dan kembang panca warna.

Ukurannya  setinggi satu meter dan nantinya dipasang di sebelah kanan kiri kursi pelaminan.

Kembar mayang ini bisa dikatakan sebagai lambang prestise bagi penganten maupun keluarga sebab posisi tempatnya yang sangat strategis dan dilihat banyak orang.

Sedang makna ritualnya adalah sebagai simbol doa dan harapan keluarga tentang optimisme serta motivasi dalam menjalani kehidupan, mengingat bentuk fisik kembar mayang yang didominasi janur kuning.

3. Tarub

Tarub semacam pintu gerbang buatan untuk memasuki rumah yang yang dipakai hajatan pernikahan.

Ini juga merupakan tanda bahwa keluarga tersebut sedang mengadakan acara pernikahan.

Tarub dibuat dengan sedikit atap di atas lalu di kanan kiri di pasang pohon pisang utuh dengan buah pisang masing-masing satu tundun.

Tarub dibuat dari macam-macam tumbuhan yang masing-masing memiliki makna utama yaitu sebagai lambang kemakmuran dan harapan bagi keluarga baru.***

Keterangan:
Penulis adalah pemerhati budaya, tinggal di Tasikmadu Tuban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar