Rusmannulis
Selasa, 01 Januari 2019
TRADISI MITONI DALAM ADAT JAWA
Oleh: RUS RUSMAN.
Ritual tujuh bulan mengandung bayi atau yang lebih populer dengan sebutan "mitoni" ialah acara yang dijalani masyarakat Jawa saat seorang ibu hamil memasuki bulan ke tujuh.
Terutama ritual ini dilakukan untuk anak pertama.
Pada usia ke tujuh ini, secara medis janin dalam kandungan juga dinyatakan dalam kondisi hampir sempurna.
Pada saat seperti ini semua anggota keluarga merasa cemas sekaligus antusias sebab hari persalinan sudah menjelang tiba.
Bahkan tidak jarang ada kejadian bayi lahir pada usia tujuh bulan seperti ini.
Sebagian orang tua bahkan menyebut bahwa usia tujuh bulan dalam kandungan itu adalah masa-masa kandungan tua.
Memasuki delapan bulan kembali muda dan pada usia sembilan bulan menginjak tua yang sebenarnya.
Untuk itulah, tradisi Mitoni diadakan dengan maksud agar janin dapat tumbuh dan berkembang dengan lancar, sehat serta selamat.
Di kalangan keluarga tertentu menggelar prosesi Mitoni harus dilaksanakan melalui tahapan ritual secara berurutan.
Diawali dengan acara sungkeman, siraman, serta membagikan rujak kepada para undangan.
Di samping itu juga ada tradisi yang identik dengan simbolisasi benda-benda tertentu yang sarat akan makna keluhuran.
Tentu saja memerlukan perlengkapan yang beragam dan jumlahnya serba tujuh.
Antara lain berupa bubur tujuh warna, ketan atau jadah tujuh rupa, tumpeng yang berbentuk kerucut kecil, procotan yakni penganan yang terbungkus daun pisang, beberapa jajanan pasar, serta perlengkapan lainnya.
1. Sungkeman
Pada acara ini calon ibu dan ayah harus melakukan sungkem kepada kedua orangtua guna memohon doa restu agar selamat dan lancar saat pesalinan.
2. Siraman
Acara siraman berupa mandi (gebyuran) yang bertujuan untuk mensucikan lahir dan batin mental sang ibu serta calon bayi.
Calon ibu terbalut kain batik serta duduk lalu disiram dengan air yang ditaburi kembang setaman. Acara ini dipandu oleh seorang sesepuh perempuan dan anggota keluarga tujuh orang yang akan menyiram sang ibu dengan batok kelapa.
Prosesi siraman ini diawali oleh orang yang paling tua dan dilanjutkan dengan yang lainnya.
3. Cengkiran atau rogoh cengkir
Cengkir berarti kelapa muda yaitu sebagai simbol cikal bakal bayi yang kelak menjadi orang dewasa.
Cengkir jumlahnya dua buah yang digunakan sang ayah untuk ritual brobosan (meluncurkan).
4. Brobosan
Di tahapan ini ayah bayi akan meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakai oleh sang ibu.
Sebelumnya di tubuh cengkir harus dilukisi wajah Dewi Kamaratih yang melambangkan bayi wanita cantik dan Dewa Kamajaya yang melambangkan bayi pria rupawan.
5. Belah cengkir
Pada acara ini cengkir akan dipecah atau dibelah oleh sang ayah sebagai simbol untuk membukakan jalan si jabang bayi agar lahir melalui jalannya.
6. Pantes Busana
Pada tahapan ini sang ibu akan berganti busana sebanyak tujuh kali. Ini dimaksudkan agar ibu tetap kelihatan bersih dan pantas saat melahirkan.
Di sini akan terjadi dialog antara sesepuh yang memandu dengan para undangan.
Para kerabat ditanya apakah busana si ibu ini sudah pantas atau belum.
Pada urutan pertama sampai ke enam undangan menjawab belum pantas, tapi pada pergantian budana sing ke tujuh baru dijawab pantas.
7. Angreman
Pada tahapan ini paling menarik karena Ibu dan ayah akan menirukan gerakan ayam yang mengeram telur sambil berkokok keras.
Ritual ini sebagai bentuk tanggung jawab ayah atas kehidupan dan kesejahtreraan sang calon bayi beserta ibunya.
8. Potong tumpeng
Acara potong tumpeng ini sebenarnya bukan termasuk tujuh acara utama.
Namun tetap harus tetap dilakukan sebab merupakan bentuk rasa syukur bahwa prosesi selamatan tersebut telah dilaksanakan dengan lancar.
9. Takiran Pontang
Takiran pontang adalah acara membagi wadah makanan yang dibuat dari daun pisang dan janur yang dibentuk menyerupai perahu.
Bentuk takir perahu ini maknanya bahwa calon orangtua harus siap mengarungi kehidupan layaknya kapal di lautan.
Makanan pada takir pontang disajikan sebagai hidangan dan sebagai ucapan terima kasih yang dibagikan kepada para sesepuh serta undangan lain yang menghadiri upacara tersebut.
10. Jualan Dawet dan Rujak
Dawet dan rujak adalah makanan kesukaan orang hamil. Rujak terdiri dari tujuh macam buah-buahan segar.
Di acara ini orang yang menerima dawet atau rujak dari sang ibu harus membayarnya dengan sejumlah uang sebagai syarat.
Hal ini melambangkan bahwa ibupun harus siap bekerja keras apabila diperlukan demi kesejahteraan sang anak kelak.***
Keterangan:
Penulis adalah pemerhati kebudayaan. Tinggal di Tasikmadu Tuban.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar