Oleh: RUS RUSMAN.
Tradisi Khitanan Di Keraton Ngayogjakarta
Sunat atau khitan bagi seorang pria dalam agama Islam dan beberapa agama lain merupakan hal yang wajib dilakukan.
Memang ini perintah agama, namun pelaksanaannya melahirkan cara yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain.
Cara berbeda-beda itulah yang kemudian menjadikan keunikan-keunikan tersendiri, yang tentu saja sangat menarik untuk disimak.
Bahkan di beberapa tempat tata cara yang khas cenderung mengkristal menjadi sebuah tradisi.
Berikut ini penulis akan bercerita sedikit tentang prosesi sunatan yang berlaku di lingkungan keraton Ngayogjakarta Hadiningrat, bersasarkan bacaan-bacaan yang penulis kumpulkan.
Di lingkungan keraton hajat sunatan sering disebut "supitan" dan berlaku bagi para pria yang akan menginjak jejaka termasuk para pangeran dan putra sentana dalem yang lain.
Tujuan supitan ini untuk menghilangkan sesuker atau kotoran dalam alat kelamin lelaki.
Tahapan pelaksanaan supitan di lingkungan Keraton Yogyakarta khususnya bagi putra dalem antara lain begini.
1. Tabuh Gamelan
Sore hari sebelum pelaksanaan supitan, gamelan Slendro dan Pelog ditabuh di Gedong Gangsa sebelah utara dan selatan dan berakhir pukul 18.00. Wib.
Penabuhnya para Abdi Dalem Punakawan Kridamardawa. Sedangkan gamelan Kanjeng Kiai Kebo Ganggang ditata di Bangsal Mandalasana.
2. Tratag dan Krobongan
Bersamaan dengan alunan gamelan dari gedung Gangsa tadi, di dekat Bangsal Kencana para abdi yang lain mendirikan tratag dan menyiapkan krobongan atau pekobongan.
Tratag adalah bangunan buatan non permanen yang kalau di mayarakat umum disiapkan untuk menyambut tamu bagi keluarga yang mau punya hajat.
Tratag ini dibuat agak lebar dan di bawahnya biasanya lantas dipasang meja dan kursi. Tapi bisa pula dipasang tikar atau karpet untuk tempat duduk-duduk atau jagongan.
Sedangkan Krobongan berupa bangunan berbentuk bilik kecil tidak permanen. Bangunan ini di kanan kirinya dihiasi dengan hiasan tetuwuhan (tumbuhan) terutama terdiri dari dua batang pisang lengkap dengan daun dan buahnya setundun dan dilengkapi dengan pohon-pohon lain termasuk bunga-bunga secukupnya. Pohon pisang ini sebagai perlambang kesuburan.
3. Sesaji
Ada juga sekelompok asesaji dipersiapkan oleh Abdi Dalem Wedana Keparak.
Sesaji supitan ini berupa tumpeng rombyong, tumpeng gundul, pisang ayu, pisang pundutan peken, seekor ayam hidup dalam keranjang, dan sepasang kembar mayang.
4. Siraman dan Santap Malam
Pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB, para Bendara Putri dan keluarga dekat Sultan masuk ke dalam Kedhaton untuk menghias tempat tidur para putra yang akan disunat.
Setelah selesai para putra yang akan disunat dipersilakan menempati Bangsal Kasatriyan ditemani para Bendara Putri dan Abdi Dalem yang sedang bertugas.
Di Bangsal Kasatriyan ini para putra yang akan disunat menjalani siraman (dimandikan). Usai siraman, para bendara putri dan istri kerabat keraton dipersilakan ke Bangsal Pengapit.
Sekitar pukul 19.00 atau sehabis sholat Isya' para Pangeran dan bendara kakung lainnya memasuki Gadri Kasatriyan untuk santap malam bersama dan acara pada hari itu pun berakhir.
5. Nengga Kerawuhan
Keesokan hari berikutnya, sekitar pukul 8.00 pagi gamelan mulai ditabuh oleh Abdi Dalem Kridamardawa.
Sedangkan para Putra dalem yang akan disunat sudah mengenakan busana.
Pada sekitar pukul 9.30 para Bendara Putri, istri para Bendara dan istri para Bupati menempati Bangsal Pengapit.
Sedangkan para Pangeran dan para Bendara putra lainnya menempati sisi timur Tratag Bangsal Kencana yang sebelah utara.
Di tempat lain para abdi Pengulu, para abdi Bupati dan yang lainnya sesudah sowan ing ngarsa dalem keraton kemudian menuju Bangsal Kotak untuk menunggu para Pangeran memasuki Bangsal Kencana.
Setelah para Pangeran masuk maka para bupati lalu maju ke Tratag Bangsal Kencana.
6. Kerawuhan Ndalem
Pada sekitar jam 10 pagi Sultan memasuki Bangsal Kencana dengan ageman pakaian takwa.
Putra Dalem yang akan disunat dipanggil dari Bangsal Kasatriyan.
Setelah menempati Bangsal Kencana, para Putra yang akan disunat melakukan penghormatan atau 'caos bekti' kepada Sri Sultan.
Kemudian Sultan mengutus satu Bendara Pangeran untuk memeriksa kesiapan dan ubarampe Supitan.
Ketika dilaporkan sudah siap, Sultan lantas paring dhawuh supaya para Putra Dalem yang akan disunat memasuki Pengkrobongan masing-masing.
Setelah para putra Dalem yang akan disunat berada di posisi masing-masing maka Abdi Dalem Pengulu memimpin doa secara adat.
Setelah itulah mulai ditabuh gamelan Kanjeng Kiai Kebo Ganggang, dan seorang Pangeran Sepuh ditugaskan untuk memangku Putra Dalem yang disunat.
Setelah selesai disunat kemudian para putra dalem itu duduk di kursi di Bangsal Kencana.
Di saat itu Sultan memberi dhawuh secukupnya dan para Putra Dalem yang telah disunat lalu kembali ke Bangsal Kasatriyan.
Setelah Sri Sultan jengkar dari palenggahan, upacara khitanan pun selesai.
Sebenarnya banyak acara-acara di lingkungan keraton yang memberi kesempatan kerabat dan abdi dalem untuk ikut serta. Termasuk acara khitanan atau supitan ini.
Keluarga abdi dalem yang ikut serta disunat dalam upacara ini disebut dengan istilah bela.
Para pembaca dapat melihat gambar Pekobongan atau krobongan di atas.
Di dalam bangunan kecil itulah putra dalem atau wayah dalem disunat. Yang membedakan hanya ukurannya.
Sedangkan untuk bela dari Abdi Dalem cukup disunat kamar, jadi tidak disunat di dalam krobongan itu.
Sebagaimana diyakini oleh masyarakat Jawa, Supitan adalah upacara yang sangat penting dan menjadi perhatian istimewa.
Setiap anak laki-laki harus disunat sebelum usia dewasa. Supitan ini telah dimaknai sebagai upacara peralihan seorang anak laki-laki ke masa-masa dewasa.
Pada masa dahulu supitan umumnya dilakukan saat anak berusia antara 10 sampai dengan 16 tahun.
Di samping itu, upacara supitan sering diistilahkan ngislamke (mengislamkan), yaitu semacam mengesahkan atau menandai seorang anak harus menjalankan kewajiban dalam agama Islam yang dianutnya.***
Keterangan:
Penulis adalah pemerhati budaya, tinggal di Tasikmadu Tuban.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar