Oleh: Ki Guru Rusman
Kocap cap carita, ratusan tahun yang lalu, tersebutlah seorang dalang yang bergelar "Dalang Kandabuwono".
Konon sang dalang adalah manusia sakti yang mampu membaca unsur-unsur wadag sang Batara Kala, sehingga membuat sang Kala lungkrah energi mistiknya.
Konon sang Kala pun bertekuk lutut dan tidak berani meneruskan laku ngumboro di alam bawono untuk membedhag manusia calon mangsanya.
Lalu siapakah sebenarnya Dalang Kandabuwono itu?
Tak lain ia adalah sarira Wisnu yang sengaja turun ke dunia untuk melindungi manusia dari ancaman sang Kala (Ki Narto Sabdo, Pandawa Gubah)
Kini setelah ratusan tahun berlalu dan sang dalang sakti itu telah mati, sang Kala kembali turun ke madya padha untuk melampiaskan niatnya.
Tak tanggung-tanggung, kali ini sasaran utamanya adalah para Pandawa yang merupakan para ksatriya sejati kekasihing para dewa.
"Kali ini tidak boleh gagal," kata batinnya. "Siapapun tak akan mampu keluar dari cengkeramanku. Apalagi bunda bethari Uma sudah mengijinkan aku untuk turun mencari mangsa."
Maka begitulah, tanpa ragu-ragu sang Kala yang merupakan putra Sang Hyang Giri Nata itu melangkahkan kakinya.
Yang ia tuju adalah negeri Astina sebab ia mendengar para Pandawa yang merupakan sasaran utamanya itu sedang dijamu oleh para Kurawa dengan pesta yang meriah.
Hidangannya bermacam-macam, mulai dari makanan lezat sampai dengan minuman-minuman yang memabukkan.
Sebenarnya ini adalah jebakan Kurawa untuk para Pandawa yang baru pulang dari persembunyian selama 12 tahun di alas Kamiyaka.
"Ee..eh, aja takon dosa kowe Pandawaa.. , di saat kalian mabuk terlena oleh kenikmatan dunia nanti, di saat itu pulalah jatuhnya mangsa kala. Kalian akan menjadi santapan yang lezat pula bagiku eeh..".
DALAM PADA ITU di awang-awang negara Astina, ada cahaya sebesar lidi cemlorot andirgantara.
Di saat semua orang terlena dengan pesta pora, termasuk para Pandawa sendiri, beningnya cahaya itu semakin lama semakin membesar, mengkristal dan membentuk sesosok manusia yang mengitari langit astina.
Maka ketika saat yang menentukan itu telah tiba, Batara Kala melangkah galeyah-galeyah melewati gerbang negara Astina, langit yang semula mendung pekat tiba-tiba menjadi terang benderang.
Dan bersamaan dengan itu tanpa terlihat dari mana asalnya, padha sakala di depan raksasa pemangsa manusia itu sudah berdiri seorang manusia kecil berkulit hitam legam.
Berdiri bertolak pinggang seolah-olah menantang sang Kala yang berwajah mengerikan itu. Siapa sosok yang sangat berani ini? Tak lain dialah prabu Dwarawati alias sang Kresna.
Dengan lantangnya Prabu Kresna meminta agar sang Kala mengurungkan niatnya.
"Kalau tidak, maka jangan menyesal jika kali ini akan terulang lagi kejadian ratusan tahun lalu, karena sebenarnya akulah Dalang Kandabuwana yang sekarang kembali hadir di depanmu."
Tapi bukan Batara Kala namanya kalau mudah digertak seperti menjangan. Meskipun Kresna berbicara ndruwewel laksana bethet sewu, parandene sang Kala justru semakin melangkah maju.
Kini tibalah saatnya sarira Wisnu ngejawantah. Eling-eling Kresna kadunungan aji "Brahala Sewu", maka dengan sedikit mulutnya berkomat-kamit tiba-tiba jleg..
Bersamaan dengan sang Kala hendak mengayunkan tangannya, tanpa terduga tiba-tiba tubuh Batara Kala yang sagunung anakan gedhene itu terpental sepuluh langkah ke belakang.
Dan bersamaan dengan itu pula di depannya telah berdiri raksasa yang besarnya jauh melebihi dirinya.
"Eehh.. ayo Kalaa.. mana kesaktianmu sini tunjukkan padaku."
Kaget bukan main sang Kala menyaksikan musuh yang amat mengerikan itu semakin mendekat.
Untuk beberapa saat raksasa anak Batara Guru itu seperti tak tahu harus berbuat apa.
"Hai .. Kalaa, pergilah kau dari sini. Jika tidak jangan salahkan aku kalau tubuhmu aku lempar ke tengah lautan sana hee..!"
Maka sesaat kemudian nampak sang Kala itu duduk menunduk di depan Brahala Kresna, badannya yang besar dengan wajah mengerikan itu bagaikan tak berarti sama sekali.
Tunduk takluk nyembah sesedhokan di depan sang Kresna.
"Aku jangan diapa-apakan ya pak dalaang.., ikhlaskan aku tak pulang ke khayanganku."
"Eehh.. ya Kalaaa, jangan kelamaan ayo pulanglah. Aku amati dari kejauhan langkahmu."
"Ya pak Dalaaang, aku minta pamit dan minta pengestumu."
Maka sesaat kemudian Batara Kala itupun seperti lenyap di telan bumi dan sang Brahala itupun kembali wujud aslinya sebagai Ratu Dwarawati lagi.
***
Seiring do'a agar covid-19 segera lenyap dari bumi Nuswantara.
Tasikmadu, April 2020

Some suites even 카지노사이트 have a devoted dining area
BalasHapus