-

Rusmannulis

Jumat, 10 April 2020

WANITA PERKASA DI BALIK KEJAYAAN MAJAPAHIT (1)


Oleh: Ki Guru Rusman


"Huah!" Majapahit kembali geger, mendung gelap lelimengan menutup langit, angin bertiup kencang bersamaan dengan geludhug yang menggelegar bersaut-sautan.

Tak urung suasana yang kisruh itu telah pula menghantui hati para kawula alit di seluruh negeri. Tidak sedikit mereka yang menutup pintu rumahnya karena takut terjadi sesuatu.

Suasana lebih mencekam ketika tersiar kabar bahwa para pendekar dari Kerajaan  Sadeng dan Keta akan menyerang kota raja. Sadeng yang terletak di wilayah Jember (sekarang) merupakan lumbung padi bagi Majapahit, sedang Keta yang ada di pantai utara (Besuki) terkenal dengan hasil laut.

Kontan kabar itu sudah cukup menggetarkan sendi-sendi kehidupan rakyat kecil.  Jalan-jalan yang biasanya ramai mendadak sepi, pasar pun hanya buka sebentar, apalagi sawah dan ladang bagaikan ditinggal oleh para petani.

SEMENTARA ITU di Kotaraja Wilwatikta, wafatnya Prabu Jayanegara yang amat mendadak dengan cara yang tragis telah memanaskan suhu politik.

Banyak spekulasi yang berkembang, terutama tentang siapa pembunuh sebenarnya dari sang prabu, siapa yang akan menggantikannya sebagai raja, apalagi mengingat sang prabu masih sangat muda dan tentu belum mempersiapkan putra mahkota.

Namun semua intrik politik itu sama sekali tidak menggoyahkan langkah seorang pria berbadan tinggi besar, berwajah bundar, berambut ikal dan berpandangan tajam seolah akan menerobos semua rintangan.

Dialah Ki Bekel Gajahmada, sang pemimpin pasukan Bhayangkara pengawal raja yang belum lama menggantikan Arya Tilam sebagai patih di Daha. Bahkan sebelum itu Ki Bekel juga pernah dipercaya menjabat Patih di Kahuripan, setelah berhasil menyelamatkan raja dari kebiadapan Ra Kuti dan kawan-kawan.

Dan sekarang setelah masa berkabung telah usai, di saat bendera-bendera setengah tiang telah diturunkan dari jalan-jalan utama, suatu malam priya perkasa itu tinimbalan oleh ibunda Gayatri. Betapa terkejutnya ia ketika tahu bahwa di dalam ruang Ibunda Gayatri telah ada pula Mahapatih Arya Tadah dan Raden Adityawarman. Istri ke-4 mendiang Raden Wijaya itu bertanya kepada semua yang hadir tentang apa yang sebaiknya dilakukan oleh keluarga kerajaan.

Gajahmada memang termasuk salah satu yang dekat sekali dengan Ibunda Gayatri, meski kedekatan itu sebatas sebagai seorang hamba kepada junjungannya. Terutama sejak Gajahmada berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara dalam tragedi Badander (1319).

Namun miturut ujareng sambewara kang apireng ing karna, sejak peristiwa memilukan di kamar palereman raja serta terbunuhnya Ra Tanca oleh tangannya, maka banyak pihak yang bertanya-tanya tentang keterlibatan ki bekel dalam peristiwa pembunuhan itu. Malapetaka ini sungguh merupakan teka-teki yang tiada berakhir. Kecurigaan abadi yang bahkan telah berkembang sampai zaman sekarang.

Buktinya seorang peneliti sejarah dari Belanda, N.J. Krom, seperti dikutip oleh Parakitri Simbolon (2006) dalam buku: Menjadi Indonesia, yang secara tegas menyatakan bahwa Gajahmada berada di balik pembunuhan itu.

Namun Pararaton dan sebagian penulis lainnya membantah pula dan berani memastikan bahwa yang digoda oleh mendiang sang prabu Jayanegara adalah istri Ra Tanca, bukan Nyi Gusti Ayu Bebed istri Gajahmada.

Jadi andaikata betul Gajahmada ada di lingkaran peristiwa itu, sang lakon hanyalah ingin membela perlakuan keji si tabib saja. Lagi pula bukankah ki bekel adalah pahlawan yang menyelamatkan raja dari keserakahan Ra Kuti. Rasanya tidak masuk akal jika ia harus dicurigai, demikian sebagian pendapat yang lain.

Baiklah, biarkan para cerdik pandai itu berpolemik tentang pekerjaan mereka, yang jelas setelah kematian sang raja, ki patih Daha itu kian berkibar peran dan kiprahnya. Semakin dibutuhkan kehadirannya.

PADA SAAT ITU satu-satunya istri Raden Wijaya trah Singosari yang masih ada tinggal Dyah Gayatri. Sebagian sudah meninggal atau mendahului manjing sebagai biksuni.

Dan seminggu setelah pertemuan para pembesar kerajaan itu, di parapatan agung Bathara Saptaprabu (semacam dewan tertinggi) berlangsunglah pelantikan Dyah Gayatri sebagai rajaputri dengan gelar yang amat ringkas Sri Rajapatni.

Memang benar pemerintahan Sri Rajapatni tidak berlangsung lama namun waktu yang hanya beberapa bulan itu telah mampu meletakkan dasar pengembangan negara yang luar biasa.

Dengan dibantu oleh Arya Tadah, Gajahmada dan keponakannya Adityawarman, Dyah Gayatri Sri Rajapatni telah berhasil menyusun langkah-langkah strategis bagi negara.

Yang paling mengagumkan adalah upayanya untuk mencegah perang saudara dengan menerapkan strategi pernikahan kerabat (silang dalam).

Meskipun awalnya konon dikemas dalam bentuk sayembara, namun hasil akhir toh tetap sesuai dengan skenario para pembesar keraton.

1. Putri pertamanya Dyah Gitarja menikah dengan Pangeran Cakradara (Bre Tumapel). Tujuannya untuk meredam potensi pemberontakan dari Singosari.

2. Putri keduanya Dyah Wiyat dipersunting oleh Pangeran Kudamerta Wijayarajasa (Bre Wengker). Dimaksudkan untuk meredam serangan dari arah barat.

Pada waktu itu kedua wilayah, yaitu Singosari dan Wengker (sekitar Ponorogo) merupakan dua daerah terkuat. Di samping Sadeng yang kini justru kian berani bersikap mbalelo.

Cerdiknya lagi kedua pernikahan itu digelar setelah Sang Gayatri melantik putrinya Dyah Gitarja sebagai raja putri perwalian bergelar Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani (1329-1351)

Dengan skenario ini maka sepeninggal dirinya nanti tampuk pimpinan kerajaan Majapahit tetap berada di tangan trah Sri Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya).

Itulah kecerdikan sang rajaputri, sampai kehebatannya itu sempat membuat kagum Earl Drake seorang penulis berkebangsaan Kanada yang pada tahun 2012 menulis buku dengan judul: Gayatri Rajapatni, Perempuan Di Balik Kejayaan Majapahit (Uncovering The Woman Behind Majapahit).

LANTAS SIAPAKAH sebenarnya Dyah Gayatri itu? Ia adalah putri raja Singosari Prabu Kertanegara (1268-1292), si bungsu dari empat saudara yang semuanya adalah istri Raden Wijaya.

Yang pertama adalah Tribuwaneswari (permaisuri), kedua Jayendradewi atau Narendraduhita, ketiga Pradnyaparamita, dan keempat Dyah Gayatri atau Rajapatni.

Keempat putri Kertanegara ini diungsikan oleh Raden Wijaya ke Madura dan dititipkan kepada Arya Wiraraja (ayah Ranggalawe), pada saat Singosari diserang Kediri tahun 1292.

Selama beberapa tahun keempat putri raja itu nunut gesang di kediaman Arya Wiraraja bahkan berkat pembesar Madura ini pula Raden Wijaya diterima mengabdi oleh Prabu Jayakatwang di Keraton Kediri.

Setelah Raden Wijaya dibantu Ranggalawe dan pasukannya berhasil mendirikan kerajaan Majapahit barulah keempat istrinya diboyong ke kotaraja.

Dari keempat istri Raden Wijaya itu hanya Dyah Gayatri sajalah yang menurunkan dua putri, yakni Dyah Gitarja dan Dyah Wijat.

Diceritakan bahwa Dyah Gayatri Sri Rajapatni memilih menjadi Biksuni tak seberapa lama setelah mengangkat putrinya sebagai raja. Iapun sempat menanting kesetiaan ki Bekel Gajahmada kepada putrinya.

Dyah Gayatri Sri Rajapatni wafat tahun 1350 dan dicandikan di Desa Boyolangu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungaung Jawa Timur.

Candi tersebut disebut pula Candi Boyolangu yang ditemukan pada tahun 1914. Di dalamnya terdapat arca sang Rajapatni berukuran panjang 1,1 m, lebar 1 m dan tinggi 1,2 m.

Menurut Negarakertagama candi ini dibangun oleh Prabu Hayamwuruk dan sekaligus merupakan tempat pemujaan agama Budha.

Bahkan pada tahun 1362 Prabu Hayamwuruk mengadakan upacara Sradda, yaitu upacara untuk memperingati 12 tahun wafatnya Gayatri Sri Rajapatni.

Itulah sebagai bentuk nyata rasa kasih dan berbaktinya sang cucu kepada arwah nenek yang dikaguminya. Meskipun Hayamwuruk adalah seorang maharaja namun rasa hormatnya kepada para leluhur patut menjadi contoh kita semua.***

Demikian semoga bermanfaat.


Tasikmadu, April 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar