Rusmannulis
Kamis, 16 Januari 2020
WAYANG:
JAYAJATRA KERANGKENG
Oleh: Ki Guru Rusman
(Selalu ada hikmah di balik setiap kisah)
PARA KSATRIYA PANDHAWA semakin bingung melihat matahari kian condong ke barat.
Bagaimana tidak, Arjuna telah bersumpah dia akan membunuh diri jika sampai matahari tenggelam belum berhasil membinasakan Jayajatra.
Seorang ksatria Kurawa yang tak tahu malu dan telah membunuh putra kesayangannya, yaitu si Abimanyu, dengan cara yang sangat licik dan keji.
Tentu saja Sengkuni yang banyak akalnya itu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Diam-diam Jayajatra dia sembunyikan di sebuah kamar yang sangat gelap.
"Setidak-tidaknya sampai matahari tenggelam di ufuk barat nanti, kau harus tetap berada di sini," begitu pesannya.
Sementara itu di pihak lain para Pandhawa semakin gelisah. Puntadewa tidak lagi dapat berdiri, Bima semakin keras raungannya, Nakula Sedewa bahkan mulai menangis.
Haruskah Arjuna yang terkenal sakti itu mati hanya karena membunuh diri?
Sabdo pandhita pangandikaning ratu, kalo sampai matahari tenggelam dan Jayajatra tetap belum ditemukan sudah pasti ksatria jagonya para dewa itu tidak akan mengingkari sumpahnya.
Sudah pasti senjata pasopatii atau mungkin keris pulanggeni akan dia tancapkan sendiri di tubuhnya.
Oh adikku, tidakkah ada cara lain untuk mencegah hal itu? Para ksatria luhur itu semakin tak berdaya.
Tapi di sini ada Sri Kresna, sang penasehat perang para pandhawa. Mengapa ratu agung Dwarawati tidak segera bertindak?
Dengan mata merah Bima mendekati Kresna. Namun di depan Sri Kresna satriya yang tinggi besar itupun bagaikan terkunci lidahnya. Dia hanya mampu memandang, seolah-olah menanyakan apa yang harus dia lakukan.
Sebenarnyalah ratu Dwarawati itupun juga tengah gelisah. Sang penasehat pandhawa itu sedang memutar otak bagaimana menyelamatkan panengah Pandawa itu.
Dengan penuh kekhawatiran Kresna memandang Arjuna yang saat itu sedang berada di puncak sebuah pohon.
"Arjuna adalah suami Dewi Subadra yang berarti ia adalah adik iparku, bagaimana mungkin aku tega membiarkan hal ini," pikirnya.
Arjuna yang banyak digandrungi para wanita itu sengaja mencari tempat yang tinggi untuk mencari di mana keberadaan si laknat Jayajatra.
Namun sudah hampir seharian dia mondar mandir ke berbagai tempat, berjam-jam pula dia menaiki puncak pohon, si pengecut itu tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Kini sang Arjunapun sudah hampir berputus asa. Sebenarnya bukanlah kematiannya yang akan ia sesalkan, melainkan keinginannya untuk membalaskan gugurnya si Abimanyu yang belum tercapai, itulah yang kini menyiksa dirinya.
Akhirnya dengan suara yang lembut Kresna memanggil adik iparnya itu. Tak ada pilihan lain bagi Arjuna selain segera menuruti panggilan kakandanya, sebab baginya Kresna bukanlah sekedar kakak ipar.
Raja berkulit hitam legam ini sekaligus adalah gurunya, penasehatnya atau bahkan penuntun dalam setiap jengkal kakinya.
Dengan langkah yang gontai Arjuna mendekati Kresna. Akan tetapi begitu mendengar bisikan sang guru di telinganya, tiba-tiba api bagaikan berkobar di tubuh Arjuna.
Ksatria jagonya para dewa ini segera mencari tempat terlindung untuk bersiap melaksanakan perintah Sri Kresna.
Dalam pada itu di dalam kamar yang sangat gelap raden Jayajatra merasa seperti di penjara. Telah hampir seharian dia menyekap diri di tempat terkutuk ini.
Baginya waktu bagaikan berjalan mundur. Lama sekali paman Sengkuni tidak memberi tanda, pikirnya. Bukankah hari sudah sedemikian gelap, itu berarti siang sudah berganti malam. Mungkinkah paman patih lupa dengan janjinya.
Satriya muda dari kurawa ini mencoba mencari lobang sekecil apapun untuk mengintip dari dalam kamar.
Namun jangankan lobang yang sebesar mata, selebar lidipun tak juga dia ketemukan. Akhirnya adik ipar Duryudana ini hanya bisa mengepalkan kedua tangannya sambil mengumpat-umpat dalam hati.
DI LUAR KAMAR agak mendekati jendela patih Sengkuni nampak tersenyum di hadapan para kurawa. Baginya detik-detik kematian Arjuna seperti tinggal menghitung jari.
Dia perintahkan kepada wadya kurawa agar jangan ragu-ragu untuk bersorak ria begitu matahari tergelincir di ufuk barat.
Sorak itu adalah laksana lonceng kemenangan sebab musnahnya Arjuna berarti separuh kekuatan pandhawa akan hilang.
Dan nampaknya orang tua itupun merasa bagaikan mimpi manakala dia melihat tiba-tiba sang surya seperti berlari meninggalkan bumi.
Di tengah kegirangan yang amat sangat para kurawa sama sekali tidak menyadari bahwa di bawah pohon agak jauh dari tempat itu, seorang lelaki berkulit hitam tengah duduk bersila sambil menengadahkan kedua tangannya.
Mulutnya berkomat-kamit dan bersamaan dengan itu selarik sinar putih terpancar ke atas menembus relung-relung awan di langit.
Perlahan-lahan sinar mentaripun bagaikan tertutup oleh gumpalan mendung membuat bumi semakin gelap.
Sejenak kemudian dengan aba-aba dari sang paman para kurawa bersorak gemuruh bagaikan suara air bah.
"Arjuna mati, Arjuna mati, ayo kita sambut kemenangan ini." Teriakan-teriakan yang dibarengi dengan sorak sorai ambata rubuh ini kontan didengar pula oleh sang Jayajatra dari dalam kamar.
Tanpa membuang waktu satriya muda yang merasa tersekap di dalam neraka itu segera mendekati jendela.
Dia ingin sekali menyaksikan Arjuna yang akan mati karena menggantung diri, atau menghantamkan kepalanya sendiri di atas batu, atau apapun yang penting orang sombong itu mati dengan cara yang memalukan.
Bagaikan seekor kuda yang lepas dari kandangnya Jayajatra segera membuka lebar-lebar daun jendela.
Dia lambaikan tangannya sambil berteriak-teriak kegirangan seolah-olah tidak mau kalah dengan saudara-saudaranya.
Satriya muda ini sudah bersiap untuk melompat keluar ketika tiba-tiba tanpa terduga langit menjadi terang kembali.
Dan bersamaan dengan itu sebatang anak panah telah meluncur bagaikan kilat menerjang kepala Jayajatra.
Panah Arjuna yang terkenal sakti dan dilontarkan dengan penuh kemarahan tak akan sedikitpun meleset dari sasaran.
Maka tanpa ampun lagi dalam sekejab saja kepala adik ìpar Duryudana ini telah terlepas jauh meninggalkan tubuhnya yang masih bertengger di bibir jendela.
Tak lama kemudian nampak dari balik sebuah pohon Sri Kresna keluar sambil membawa senjata cakraw yang telah ia gunakan untuk menutupi sinar matahari. Dan bersamaan dengan itu Ajunapun melangkah dengan penuh kepuasan.
Patih Sengkuni yang merasa dipermainkan tanpa berpikir panjang segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak maju.
Namun Bima dan bala tentaranya tentu tidak tinggal diam. Tanpa membutuhkan waktu yang lama para kurawa sudah kocar-kacir dan lari tunggang langgang pulang kembali ke Astina.***
"...Faqsusil-qasasa la'alahum yatafakkarun"
... maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir (mengambil hikmah)(QS. Al-A'raf: 176).
Keterangan:
Tulisan ini pernah kami tayangkan di kompasiana tgl. 8 September 2018.
Penulis adalah:
Praktisi pendidikan dan pemerhati wayang tinggal di Tasikmadu Palang Tuban.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar