Rusmannulis
Jumat, 10 Januari 2020
KIDUNG RUMEKSA SANG SULTAN TRENGGONO (TAMAT)
DI MALAM BERIKUTNYA, lantunan kidung emban Sentika terdengar semakin lemah dan parau. Ibarat nyala sebuah obor terasa kian redup cahayanya.
Sementara itu di dalam biliknya, Sultan Trenggono tiba-tiba saja bertanya kepada istrinya:
"Apakah fajar masih jauh Dinda?"
Kanjeng Ratu Anom termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan suara yang dalam ia menjawab:
"Ayam jantan sudah berkokok lewat tengah malam Kang Mas. Sebentar lagi kita akan sampai keujung malam ini."
Sang sultan tersenyum. Terdengar suaranya tensendat:
"Rasa-rasanya malam ini terlalu panjang. Betapa cerahnya matahari terbit di esok pagi."
"Kang Mas, kita sudah jauh melewati tengah malam. Kita sudah berada di awal hari yang baru. Tetapi matahari belum menampakkan cahayanya."
Kanjeng ratu mengerutkan keningnya. Nampak sepercik ketegangan di wajahnya yang cantik.
Perlahan-lahan ia mendekati suaminya. Seolah-olah diluar sadarnya ia meraba pergelangan kaki sultan yang terbaring lemah itu.
"Kaki ini masih cukup hangat," berkata permaisuri di dalam hatinya. "Nampaknya segalanya masih berjalan wajar. Tapi bisa saja keadaan Kanda sultan berubah gawat, meskipun masih dapat merasakan rabaanku ini."
Namun demikian, selarik kecemasan telah melonjak di hati kanjeng ratu. Ia tidak tahu pasti apakah sebenarnya yang akan terjadi.
Tetapi rasa-rasanya perasaannya telah terguncang oleh kegelisahan.
KETIKA LANGIT menjadi merah oleh cahaya fajar dan ayam berkokok terakhir kalinya di malam itu, Sultan Trenggono mengerutkan keningnya.
Yang menungguinya saat itu adalah istrinya yang gelisah, yang duduk di atas dingklik kayu di sudut ruangan.
"Dinda..," desis sang sultan, "kau dengar ayam jantan berkokok?"
"Ya Kang Mas Sultan," jawab kanjeng ratu sambil bergeser mendekat.
"Itu pertanda bahwa hari baru akan datang."
"Ya Kang Mas."
"Dan umurku masih akan bertambah dengan sehari lagi."
"Ah," desis permaisuri, "Kang Mas masih akan melihat saat-saat matahari terbit dihari-hari berikutnya."
Sultan Trenggono tertawa. Katanya:
"Dinda, aku sama sekali tidak cemas melihat kenyataanku sekarang ini. Justru aku sadar, betapa kecilnya seseorang dihadapan Yang Maha Kuasa. Dan akupun pasrah, kapan aku harus menghadap-Nya."
Nyi Mas ratu tertegun. Tetapi ketika ia akan berbicara suaminya mendahuluinya:
"Mungkin orang lain perlu kata-kata penghibur, seolah-olah maut masih akan menjauhinya. Tetapi maut bagiku bukan sesuatu yang mencemaskan. Karena aku tahu, jika saatnya datang, tidak seorangpun akan dapat menghindar."
Nampak permaisuri itu semakin menunduk.
"Wong Ayu.., "bisik Sultan Trenggono seraya memegang tangan istrinya.
"Ya Kang Mas, "jawab permaisuri sambil mencium tangan suaminya.
"Ingatlah betul apa yang diarahkan Kanjeng Rama Sunan. Beliaulah sebenarnya tempat sandaran kita semua. Karena itu kita wajib mendengar petuah beliau."
"Ya Kang Mas."
"Jagalah anak-anakmu. Meski si Mukmin dan Nini Kencana bukan lahir dari rahimmu, namun aku yakin tak sedikitpun kau menganggapnya seperti itu. Percayakan pada Rama Sunan untuk membantu mengasuhnya."
Sultan berhenti sejenak, lalu katanya lagi:
"Kau harus tetap tinggal di lingkungan istana ini. Setidaknya di kaputren timur masih cukup luas untuk kau tempati."
"Kang Mas.., "bisik permaisuri yang kini justru semakin terisak tangisnya.
"Aku yakin dinda, Rama Sunan pasti tidak akan tega melepaskan anak-anak kita,"
Berkata begitu tangan Sultan Trenggono sambil membelai rambut dan kening istrinya, lalu katanya lagi:
"Kau harus tetap bersabar wong ayu."
Wanita yang masih nampak cantik di usianya yang tak lagi muda itu semakin menjadi-jadi tangisnya.
Wajahnya yang semakin nampak sayu segera ia tundukkan ke dada dan wajah suaminya.
"Istriku," berkata Sultan Trenggono kemudian, "bukalah pintu bilik ini. Aku ingin melihat, apakah cahaya fajar hari ini cukup cerah."
Seolah-olah di luar sadar Kanjeng Ratu Anom mengusap air matanya dan kemudian berdiri dan membuka pintu.
Udara yang dingin menyeruak di wajahnya dan menyusup ke dalam bilik itu.
"Segarnya udara pagi," berkata sang sultan.
Kanjeng ratu tidak menjawab. Tetapi untuk beberapa saat iapun tiba-tiba telah terpukau oleh warna-warna merah yang membayang di langit.
Ketika ia melangkah kepinggir serambi, maka iapun melihat bintang-bintang yang menjadi semakin suram.
Wanita itupun kembali mendekati suaminya. Tetapi betapa terkejutnya ketika dia mendapatkan kenyataan yang berbeda.
Kini Sultan Trenggono tengah memejamkan mata dengan nafasnya yang tersenggal-senggal. Tentu saja hal ini sangat membuat gugup sang permaisuri.
"Kang Mas.., Kang Mas Sultan ..!" berkata wanita itu sambil meraba-raba wajah suaminya.
Hatinya agak ringan saat suaminya membuka mata sambil tersenyum lemah.
"Istriku .., "bisik Sultan Trenggono hampir tak terdengar.
"Kang Mas ...."
"Tempatkan kepalaku di atas pangkuanmu, sayang!"
"Ya, ya Kang Mas, " segera saja Kanjeng Ratu menuruti permintaan suaminya.
Tetapi sesaat wajah yang sayu itu sudah berada di pangkuannya, hal yang tak ia duga sama sekali terjadi.
Hati Kanjeng Ratu terkesiap ketika suaminya tersenyum sambil berkata pelan sekali:
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu. Berhati-hatilah."
Dan mata Sultan Trenggono yang sakti itupun terpejam untuk selama-lamanya.
KONTAN GEGERLAH istana Demak Bintoro mendengar tangisan yang meledak dari dalam bilik Sang sultan.
"Kang Maaas ... !" Jeritan dari seorang istri yang kehilangan suami yang amat dicintainya. Tentu tak dapat dikendalikan lagi.
Orang-orang yang ada di sekitar pendapa terperanjat dan segera menghambur ke arah bilik sang sultan.
Namun terlambat, karena yang mereka dapatkan adalah dua sosok suami istri yang saling berpelukan.
Sang suami telah menjadi jenazah sedangkan si istri telah dalam kondisi pingsan. ***
÷= S E L E S A I =÷
Kesetiaan seorang istri kepada suami, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
"Seandainya aku boleh menyuruh seorang manusia untuk bersujud kepada manusia lainnya, niscaya akan aku suruh seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya” (HR. Tarmidzi)
Keterangan :
Sebagian dari kisah ini hanya imajinasi belaka.
Penulis adalah pemerhati sejarah dan praktisi pendidikan. Tinggal di Tasikmadu Palang Tuban.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Mangga mungkin ada kritik dan saran untuk tulisan ini. Terimakasih sebelumnya. 👍👍
BalasHapus