-

Rusmannulis

Jumat, 10 Januari 2020

KIDUNG RUMEKSA SANG SULTAN TRENGGONO (2)


Oleh: Ki Guru Rusman


MALAM MASIH SUNYI. Dari kejauhan suara emban Sentika tetap mengalun sendu.

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak.

SEDANG DI KAMAR DUKA Raden Bagus Mukmin masih setia menunggui ayahnya.
Anak muda yang masih berurai air mata itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Sultan Trenggono berkata:

"Sudahlah, sekarang berceriteralah tentang kalian. Tentang apa yang akan kalian lakukan terhadap peninggalan kakekmu Raden Patah, jika aku nanti dipanggil-Nya."

Pemuda itu termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling, dilihatnya wajah-wajah yang tegang pula di dalam bilik itu.

Sejenak ia berdiam diri. Namun kemudian katanya, "Ampun kanjeng rama, janganlah berkata begitu. Semuanya akan baik-baik saja. Ramanda akan segera sembuh."

"Kalian harus siap. Bukankah kau tahu sendiri, kau adalah calon pengganti rama," namun kemudian nada suaranya menjadi dalam, "Yang salah aku sendiri, karena selama ini aku tidak membimbingmu secara sungguh-sungguh."

Raden Mukmin bergeser sedikit. Jawabnya:

"Ampun kanjeng rama, janganlah begitu, selama ini ramanda adalah seorang ayah yang telah banyak memikirkan kami. Justru kami menyesal karena selama ini sering mengabaikan petuah-petuah ramanda."

Sultan Trenggono tersenyum, "Aku yang salah juga kalau saat ini cara memimpinmu masih nampak ragu-ragu," katanya lemah pula, "Oh, anakku. Aku merasa gagal menjadi seorang bapak yang baik bagi kalian."

Raden Mukmin melihat mata yang cekung itu menjadi redup. Namun hanya sesaat, karena Kanjeng Sultanpun kemudian berkata,"Kau tentu belum beristirahat, nanda. Beristirahatlah."

Putra Mahkota itu mengangguk hormat dan bibi tabib segera menggantikannya.

NAMUN KETIKA suatu saat pemuda itu duduk sendiri di dalam bilik Kanjeng Sultan, ayahandanya yang sudah sangat lemah itu sempat memberikan perintah kepadanya.

"Apakah adikmu Karebet ada di sini juga? Panggillah."

"Baik Ramanda."

Dalam sekejab masuklah pemuda yang tak kalah gagah dengan putra Mahkota. Dialah menantu kinasih Sultan Trenggono, pemuda desa tingkir yang sekaligus murid pilihan Sunan Kalijaga.

"Aku titip istrimu Nini Ayu Cempaka. Ia adalah seorang wanita yang lembek hatinya," berkata Kanjeng Sultan hampir berbisik, "jika caranya bersikap masih sering ragu, maka di dalam kesehariannya kelak akan banyak persoalan-persoalan."

Sultan Trenggono berhenti sejenak, lalu lanjutnya:

"Untunglah kau sebagai suaminya mempunyai sifat yang agak lain. Mudah-mudahan kau berhati seluas samudra. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau tidak boleh bersikap. Jika perlu kau sekali-sekali harus bersikap keras pula terhadap si nini."

Mas Karebet menunduk. Ia mengerti sepenuhnya maksud mertuanya. Maka iapun berpikir untuk tidak lagi berpaling ke wanita lain. Aku bertekad untuk menyayangi dinda Ayu Cempaka sampai tuntas, sebagai bentuk rasa cintaku kepada keluarga yang terhormat ini.

Namun selanjutnya terdengar Kanjeng Sultan berkata pula: "Tetapi ngger, kaupun harus berpikir pula tentang masa depan keraton Bintoro. Sebenarnyalah aku akui, kau lebih prigel dari kakangmu Mukmin, baik soal perang, daya kesaktian, maupun mengelola negara.

Jika kalian terlalu berlarut dalam suasana sedih ini, maka hal itu tidak baik bagi kepemimpinan negeri ini."

"Aku juga sudah memberikan banyak nasehat kepada Nyi Mas Permaisuri," berkata Sultan Trenggono lagi,"tetapi iapun harus selalu didampingi setiap kali. Dan itu adalah tugasmu, karena kau adalah menantu yang sudah kami anggap sebagai anak sendiri."

Mas Karebet memandang wajah mertuanya itu. Ia sangat berterima kasih atas segala pesan-pesannya. Tetapi iapun menyadari, bahwa Kanjeng Sultan harus banyak beristirahat.

Karena itu dengan hati-hati ia kemudian berkata: "Ramanda, hamba sangat senang mendengar petunjuk-petunjuk rama. Tetapi hamba mohon paduka dapat beristirahat agar keadaan rama menjadi bertambah baik."

Dan ketika Sultan Trenggono tersenyum dan menganggukkan kepala, maka pemuda sakti itu segera keluar bilik mertuanya. Nyai tabib segera menggantikan kedudukannya.

NAMUN PEMUDA dari Tingkir itu mengerutkan keningnya ketika di malam berikutnya ia dipanggil lagi oleh mertuanya. Baginda itu bertanya, "Kau belum tidur ngger?"

Karebet termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil melangkah mendekat ia menjawab, "Belum ramanda."

"Apakah masih ada tamu disini?"

"Tidak rama, hanya para pengawal istana yang ada. Sedang ibunda ratu sedang berbincang di luar."

Sultan Trenggono berdesis lembut. Dan Mas Karebetpun melanjutkannya:

"Tapi saat ananda bertemu bapa Sunan beliau menyatakan insyaAllah petang ini berkenan pula menjenguk ramanda."

"Guru sunan? "Sultan mengulang dengan suaranya yang dalam.

"Ya, ramanda."

"Oh, bukankah aku sudah mencegah agar sakitku ini jangan diberitakan kepada guru."

"Ma'af ramanda, justru beliau yang menanyakan padaku bagaimana keadaan ramanda."

Sejenak Kanjeng Sultan terdiam. Terbayang olehnya seorang tua yang bijaksana. Semua yang dikatakan beliau selalu menjadi pedoman bagi orang lain.

Pikiran sang sultan lantas teringat beberapa tahun yang lalu, saat ia sendiri yang meminta Sunan Kalijaga berkenan menjadi Imam Masjid Agung berdampingan dengan Kanjeng Sunan Kudus.

Namun tidak seberapa lama Kanjeng Kudus sendiri justru minta mengundurkan diri untuk lebih berkonsentrasi pada para santrinya.

"Rama sunan ...!" teriakan dari luar membuyarkan lamunan Sultan Trenggono.

"Oh, aku harus bersiap-siap menyambut kehadiran bapa sunan," pikirnya.

Sultan yang sedang sakit itu lantas tersenyum. Katanya:"Ya Dinda Ratu, aku sudah bersiap datang ke pendapa untuk bertemu kanjeng mertua," berkata Raja Demak itu.

"Ayo Dinda Ratu, bimbinglah aku ke sana. Keadaanku cukup baik untuk menerima kehadiran bapa mertua sekarang."

Mas Karebet termangu-mangu sejenak. Ia tahu benar, bahwa keadaan sultan benar benar gawat. Wajahnya seakan-akan menjadi semakin pucat, sedangkan nafasnya rasa-rasanya menjadi semakin sendat.

Tetapi pemuda itu tidak mengatakan sesuatu. Ia masih melihat wajah mertuanya yang dihiasi dengan senyum sambil memandanginya.

Sehingga karena itulah, maka iapun kemudian melangkah untuk melihat ke pendapa.

Namun belum sempat ia berdiri, anak muda itu tertegun ketika di depan pintu kamar tiba-tiba saja telah muncul seorang kakek yang tersenyum hangat memandang ke arah mereka.

Guru sunan diantar oleh putrinya Kanjeng Ratu Anom berdiri dimulut pintu bersama putra-putri lainnya.

Secerah kegembiraan nampak diwajah Sultan Trenggono melihat kedatangan orang yang dia hormati.

Namun sebaliknya, wajah Sunan Kalijaga yang kemudian menjadi muram melihat Sultan Demak yang perkasa itu terbaring dengan wajah yang pucat dan tubuh yang nampaknya sangat lemah.

Bagaimanapun juga orang tua ini teringat di saat terakhir angger raja berjuang untuk kejayaan negerinya. Bahkan ia sendiri selalu menyarankan agar tugas negara selalu diutamakan.

"Lā yastawil-qā'idụna minal-mu`minīna gairu uliḍ-ḍarari wal-mujāhidụna fī sabīlillāhi bi`amwālihim wa anfusihim".

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk saja dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya." (QS. An-Nisa':95)


Sunan Kalijaga menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang lembut ia bertanya:

"Bagaimana keadaan Nanda Sultan saat ini?"

Sultan Trenggono masih tersenyum. Namun ia justru bertanya tentang keselamatan perjalanan sang mertua.

"Alhamdulillah, perjalananku tidak menjumpai kesulitan apapun sultan," jawab Sunan Kalijaga.

Orang tua itu meraba tangan yang lemah. Terasa tangan itu sangat dingin dan lemas. Bahkan rasa-rasanya tubuh Sultan Trenggono itu tinggal kulit yang membalut tulang.

Untuk beberapa saat lamanya mereka masih berbincang sambil sekali-sekali orang tua itu juga memberikan dorongan dan harapan bagi yang sedang sakit.

Tapi ketika kemudian Sunan Kalijaga meminta kehadiran Permaisuri dan Pangeran Bagus Mukmin ke dalam bilik itu, nampak mereka berempat membicarakan hal yang sungguh penting cukup selama. Entah apa yang mereka bicarakan.

Dan suasana menjadi cair ketika Sunan Kalijaga keluar dari bilik dan mendapatkan cucu-cucunya yang masih ada di situ.

Mereka berangkulan menangis di pangkuan eyang Sunan, di temani ibunya yang tidak kuasa pula membendung air matanya.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar