-

Rusmannulis

Rabu, 08 Januari 2020

KIDUNG RUMEKSA SANG SULTAN TRENGGONO


Oleh: Ki Guru Rusman


SUATU MALAM .., dari sebuah rumah yang terletak di antara rimbunan pohon bambu, di bibir kolam kecil, seorang perempuan tua tengah duduk bersedekap.

Matanya terpejam menghiasi wajah yang sudah mulai keriput. Bibirnya terus bergoyang-goyang melantunkan tembang yang begitu indah dirasakan.

Suaranya mengalun mendayu-dayu, menelusup di antara dedaunan yang bergoyang pelan, di terpa angin malam.

Ternyata wanita itu adalah emban Sentika, seorang pelayan istana Keraton Demak Bintoro.
Malam ini emban tua itu sedang menjalankan tugas dari junjungannya, ialah Kanjeng Ratu Anom.

Betapapun beratnya beban itu namun baginya tugas adalah amamah. Amanah dari seorang istri raja yang amat disayanginya, tempat ia bertekad meletakkan pengabdian hidupnya hingga akhir hayat.

Emban Sentika harus melantunkan kidung di sepanjang malam. Kidung untuk mengunduh kemuliaan malam sebagai pelengkap dari dzikir, sebab orang Jawa akan gemregah tangi saat do'anya dilengkapi dengan tembang.

Maka kidung gubahan Kanjeng Sunan Kalijaga ini hanya berhenti saat pelantunnya mengambil air wudhlu dan betsholat malam, berdzikir, dan melantunkan tembang lagi.

Lamat-lamat suara perempuan tua itu, kadang terdengar agak jelas namun sekejab kemudian terasa begitu jauh mendayu-dayu.

KIDUNG RUMEKSA ING WENGI

TEGUH hayu luputa ing lara,
Luputa bilahi kabeh,
Para makhluk liya datan purun,
Paneluhan tan ana wani,
Niwah panggawe ala,
Gunaning wong luput,
Geni atemahan tirta,
Maling adoh tan ana,
Ngarah ing mami,
Guna duduk pan sirno."

(https://www.suaramerdeka.com/gayahidup/baca/773/kidung-rumekso-ing-wengi)

Kidung yang bernada keprihatinan itu telah membuat malam semakin nglangut, menciptakan suasana yang kian sunyi, seolah-olah Keraton agung itu hanyalah kumpulan rumah yang tak berpenghuni.

Akan tetapi meskipun lantunan kidung itu membuat banyak orang terasa merinding, anehnya hati Kanjeng Ratu Anom justru berangsur sejuk bagaikan tersiram air salju.

Permaisuri Demak Bintoro itu meresapi betul makna kidung yang ia pesan dari ayahnya sendiri, agar suaminya tidak berlama-lama dalam penderitaan.

"Ma'af Kanjeng Rama Sunan, kalau kakanda sultan bisa sembuh mohon segeralah sembuhkan," kata wanita itu sambil berurai air mata," namun andaikan Allah SWT nenghendaki lain ..duh ramaa, biarlah tak ada rintangan sedikitpun,"

Sunan Kalijaga memandang penuh iba kepada putrinya, sambil mengangguk pelan beliau berkata:

"Wahai jebeng, kita hanya bisa bermohon,"katanya sambil mengusap rambut sang putri," dan semua yang akan terjadi tentu atas kehendak Allah SWT."

"Lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā,"
Allah tidak akan membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya."
(QS. Al-Baqarah: 286).


MALAM INI ADALAH MALAM YANG MENDEBARKAN, malam yang penuh misteri antara hidup dan mati sang suami.

Ialah Kanjeng Sultan Trenggono yang merupakan raja ke-tiga kasultanan Demak Bintoro (1505-1546).

Seorang raja besar yang berhasil memperluas wilayah kerajaan hingga kawasan timur. Mulai dari Tuban, Gelanggelang (Madiun), Surabaya, Blitar, Malang dan Pasuruan.

Namun sungguh disayang, belum lagi tugas yang maha berat itu dapat terlesaikan, belum tuntas rasanya sang raja mengepakkan genderang perang, ternyata takdir harus berbicara lain.

Petualangan sang raja besar itu harus terhenti di saat-saat beliau bersama pasukannya tengah menyusun strategi.

Sebagaimana ditulis oleh FERNANDES MENEZ PINTO, seorang sejarahwan dari Portugis, waktu itu Demak dalam upaya penaklukan daerah timur, tepatnya di PANARUKAN yang dikuasai Blambangan pada tahun 1546.(https://id.m.wikipedia.org /wiki/Trenggana).

Saat sang raja yang sedang memimpin perundingan untuk menyusun penyerangan pada esok hari, tiba-tiba saja beliau mengalami kejadian yang tak terduga.

Seorang Sultan linuwih dari kerajaan besar menjadi terluka parah hanya karena tusukan pisau pembantunya, yakni bocah berusia 10 tahun yang merupakan persembahan adipati Surabaya.

Hampir tak masuk di akal memang, tetapi ternyata semua telah terjadi. Anak yang dianggap teledor itu merasa tersinggung atas cara sang sultan menghardik dirinya di depan orang banyak.

Dan ternyata anak yang selalu menyelibkan pisau dapur di balik punggungnya itu tak kuasa menahan gejolak amarah, tak terampunkan pisau itu tepat menancab di ulu hati sang sultan.

Mungkin ini suatu pelajaran buat kita semua:

"Fa qụla lahụ qaulal layyinal la'allahụ yatazakkaru au yakhsya."

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut" (QS. At-Thaha: 42).
KINI SULTAN yang perkasa itu berbaring lemah di atas tempat tidurnya, di sebuah ruang yang indah berdinding batu pualam, setelah berhari-hari beliau dipulangkan oleh para pembantunya.

Di samping pembaringannya ada sang ratu anom yang juga putri Sunan Kalijaga, nampak tengah duduk sedih.

Perasaannya terhanyut ke dalam satu suasana yang senyap, memandang tak jelas apa yang dipandang.

Tabib istanapun laki-laki maupun perempuan tak henti-hentinya menjaga dan merawat, di samping para pengawal yang menjaganya dengan sangat ketat pula.

Di belakang Kanjeng Ratu Anom ada Raden Bagus Mukmin, sang putra mahkota yang secara bergantian menunggui ayahnya pula.

Raden Bagus Mukmin (=Sunan Prawoto) konon adalah putra sultan patutan dengan Kanjeng Ratu Sepuh. Istri Sultan Trenggono yang berasal dari Cirebon.

(https://kanzunqalam.com/2018/11/03/misteri-kekerabatan-sultan-trenggono)

Dengan Kanjeng Ratu Sepuh sultan memiliki putra putri, Bagus Mukmin dan Nimas Ratna Kencana (=Ratu Kalinyamat).

Sedang dengan Kanjeng Ratu Anom sang sultan menurunkan Nimas Ayu Cempaka (istri Karebet) dan Pangeran Timur (kelak menjadi adipati Madiun).

Kini di saat ibunya sendiri sudah tiada, Raden Bagus Mukmin merasakan kasih sayang yang tulus dari Kanjeng Ratu Anom, tak ubahnya seperti ibu kandungnya sendiri.

Karena itu ia dan adiknya Nimas Ratna Kencana pun sangat hormat dan bekti kepada ibunda Ratu Anom.

KINI DI UJUNG MALAM Raden Bagus Mukmin terperanjat ketika tiba-tiba ia mendengar ramandanya berbisik: "Masuklah!"

Dengan ragu-ragu pemuda itu melangkah masuk. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia kemudian melihat ayahnya memiringkan kepalanya.

Seleret senyum membayang di wajah yang pucat itu. Kemudian terdengar suaranya parau di kerongkongan, "Kau ada di sini, ngger?"

Rasa-rasanya dada Raden Mukmin bagaikan bergetar. Suara Sultan Trenggono yang lemah, dalam dan parau itu, bagaikan pertanda yang baru padanya tentang keadaan sang ayah.

Perlahan-lahan pemuda itu melangkah mendekati tubuh ayahandanya. Sementara di dalam kamar terdapat juga ibunda dan seorang wanita setengah tua yang merupakan tabib istana.

Putra putri lainnya termasuk sang menantu Mas Karebet masih tetap bersiap di luar. Mereka telah dipesan ibundanya untuk berada di dekat pintu kamar saja.

"Kecuali kalau ibu panggil karena ayahanda memerlukanmu," begitu pesan ibunda yang diingat putra-putri sultan itu.

Raden Mukminpun kemudian duduk di sebuah kursi kayu di sisi pembaringan sang sultan. sementara yang lain berdiri selangkah di belakang pemuda itu.

"Ramanda ..," tiba-tiba saja putra sulung itu berdesis. Ada sesuatu yang terasa menghangati kerongkongannya.

Sultan Trenggono tersenyum. Katanya, "Bagaimana keadaanmu anakku, apakah kalian baik-baik saja?"

Putra raja itu mengangguk. Mau tidak mau air mata telah membasahi pipinya.

Jawabnya: "Ya ramanda, kami baik-baik saja. Kanjeng rama harus segera sembuh, kasihan ibunda ratu dan putra-putri lainnya yang masih banyak memerlukan bimbingan."

"Jangan menangis kau Mukmin, "kata Kanjeng Sultan lemah, "Kau seorang lelaki perkasa. Bukankah guru sunan mengajarkan pada kita untuk bisa tegar menghadapi segala cobaan?"

"Ya ramanda. Ma'afkan anakmu ini, yang tidak bisa menjaga keselamatan ramanda," jawab Raden Mukmin sambil menangis.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian:

"Lukaku memang parah. Kau berada jauh dari tempatku waktu itu. Tetapi ngger, segala tentang hidup seseorang tergantung sekali kepada Yang Maha Kuasa. Dan aku tidak akan ingkar setiap keputusan yang diambil-Nya tentang diriku. Sekarang, besok atau lusa."

"Ah!"desah anak muda itu, "Kita semua di sini akan berusaha banyak untuk menyembuhkan ramanda."

Sultan yang rambutnya mulai memutih itu tersenyum lagi. Katanya:

"Aku sangat berterima kasih kepada semua pihak. Kepadamu juga. Dinda permaisuri yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meringankan penderitaanku. Kepada paman dan bibi tabib. Kepada semuanya yang telah merawat aku dengan sebaik-baiknya selama aku sakit ini."

"Ramanda akan sembuh." potong Raden Mukmin.

Tetapi Sultan Trenggono tersenyum pula. Dengan suara gemetar ia berkata pula:

"Jangan seperti kanak-kanak Mukmin, seolah-olah kita dapat menahan putaran hidup tentang diri kita masing-masing. Tetapi itu bukan berarti aku tidak mau berusaha. Aku masih tetap minum dan makan semua obatku. Memang segalanya dapat terjadi. Dan aku akan menerima apa saja dengan hati yang lapang."

Raden Mukmin menarik nafas dalam-dalam, ia merasa benar-benar dihadapkan pada seorang ayah yang sangat mapan dalam pikiran dan hatinya.

Jika ia mengenang bagaimana keperkasaan Rama Sultan saat berada di medan peperangan yang merupakan seorang ksatria sejati, maka ketika maut itu sendiri datang mendekatinya iapun sama sekali tidak meronta.

"Ia adalah seorang ayah dan panutan hidupku," berkata Raden Mukmin dalam hatinya.

"Kini kalau akhirnya ia harus kembali ketempatnya yang abadi, itu adalah karena keteledoranku. Betul-betul seorang anak yang lemah aku ini. Apa yang sedang aku lakukan saat itu sehingga tak mampu menjaga keselamatan kanjeng sultan. Oh, ma'afkan aku Ramanda."


BERSAMNUNG

Keterangan:
Sebagian dari kisah ini hanyalah imajinasi belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar