-

Rusmannulis

Senin, 02 Desember 2019

PERNIKAHAN UNIK KELUARGA SUNAN KALIJAGA


Oleh : Ki Guru Rusman


Alhamdulillahilladzi an’amanaa bini’matil iimaan wal-islaam, wa ziyadatan fil 'ilmi. Shadaqallahul Azhim.

Sungguh karunia yang luar biasa bagi umat manusia dimana Allah SWT telah berkenan menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

SEBAGAIMANA diceritakan dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, suatu saat Allah berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".

Maka Malaikat makhluk yang paling taat itupun terkejut dan kali ini mencoba memberanikan diri untuk bertanya: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi? Manusia akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?"

Maka Allah-pun sesuai Ar-Rahman-Ar-Rahim-Nya menjawab dengan lembut: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(Q.S Al Baqarah : 30).

Selanjutnya Sang Khaliq itu lantas menciptakan "Adam" dan sekaligus menunjukkan kelebihan-kelebihannya. Malaikatpun segera menunduk hormat kepada manusia pertama itu, namun sebaliknya iblis mangkir dari perintah Allah. Apalagi saat kemudian diciptakan-Nya pula "Hawa" sebagai wanita pasangan Adam, iblispun berniat untuk tak henti-hentinya menggoda manusia.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, manusia yang dilengkapi dengan akal budi dan nafsu angkara itu benar-benar Allah jadikan sebagai khalifah di dunia.

Diawali dari keberhasilan Iblis menggoda Adam dan Hawa untuk makan buah khuldi yang sebelumnya telah dilarang oleh Allah. Atas pelanggaran itu maka Allah-pun menghukum keduanya, kemudian mengirimkan mereka ke atas bumi.

Maka sejak itulah semakin terbukti apa yang dikhawatirkan para Malaikat. Bumi menjadi ajang tingkah polah manusia dengan segala perangainya. Topeng-topeng dengan aneka ekspresi telah mengisi hiruk pikuk kehidupan, merubah keaslian bumi dengan letusan-letusan perilaku yang beragam.

PANGGUNG SANDIWARA

Dunia ini panggung sandiwara, begitu sang Roker sejati Ahmad Albar dengan kelompok God Bless-nya pernah berlagu di era 80-an. Agaknya kali ini kita boleh mengiakan atau setidaknya sedikit menganggukkan kepala terhadap lirik lagu ini.

Coba ingat, anda pernah mendengar kisah Sangkuriang? Pemuda sakti dari tanah Pasundan yang ditakdirkan bercinta dengan ibunya? Ternyata kisah melegenda semacam itu tidak hanya dimiliki oleh leluhur kita.

Orang Yunani kuno juga punya kisah Dewa Zeus yang mengawini Dewi Hera yang merupakan kakak kandungnya sendiri. Di Mesir ada Dewa Osiris yang juga menikah dengan saudaranya sendiri, yakni Dewi Isis. Tragisnya legenda yang terakhir ini bahkan mengilhami raja Ptolemeus II untuk menikahi Elsinoe yang merupakan adik kandungnya.

Pada era pertengahan, dunia kian banyak dikejutkan oleh kisah nyata pernikahan sedarah yang justru melibatkan tokoh-tokoh ternama.  Misalnya Thomas Jefferson (mantan Presiden AS) yang menikah dengan sepupunya Martha Wayles. Albert Einstein melakukan pernikahan kedua dengan Elsa Lowenthaal, Ratu Elizabeth II dengan Pangeran Philip yang tak lain adalah putra pamannya, dan tak ketinggalan pula Mao Zedong (bapak pendiri RRC) dengan kerabat dekatnya Lou Yuxiu.

Meskipun tidak dipungkiri bahwa kisah-kisah di atas merupakan kejadian nyata namun sebagian besar pernikahan mereka dilatarbelakangi oleh motif-motif terselubung yang pada intinya mengarah pada satu ambisi yang disebut orang Jawa sebagai: kursi-rejeki-putri.

Nah, sekali lagi benar kan sindiran si krebo Ahmad Albar? Dunia adalah panggung sandiwara, dimana setiap orang akan mengambil peran yang harus ia mainkan. Ada peran wajar namun ada pula peran yang berpura-pura alias kurang ajar.

Pernikahan sekerabat yang dikenal pula dengan sebutan perkawinan "silang dalam" atau istilah baratnya inteelt / incest, ternyata banyak sekali terjadi sejak zaman kuno sampai sekarang, tidak terkecuali di kalangan raja-raja Nuswantara.

Jika kita menyisir sejarah raja-raja Majapahit terdapat Raden Wijaya yang menikahi putri-putri Prabu Kertanegara (Singosari) yang merupakan sepupunya sendiri, Tri Buwana Tungga Dhewi dengan Cakradara, Hayam Wuruk bahkan dengan saudara seayah beda ibu yaitu Sri Sudewi.

Tujuan utama dari perkawinan sekerabat ini adalah untuk meredam perang saudara atau dengan kata lain untuk melanggengkan kekuasaan (The political marriage).

Pada zaman Islam raja yang dikenal paling rajin melakukan perkawinan politik adalah Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Konon agar ia memiliki pengaruh kuat di daerah pesisir utara maka Sultan Pajang atau Mas Karebet itu banyak menikahkan putrinya dengan para raja kecil di pesisir laut Jawa, seperti Sultan Pangiri dari Demak, Raden Wiryakrama dari Surabaya, Raden Pratanu dari Madura, dan tak ketinggalan pula Raden Pemalat dari Kadipaten Tuban.

Mereka adalah para menantu Sultan Pajang yang amat setia membela mertuanya saat terjadi pemberontakan oleh Mas Ngabehi Loring Pasar alias Sutawijaya dari Mataram (1582).

ADIK SUNAN KALIJAGA

Tetapi apa yang dilakukan oleh Sultan Pajang itu agaknya diilhami pula olah rentetan peristiwa di tanah kelahiran gurunya, yakni Sunan Kalijaga. Konon jauh sebelum Mas Karebet menjadi raja peristiwa unik telah terjadi di Kadipaten Tuban sekitar tahun 1460 M.

Timbul perdebatan sengit dalam pertemuan agung setelah wafatnya Adipati Wilatikta. Diawali dari penolakan Raden Syaid untuk menggantikan ayahnya sebagai Adipati dengan alasan ingin mengabdikan diri di Kasultanan Demak.

Karuan penolakan Raden Syaid itu telah memusingkan para sesepuh kadipaten dan berpotensi menimbulkan perang saudara.

Sebenarnya putra Wilatikta itu bukannya tidak menyadari bahwa ketidakmauannya duduk di kursi adipati justru dapat memperuncing perselisihan antar kerabat kadipaten, namun sebagai bekas berandal Lokajaya yang telah menemukan jalan Allah dia yakin sekali pasti ada cara untuk meredam pertikaian itu.

Dan ternyata benar, para tetua kadipaten telah menemukan kata sepakat yang akan mampu menjadi penerang bagi kesulitan itu.
Memang kecil kemungkinan adiknya Dewi Sari mau memegang kursi pemerintahan, di samping ia seorang perempuan juga selama ini Dinda Sari tidak pernah tertarik pada urusan negara.

Tetapi di lingkungan dalem kadipaten ini ada seorang putra Arya Dikara (adipati ke-6) yang tentu darah Ranggalawe yang juga memiliki hak atas Kadipaten Tuban ini. Beliau adalah Pangeran Ngraseh yang merupakan adik Nyi Arya Teja atau ibu Raden Wilatikta. Dengan demikian Pangeran Ngraseh adalah kakek paman (mbah lek) dari Raden Syaid.

Menurut para tetua kadipaten untuk menyelamatkan negeri Tuban ini jalan satu-satunya adalah dengan menjodohkan Pangeran Ngraseh dengan Nini Dewi Sari dan sekaligus menobatkan  Kanjeng Ngraseh ke kursi Adipati.

Tentu saja semula keputusan itu ditentang oleh sang Dewi dan ibunya. Mana mungkin anakku dewi menikah dengan pamanku yang berarti juga kakek dari temanten putri? Sungguh kenyataan yang akan sulit diterima.

Namun berbeda dengan ibu dan adiknya, Raden Syaid atau Sunan Kalijaga setuju dan bisa menerima pendapat para sesepuh dalem itu. Bahkan sunan muda itu sempat memuji pendapat para tetua itu sebagai keputusan yang sangat bijaksana.

Kontan dengan bergegas pula Raden Syaid suwan kepada ibunya yang saat itu tengah bersedih ditemani oleh adik perempuannya. Bukan Sunan Kalijaga namanya kalau tidak mampu meluluhkan hati kedua perempuan yang sangat ia sayangi itu.

Jangankan ibu dan adiknya, Sang Brawijaya V saja lilih penggalih dan berkenan masuk Islam juga atas belaian kata dari sunan muda ini.

Maka demikianlah pada tahun 1461 M di halaman istana Kadipaten Tuban terjadi pernikahan agung antara Dewi Sari (adik Sunan Kalijaga) dengan Pangeran Ngraseh yang tidak lain adalah kakek pamannya sendiri.

Sehari setelah itu Pangeran Ngraseh dinobatkan sebagai Adipati Tuban ke-9 menggantikan keponakannya ialah Raden Wilatikta.

Dewi Sari yang merupakan putri Wilatikta dinobatkan pula sebagai garwa permaisuri. Dari perkawinan itu telah lahir seorang putra yang gagah dan tampan yang diberi nama Raden Gegilang yang kelak menggantikan ayahandanya sebagai adipati Tuban.***

Demikian semoga bermanfaat.

Tasikmadu-Palang-Tuban


Tidak ada komentar:

Posting Komentar