Bagiku tiada yang lebih indah selain saat di rumah atau di sekolah
Menikmati suasana kebersamaan dengan para guru dan siswaku
Melantunkan do' a di kelas, menyemaikan ilmu, membimbing kerja kelompok,
Menilai hasil ulangan atau bahkan bersenandung dengan mereka
Oh Tuhan, adakah yang lebih bermakna dari semua itu?
Terkadang memang aku agak sinis atas kelakuan seorang siswa
Namun di lain hari kupuji kehebatannya, tertawa atas kelucuannya,
Bahkan tak jarang akupun ikut larut dalam duka, mengusap air matanya
Serta memeluk mereka yang belum beruntung kehidupannya
Ya Tuhan, adakah yang lebih berharga dari semua itu
Dan haripun kian berganti, bulan demi bulan, tahun demi tahun
Yang dulu datang saatnya pergi dan yang barupun silih berganti
Tak terasa tanamanpun berbunga mekar dan berbuah segar
Lentera lentera kecilku berpijar mengangkasa dan menerangi dunia
Oh Tuhan, syukurlah, dan mohon jagalah sinar mereka demi sesama
Tapi janganlah kalian bertanya soal gajiku, wahai para putra bangsa
Memangnya kenapa jika hanya tiga lembaran merah yang kuterima setiap bulannya
Justru aku bangga bisa selalu tegar meski dalam keterbatasan
Tetap berani mengangkat nilai dan norma kehidupan manusia
Bukan sekedar cengengesan di TV lantas dibayar ratusan juta
Bukan..., bagiku bukanlah itu harga yang sebenarnya
Harga diri adalah ketika seseorang berani secara ikhlas
Menggaritkan pena emasnya demi masa depan anak bangsa.***
Tuban, 27 juni 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar