* NYANYIAN INDAH
LASKAR KECILKU *
Oleh: Rus Rusman
Kalimat pertama saat aku memulai hari yang amat indah ini
Menggantikan teman guru lain yang kini sedang berhalangan
Aku ingin menikmatinya sebagai ladang untuk bercanda ria
KAMI lantas berjalan-jalan menyusuri udara di sekitar sekolah
Berdendang bersama, bersorak riang sambil bertepuk tangan
Memecah keheningan alam di ladang hijau orang-orang sekitar
Beberapa petani bahkan menawarkan ketimun untuk obat dahaga
ADUHAI indahnya, bukit-bukit di seberang desa itu anak-anakku
Kataku saat beristirahat di gubuk kecil di persimpangan jalan
Pandangan kami lantas menyapu alam sekitar yang mempesona
Seekor belalang hinggap di rumput dikejar oleh Anisa dan Resa
TIBA-TIBA serombongan burung kecilpun datang bertengger di pohon
Tangan-tangan mungil itupun lantas terpancing menggusah mereka
"Bu mengapa burung bisa terbang tinggi, tapi belalang kok tidak?"
Tanya si Anton yang disusul teman-temannya ramai mengiakan
AKU tersenyum menikmati wajah-wajah lugu laskar pelangiku ini
Bidadara-bidadari yang tak lain adalah bagian dari kehidupanku
"Anak-anak, coba siapa yang punya jawaban atas pertanyaan tadi?"
"Burung sayapnya lebar bu !" ...."Ya bu, belalang sayapnya kecil!"
"Nah, itu kan? Sayap yang lebar dan kuat bisa terbang lebih tinggi."
"SIAPA yang ingin seperti burung?" "Saya, buu!" Jawab mereka riuh
"Anak-anak, sayap burung yang kuat itu ada di sebelah kanan dan kiri
Sedangkan Tuhan memberikan pada kita sayap yang jauh lebih kuat
Aku tertawa ketika beberapa anak mengipas-ngipaskan tangan mereka
BUKAN di situ sayang, tapi sayap kita ada diii siniii ! lalu juga diii sinii !
Tanganku memegang dahi, juga menuding ke hati. Mereka menirukan
Jadi, sayap manusia itu ada di pikirannya, di hatinya dan di do'anya
"Kalau begitu kita harus rajin belajar ya bu ?" .. "Ya dong, sayang !"
Siapapun yang rajin belajar, sering beramal, dan senantiasa berdo'a
Dialah yang akan tumbuh sayapnya sekuat dan selebar burung garuda
Kalau sudah besar jadi orang yang baik dan bisa meraih cita-citanya
"Aku ingin jadi gubernur, aku pedagang kaya, aku ingin seperti bu guru."
RAMAI sekali celoteh mereka, "Sudah-sudah, ayo kita kembali ke sekolah."
Seorang petani yang sedang lewat ikut tersenyum. "Mangga bu guru !"
"Oh, terimakasih bapak." Jawabku sambil menggerakkan pasukan kecilku. ***
Tuban, 01 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar