Rusmannulis
Minggu, 24 November 2019
RUMAH KITA SURGA BAGI KELUARGA
OLEH: KI GURU RUSMAN
ANDA INGIN hidup penuh bahagia? Maka jagalah rumahmu. Rumah ibarat tanaman yang perlu disiram, dipupuk dan dijaga dari serangan hama agar kelak menjadi pohon yang rimbun dan menyejukkan.
Sebagaimana sabda Allah SWT :
"Yā ayyuhallażīna āmanụ qū anfusakum wa ahlīkum nāraw wa qụduhan-nāsu wal-ḥijāratu ..."
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu .."
(At-Tahrim: 6).
Rumah adalah istana setiap keluarga, rumah ibarat syurga bagi si kecil kita, dan rumah adalah langit dan bumi bagi ayah, ibu, serta anak-anak. Pepatah barat mengatakan: The home is like a paradise for families.
Tempat di mana semua menjalani hidup tahap demi tahap dari kecil hingga dewasa atau bahkan sampai kapanpun kita membutuhkannya.
Rumah pun juga laksana sahabat sejati yang selalu siap menerima
keluh kesah dan luapan kegembiraan, menemani saat kita suka dan duka, tempat kita marah,
menangis serta berkeluh kesah kepada Sang Pencipta.
Pendek kata rumah adalah ruang kehidupan manusia, dan karena itu kita harus mampu menjadikan rumah sebagai benar-benar istana. Bukan saja bagi kita dan keluarga,
melainkan juga bagi orang-orang terdekat kita.
Siapapun yang kita sayangi, kakek, nenek, paman bibi, bahkan semua tetangga yang pasti suatu saat memasuki istana kita juga.
Nah, melalui tulisan ini penulis sengaja mengajak para sahabat muslim dan muslimah untuk
menggelorakan sifat-sifat Muhammad SAW di lingkungan keluarga masing-masing.
Bukankah setiap saat dalam waktu yang tak terduga bisa saja semua keluarga berkumpul Bahkan mungkin tidak kita duga sebelumnya, siapa tahu anak-anak kita yang sudah lama tinggal di rantau, atau keponakan, bahkan kakak adik serta para tetangga di sekitar rumah kita.
UNTUK MENYAMBUT kehadiran mereka maka dinding rumah kita jangan hanya dicat dengan rupa yang warna-warni saja, tetapi lebih indah dan berkah jika disemprot dengan sifat-sifat terpuji Rasulullah SAW.
Suatu saat Rasulullah SAW berkata:
”Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang sholeh”
(HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab).
Untuk melaksanakan tugas itulah Muahammad SAW dibekali dengan sifat-sfat terpuji oleh Allah SWT.
Sifat-sifat dimaksud tercermin dalam perilaku Rasullullah sehari-hari, antara lain:
Sifat Fathonah :
berarti berpikir kritis, tanggap terhadap segala persoalan dan pandai menarik suatu
kesimpulan yang terpat.
Sifat amanah / sidik :
berarti berpikir obyektif dan adil, tidak pilih kasih dan pandang bulu, bila kebenaran tampak
dari siapapun dan dari manapun harus diakui.
Sifat Tabliq :
berarti mampu menyampaikan informasi secara jelas dan tegas sehingga tidak menimbulkan
dualisme dan kontraversi.
Sifat Syaja’ah:
berarti berpikir lugas dan tegas, serta berani mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik dalam suatu lingkungan di mana dia berada.
Amal saleh:
adalah perbuatan baik yang dilakukan oleh orang beriman dengan penuh keikhlasan,
semata-mata ingin mengharap ridho Allah.
Ruang tamu kita semprot dengan sifat “Sifat Tabliq”, dinding rumah dicat dengan sifat “Sifat Syaja’ah”, halaman rumah diberikan pagar sifat “amal soleh”, suasana rumah perlu dilandasi dengan “sifat amanah”, dan cara kita menyambut tamupun kita kemas dengan
“sifat fatonah”.
Pendek kata pemilik rumah harus mampu meneladani sifat-sifat terpuji itu. Anak-anakyang masih tinggal serumah setiap hari diberikan keteladanan oleh orang tuanya,
agar mereka secara langsung dapat menyaksikan bagaimana cara ayah ibu mereka mmenjalankan kehidupan yang penuh amanah.
UNTUK DAPAT menerapkan nilai-nilai yang diamanahkan oleh agama itu tentu saja perlu syarat utama, yaitu “ilmu”. Di rumah anggota keluarga tidak segan-segan untuk belajar
melalui bacaan-bacaan yang bermanfaat.
Seperti halnya ayat pertama yang diterima oleh Rasulullah Saw.:
“Bacalah!”
Jelas hal itu merupakan cahaya wahyu pertama yang menerangi
kalbu yang suci.
Dalam Agama Islam memang sangat dianjurkan kepada umat muslim untuk senantiasa menuntut ilmu (dengan berbagai cara).
Membaca adalah salah satu cara untuk memperoleh ilmu itu, dan ilmu adalah sumber pengetahuan, sementara pengetahuan adalah cahaya akal dal hati.
Ilmu yang dimaksud di sini adalah segala ilmu yang dapat dimanfaatkan seseorang bagi kemaslahatan agama dan dunianya, serta bermanfaat pula bagi dirinya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tarmudzi diceritakan sebagai berikut:
Rasulullah Saw bersabda,
“tidak bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti, sampai ia ditanya tentang empat perkara:
(1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan,
(2) tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan.
(3) tentang hartanya, dari mana dia peroleh
dan ke mana ia nafkahkan,
(4) tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan darinya”,
(Muhammad Ali Quthb, 2000).
Bahkan menurut Rasulullah Saw., ilmu dan pengamalannya merupakan salah satu aspek yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt. kelak pada saat kita dipanggil oleh-Nya.
Nah, oleh karena itu sekali lagi kita mengamallan semua anjuran Rasulullah SAW dengan cara menerapkan dan mengamalkan ilmu yang kita punyai demi kebaikan keluarga dan orang-orang di sekitar kita.
“barang siapa yang meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu
dan mengamalkannya, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”.
(Shahih, HR. Ahmad (V/196).
Subhanallah.***
Semoga bermanfaat.
Keterangan :
Artikel ini saya tulis sebelum ada wabah virus corona, sekarang pemahamannya tentu harus kita sesuaikan dengan kondisi yang ada.
Salam dari penulis, semoga virus Corona segera sirna dari bumi pertiwi.
Tasikmadu-Palang, April 2020.
Penulis adalah praktisi pendidikan tinggal di Kabupaten Tuban.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar