Oleh: KI GURU RUSMAN
"The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams"
"Masa depan menjadi milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi-mimpinya"
(Eleanor Roosevelt, First Lady of the United States).
Untaian kalimat yang diukir oleh seorang wanita berpendirian keras, dialah Eleanor Roosevelt, ibu negara sekaligus idola wanita di Negeri Paman Sam (1933-1945).
***
NUN JAUH DI SEBUAH DESA seorang guru bertanya kepada murid-muridnya: "Anak-anak, apa cita-cita kalian kalau sudah besar?"
Maka bibir-bibir mungil itupun segera berceloteh menjawab pertanyaan gurunya.
"Aku ingin menjadi dokter bu guruu !"
"Aku ingin menjadi pilot."
"Kalau aku tentu ingin jadi polisi dong."
Kontan dalam sekejab bu guru segera diberondong oleh puluhan jawaban lain yang tentu berbeda-beda.
Ada yang ingin menjadi guru, menjadi perawat, menjadi pedagang, tentara, bahkan mungkin pula ada yang ingin menjadi presiden.
Semua itu terucap atas pikiran mereka yang sederhana selaras dengan tingkat berpikirnya yang kanak-kanak.
Tapi, salahkan jawaban para lentera kecil itu? Adakah yang keliru dari khayalan tentang masa depan mereka? Tentu tidak.
Meskipun ucapan itu terkesan sekenanya dan akan berubah saat mereka sudah besar nanti, tapi tetap saja tidak ada yang salah.
Memang ketika sudah dewasa cita-cita mereka akan mengerucut pada bidang-bidang tertentu seiring degan pengalaman, minat dan bakatnya.
Misalnya menjadi guru atau dosen, arsitek, peneliti, perawat dan sebagainya.
SEBENARNYA impian anak bukanlah omong kosong atau bualan semata. Ucapan mereka tentu didasarkan atas pengalaman pribadi, selaras dengan yang mereka lihat, yang mereka dengar, lalu menjadi buah pikiran atau bayangan.
Karena itu kita sebagai pembimbing tidak boleh menanggapinya secara negatif apalagi cuwek.
Orang tua dan guru tidak boleh bersikap apatis terhadap buah hatinya yang memiliki mimpi-mimpi besar.
Sungguh kurang bijaksana mengabaikan khayalan anak-anak kita sebab lewat mimpi-mimpi itulah motivasi hidup setiap orang kelak akan terbangun.
Lagi pula sudah banyak terbukti bahwa kesuksesan itu umumnya berawal dari mimpi yang besar.
Berasal dari imajinasi atau khayalan yang terkoneksi dengan pengalaman serta kuatnya motivasi untuk memperjuangkan.
Seorang komponis dunia, Ludwig Van Beethoven (1770-1827), konon berhasil menciptakan karya-karya besarnya justru setelah dia kehilangan pendengarannya. Hal itu karena dorongan dari mimpi-mimpinya.
Charles Huffam Dickens (1812-1870) penulis Inggris terhebat pada zaman Victoria adalah berasal dari keluarga miskin yang tak henti-hentinya berjuang mewujudkan impiannya.
Thomas Alfa Edison (1847-1931) dengan gagahnya pernah mengatakan bahwa:
Jenius hanyalah satu persen dari inspirasi, sedang sembilan puluh sembilan persen lainnya adalah perpirasi.
Meski awalnya pernyataan itu membuat kontraversi, namun ia berhasil mempertanggungjawabkan dengan gemilang, yaitu ketika dari tangannya berhasil tercipta lampu listrik.
Dari kisah orang-orang hebat itu nampak bahwa para orang tua dan guru dapat mengambil peran untuk memperkaya pengalaman dan membantu bagi tumbuhnya motivasi dalam diri mereka.
Memang benar kebanyakan orang tua baru mendukung cita-cita anaknya saat mereka menginjak dewasa. Namun bahwa anak perlu mimpi sejak masa kecilnya juga merupakan hak mereka.
Tanpa mimpi anak-anak bagaikan tidak memiliki bayangan untuk dirinya, mereka seperti tak memiliki identitas, laksana pohon yang layu sebelum berkembang.
Karena itulah membangun mimpi bagi anak-anak merupakan hal yang sangat penting.
Mimpi atau cita-cita bagi anak-anak adalah fungsi yang sangat krusial bagi kehidupannya.
PALING TIDAK ada dua fungsi mimpi bagi anak, antara lain:
1) Mimpi atau cita-cita dapat membentuk tujuan hidup bagi anak-anak kita. Anak akan lebih menyadari apa dan kemana arah yang akan dicapainya.
Bagaikan melangkah dengan tegak, menatap ke depan dan menyongsong masa-masa indahnya.
Kita sebagai guru atau orang tua harus selalu siap membantu. Ibarat menanam pohon maka tanaman yang sedang berkembang pesat harus selalu dirawat dengan cara melengkapi sarana pra sarananya.
2) Mimpi atau cita-cita juga dapat berfungsi sebagai panduan untuk menentukan langkah hidup mereka. Anak akan membangun langkah dari tahap demi tahap bagaikan menapaki anak tangga menuju cita-cita mereka.
Sebaliknya mereka yang tak memiliki mimpi akan terombang-ambing bagaikan daun kering yang tertiup angin.
Langkah-langkahnya menjadi tak menentu, berjalan dengan gontai, tubuhnya limbung seolah-olah takut tersandung.***
Demikian semoga bermanfaat.
Tasikmadu-Palang.
Keterangan:
Penulis adalah praktisi pendidikan, tinggal di Kabupaten Tuban.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar