-

Rusmannulis

Jumat, 27 Desember 2019

LELAYU (2)



Mengenal beliau secara khusus adalah saat kami sama-sama sebagai diswa di SPG Negeri Tuban, 1977, beliau nge-kos teratur di Sendangharjo Gang II sedang aku sewa kamar beramai-ramai di Kebonsari Gang IV. Ekonomi orang tua menjadi alasan utama untuk berbuat begitu.

Kami saling bertandang silih berganti meski tidak terlalu sering, sebab kebetulan kami berbeda dalam berhobi. Beliau senang membaca buku sedang aku suka jrangjreng-jrangjreng di kediaman Pak Pur (guru kami) di jln Lukman Hakim.

Bulan dan tahun silih berganti dan sang waktupun senantiasa berjalan tak pernah berhenti.

Tak terasa Juni 1980 adalah tahun kelulusan kami, yang kuingat almarhum tetap bertahan ngekost di Tuban untuk meneruskan kuliah di IKIP PGRI.

Sedang aku langsung balik badan pulang kembali ke desa, berbekal gitar sebagai senjata utama merenda masa depan.

Saat juni 1982 aku diantarkannya mendaftar sebagai calon mahasiswa, waktu itu di tagannya sudah ada yamaha L2 Super warna hitam sebagai kebanggaannya, sedang aku masih bertahan menapaki jalan mengumbar lamunan.

Tamat kuliah almarhum kembali ke desa, mutasi sebagai guru SDN Jombok Kecamatan Jatirogo.

Gelar sarjana muda sudah ada di belakang namanya dan berlanjut transfer S1 di IKIP Bojonegoro. Suatu rintisan karir yang luar biasa untuk ukuran guru pas-pasan seperti aku.

Sayang sekali 1988 nasib mengharuskan aku untuk hijrah mutasi ke Jenu berlanjut ke Widang, tut wuri sang istri sebagai guru baru.

Waktu dan keadaan lantas memisahkan kami, cukup lama, sampai akhirnya berkumpul kembali saat 2002 sama-sama bertengger sebagai pengawas sekolah.

Usul demi usul tak jarang ia sampaikan saat aku mendapatkan amanah sebagai pengendali organisasi. Ada yang lewat rapat dan sering pula melalui jaringan pribadi.

Jujur di karier yang baru ini persahabatan kami tidaklah semulus jalan tol Ngawi-Solo. Ibarat benang kering yang terbentang lurus, kadang angin terasa menerpa membuat lingkaran dan gelombang naik turun.

Dan aku menganggap semua itu sebagai irama kehidupan yang normal dan alami. Aku sadar betul, sebagai organisasi kepengawasan tentu tak mungkin bisa menjangkau semua harapan.

DO'A UNTUK SAHABAT

Ternyata di zaman Rasulpun sudah banyak umat yang bertanya tentang keberadaan jiwa. Maka Allah SWT lantas menegaskan:

"Wa yas`alunaka 'anir-ruh, qulir-ruhu min amri rabbi wa ma utitum minal-'ilmi illa qalila."

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah (hai Muhammad), bahwa Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra: 85)

Namun tak pelak tafsir-tafsir tentang roh pun berkembang sedemikian rupa.

Seperti yang dijelaskan oleh Syekh Ibnu Qayyim al Jauziy (1292-1350) seorang cendekiawan muslim Palestina, dalam bukunya Ar-Ruh (Alam Roh), bahwa setelah roh berpisah dari badan, ia akan mencari bentuk dan pasangan dengan orang-orang yang memiliki amal yang sama. Mereka kemudian berada di tempat yang sama pula.

Mungkin roh untuk sementara bisa tertahan, ada yang di pintu surga, ada yang di alam kubur, dan ada pula yang tertahan di bumi.

Semua tergantung saat di dunia. Kecuali roh para nabi dan para suhadak yang langsung ditempatkan di surga.

Kata Ibnu Qayyim Roh itu bisa sehat dan bisa sakit, bisa bahagia dan bisa pula menderita. Mereka bisa merasakan kenikmatan atau bahkan siksaan lebih dari apa yang dirasakannya saat masih berada di badan. (https://m.republika.co.id/amp/pfglf3313).

Maka setiap saat setiap hamba disarankan untuk senantiasa berdo'a: "...wa taubatan qoblal maut, wa rahmatan 'indal maut, wa maghfirotan ba'dal maut, wannajata minnanar wal'afwa 'indal hisab.

"Ya Allah.. terimalah tobatku sebelum mati, berikan rahmatMu di saat aku mati dan ampunilah dosaku setelah mati, serta mohon dima'afkan setelah di 'hisab."

Bagi umat yang Allah kabulkan do'anya maka ketika roh hendak meninggalkan dunia, turunlah malaikat dari langit, wajahnya putih seperti matahari. Mereka membawa kafan dan wangi-wangian dari surga.

Para malaikat itu duduk mengitari si mayat, disusul datang pula malaikat maut ‘alaihis salam.

Dia duduk di samping kepalanya, dan mengatakan, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.’ Selanjutnya keluarlah roh itu dari jasadnya.

Sejak saat itu terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara, (yaitu): "sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).

Nah, mengakhiri tulisan ini penulis ingin mengajak semua, mari kita do'akan agar beliau dilapangkan jalannya menuju alam surga. Amiin YRA.

Selamat jalan sahabat, aku percaya engkau telah menyiapkan segalanya, sebagaimana keperkasaanmu saat masih berdiri di tengah-tengah kami.

Kini semakin kusadari betapa sedikitnya yang bisa kuperbuat untukmu, sementara kau telah berbuat banyak bagi kehidupanku. Untuk itu ma'afkanlah aku dan terima kasih atas semuanya.

Berbahagialah di tempatmu yang baru, karena aku yakin pula bahwa Tuhan telah menyiapkan tempat yang terindah untukmu.***

Teriring mijil LELAYU Ki Narto Sabdo (1985):

Layu-layu, Umiring sang kinkin,

Sajroning patunggon, Sung sesanti sang dyah kamuksane,

Nedya anut mring sang guru laki, kang gugur madyaning palugon.

=Sayup-sayup, Bersamaan dengan kesunyian,

Dalam sebuah penantian, menyongsong indahnya kepasrahan jiwa,

Niatku mengikuti takdir, untuk menghadap Tuhan sesuai kodratku.

(Dan seniman besar itupun lantas menghembuskan nafasnya yang terakhir).

Tasikmadu, 27 Desember 2019.

1 komentar:

  1. Such regulation generally leads to playing tourism 우리카지노 and illegal playing within the areas the place it is not allowed

    BalasHapus