-

Rusmannulis

Kamis, 26 Desember 2019

LELAYU

Oleh: Ki Guru Rusman



INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI'UN. Tiba-tiba saja sore itu, rabu tgl. 25 Desember 2019, menjadi sore yang sangat berduka bagi kita semua.

Saat mana seorang putra terbaik di jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, Bapak Drs. Subagyo, M.Pd , telah dipanggil ke Rahmatullah.

Pergi meninggalkan semua yang ia miliki untuk menghadap Sang Kholiq, Sang Penentu Jiwa.

Duka mendalam menyelimuti wajah para Pengawas sekolah se Kabupaten Tuban, betapa tidak, seorang senior yang selama ini menginspirasi perjuangan dunia pengawasan kini telah tiada, menelusuri lelakon baru yang panjang, menjalankan fitrahnya sebagai insan Illahi Robbi sebagaimana kelak semua akan melakoninya pula.

Wa ma kana linafsin an tamuta illa bi`iżnillahi kitabam mu`ajjala.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya (Al-imran: 145).

Hari masih pagi, 26 Desember di ujung tahun 2019, matahari nampak tersenyum malu saat keretaku avanza melaju pelan menyusuri jalanan pantura.

Di sampingku ada nyai ratu yang tengah duduk terdiam menatap ke depan. Entah apa yang dipikirkan dan akupun tak mau mengganggunya pula.

Perjalanan dari Tuban ke kota kecilku Jatirogo pagi ini menjadi perjalanan yang sangat istimewa, perjalanan bertenda biru, karena niatku adalah memberikan penghormatan terakhir kepada sang inspirator.

Alunan lembut Ebiet G. Ade sengaja aku poleskan untuk menghias seasana ruang mobil yang tidak terlalu lebar itu. Sederet kalimat indah sempat melintas di telinga.

Kata Ebiet: "Kematian hanyalah tidur panjang, maka mimpi indahlah engkau..."

Sesaat aku tercenung mendengar tema kalimat yang sangat mengena di pagi yang redup ini.

Seperti kata Plato (427-347 SM), jiwa itu selalu abadi sekalipun raga sudah rusak terkubur sepi. Dan jiwa akan diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjelajahi alam keabadiannnya.

Tapi kata batinku yang lain, jika benar kematian hanyalah tidur panjang itu artinya jiwa sedang dalam penantian. Menanti kepastian tentang jalan yang harus ditelusurinya lagi. Lantas kemana lagi ia akan pergi?

Oooh, betapa teganya Tuhan memisahkan jiwa dari raga, kalau hanya sekedar untuk menanti. Di saat-saat orang tengah menikmati puncak keduniaannya, mengapa untuk sementara tidak Tuhan biarkan saja berkumpul dengan badan? Wallahu a'lam.

SEKILAS TENTANG BELIAU

Perkenalanku dengan almarhum diawali saat kami sama-sama menjalani pendidikan di SDN Wotsogo II, sebuah SD yang cukup terkemuka di Jatirogo saat itu.

Lepas dari SD (1973) kami lantas melanjutkan di SMP Negeri I di kota yang sama pula, dan lulus tiga tahun kemudian (1976).

Catatan sedikit tentang almarhum adalah beliau berasal dari Desa Wangi (6 km) sebelah barat kota yang lantas mengikuti seorang paman, Kepala Sekolah senior dan terkenal di wilayah kami dan tinggal di Desa Wotsogo Karang Kulon.

Tak banyak yang bisa diceritakan di sini, karena kami jarang bersosialisasi secara khusus.

Ingatan di masa ini hanyalah kesukaanku menelusuri malam, berbalut sarung, bertemu dengan anjing liar di antara jalan dan pasar.

Sementara almarhum bak anak yang terurus rapi cara hidupnya, di istana sang ayah di sudut desa.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar