Oleh: Ki Guru Rusman
Indah nian judul tulisan ini, butiran mutiara peninggalan leluhur Jawa yang adi luhung. Lalu, apakah maknanya?
"Gawe apike donya, gawe ayune donya, gawe tentreme donyo, buat perdamaian dunia. Ora seneng gawe kekacauan, ora seneng gawe kisruh, ora seneng dadi propokator, dsb," (Drs. Ahmad Usdianto, M.Pd., 2019).
Untuk mengupas lebih jauh tentang makna filosofis judul di atas penulis ingin memulainya dari arti konsep "Bawana".
Konsep bawana dapat dipandang secara fisik maupun psikhis. Secara fisik bawana adalah dunia nyata dengan segala isinya.
Sedangkan secara psikhis bawana berarti alam setelah mati atau kita sering menyebutnya sebagai alam akhirat.
Sedangkan makna "hayuning" berasal dari kata ayu yang artinya cantik.
Hidup dengan cantik atau sejahtera baik di bawana yang sekarang maupun bawana akhirat.
Semua itu hanya bisa dicapai kalau kita berusaha untuk membuat ayu (memayu).
Membuat ayu baik dalam bentuk laku diri dan laku sosial (pergaulan).
Jadi inti dari kalimat "memayu hayuning bawana" adalah: membuat kehidupan sesama menjadi sejahtera dunia dan akhirat.
Memayu Hayuning Bawana serasi pula untuk dihayati dalam spektrum budaya, yakni budaya Jawa.
Sedang Budaya Jawa sendiri selamanya tak akan bisa lepas dari tatanan adi luhung, ya orangnya, ya seninya, ya bahasanya, semua bagaikan pernik-pernik mutu manikam yang tak habis-habis memancarkan keindahan.
Orang jawa tidak akan bisa hidup tanpa budaya, utamanya tradisi. Dus, dengan demikian yang namanya keindahan selalu mewarnai sendi-sendi peri kehidupannya.
Tak perduli punya uang atau tidak, atau besuk mau makan apa, uh..! masa bodoh, yang penting happy.
Itulah aslinya wong Jawa, maka jangan heran kalau dulu para pendahulu kita lekat dengan stempel: "sak gegem merem, sak bathok ngorok". (Hasil sedikitpun bisa tidur, apalagi banyak malah pulas).
Nah, bagi orang pesisir lor nilai estetika itu telah teraktualisasi dalam wujud cakrukan ala Tuban, ialah "duaribu satu centhak." Nyaman, murah, tentram.
Ooh.., betapa indahnya ambyur hidup dengan orang jawa, maka tidak mustahil kalau dulu konon seorang Rafles yang Gubernur di masa penjajahan Inggis itu hampir saja memutuskan untuk tinggal di jawa selamanya.
Agaknya batin dan kalbunya benar-benar tertambat dengan matram budaya kita.
Kembali pada makna butiran kata yang sarat dengan kearifan, yaitu memayu hayuning bawana.
Konsep bawana sebenarnya juga berdimensi sebagai ruang budaya (space culture). Orang jawa menyebutnya sebagai "jagad rame", ialah dunia dengan segala hiruk pikuknya ini.
Pada dinensi lain bawana juga merupakan spirit budaya (spiritual culture) ialah "jagad jiwa" tempat dimana kita kelak ngundhuh wohing pakarti.
Antara dua spektrum pandang itu jelas ada keterhubungannya. Apabila saat di jagad rame kita rajin menanam padi maka pada jagad jiwa kelak akan makan beras atau nasi.
Sebaliknya siapa yang di sini menabur angin, di sana kelak akan menuai badai.
"fa may ya'mal miṡqāla żarratin khairay yarah".
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. Az-Zalzalah:7)
Keterangan:
Artikel ini sebelumnya telah kami tayangkan di kompasiana tanggal: 11 januari 219.
Bersambung ke Judul berikut:
SEMAR MEJANG KHAYANGAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar