-

Rusmannulis

Senin, 23 Desember 2019

KEUTAMAAN DEWI KUNTI



Ditulis Oleh:

KI GURU RUSMAN

Dewi Kunthi memang termasuk tokoh pewayangan yang penting untuk disimak, terutama bagi kaum ibu. Kehidupannya bagaikan pohon kebahagiaan bagi anak-anaknya. Itulah prinsip hidup ibunda ksatria Pandhawa ini.

Tetapi, siapakah sebenarnya Dewi Kunthi itu? Wanita ini waktu kecilnya bernawa Dewi Prita, adalah putri kandung Prabu Basukunthi, seorang raja di Kerajaan Mandura, yang juga merupakan kakek Baladewa dan Sri Kresna.

Dewi Prita diangkat sebagai anak oleh pamannya, yaitu Prabu Kuntiboja yang konon tidak memiliki keturunan. Sejak itulah namanya berubah menjadi Dewi Kunthi.

Setelah dewasa Dewi Kunthi dipersunting oleh Prabu Pandhudewanata melalui sebuah sayembara perang tandhing, jadilah ia sebagai permaisuri Kerajaan Astinapura.

Tetapi sungguh malang nasib wanita ini, saat kebahagiaan menyelimuti hidupnya dan di tengah kesibukannya mengasuh ketiga anaknya (Puntadewa, Wrekudara dan Janaka) dia harus menerima kenyataan pahit karena suaminya menikah lagi.

Selang beberapa bulan sang Prabu gugur bersamaan dengan wafatnya si istri muda (Dewi Madrim), dan meninggalkan dua anak kembar, yaitu Nangkula dan Sahadewa.

Dewi Kunthi merupakan tokoh wanita utama yang perlu diteladani oleh kaum ibu. Khususnya mangenai pengabdian dan pengorbanannya terhadap keluarga dan anak-anaknya. Meskipun tidak dipungkiri ia termasuk tokoh yang kontroversial dan memiliki banyak kekurangan.

Tulisan ini sengaja hanya bermaksud untuk menonjolkan pengabdiannya bagi keluarga dan anak-anaknya dan bukan bermaksud mengupas filsafat hidup secara menyeluruh.

Penulis tidak mempersoalkan sifat maupun keberadaan wanita ini secara utuh yang menjadikannya sebagai tokoh dengan tanggapan pro dan kontra.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Dewi Kunthi adalah ibu dari para Pandhawa, yaitu sekelompok ksatria utama dalam pewayangan. Tentunya sifat dan sikap yang mengagumkan dalam diri para ksatria Pandawa tidak terlepas dari keteladanan ibunya yang membimbing mereka sejak kecil hingga dewasa.

Di dalam statusnya sebagai seorang janda dia mampu tampil sebagai ibu sekaligucs ayah bagi anak-anaknya. Bahkan juga bagi dua anak tirinya yang telah dianggap sebagai buah hatinya pula.

Di mata para Pandhawa, Kunthi bagaikan sumber semangat dan kekuatan dalam menghadapi cobaan yang tak henti-hentinya. Dalam pembawaannya yang tenang dan bersahaja Kunthi mampu berperan sebagai sentral perjuangan para ksatria utama.

Itulah sebabnya Sri Kresna (penasehat Pandhawa) selalu lebih dahulu meminta pendapat sang dewi sebelum dia memilih dan menentukan kebijakan untuk menuntun langkah perjuangan bagi para ksatria utama ini.

BEBERAPA KISAH

Diceritakan pada saat Pandhawa sengaja dijebak Kurawa dalam bale sigala-gala, lautan api akan membakar tubuh mereka. Berkat petunjuk Yang Maha Kuasa mereka berhasil lolos dengan memasuki hutan belantara. Saat itu si kembar Nangkula dan Sahadewa menderita lapar dan haus yang luar biasa, badannya lemas tak berdaya. Maka Dewi Kunthi segera memerintahkan Arjuna untuk mencari dua bungkus nasi dan air.

Ketika mereka minum bersama ternyata air yang didapatkan Ajuna dari sebuah sendang itu beracun, sehingga Dewi Kunthi dan anak-anaknya mati semua. Namun berkat kesaktian Kiai Semar mereka bisa dihidupkan semua.

Pada kisah lain saat Pandawa sedang giat membangun kerajaan Amarta, nampak Bima (Wrekudara) mengalami kegelisahan yang luar biasa. Setiap pohon besar yang dia tebang mendadak tegak kembali tanpa mengerti siapa yang mengaturnya.Sementara di hadapannya tergolek lemah ibu dan saudara-saudaranya karena kelelahan dan kelaparan.

Bima tampak merenung sambil menjaga ibu dan saudaranya yang tengah tertidur. Akhirnya tanpa bisa ditahan Bima yang perkasa itu menangis. Pria perkasa dengan dada yang bidang itu terisak-isak, badannya yang berotot terguncang-guncang tanpa dapat ditahan.

Munculah Dewi Arimbi yang sejak tadi mengintip dari balik semak-semak. Arimbi ingin menunjukkan simpatinya kepada pria yang selama ini menghiasi mimpi-mimpinya. Wanita yang sakti ini segera membantu kesulitan Bima, namun sayang ketika ia mengutarakan cintanya Bima menolak karena Dewi Arimbi berwajah buruk.

Mengetahui hal itu Dewi Kunti segera mengingatkan Bima bahwa dalam berkeluarga kecantikan bukanlah ukuran satu-satunya. Dewi Arimbi adalah wanita yang serasi bagi Bima karena wataknya yang pemberani, jujur, setia, berbakti dan sangat sayang terhadap suami.

Bima tetap menolak dan hanya mau mengawini Dewi Arimbi jika wajahnya berubah menjadi wanita cantik. Dewi Kunti yang merasa harus bisa membahagiakan anaknya akhirnya berdo'a memohon kepada sang Pencipta.

Ternyata dia adalah wanita yang benar-benar dikasihi Tuhan. Terbukti dengan dikabulkannya permintaan itu. Tak seberapa lama jadilah Dewi Arimbi yang semula memiliki wajah buruk berubah menjadi wanita yang berparas cantik.

Raut mukanya bersinar bagaikan bulan di saat purnama. Akhirnya Bima pun menerima dengan keikhlasan hatinya. Kelak Bima dan Arimbi dapat membentuk sebuah keluarga yang diidamkan dan menurunkan seorang ksatria utama, yaitu Raden Gatotkaca.

Itulah sekilas pengorbanan seorang ibu dalam lakon pewayangan yang difigurkan oleh Dewi Kunthi. Sekali lagi wanita ini memiliki kelebihan dan kekurangannya, sebagaimana di dalam dunia nyata, semua orang pasti tidak ada yang sempurna.

Namun sebagai seorang Ibu Dewi Kunthi patut menjadi tauladan.

Wayang memang hanyalah buah imajinasi para penciptanya, yaitu orang-orang pilihan yang merupakan leluhur kita. Namun semua figure dan lelakon yang ada di dalamnya sarat dengan nilai-nilai serta contoh untuk kehidupan manusia.

Pendek kata Dewi Kunthi adalah cahaya kehidupan bagi putra-putranya, dia adalah lambang seorang ibu yang sabar dan bijaksana, juga seorang wanita yang penuh karisma.

Dia bagaikan air yang tenang mengalir, hal itu ditunjukan pada sikapnya yang tidak gugup saat mencerna segala persoalan yang melingkupi kehidupan anak-anaknya.

Dia bagaikan angin yang sejuk berhembus, terbuktikan dengan kata-katanya yang bisa menenteramkan hati saat berbicara. Bahkan dia juga bagaikan matahari atau rembulan, terlihat dari sinarnya yang cerah memancar saat dia hadir di antara kedukaan batin para putranya.

Di akhir tulisan ini penulis ingin mengajak para orang tua terutama kaum ibu untuk dapat meneladani sifat dan sikap Dewi Kunthi bagi keluarga dan anak-anaknya. Tanpa mengesampingkan peran besar seorang ayah, setiap Ibu memang harus hadir dalam segala kesulitan putra-putrinya.

SEBAGAI SEORANG IBU

Entah mengapa, ibu seperti ditakdirkan untuk selalu menjadi cahaya bagi roda kehidupan anak-anaknya. Setiap ibu, siapapun dia, pasti memahami keluhan hati putra-putrinya, meskipun sang buah hati tidak mengatakannya.

Jika para Pandhawa dulu selalu menghadapi cobaan dan tantangan dalam memberantas angkara murka, maka tantangan anak-anak kita pada jaman sekarang tentu berbeda dalam bentuk dan fungsinya.

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tantangan nyata bagi anak-anak pada jaman sekarang, termasuk di dalamya kesulitan belajar. Setiap ibu tidak boleh menyerah meskipun ia sudah menunjuk seorang pembimbing khusus (guru les).

Setidaknya kehadirannya merupakan tiang penyangga bagi semangat belajar putra-putrinya.

Nah, akankah kita tega membiarkan kesulitan anak-anak kita tanpa pendamping seorang ibu? Jangan biarkan anak-anak kita berjalan sendiri, mengarungi semua rintangan belajar, meskipun para guru di sekolah selalu siap bersama mereka.

Mungkin karena keterbatasan waktu di sekolah dan kendala psikologis lainnya, anak-anak kita tetap harus merindukan kehadiran ibu dalam kegiatan belajarnya.

Mari kita berlomba menjadi Dewi Kunthi bagi anak-anak kita, sekarang, besuk atau bahkan kapanpun dia mengalami kesulitan. Semoga dengan tulisan ini setidaknya dapat menjadi gambaran bagi para ibu dalam mendampingi para putra-putrinya. Jangan lupa diperkuat dengan do'a karena kita yakin bahwa segala keberhasilan adalah atas ijin Allah swt. semata.

Selamat berjuang untuk kebahagiaan anak-anak kita di masa mendatang.**.



Keterangan :

Penulis adalah Praktisi Pendidikan tinggal di Kabupaten Tuban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar