-

Rusmannulis

Sabtu, 14 Desember 2019

KETIKA RAJA MAJAPAHIT MATI DI TANGAN TABIBNYA (3)


Oleh: Ki Guru Rusman


Raja ini hanyalah sumbu yang sinarnya redup, sedang kerajaan ini membutuhkan matahari.

"Karena sudah mendapat restu ibu Gayatri, maka aku harus segera memulai," katanya dalam hati, "dan satu-satunya yang bisa membantuku adalah tabib muda itu."

Demikianlah, pekerjaan pertama yang ia lakukan adalah memperkenalkan istri Ra Tanca kepada sang prabu.

Maka ibarat ikan yang masuk dalam wuwu, Jayanegara yang melihat kemolekan wanita yang konon berdarah cina itu sudah pasti tak akan mampu keluar lagi.

Demikianlah, nasib tragis seorang raja yang tak mampu mengambil hikmah sejarah.

Sejarah bukanlah sekedar kisah tentang raja dan kerajaannya, bukan semata catatan bisu yang tanpa arti.

Sejarah justru perikemanusiaan itu sendiri, pelajaran yang sarat dengan nilai dan norma kehidupan pada dimensi waktu yang beda.

Dalam agama Islam, pelajaran sejarah bahkan memiliki posisi yang istimewa.

Allah SWT sendiri memerintahkan Muhammad SAW beserta umatnya untuk banyak belajar dari sejarah.

Itulah sebabnya Al-Qur’an Nur Kharim banyak berisi tentang sejarah para nabi.

Dimulai dari Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, sampai dengan Nabi Isa AS.

Itupun Allah SWT masih harus menegaskan-Nya lagi:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (Hûd:120).

Demikian semoga bermanfaat.

Tasikmadu, 13 Desember 2019.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar