Rusmannulis
Sabtu, 14 Desember 2019
KETIKA RAJA MAJAPAHIT MATI DI TANGAN TABIBNYA (1)
Oleh: Ki Guru Rusman
Bumi gonjang-ganjing,wukir moyag-mayig, sindung riwut, mobal geni kawah candra-dimuka, linebur semburat, satemah nuwuhaken kang GARA-GARA !
Dan kejadian dasyat itu kembali menggegerkan kalangan istana Majapahit. Jeritan para wanita dan hiruk pikuk para pelayan memberikan tanda telah terjadi peristiwa tragis di dalam istana (1328 M).
Tepatnya di dalam kamar palereman Prabu Jayanegara yang tidak lain adalah raja kedua Kerajaan Majapahit. Ada orang terbunuh di dalam kamar yang amat megah dan indah itu, dan ia bukan orang lain melainkan justru sang raja sendiri.
Terbunuh di tempat tidurnya dalam keadaan sia-sia adalah hukuman terberat dalam sejarah anak manusia, apalagi seorang raja. Sangat berbeda jika ia harus mati di medan laga dalam membela negerinya.
Andai peristiwa kedua ini yang terjadi maka ia adalah bak seorangpahlawan atau ksatriya sejati yang berusaha mengharumkan nama bangsa dan negaranya.
Bunga harum akan mengiringi pemakamannya, disertai tangisan sedih para kawula dan rakyatnya.
Sayang sekali yang terjadi justru sebaliknya. Seorang raja yang muda harus mengalami nasib yang amat nista.
Terbunuh dengan sebuah tusukan di tubuhnya, dan belakangan diketahui bahwa yang melakukan perbuatan nekat itu adalah Ra Tanca, tabib pribadinya sendiri.
Orang yang selama ini telah paduka percaya untuk menentukan hitam putih kesehatannya, itu berarti nyawa sang raja setiap saat berada di tangan tabib muda itu.
Tapi, mengapa peristiwa itu harus terjadi? Padahal tak ada rumusnya semut mati di atas tumpukan gula. Atau orang tergelincir oleh kerikil kecil yang berasal dari genggamannya.
People must reflect on the way of life of their predecessors. (Orang harus merenungkan cara hidup para pendahulu mereka).
Itu berarti ada kesalahan besar dalam kehidupan sang raja, ia tidak belajar dari sejarah, enggan mengamati lelakon para leluhurnya dan malas mencermati problema manusia yang pernah ada.
Padahal sejarah adalah jurisprodence kehidupan. Sejarah adalah kaca benggala, cermin hayati dan sekaligus guru sejati yang mampu membuat manusia menghindar dari lobang yang teramat dalam.
SIAPAKAH PRABU JAYANEGARA
Dari rekam jejaknya kita ketahui bahwa Prabu Jayanegara yang waktu mudanya bernama raden Kalagemet adalah putra Raden Wijaya patutan dengan garwa selir.
Ibunya bernama Dara Petak, yakni putri boyongan dari tanah Melayu (Sumatera). Rupanya Tuhan memberikan anugrah yang luar biasa dalam hidupnya, ialah Ramandanya tidak memiliki putra lain selain dia.
Memang ada dua putri yang lahir dari istrinya yang keempat, yaitu Dyah Gayatri. Sedangkan dari permaisuri (Tribuaneswari) sama sekali tidak mempunyai keturunan.
Begitu pula dengan istri kedua (Mahadewi atau Narendra Duhita) dan istri ketiga (Pradnya Paramita). Timbul perdebatan sengit di antara Dewan Kerajaan, dan lagi-lagi rengekan istri termuda selalu yang memenangkan.
Politik di atas kasur yang dijalankan Dyah Dara Petak terbukti sangat jitu. Tapi bukankah Kalagemet hanya putra garwa selir? Satu-satunya jalan adalah menjadikan anak itu sebagai putra angkat sang permaisuri.
Maka sejak itulah anak garwa selir itu telah terkukuhkan sebagai Putra Mahkota, dan ketika Raden Wijaya wafat (1309 M), iapun menggantikannya sebagai raja
(Bersambung)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar