Oleh: Ki Guru Rusman
"Kok sepi ..!?" Suaraku terloncat tak sengaja.
"Biar aku yang tanya pada warung sebelah pak Guru," kata Gus Malik.
Aku terdiam, masih sibuk dengan jantungku yang riuh berdentang.
Namun belum sempat pria itu melangkahkan kaki, ketika dari balik pintu kantor TK
keluar seorang wanita.Rupanya ia pengasuh TK yang kemarin ikut datang ke rumah.
"Lho pak, tadi ibu kepala TK ke Jatirogo. Katanya mau menemui tukang foto. Kan
karnaval ditunda besuk."
"Oo.., begitu bu ya!?" Sahutku seraya bertanya.
"Ya pak, besuk jam dan tempatnya sama."
Duh, Tuhan .. ! Lemas jadinya tubuhku, perasaan tak berpapasan dengan cewek secuilpun tadi.
Begitulah, tiba-tiba saja mendung tebal menyelimuti langit di sekitar sini, bahkan seperti mau runtuh saja rasanya.
"Tidak apa pak Guru, besuk kita ke sini lagi," kata Gus Malik saat melihat rambutku
sudah mau rontok "tenang saja Pak Guru, belanda masih jauh."
Kami berdua tak menunggu lama, langsung saja kami balik kanan grak. Bahkan setiba di rumah Gus Malikpun aku langsung sropot berpamitan.
"Pak Guru, ini kopinya masih hangat."
"Matur nuwun gus, aku tergesa ini."
"E'eh, nanti istriku mbesengut terus kalau begini," kata Gus Malik setengah berlari mengambil gelas berisi kopi.
"Jangan kagetan Pak Guru, nanti akan diganti oleh Allah dengan rejeki yang lebih
banyak."
"Ah kamu senangnya menghibur saja gus," kataku sambil nyengklang sepeda.
"Betul Pak Guruu, fainna ma'al usri yusro innama'al usri yusro.”
"Ya gus. Terimakasih dan ma'af aku merepotkan ya?"
"O tidak pak Guruu.., kau selalu di hatikuu, hua..haha..!"
Suara ketawa itu meraung-raung seperti singa jantan memanggil betinanya.
Kurang ajar betul si singa bego itu, tahu kalo aku prihatin masih sempatnya tertawa-tawa juga.
Kakiku terus tak henti-henti mengayuh sepeda meskipun jalanan menurun tajam. Kali ini cuma satu yang kuinginkan, ialah secepatnya tiba di rumah, mandi dan terus tidur.
Tapi agaknya belum bisa, malah dadaku hampir meledak saat istriku menyodorkan
sejumlah uang disertai tulisan di kertas.
"Bu Guru TK tadi ke sini, ada DP untuk karnaval besuk dan pesan satu acara lagi. Itu
ditulis di kertas."
Secarik kertas kuamati ternyata pesannya: "Ma'af pak, minggu sore mohon berkenan
memotret acara rapat PKK di balai desa.."
“Alhamdulillah ya Robbi,”kata batinku sambil duduk di kursi.
Tapi sesaat kemudian bayangan Gus Malik berputar-putar di otakku. Ternyata orang ini
bukan amatiran kayak aku, seperti ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa kuceritakan.
Kalau begitu nanti setelah mandi aku harus ke sana lagi, kata batinku. Aku harus bertemu dengan Gus Malik lagi.
Tapi, alamaak..! Setiba di sana ternyata bukan Gus Malik yang ada, melainkan istrinya. Rejeki atau bilahi ini, batinku menggerutu.
"Mangga Pak Guru, pinarak. Kak Malik sedang di jobong," katanya pelan.
"Oalah.., jobong mana bu tempatnya?" tanyaku agak berdeguban.
"Di sebelah sini pak. Tapi mungkin sebentar lagi datang," suaranya lembut sekali. Asli cantik betul, di mana Gus Malik menemukan mutiara ini, batinku.
"Pak Guru lupa nggih sama saya?"
Agak gelalapan aku mendengar pertanyaan itu.
"Oh ya nggak lah, penjenengan kan istrinya Gus Malik atau Pak Maliki."
"Maksudnya, saya kan muridnya Pak Guru."
Sesaat aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Antara percaya dan tidak, juga kaget
bercampur heran, semua menjadi satu.
Sedikit gemetaran aku bertanya: "Penjenengan dulu
sekolah dimana?"
"Di SD Besowo pak, saya sumiati yang dulu pernah bapak antarkan waktu lomba
menyanyi."
"Daar...!" suara yang halus itu bagaikan halilintar di siang hari.
"Oh, yang pulangnya jatuh saat bapak bonceng sepeda itu?"
"Inggih Pak Guru."
"Beb.. baiklah, maaf aku saat ini agak tergesa ,”sahutku sekenanya, “nanti tolong sampaikan salamku untuk Gus Malik!."
Tanpa menunggu jawaban aku langsung nggloyor pergi dan nyengklang sepeda pulang ke rumah.
Sialan betul Gus Malik itu, semua telah dirampasnya.
Mendadak kepalaku terasa penat terkena pukulan telak di Gunung Dhuri.***
Tasikmadu, 7 Desember 2019.

Mangga tulis komentar di sini.
BalasHapus