Oleh: Ki Guru Rusman
"Lho pak guru kok begitu sih. Katanya seduluran, masih ingat kan?”desaknya sambil
membuat kode tangan bersalaman.
“Ya tentu, tapi ."
“Baiklah, jam berapa pak guru harus sudah sampai di sana?"
"Paling tidak ya jam dua-lah."
"Nah, aku jamin sebelum jam itu pak guru pasti sudah sampai ke tempat itu."
Penasaran juga aku melihat kesungguhannya. Apalagi orang ini selalu berkata jujur,
setidaknya itulah yang kukenal selama ini.
Maka dengan setengah menggerutu aku terpaksa berjalan di belakangnya.
Rumahnya memang tak terlalu jauh, namun waktu yang singkat itu tak urung sempat membuatku terlena ke
masa silam, yaitu saat aku mengenalnya untuk pertama kali.
Lima tahun yang lalu orang ini bekerja sebagai mandor pasir di dekat makam mbah
Punjul. Kira-kira 5 km sebelah utara Jatirogo.
Karena tempat mengajarku tidak jauh dari situ
maka seringkali kami berdua bertemu, ngobrol-ngobrol sambil menunggu angkutan umum lewat.
Dari sinilah kuketahui kalau pria yang berasal dari Desa Wangi ini jarang sekali pulang. Hobinya
tidur di tempat sepi, termasuk berdo’a meminta keberkahan Allah SWT di makam mbah Punjul.
“Daripada di rumah ya sepi saja, pak guru.”
“Lho, memangnya Pak Maliki belum beristri toh?"
“Hah, siapa yang mau sama mandor kotor kayak gini, pak guru?”
“Mbok jangan begitu bang Malik,”kataku berseloroh “Siapa tahu nanti ada bidadari turun di makam ini dan melamar sampean.”
“Huah ..ha..ha, pak guru ini ada-ada saja.”
Tiga tahun berlalu dan kami tidak lagi pernah bertemu, kebetulan tempatku mengajar
bergeser ke sekolah lain.
Tapi kalau memang sudah jodoh hendak kemana, tahu-tahu suatu saat kami berpapasan, yaitu saat aku sedang asyik menapaki jalan bersama sepeda jengkiku.
Seorang pria berteriak memanggilku, rupanya Gus Malik dengan honda astreanya.
Katanya sekarang tinggal dengan istrinya di Gunung Dhuri, meneruskan hobi lamanya mengarungi malam
menelusuri keheningan.
“Neng .., sini neng. Ini ada tamu!”teriakan Gus Malik membuyarkan lamunanku.
Seorang perempuan muda tiba-tiba keluar dari dalam rumah. Sambil membungkuk hormat ia menjulurkan tangannya padaku.
Sesaat aku tercenung melihat wanita ini. Setengah tak percaya, betulkah ini istri Gus Malik? Gila. Kurang ajar betul si Kumbokarno ini bisa mendapatkan bidadari seindah ini.
“Ini Pak Guru, teman lamaku di Ngepon dulu. Rumahnya Sogo Lor kali,”kata Gus Malik
memperkenalkan kami “ayo langsung bikinkan kopi sana, biar pak guru lebih bersemangat.”
“Oh, tidak gus. Maaf aku benar-benar tergesa saat ini,”pintaku kepada pria ini.
Dan mataku sedikit mencuri pandang pada wajah yang putih bersinar itu. Edan, sekali lagi aku mengumpat.
Betul-betul edan Gus Malik ini, istrinya muda sekali dan cantik lagi.
Ketika wedang kopi itu benar-benar keluar aku hanya sempat menyeruput satu kali. Aku
segera berpamitan.
"Biarkan tetap di sini, nanti kita minum lagi pak guru," kata Gus Malik, "Sekarang ayo
aku antarkan!"
"E'eh, tak usah merepotkan gus."
"Ayo pak guru, 15 menit nyampai," sahut Gus Malik sambil menyiapkan astrea 800
miliknya.
Sialan bener orang ini, mentang-mentang punya sepeda motor baru, bidadari bahenol
dan kulihat rumahnyapun asri juga.
Darimana raksasa ini bisa memperoleh semuanya.
Akupun terpaksa manut saja ketika lelaki itu sudah menstarter motornya. Dan ternyata benar, 15 menit
persis sampai di TK yang dituju.
Tapi betapa terkejutnya aku saat kulihat sekolah itu bagaikan rumah sunyi yang tak
berpenghuni. Jangankan manusia, binatangpun tak ada yang keluyuran di situ.
Hanya bendera merah-putih dan umbul-umbul yang ditiup angin kencang, menimbulkan suara berkelebatan.
Sesaat aku hanya bisa berdiri, menata pikiran dan hati yang berdeguban. Apa mungkin sudah berangkat ke lapangan ya?
Tapi saat tadi melewati lapangan perasaan sepi juga tuh.
(Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar