Rusmannulis
Senin, 09 Desember 2019
CERPEN:
MENGAIS RIZKI TAMBAHAN (1)
Oleh: Ki Guru Rusman.
Berkumis tebal melintang, berbadan tinggi besar, bermata lebar dan bersuara menggelegar.
Sekilas ia adalah seorang lelaki yang kasar dan mengerikan. Apalagi kalau tertawa, suaranya meledak-ledak kayak mercon rentengan. "Dar dar daaar.. huaha haha.!"
Maka siapapun pasti merinding menyaksikan gerak gerik lelaki itu.
Dialah Pak Maliki atau orang sekitar biasa memanggilnya Gus Malik.
Pria berusia sekitar 40 tahun yang tinggal di lereng bukit di selatan Desa Wotsogo Kecamatan Jatirogo (tumpah darah gue, hehe..!).
Itulah Gunung Dhuri yang tak lain adalah gunung kecil yang mungkin lebih pas disebut sebagai dataran tinggi atau bukit.
Pada sekitar tahun enampuluh limaan gunung ini kering kerontang karena air menjadi barang langka. Jangankan tumbuhan, belalangpun bagaikan enggan mampir ke sini.
Bahkan saat rambutku masih dicukur kuncung, kabarnya lokasi ini menjadi pusat mayat-mayat yang dikubur secara masal.
Hih..hi..hiii, tak usahlah kluyuran ke situ, mendengar nama gunung ini saja kuncungku sudah berdiri saat itu.
Tapi ketika tahun delapanpuluh limaan keadaan sudah mulai berubah. Gunung Dhuri bukan lagi raksasa yang mengerikan, bukan lagi neraka bagi siapapun yang lewat, melainkan tempat yang indah dengan suasana alam yang mengagumkan.
Alkisah, waktu itu tahun 1986, tepatnya bulan agustus, ya aku masih ingat betul. Sehabis pulang dari mengajar aku kayuh sepedah jengki berwarna merah dari Jatirogo menuju arah selatan. Kebetulan ada undangan dari seorang kepala TK di Desa Siromukti untuk mengambil gambar atau foto pada acara karnaval anak-anak.
Sebagai tukang foto amatiran aku merasa ini adalah anugrah yang luar biasa, sebab dengan hanya beraksi di satu tempat paling tidak dua atau tiga rol film akan habis.
Tinggal klak-klik-klak-klik sambil berkata-kata ramah dan sedikit merapikan dandanan anak-anak.
Yach ..., mungkin tiga atau empat jam-lah, maka rejeki sudah akan mengisi dompet hitamku, tak perlu
harus mutar-muter, tawar sana tawar sini seperti biasanya.
Jangan heran kalau saat itu beberapa kali aku tersenyum sendiri, membayangkan berapa
laba yang akan mengalir ke kantongku.
Tentu saja hatikupun bernyanyi-nyanyi meskipun harus bermandi keringat mengayuh sepeda dengan nafas yang ngos-ngosan, tak apalah.
Sepeda sengaja aku tuntun pelan ketika jalan sudah mulai menanjak. Rupanya sudah hampir melewati kawasan yang penuh misteri itu.
Tapi aku terkejut ketika sudah hampir sampai ke puncak tiba-tiba pandangan mataku terdampar pada seorang lelaki yang bagiku tidak asing lagi.
Oalah ..., Gus Malik !
“Ha..ha..ha, pak guru !”Belum-belum ia sudah berteriak dengan tertawa ngakaknya.
Kali ini ia mengenakan pakaian hitam-hitam disertai udeng di kepalanya. Serasi sekali dengan blegernya yang mirip Raden Kumbokarno itu.
“Assalamu’alaikum ...!”aku memulai menyapa.
"Wa alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ..!”
"Kok sendiri gus, sedang nunggu siapa?" tanyaku sambil menyandarkan sepeda.
"Ha..ha..ha, gimana pak guru ini, ya nunggu sampean ta!"
"Ah, bisa saja Gus Malik ini. Memangnya kok tahu kalau aku mau lewat."
"Ha..ha..ha., kalau pak guru tanya begitu kan malah jadi aneh."
Aku tersenyum mendengar kalimat itu.
"Wah, ya ya, tentu aku mengerti kalau pasukanmu ada di seluruh negeri," sahutku sambil kuacungkan jempol kanan.
"Nah gitu dong pak guru," katanya sambil mendekatiku "sudah pak guru, sekarang ayo mampir sebentar ke rumahku."
"Eit .., enak saja. Memangnya aku tidak punya kerjaan apa."
"Tenang pak guru, aku jamin tak akan ketinggalan," desaknya "lagi pula nampaknya rejekimu bukan hari ini."
Mataku terbelalak mendengar ucapan si Kumbokarna itu. Tangannya yang besar yang sudah ia julurkan untuk bersalaman denganku aku kipatkan. Setengah membentak kupelototi dia.
"Jangan sembarangan kamu gus, kamu kira bisa seenaknya memainkan perasaanku?"
"Sabar pak guru, ayolah mampir sebentar nanti aku beri gambaran seutuhnya."
"Nggak ah..!"
(Bersambung)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Mangga sami nulis komentar.. !
BalasHapusAyo dulur2 padha berkomentar di sini!
BalasHapus