Piring itu bisa diibaratkan sebagai kelir wayang
Keduanya adalah wahana atau tempat untuk menggelar sajian utama
Wayang adalah nasi, di mana keduanya merupakan aspek yang paling inti
Gamelan adalah kuah dan lauknya
Nasi tanpa kuah dan lauk tentu tidak ada rasanya, begitu pula wayang tanpa gamelan.. mungkinkah?
Dalang adalah sendoknya
Tanpa dalang wayang takkan mampu dinikmati begitu pula tanpa sendok nasi tak akan sanpai ke mulut
Sinden adalah garpunya
Sinden adalah pendamping dalang dan garpu adalah pendamping sendok
Tema atau lakon adalah menunya
Lakon wayang itu adalah isi pesan begitu pula menu itu adalah gizi
Akhirnya kedua kutub bertemu di indra kita..
Ialah telinga, mata dan mulut kita
Telinga dan mata adalah alat untuk menikmati pagelaran wayang
Mulut dan lidah alat untuk menikmati kelezatan makanan
Dan sebagai titik kulminasinya adalah hati dan nurani kita
Wayang sebagai makanan jiwa yang sarat dengan nilai dan norma
Sedang nasi sebagai santapan raga akan mampu membuat kehidupan yang sehat dan barokah.
Demikian sekilas analisa tentang pentingnya "sajian wayang" bagi jiwa dan raga kita.
DALANG
Dalang, multi skil harus dia miliki. Dalang itu tidak ubahnya seorang guru, seorang pedakwah, ataupun penceramah.
Dari dirinyalah diharapkan banyak nilai dan norma adi luhung ajaran para leluhur dapat diajarkan pada masyarakat.
Pada sisi lain pertunjukkan wayang itu sesungguhnya adalah pertunjukkan yang keren juga.
Seorang Dalang menjadi sentral pertujukkan yang berfungsi sebagai pembawa cerita.
Dia harus mampu menjadi penembang, memainkan wayang, juga pengisi suara yang sesuai karakter wayang.
Dari diskripsi itu dapat dibayangkan betapa hebatnya figur dalang, multi skill harus dia miliki dan dia peragakan di depan publik.
Karena itu tentu dalang merupakan sebuah profesi, bukan sekedar pekerjaan atau tempat untuk mencari makan semata.
Dalam setiap profesi di sana ada unsur pengabdian, amanah, tuntutan, martabat, dan tentu saja juga penghasilan.
Untuk bisa menjadi Dalang yang baik bukan sembarangan, membutuhkan proses dan latihan yang panjang.
Pada sisi lain, seorang Dalang ternyata juga haruslah seorang manajer.
Sebab dalam pertunjukan bukan hanya dalang dan wayang yang harus hadir.
Di situ juga banyak pemain orkestra gamelan dan koor (choir) ibu-ibu pesinden yang melantunkan tembang-tembang.
Semua harus berpadu dalam sebuah kemasan yang harmonis, suatu kesatuan dari berbagai unsur.
Yang harus sinergis sehingga menjadi sajian yang bisa dinikmati oleh semua orang.
Maka di situlah letak manajernya seorang Dalang.
SINDEN
Sinden atau lengkapnya Pesinden berasal dari Bahasa Jawa "pesindian" yang berarti orang yang berbakat menyanyi.
Jelasnya pesinden adalah orang yang bertugas bernyanyi (nembang) seirama dengan orkestra gamelan.
Umumnya dia adalah seorang wanita yang mempunyai kemampuan berkomunikasi secara baik dan luas.
Dia juga harus berkeahlian mengolah vokal yang baik dan berkemampuan untuk menyanyi dengan cengkok-cengkok yang merdu.
Sinden disebut pula waranggana, tetdiri dari kata "wara" yang berarti seorang wanita, dan kata "anggana" berarti mandiri.
Memang pada era dahulu waranggana itu hampur selalu diperankan oleh satu wanita dalam setiap pergelaran wayang maupun pentas klenengan.
Sinden saat itu adalah seorang wanita yang nembang sesuai dengan gendhing yang diminta baik pentas klenengan maupun pergelaran wayang.
Sementara itu Istilah sinden tidak hanya dikenal di satu tempat saja. Namun juga banyak digunakan di beberapa daerah seperti Banyumas, Yogyakarta, Sunda, Jawa Timur serta daerah lainnya.
Tetapi sesuai perkembangan jaman sekarang Sinden tidak hanya tampil sendirian (satu orang) tetapi dalam satu pertunjukan wayang bisa mencapai lima hingga enam orang bahkan bisa pula lebih jika dalam pergelaran yang spektakuler.
Pada pergelaran wayang zaman dulu, Sinden biasanya duduk di belakang Dalang, tepatnya di belakang penabuh gender dan di depan tukang Kendhang.
Yang sering hanya seorang diri dan biasanya istri dari Dalangnya atau bisa saja istri salah satu pengrawit dalam pergelaran tersebut.
Tetapi seiring perkembangan zaman, terutama di era Ki Narto Sabdho yang banyak melakukan pengembangan, Sinden dialihkan tempatnya menghadap ke penonton tepatnya di sebelah kanan Dalang serta membelakangi simpingan wayang dengan jumlah lebih dari dua orang.
Dewasa ini Sinden mendapatkan tempat yang tidak ubahnya seperti artis penyanyi bahkan bagi sinden yang sudah kondang penghasilannya tidak kalah dengan para penyanyi yang populer.
Pakaiannya pun selalu rapi dan menarik dengan wajah cantik-cantik pula. Semua itu tentu dapat membuat penonton lebih kerasan dalam menikmati pertunjukan wayang.
Namun dalam perkembangannya sekarang Sinden wayang tidak pula didominasi oleh kaum wanita, sekarang muncul juga beberapa orang Sinden laki-laki yang mempunyai suara merdu tak ubahnya sinden wanita.***