Dia
bukanlah saudara kandung, bukan istri atau suami, bukan anak atau keponakan,
serta bukan keluarga besar dalam bentuk apapun, tapi keberadaannya terasa
sekali dekat dengan kita. Dia akan selalu sanggup hadir di tengah suka atau
duka, baik diminta atau tidak diminta. Kadang-kadang justru terasa melebihi
saudara kandung kita sendiri.
Dia bukan pula sang kekasih hati, bukan orang yang selama ini menerima belaian
cinta kita. Namun pengorbanannya, dan cara dia memperlakukan kita
seolah-olah justru lebih dari kita sendiri. Nah, siapakah dia? Dia tidak lain
adalah orang yang sering kita sebut sebagai "sedulur sinorowedi".
Sebutan sedulur sinorowedi ini rasanya sangat kental bagi telinga masyarakat Indonesia
khususnya orang jawa. Para orang tua kita yang hidup pada zaman dulu
umumnya memiliki orang-orang lain selain keluarga mereka. Orang yang
seringkali ia datang untuk bersilaturahmi di banyak waktu senggang mereka. Atau
bisa pula sebaliknya, yang sering mereka datang ke rumahnya.
Pada zaman
dahulu memang budaya saling bersilaturahmi masih sangat erat dalam kehidupan
bermasyarakat. Di samping karena pola kehidupan sosial yang terwarisi dari para
leluhur masih sangat kuat juga karena mereka memiliki waktu yang sangat
longgar. Jalinan kehidupan sosial yang erat itu bisa pula disebabkan oleh
mainset atau pola pikir mereka yang sederhana.
Hidup
"salumrahe" tidak perlu "neka-neka", yang penting cukup
papan-pangan-sandhang (rumah-pakaian-makan), maka hidup ini rasanya sudah
lengkap. Seiring dengan perkembangan zaman, maka dinding kehidupan sosial
seperti itu nampaknya semakin terkikis oleh pola kehidupan yang baru. Pola
pikir yang individualistis dan pragmatis semakin nampak jelas teraktualisasikan
dalam kehidupan bermasyarakat.
Lahirlah kemudian gaya hidup yang konsumtif dan hedonistis ialah hidup yang lebih banyak
mengandalkan uang, harta dan kesenangan. Di tengah gelombang model kehidupan
yang seperti itulah, maka tiba-tiba saja konsep dan penerapan "sedulur
sinorowedi" itu bagaikan hilang dari tata pergaulan masyarakat kita.
Mengapa
bisa begitu? Tidak lain karena konsep sinorowedi yang penulis gambarkan di atas
masih tergantung sekali pada wujud fisik manusia. Masih didasari oleh sikap dan
pandangan orang lain di mana sikap orang lain itu mudah sekali terhempas oleh
perkembangan situasi dan kondisi lingkungannya.
Di bawah
ini ada lagi satu konsep sedulur sinorowedi yang lebih didasarkan pada
pandangan spiritualisme, ialah apa yang orang tempoe doeloe sering menyebutnya sebagai "kakang kawah, adhi ari-ari."
Siapakah sebenarnya "kakang kawah, adhi ari-ari" itu? Rasanya lamat-lamat pada
tempoe doeloe kita agak sering juga mendengar istilah itu. Meskipun sekarang
rasanya sudah semakin jarang telinga ini mendengarnya lagi.
Sebelum penulis menguraikan lebih lanjut, kiranya perlu dimengerti bahwa tulisan ini
akan sedikit menyinggung tentang konsep spiritual kejawen. Bagi yang tidak
yakin, anggaplah ini sebagai tambahan pengetahuan saja. Sedang bagi yang sudah
memahami, mungkin bisa disikapi sebagai bahan diskusi.
Sedang penulis sen
diri lebih banyak menyikapinya sebagai ungkapan rasa senang, membaca
tulisan senior kompasianer dari "Ulul Rosyad, 2013" dan terasa ingin
membaginya kepada pembaca sekalian.
Dalam
konsep spiritual "sedulur sinorowedi" manusia itu ada banyak sekali,
dan setiap orang pasti mempunyainya, senang atau tidak senang, karena ini
sebagai bagian dari keberadaan kita. Sedulur alus tersebut sesuai dengan yang
ginaris oleh Tuhan YME.
1. Mar dan Marti
Kelompok yang
pertama adalah "Mar dan Marti". Mereka merupakan saudara alus kita
yang lebih tua tetapi tidak ikut dilahirkan melalui rahim.
"Mar"
sebagai pencerminan perjuangan ibu saat melahirkan dan sekaligus adalah
pendamping yang hebat bagi manusia yang akan menjalankan amanah untuk keluar dari
guwa garbo.
Sedangkan
"Marti" adalah pencerminan perjuangan ibu setelah melahirkan. Dia
merupakan pendamping saat manusia kecil itu masih dalam perawatan dan melakukan
penyesuaian di alam dunia. Sebagai sedulur alus manusia yang lebih tua maka
"Mar dan Marti" ini dianggap sangat tinggi kedudukannya.
2. Sedulur Papat Kalimo Pancer
Selanjutnya ada yang
disebut "Sedulur Papat Kalimo Pancer", yaitu terdiri dari:
a.
Kakang Kawah
ialah unsur yang
keluar dari rahim sebelum sang bayi. Disebut warnanya putih dan bertempat di
Timur.
b.
Adi ari-ari
ialah unsur yang
keluar dari rahim sesudah si bayi. Konon warnanya kuning dan tempatnya di
Barat.
c.
Unsur
"Getih”
ialah unsur yang
keluar dari rahim sewaktu melahirkan. Unsur ini warnanya merah, tempatnya di
Selatan.
d.
Puser atau
pusar
yang kelak dipotong sesudah si bayi lahir.
Warnanya hitam dan tempatnya di Utara.
e.
Pancer
yaitu berupa jasmani
yang digambarkan berada di tengah di antara empat saudara lain yang tidak
beraga. Mereka ini sebagai saudara halus konon bertugas mendampingi
manusia kelak dalam mengarungi hidup sehari-hari.
3. Kadang Marga Ino
Kemudian ada sedulur
halus yang disebut: Kadang marga ino, Kadang kang ora katon lan ora karawatan,
Kadang kang lair bareng sadino sawengine.
Jadi saudara halus
manusia itu banyak, mereka semua sering disebut sedulur sinorowedi (saudara
terdekat) secara spiritual.
Para sesepuh Jawa menganjurkan agar kita semua mengenal dan mensyukuri atas
keberadaan saudara-saudara halus kita. Manusia juga perlu memahami bahwa
para saudara halus tersebut merasa senang kalau kita mengetahui dan memahami
keberadaan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar