-

Rusmannulis

Rabu, 21 Agustus 2019

SEDULUR SINOROWEDI


Dia bukanlah saudara kandung, bukan istri atau suami, bukan anak atau keponakan, serta bukan keluarga besar dalam bentuk apapun, tapi keberadaannya terasa sekali dekat dengan kita. Dia akan selalu sanggup hadir di tengah suka atau duka, baik diminta atau tidak diminta. Kadang-kadang justru terasa melebihi saudara kandung kita sendiri.

Dia bukan pula sang kekasih hati, bukan orang yang selama ini menerima belaian cinta kita. Namun pengorbanannya, dan cara dia memperlakukan kita seolah-olah justru lebih dari kita sendiri. Nah, siapakah dia? Dia tidak lain adalah orang yang sering kita sebut sebagai "sedulur sinorowedi".

Sebutan sedulur sinorowedi ini rasanya sangat kental bagi telinga masyarakat Indonesia khususnya orang jawa. Para orang tua kita yang hidup pada zaman dulu umumnya memiliki orang-orang lain selain keluarga mereka. Orang yang seringkali ia datang untuk bersilaturahmi di banyak waktu senggang mereka. Atau bisa pula sebaliknya, yang sering mereka datang ke rumahnya.

Pada zaman dahulu memang budaya saling bersilaturahmi masih sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat. Di samping karena pola kehidupan sosial yang terwarisi dari para leluhur masih sangat kuat juga karena mereka memiliki waktu yang sangat longgar. Jalinan kehidupan sosial yang erat itu bisa pula disebabkan oleh mainset atau pola pikir mereka yang sederhana.
Hidup "salumrahe" tidak perlu "neka-neka", yang penting cukup papan-pangan-sandhang (rumah-pakaian-makan), maka hidup ini rasanya sudah lengkap. Seiring dengan perkembangan zaman, maka dinding kehidupan sosial seperti itu nampaknya semakin terkikis oleh pola kehidupan yang baru. Pola pikir yang individualistis dan pragmatis semakin nampak jelas teraktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Lahirlah kemudian gaya hidup yang konsumtif dan hedonistis ialah hidup yang lebih banyak mengandalkan uang, harta dan kesenangan. Di tengah gelombang model kehidupan yang seperti itulah, maka tiba-tiba saja konsep dan penerapan "sedulur sinorowedi" itu bagaikan hilang dari tata pergaulan masyarakat kita.
Mengapa bisa begitu? Tidak lain karena konsep sinorowedi yang penulis gambarkan di atas masih tergantung sekali pada wujud fisik manusia. Masih didasari oleh sikap dan pandangan orang lain di mana sikap orang lain itu mudah sekali terhempas oleh perkembangan situasi dan kondisi lingkungannya.

Di bawah ini ada lagi satu konsep sedulur sinorowedi yang lebih didasarkan pada pandangan spiritualisme, ialah apa yang orang tempoe doeloe sering menyebutnya sebagai "kakang kawah, adhi ari-ari."

Siapakah sebenarnya "kakang kawah, adhi ari-ari" itu? Rasanya lamat-lamat pada tempoe doeloe kita agak sering juga mendengar istilah itu. Meskipun sekarang rasanya sudah semakin jarang telinga ini mendengarnya lagi.

Sebelum penulis menguraikan lebih lanjut, kiranya perlu dimengerti bahwa tulisan ini akan sedikit menyinggung tentang konsep spiritual kejawen. Bagi yang tidak yakin, anggaplah ini sebagai tambahan pengetahuan saja. Sedang bagi yang sudah memahami, mungkin bisa disikapi sebagai bahan diskusi.

Sedang penulis sen
diri lebih banyak menyikapinya sebagai ungkapan rasa senang, membaca tulisan senior kompasianer dari "Ulul Rosyad, 2013" dan terasa ingin membaginya kepada pembaca sekalian.
Dalam konsep spiritual "sedulur sinorowedi" manusia itu ada banyak sekali, dan setiap orang pasti mempunyainya, senang atau tidak senang, karena ini sebagai bagian dari keberadaan kita. Sedulur alus tersebut sesuai dengan yang ginaris oleh Tuhan  YME.

1. Mar dan Marti
Kelompok yang pertama adalah "Mar dan Marti". Mereka merupakan saudara alus kita yang lebih tua tetapi tidak ikut dilahirkan melalui rahim. 
"Mar" sebagai pencerminan perjuangan ibu saat melahirkan dan sekaligus adalah pendamping yang hebat bagi manusia yang akan menjalankan amanah untuk keluar dari guwa garbo. 
Sedangkan "Marti" adalah pencerminan perjuangan ibu setelah melahirkan. Dia merupakan pendamping saat manusia kecil itu masih dalam perawatan dan melakukan penyesuaian di alam dunia. Sebagai sedulur alus manusia yang lebih tua maka "Mar dan Marti" ini dianggap sangat tinggi kedudukannya.
2. Sedulur Papat Kalimo Pancer

Selanjutnya ada yang disebut "Sedulur Papat Kalimo Pancer", yaitu terdiri dari:
a.      Kakang Kawah

ialah unsur yang keluar dari rahim sebelum sang bayi. Disebut warnanya putih dan bertempat di Timur.
b.      Adi ari-ari

ialah unsur yang keluar dari rahim sesudah si bayi. Konon warnanya kuning dan tempatnya di Barat.
c.       Unsur "Getih”

ialah unsur yang keluar dari rahim sewaktu melahirkan. Unsur ini warnanya merah, tempatnya di Selatan.
d.      Puser atau pusar

 yang kelak dipotong sesudah si bayi lahir. Warnanya hitam dan tempatnya di Utara.

e.       Pancer

yaitu berupa jasmani yang digambarkan berada di tengah di antara empat saudara lain yang tidak beraga. Mereka ini sebagai saudara halus konon bertugas mendampingi manusia kelak dalam mengarungi hidup sehari-hari.

3. Kadang Marga Ino

Kemudian ada sedulur halus yang disebut: Kadang marga ino, Kadang kang ora katon lan ora karawatan, Kadang kang lair bareng sadino sawengine. 
Jadi saudara halus manusia itu banyak, mereka semua sering disebut sedulur sinorowedi (saudara terdekat) secara spiritual.

Para sesepuh Jawa menganjurkan agar kita semua mengenal dan mensyukuri atas keberadaan saudara-saudara halus kita. Manusia juga perlu memahami bahwa para saudara halus tersebut merasa senang kalau kita mengetahui dan memahami keberadaan mereka.

Nah, itulah sedulur sinorowedi secara spirutual, terutama yang banyak diyakini oleh para sesepuh kita yang tinggal di desa-desa. Demikian, semoga dapat menambah wawasan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar