Rusmannulis
Senin, 31 Desember 2018
MAKNA JAGONGAN BAGI MASYARAKAT JAWA
Oleh: Rus Rusman.
"Kumpul, kumpul, kumpuul !"
Begitu orang-orang jawa terbiasa mengekspresikan ungkapan naluri kebersamaannya di antara para tetangga dalam satu lingkungan.
Himbauan kumpul-kumpul itu sering pula diwujudkan dalam berbagai lambang, biasanya dalam bentuk alat audio berupa bunyi "kentongan" dengan kode-kode tertentu.
Dalam kesempatan ini terutama pembahasan akan difokuskan pada tindak lanjut dari makna kumpul atau bunyi kentongan itu, yang tidak lain berupa forum atau majelis yang tidak memiliki topik serius apapun.
Isi pembicaraan ringan, bebas serta santai dengan cara apapun, yang suka ngomong ya ngomonglah, asal tidak menyimpang dari norma dan tata nilai yang berlaku, baik formal maupun informal.
Juga jangan sampai menimbulkan kesalahpahaman. Harapannya justru kumpul-kumpul itu bisa menumbuhkan rasa kerukunan dan persatuan di antara warga masyarakat.
Menurut ahli Etnografi dan komunikasi Amalia Maulana (2018), masyarakat Indonesia khususnya Jawa sejak zaman dahulu memang lebih memiliki sense of community.
Kita sudah terbiasa dengan group culture. Bertemu walaupun tanpa ada kepentingan khusus. Kalau di negeri barat mereka hanya bertemu karena ada kepentingan. Masyarakat di sana hanya mengenal keluarga inti saja.
Nah, kalau bagi masyarakat jawa acara kumpul-kumpul yang tergambar di atas ada beberapa versi sesuai dengan konteksnya.
Antara lain:
1. Dinamakan JAGONGAN apabila kumpul-kumpulnya berada di tempat orang yang mau punya hajatan.
2. Dinamakan CAKRUKAN apabila kumpulnya di gardu penjagaan atau di tempat umum lain (misal duduk-duduk di tepi jalan).
3. Dinamakan JANDOMAN apabila kumpulnya di tempat yang tidak direncanakan. Misalnya kebetulan bertemu di jalan lalu dilanjutkan berbincang-bincang.
Dan masih banyak lagi istilah yang berbeda-beda di setiap daerah.
Dalam kesempatan ini penulis lebih fokus pada jagongan sebab forum yang ini lebih sarat dengan nilai-nilai kebudayaan.
Kata jagongan dalam kamuslengkap.com diartikan sebagai duduk-duduk di tempat orang yang punya hajat.
Jadi inti pertama dalam konteks ini adalah penghormatan terhadap orang yang punya hajat dari para keluarga besar, para tetangga, sahabat dan handai taulan.
Ikut senang atas terselenggaranya hajatan ini seraya mendoakan semoga dapat berjalan lancar.
Inti kedua adalah silahturahmi dengan sesama tetangga, berbincang ringan serta santai tanpa topik sambil menikmati hidangan khas dari orang yang punya hajat. Hajatnya bisa syukuran bayi, sunatan, pernikahan, dsb.
Inti yang ketiga adalah kerukunan dan kebersamaan. Kehadiran para tetangga menunjukkan bahwa semua berkomitmen untuk menjaga tata nilai kekerabatan.
Orang yang punya hajat tentu merasa senang atas kehadiran semua tetangga dan kelak iapun juga ganti memperlakukan yang sama terhadap orang lain yang punya hajat pula.
Biasanya waktu pelaksanaan jagongan adalah jam 21.00 ke atas, atau secepat-cepatnya adalah ba'dal isya'.
Sorenya didahului dengan kenduri atau berdo'a bersama agar hajatan berjalan lancar dan diridhoi oleh Allah SWT.
Kadang-kadang ada juga sebagian masyarakat yang atas ijin dari tuan rumah mengisi jagongan ini dengan bermain kartu yang upahnya kecil-kecilan saja.
Hal itu sekedar untuk mengisi waktu dan mengusir kejenuhan saja.***
Keterangan:
Penulis adalah pemerhati budaya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

.
BalasHapusMakna dari tulisan ini perlu dihayati bersama.
BalasHapus