Oleh: Ki GURU Rusman
SEORANG WANITA muda nampak duduk bersila di bawah beringin di puncak sebuah bukit. Tangannya bersedekap dengan rambut yang dibiarkan terurai, panjang bergerai tertiup angin. Bibirnya Tak henti-henti membisikkan kata-kata do'a. Menelusup di antara nyanyian belalang dan burung malam.
Sudah cukup lama wajah sayu itu menengadah, memandang rembulan yang bersinar redup. Segumpal-segumpal awan silih berganti menutupi cahaya, dan beberapa kali wanita itupun menarik nafas dalam-dalam.
Merenungi nasib yang remang-remang seperti redupnya sinar bulan. Kadang-kadang ia rasakan bahkan gelap menyelimuti bayangan kehidupan.
"...., Ingkang kawijil tumetesa
Hardaning driya kang angu-angu
Amedhar anteping manah
Tan kinira landheping pacoban
Duh Gusti ....
Kang Wenang peparing
Tidha-tidha lumaksono
Anggayuh tirta tentreming kalbu
Hambo amung sadermi lelaku ..."
"..... Yang terkandung di air mataku
Perasaan diri yang ragu-ragu
Menguraikan isi hati
Tak terkira sakitnya rintangan
Oh Tuhan ...
Yang Maha Pemberi
Kucoba untuk melangkah
Meraih air kedamaian
Aku sekedar menjalankan ..."
WANITA ITU bernama Dyah Suhita, putri Prabu Wikramawardana (1389-1427) raja ke-5 pengganti Hayam Wuruk. Meski ia seorang putri raja namun hidupnya selalu dirundung duka.
Ibarat kusuma amembo sudra, Dyah Suhita jarang berada di dalam istana. Ia lebih sering mengurung diri di padepokan ibunya. Mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, mengadukan nasib seraya berharap sinar yang redup beralih menjadi bulan purnama.
Ternyata benar, do'a orang-orang yang teraniaya tak akan pernah sia-sia, dan Tuhan pun telah memberikan jawaban kepadanya. Jawaban yang sangat tak terduga oleh semua orang, bahkan sama sekali tak masuk di angan-angan.
Mengapa begitu? Sebab wanita ketiga yang berhasil menduduki tahta kerajaan Majapahit adalah Dyah Suhita (1427-1447). Ia adalah raja ke-6 yang menggantikan ayahanda Prabu Wikramawardana.
Meskipun sebenarnya Dyah Suhita bukanlah sosok yang memiliki garis utama tedhaking narendra, namun jikalau Tuhan yang menghendaki siapa yang bisa memungkiri?
Kridaning ati tan bisa mbedhah tibaning pasti, budidayaning manungsa tan bisa ngrubah garising kang kawasa.
Alkisah, Dyah Suhita memang hanyalah putri kandung Prabu Wikramawardana dari garwa selir. Itupun bukan tergolong selir kinasih sebab sang ibu adalah anak Pangeran Wirabumi, musuh bebuyutan sang prabu dalam perang Paregreg (1404-1406).
Jadi ibunda Dyah Suhita adalah wanita boyongan perang dari keraton Timur akibat kekalahan dalam perang paregreg. Ouch..., alangkah malangnya nasib Suhita dan adik-adiknya.
JAUH SEBELUM kelahiran Dewi Suhita sebenarnya Prabu Wikrama telah memiliki putera mahkota. Ia bernama Pangeran Rajasakusuma yang lahir dari garwa permaisuri yaitu Dyah Kusumawardani.
Sedangkan Dyah Kusumawardani adalah putri Prabu Hayamwuruk, artinya Prabu Wikramawardana adalah menantu sekaligus keponakan mendiang prabu Hayamwuruk, Karena dia putra Dyah Netarya adik kandung raja yang terkenal itu.
Namun agaknya Tuhan berkehendak lain, Putra Mahkota yang bergelar Hyang Wekasing Suka itu tiba-tiba meninggal dunia di tahun 1399. Pangeran itu masih sangat muda dan disayang oleh semua orang.
Untunglah Prabu Wikrama masih mempunyai putra lain meskipun lahir dari garwa selir, sedangkan garwa selir itu adalah keponakannya sendiri (anak Dyah Surawardani). Putra mahkota yang kedua ini bergelar Bre Tumapel yang ikut menyerbu kedaton wetan dalam perang paregreg.
Akan tetapi lagi-lagi calon raja itupun juga meninggal dunia, kali ini karena sakit (1427). Putus asalah sang prabu Wikrama memikirkan nasib putra-putra keturunannya.
Meskipun begitu ternyata Tuhan masih memberikan jalan keluar lewat cara-Nya yang luar biasa.
Ketika itu sang senopati Raden Gajah berhasil membedah Keraton Timur dan memenangkan perang paregreg, ia membawa pulang dua tanda bukti.
Yang pertama adalah mustaka (kepala) Pangeran Wirabumi yang ia penggal saat penguasa keraton timur itu hendak melarikan diri.
Dan yang kedua adalah seorang dara manis anak perempuan Wirabumi (Bre Daha) sebagai persembahan kepada sang Prabu Wikrama.
Dari Rahim Bre Daha inilah lahir putra-putri Prabu Wikrama, ialah Dyah Suhita (1406), Arya Damar dan Arya Kertawijaya. Sumber yang lain mengatakan kalau Arya Damar lahir dari istri yang berbeda.
Sekali lagi budidayaning manungsa tan bisa ngrubah garising kang kawasa, ketika Prabu Wikrama wafat di akhir tahun 1427 maka tak ada pilihan lain, Dyah Suhita sebagai putri pembayun yang madeg jumeneng nata sebagai Raja Majapahit yang ke-6.
Jadi ini semacam keadilan Tuhan, di saat semua orang berkeyakinan bahwa keturunan Keraton Timur tak akan bisa duduk di singgasana, maka Tuhan dengan cara-Nya yang berbeda telah merubah keadaan.
Bagaikan durian runtuh, siapa yang pernah menyangka kalau suatu saat trah Wirabumi akan memimpin Majapahit? Sedangkan dulu para leluhur mereka yang berjuang dengan bertaruh nyawapun selalu kembali dengan tangan hampa.
Meskipun demikian sebenarnya hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil, mengingat Wirabumi adalah putra Prabu Hayamwuruk dari garwa selir. Artinya dalam diri Dyah Suhita tetap ada rembesing madu raja-raja besar.
KEPEMIMPINAN Dyah Suhita berlangsung selama 20 tahun, tidak banyak yang bisa dicerirakan tentang bagaimana ia mengelola negeri sebab ia mewarisi keadaan yang sudah sangat berat.
Majapahit sudah mengalami banyak kemunduran, bahkan konon memiliki banyak hutang untuk membiayai perang paregreg. Banyak negara bawahan yang tidak lagi mengirim upeti bahkan terang-terangan berani memisahkan diri.
Sebelum Dyah Suhita memimpin, telah banyak daerah bawahan di luar Jawa yang melepaskan diri tanpa bisa dicegah. Misalnya tahun 1405 Kalimantan Barat direbut Cina, disusul lepasnya pula Palembang, Melayu, dan Malaka dimana daerah-daerah ini tumbuh sebagai bandar-bandar ramai. Kemudian lepas pula Brunei yang terkenal kaya minyaknya.
Untuk menangani semua itu maka pada tahun 1433 Dyah Suhita mengirimkan Arya Damar ke Palembang guna menjadi penguasa di sana, sekaligus merebut kembali daerah-daerah yang sudah terlepas.
Pada tahun yang sama Prabu Dyah Suhita menghukum mati Raden Gajah, mungkin sebagai pembalasan atas perbuatannya yang lancang memenggal kepala kakeknya, yaitu Wirabumi. Sungguh sial nasib Raden Gajah, abebasan gulung gemak, gluput pulut ora mangan nangka.
Catatan lain tentang pemerintahan Dyah Suhita adalah bahwa beliau bersama suaminya senang membangun tempat-tempat pemujaan.
Suami Dyah Suhita adalah Bra Prameswara Ratnapangkaja, ialah putra dari Dyah Surawardani adik Prabu Wikrama. Artinya suami Dyah Suhita adalah sepupunya sendiri.
Perang Paregrek di samping menguras banyak biaya juga merusak sendi-sendi moral di kalangan masyarakat, karena itu Raja Putri Suhita sengaja menekankan pengembangan bidang keagamaan.
Sayang sekali suami istri ini tidak memiliki keturunan sehingga saat beliau wafat di tahun 1447 yang menggantikan sebagai raja adalah adiknya, yaitu Raden Arya Kertawijaya.
Dyah Suhita didarmakan di Candi Singhabaya, berkumpul dengan mendiang sang suami yang meninggal sepuluh tahun sebelumya. Tentang letak candi in belum ada sumber yang jelas.***
Demikian semoga bermanfaat
Tasikmadu, April 2020


Sangat baik untuk bahan pembelajaran dan kajian dalam kehidupan
BalasHapusMatur nuwun atas motivasinya.. Salam !
BalasHapus