Rusmannulis
Selasa, 21 April 2020
WANITA PERKASA DI BALIK KEJAYAAN MAJAPAHIT (4)
OLEH: KI GURU RUSMAN
PENGANGKATAN Dyah Gitarja atau Tribuana Tunggadewi sebagai rajaputri Majapahit (1329) ternyata memiliki efek yang panjang.
Suami adiknya yang bernama Raden Kudamerta diam-diam cuwo ing penggalih, meskipun ibunda Gayatri juga menghadiahkan Negeri Timur untuk putri bungsunya Dyah Wiyat dengan gelar Sri Rajadewi.
Namun suami Dyah Wiyat itu terlanjur menyimpan bara di dalam hatinya, bagi dia pengangkatan istrinya sebagai penguasa Negeri Timur hanyalah upaya untuk menyisihkan mereka dari istana barat.
Sementara Ratu Tribuana menjadi Kian leluasa mengembangkan pusat kerajaan. Apalagi ditambah dengan peran Mahapatih Gajahmada yang semakin menggila.
Hanya Karena rasa hormat kepada sang mertua maka semua masih nampak tentram-tentram saja. Begitu kata batin Kudamerta atau Wijayarajasa.
Kini Kudamerta masih tetap aktif sebagai Bre Wengker dan istrinya Dyah Wiyat sebagai Bre Daha. Sedang Negeri Timur yang konon berpusat di Lumajang mereka biarkan tetap berjalan sebagaimana biasa.
Tapi entah apa yang menggayuti pikiran mereka, sesudah wafatnya ibu Gayatri (1350) tiba-tiba saja Dyah Wiyat Dan suaminya mulai sering berkunjung ke Lumajang.
Perhatian mereka mulai terbagi di samping tetap mengurus Wengker dan Daha juga beberapa kali telah mengunjungi pusat Kerajaan Timur.
Bara itu adalah awal dari percikan api, sedang percikan merupakan induk dari kobaran yang lebih besar. Tentu semua itu tinggal menunggu pemicunya saja.
Dan pemicu itu kini telah tiba ketika Prabu Hayamwuruk bermaksud meminang putri pasundan Dyah Pitaloka atau Dyah Citraresmi sebagai permaisuri (1357).
Sebenarnyalah pernikahan itu dilandasi oleh tujuan yang luhur, di samping memang sang prabu masih lajang juga untuk menyambung kembali jalinan kekeluargaan.
Konon mendiang Raden Wijaya (kakek Hayamwuruk) adalah satria Pajajaran yang hijrah ke Singosari untuk mengabdi kepada sang Paman Prabu Kertanegara disusul bedahnya Singosari oleh Jayakatwang dari Kediri (1292).
Dengan alasan itulah maka Dewan Agung Kerajaan yang disebut Batara Saptaprabu sangat mendukung rencana pernikahan sang sinuwun.
NAMUN agaknya ada sedikit kelalaian dalam proses timbang menimbang pernikahan itu, yakni sang Mahapatih Gajahmada merasa tidak pernah dimintai pendapatnya.
Padahal sudah sejak zaman Prabu Tribuana Tunggadewi, Patih Gajahmada diberikan kewenangan penuh untuk melaksanakan program Kesatuan Nuswantara.
Pada waktu itu satu-satunya kerajaan di Pulau Jawa yang belum menyatakan tunduk kepada kekuasaan Majapahit hanyalah Pajajaran. Tentu ini merupakan kesempatan yang bagus untuk menanting pengakuan itu, pikirnya.
Dalam pada itu Dyah Wiyat selaku Bibi Prabu Hayamwuruk dan sekaligus sebagai anggota Batara Saptaprabu juga jarang hadir dalam pertemuan.
Mungkinkah ada benang merah antara kekecawaan suami Dyah Wiyat dengan tragedi perang Bubat? Sejauh ini belum ada sumber yang menguatkan hal tersebut.
Tapi menurut Analisa penulis tidak ada yang tak mungkin dalam politik. Bukankah ada semacam sindiran lama dari India yang mengatakan bahwa: musuhnya musuhku adalah teman baikku - Your enemy is my best friend (Kautilya Canakya, Artha Sastra,th. 301M^).
Lagi pula mana mungkin Patih Gajahmada berani berbuat sekejam itu terhadap calon mertua dan istri raja beserta para prajurit dari pasundan? Rasanya hal itu tak masuk akal kecuali apabila ada benteng kuat di belakangnya.
Yang jelas setelah tragedi Perang Bubat (1357) yang menewaskan semua pasukan Pajajaran termasuk sang Prabu Lingga Buana dan putrinya Dyah Pitaloka yang bunuh diri, maka keakraban Prabu Hayamwuruk dengan Gajahmada menjadi renggang.
Gajahmada disidang oleh seluruh keluarga kerajaan, dimintai pertanggungjawaban oleh Batara Saptaprabu. Dan sebagai reaksinya Mahapatih yang sakti itupun menyatakan cuti panjang dan ingin mencari ketenangan di desa.
Ada yang mengatakan untuk kepentingan itu Prabu Hayamwuruk memberikan sepetak tanah di wilayah Probolinggo lengkap dengan pesanggrahannya.
Semua ini merupakan ujian besar bagi Prabu Hayamwuruk. Di usianya yang masih muda ia sudah harus berhadapan dengan kondisi yang serba dilematis.
Pada satu sisi ia harus bisa mendamaikan kembali keluarganya yang porak poranda, sedang pada bagian lain banyak program negara yang terbengkelai. Ternyata orang-orang pilihan yang ia tugaskan belum cukup mampu untuk menggantikan peran sang mahapatih.
Menyaksikan kesulitan yang dihadapi Raja Hayamwuruk maka Batara Saptaprabu segera bersidang, dan hasilnya sungguh merupakan jalan keluar yang bijaksana.
Pertama, Sang Prabu Hayamwuruk harus segera mempunyai permaisuri dan calon istri itu adalah putri penguasa keraton timur yakni Wijayarajasa atau Kudamerta.
Kedua, sang Mahapatih Gajahmada diminta segera hadir kembali untuk meneruskan progran Kesatuan Nuswantara yang beberapa bulan telah terhenti.
Ketiga, Majapahit harus mengutus duta ke Pajajaran untuk meminta maaf atas tragedi di lapangan bubat dan tetap berkeinginan menjalin hubungan kekeluargaan.
DEMIKIANLAH, pernikahan agung rajamuda Hayamwuruk dengan Dyah Sri Sudewi atau Paduka Suri (1358^) ditandai dengan hadirnya kembali Sang Gajahmada ke kotaraja.
Cahaya yang cerah segera menghiasi langit Wilwatikta, dari rakyat kecil hingga keluarga raja semua menyambut dengan hingar bingar serta ikut merasakan kebahagiaan.
Jalan-jalan utama dan semua gapura dipasang dengan hiasan yang beraneka ragam. Di alun-alun kotaraja serta lapangan-lapangan di seluruh negeri disajikan hiburan untuk rakyat.
Tak ketinggalan pula para pemuka agama yang melakukan pemujaan dan berdo'a untuk kebahagiaan sang prabu beserta permaisurinya yang baru.
Namun seiring dengan bergulirnya waktu kecerahan itu menjadi semakin pudar ketika telah cukup lama sang permaisuri belum juga dikarunia buah hati.
Kekhawatiran itu yang melahirkan keinginan Prabu Hayamwuruk untuk menghadirkan seorang selir.
Baginya andai tidak dikaruniai anak dari dinda permaisuri tidak mengapa kalau harus melalui istri lain. Bukankah hal itu tidak melanggar aturan maupun etika manapun?
Akhirnya Raden Kudamerta atau Wijayarajasa mempersembahkan seorang wanita kerabat dekatnya dan untuk menghormatinya secara bijaksana sang raja menerima juga.
Dari garwa selir inilah segera lahir putra Prabu Hayamwuruk yang terkenal namanya, ialah Bre Wirabumi. Tentu saja hal ini membuat bangga Prabu Hayamwuruk.
Dan kebahagiaan itu semakin lengkap ketika tidak lama setelah itu permaisuri Sri Sudewi juga memberinya bayi putri yang diberi nama Dyah Kusumawardani (1363^)
Nah, pada diri Dyah Ayu Kusumawardani inilah kunci perdamaian Majapahit kelak akan tercapai, setidaknya sampai pada akhir tahun 1400 M. Mengapa begitu?
Pertama, Dyah Kusumawardani adalah putri kesayangan seluruh istana. Bahkan pada usia 15 tahun, tepatnya tahun 1379^, Prabu Hayamwuruk telah mengangkatnya sebagai Putri Mahkota.
Kedua, ia adalah putri permaisuri Sri Sudewi yang berarti juga cucu dari penguasa Kraton Timur, yaitu pasangan Dyah Wiyat-Kudamerta. Artinya dia adalah sosok yang mewakili unsur keluarga barat dan timur.
Ketiga, ia telah dijodohkan dengan Raden Wikramawardana yang berarti menantu Dyah Netarya, yaitu adik kandung Prabu Hayamwuruk.
Dengan demikian Dyah Kusumawardani bisa diibaratkan sebagai segitiga emas bagi perdamaian Majapahit.
Ia adalah poros utama dari tiga jalur keluarga besar, yang ketiganya berpotensi menimbulkan konflik kepentingan (conflict of interest).
Kemuliaan hati Dyah Kusumawardani menjadi kian jelas saat rama Prabu Hayamwuruk wafat (1389). Meskipun ia adalah Putri Mahkota namun karena hormatnya kepada sang suami, maka ia serahkan kursi keprabon kepada Raden Wikramawardana.
Namun maksud baiknya itu justru memicu percikan baru dalam hati Bre Wirabumi. Bukankah aku adalah putra rama Prabu Hayamwuruk? Meskipun ibuku hanya garwa selir.
"Kalaupun dinda Kusumawardani tidak berkenan duduk di singgasana, mestinya aku sebagai putra Rama prabu yang berhak menggantikannya", demikian keluh kesah Bre Wirabumi kepada Dyah Wiyat atau Raja Dewi.
Wirabumi memang sangat dekat dengan keluarga Keraton timur, ibaratnya dia adalah pangeran Lumajang. Di samping menjadi putra angkat Kudamerta atau Wijayarajasa ia juga dijodohkan dengan cucunya yang bernama Negarawardani.
Ketika hal itu disidangkan di Dewan Kerajaan, istri Wikramawardana berkilah bahwa suaminya hanyalah raja perwalian atas dirinya.
"Kami memimpin secara bersama-sama," demikian katanya melengkapi.
Wirabumi terpaksa harus menerima kenyataan itu, namun sejak kejadian itu Keraton timur ia pindahkan ke wilayah Blambangan. Baginya keberadaan Dyah Kusumawardani tetaplah sosok yang harus ia hormati.
Bagaimanapun mendiang Rama Prabu Hayamwuruk adalah panutanku, dan dinda Dyah Kusuma adalah putri kinasihnya. Aku harus menghormatinya pula.
"Nini Kusuma adalah adikmu, meskipun kalian dari ibu yang berbeda. Kaulah yang harus menjaganya jika suatu saat Rama sudah tiada," itulah pesan beliau sebelum wafat.
Tak terasa mata Ksatriya Blambangan itu berkaca-kaca teringat akan ayahanda yang telah tiada. Ramanda seorang satria agung dan bijaksana, aku harus selalu mengingat petuahnya.
Namun Tak pelak seringkali kebijakan Prabu Wikramawardana terasa menggerogoti ketahanan batinnya.
Sebagaimana penulis singgung di atas, Wirabumi merupakan putra angkat pasangan Kudamerta-Dyah Wiyat. Sedang suami istri ini memiliki seorang putri kandung bernama Dyah Indudewi yang menjadi Bre Lasem sejak lama.
Dyah Indudewi menurunkan seorang putri bernama Dyah Negarawardani yang kemudian dijodohkan dengan Wirabumi.
Suatu ketika Dyah Indudewi sakit dan mengikuti suaminya sebagai Bre Matahun. Maka kedudukan Bre Lasem diserahkan pada Negarawardani. Namun saat itu juga Prabu Wikrama bermaksud mengangkat menantunya (istri Bre Tumapel) sebagai Bre Lasem pula.
Agar tidak terjadi percikan lebih lanjut, Dyah Kusumawardani segera mengambil jalan tengah. "Biarlah aku yang berangkat sebagai penguasa Lasem."
Sejak itulah ada dua penguasa kerajaan Lasem, yang satu disebut Bre Lasem Sang Halemu (gemuk) yakni istri Wirabumi, sedang satu lagi Bre Lasem Sang Ahayu (cantik) yakni istri Wikramawardana.
Untunglah Kusumawardani menyikapi dengan cara yang bijaksana, ia tetap sekali-sekali datang ke Lasem namun hanya sebagai anjangsana sedang penguasa sehari-hari tetap Sang Halemu.
Percikan demi percikan seringkali timbul namun sang permaisuri selalu mampu berperan sebagai air yang menyiram api sebelum menyala.
Bisa jadi itulah yang membuat sang Putra Mahkota Rajakusuma selalu prihatin dan meninggal di usia yang masih muda (1399).
Wafatnya Putra Mahkota membuat keprihatinan yang mendalam seluruh isi istana terutama Prabu Wikramawardana sendiri.
Ia kemudian memutuskan untuk beristirahat panjang sebagai raja dan menyerahkan sepenuhnya urusan negara pada sang istri.
Namun semua hidup dan mati seseorang hanya Tuhan yang menentukan. Belum genap dua tahun beliau memimpin, ternyata putri Hayamwuruk itupun pergi menyusul sang putra tercinta (1400).
Sang kunci perdamaian itu telah pergi, permaisuri sejati, pemomong guru laki, maka kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi semua yang menyayanginya.
Tak terkecuali Bre Wirabumi yang merasa amat sedih ditinggalkan saudara seayah yang disayanginya. Tak ada lagi yang bisa mengendalikan cara raja memimpin negeri ini, pikirnya.
Alkisah, Prabu Wikramawardana yang semula bertapa kini kembali berkuasa. Menjalankan kembali roda pemerintahan. Namun kedatangannya justru mencipta mala petaka.
Belum lama ia duduk lagi di singgasana, iapun telah mengangkat penguasa baru untuk kerajaan Lasem. Kini ada Bre Lasem lagi yang baru ialah menantunya, istri Bre Tumapel.
Kebijakan raja inilah yang kemudian memicu kembali kobaran api. Jika sebelumnya selalu sang Kusumawardani yang mampu menjadi juru penengah, menjadi pemomong bagi suaminya.
Maka kini tidak ada lagi sang pemomong itu, hilang sudah sang kunci perdamaian. Terciptalah ledakan api yang membumbung tinggi, menggulung habis sendi-sendi keluhuran yang dirintis para pendiri kerajaan.
Dan "dheeer....!"
Majapahit hangus terbakar oleh perang saudara yang terkenal dengan sebutan: PERANG PAREGREK (1404-1406).
Ibarat sapu lidi yang kekuatannya berada di tali pengikatnya, kini tali itu telah terputus oleh tangan-tangan penguasa yang hanya mampu memimpin dengan kepicikannya.***
Demikian semoga bermanfaat.
Tasikmadu, april 2020.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

BAGUS
BalasHapus