Kisah ini bernuansa sejarah Tuban, yaitu setelah Adipati Arya Teja lengser keprabon (1449), beliau digantikan oleh putranya, yaitu Tumenggung Wilatikta (ayahanda Sunan Kalijaga).
Waktu itu Tuban adalah kadipaten yang memiliki wibawa besar meski kehidupan rakyatnya konon kurang sejahtera. Kemarau yang panjang seringkali melanda, sawah dan ladang jarang menghasilkan, ditambah dengan keharusan untuk mengirimkan upeti kepada penguasa Majapahit.
Adipati Wilatikta memang tetap setia kepada negeri timur meskipun beliau sudah memeluk agama Islam.
Bahkan berbagai pendapat mengatakan bahwa Adipati ini bersikap mendua dan kurang memihak rakyat kecil.
Mentari pagi mulai mengembangkan senyumnya ketika puluhan burung camar bernyanyi riang di sepanjang pantai utara Tuban.
Nampak sekelompok nelayan masih bermalas-malasan, berkemul sarung, menggerombol dengan wajah kuyu dan rambut awut-awutan.
Angin terasa bertiup perlahan menggoyang dedaunan pohon siwalan yang banyak bertebaran di atas pasir.
Seperti biasanya, pantai utara jawa benar-benar nampak anggun dan berwibawa. Ombaknya yang jarang sekali bergerak liar, mengalir seirama dengan hembusan angin, menyapa dengan ramah siapapun yang mau datang berkunjung kepadanya.
Damai dan damai, sedamai hati seorang wanita berjilbab bernama Siti Syari'ah, atau dikenal pula dengan nama Nyai Ageng Manyuro.
Seorang muslimah berdarah Cempa dan Jawa, yang tidak no adalah putri Sunan Ampel atau saudara perempuan Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Meskipun beliau adalah wanita utama, namun tetap rela menghabiskan hari-harinya untuk puluhan santri yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri.
Mereka tinggal di sebuah bangunan sederhana di sela-sela pohon kelapa dan siwalan, bercanda dengan ombak dan angin serta bercengkrama dengan karang dan pasir.
Konon Siti Syari'ah adalah istri Ki Ageng Manyuro, salah seorang senopati Kerajaan Demak Bintoro.
Panglima perang yang cukup diandalkan di Keraton Demak, yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk pengembangan Agama Islam di Jawa.
Meskipun Nyai Ageng Manyuro termasuk keluarga pejabat Demak, namun panggilan jiwanya membuat beliau senang tinggal di asrama Manyuran, nama asrama yang sengaja dipilih demi kesetiaannya kepada suami tercinta.
Meskipun begitu acap kali pula Nyai Ageng menyusul ke Demak yaitu saat sang suami tidak dalam tugas perang, mengingat Kerajaan Demak masih dalam tahap perjuangan.
Di antara sekian banyak siswa Nyai Ageng, tersebutlah seorang santri muslimah bernama Kembang Arum.
Santri ini sangat disayang oleh Nyai guru, di samping karena keuletannya dalam menimba ilmu juga karena dia memiliki bakat yang tinggi dalam memimpin teman-temannya.
Namun sudah beberapa hari ini kegelisahan dirasakan oleh Kembang Arum. Satu persoalan telah mengganggu ketenangannya sehingga membuat gadis ini selalu susah tidur.
Semua itu disebabkan oleh pendirian kakaknya, Sri Aji, yang merasa memiliki hak waris atas kekuasaan Manyuran.
Kedua saudara ini adalah putra-putri mendiang penguasa dusun ini, yaitu Ki Sumbu Karang yang juga seorang mandor pelabuhan Kambang Putih pada saat Adipati Arya Dikara memerintah.
Sri Aji merasa terganggu dengan kehadiran suami istri Manyuro yang semakin lama bertambah banyak pengikutnya.
Bukan saja kaum perempuan yang secara ikhlas berguru di pesantren Nyai Ageng, melainkan banyak pula para lelaki yang merelakan diri untuk menjadi pengawal setia putri Sunan Ampel ini.
Karena itu Sri Aji telah merasa dirampas hak-haknya. Putra Ki Sumbu Karang ini merasa diperlakukan tidak adil, dan untuk itu dia harus berjuang guna merebut kembali kekuasaan ayahnya.
Sikap pemuda ini mendapat dukungan gurunya pula, Ki Jala Sabrang. Bahkan orang tua itu bersedia turun tangan dengan cara mengundang bantuan para pendekar, termasuk kaki tangannya yang sering berkeliaran di antara kapal-kapal di pelabuhan.
Sementara itu Kembang Arum sebagai saudara muda Sri Aji sikapnya berbeda, dia lebih memilih menuruti pesan ayahnya, mengabdikan diri menjadi seorang muslimah.
Gadis ini teringat apa yang diinginkan sang ayah, yaitu agar kakaknya kelak bisa menjadi prajurit Kasultanan Demak.
Dan hal itu sangat mungkin tercapai kalau kakang Sri Aji mau menjadi pengikut setia Ki Ageng Manyuro. Bukankah Ki Ageng adalah pejabat Demak Bintoro ?
Aku harus segera bertemu dengan Kakang Sri Aji untuk mengingatkan pesan ayah, pikirnya.
Begitulah, dengan seijin Nyai Ageng iapun segera mengambil kuda. Meskipun tidak terlampau jauh, tapi karena jalannya berkelak-kelok akan lebih cepat jika ia tidak berjalan kaki.
Sejak awal memang Ki Sumbu Karang rajin melatih putra-putrinya. Bukan saja ketrampilan mengendarai kuda, melainkan dalam permainan pedangpun merupakan hal yang secara rutin diperkenalkan pada anak-anaknya.
Ki Sumbu Karang memang pemimpin yang bertanggung jawab, bahkan konon pada waktu muda dia adalah orang kepercayaan Adipati Tuban yang ke-6, yakni Raden Arya Dikara.
Ketika Adipati Arya Dikara masuk Islam (karena pengaruh dari menantunya Raden Arya Teja) maka Ki Sumbu juga mengikuti jejak junjungannya, yaitu sebagai muslim.
Begitulah Kembang Arum mengingat apa yang pernah diceritakan Paman Karta pengawal setia ayahnya.
"Andaikan saja ayah masih hidup pasti kakang Sri Aji tidak akan berbuat seperti ini. Ayah pasti akan membimbingnya untuk mengabdi kepada Ki Ageng Manyuro," pikir gadis itu sambil mengendarai kudanya.
Kembang Arum memang sengaja tidak memacu kudanya terlampau cepat karena ia ingin menikmati pemandangan pantai utara yang terkenal indah.
Ombaknya yang merayap pelan diselingi dengan semilir angin yang meniupi dedaunan pohon bogor (siwalan) yang banyak tumbuh di daerah ini.
Juga hamparan pasir putih yang memanjang di sepanjang pantai laksana permadani alam yang tiada tara indahnya. Diam-diam Kembang Arum tersenyum bangga menyaksikan hadiah dari Sang Pencipta ini.
"Berhenti !" Tiba-tiba teriakan keras mengagetkan gadis itu "he, ternyata kau seorang wanita".
Beberapa lelaki yang masih berusia muda membuyarkan lamunannya, mereka nampak berdiri beberapa langkah di depan kuda gadis itu.
Sebagian dari mereka duduk bersender di pohon bogor yang banyak tumbuh di kanan kiri jalan sambil menikmati air legen yang masih segar.
"Hai, siapakah kau ini nduk ?"
Kembang Arum tidak menjawab. Tetapi ia mendengar seorang yang lain berkata.
"Lihatlah, perempuan ini membawa pedang di lambungnya."
Pemuda yang berdiri paling depan, yang berwajah menakutkan tertawa. "Ya, memang Ia membawa pedang di lambung seperti ayam betina yang bertaji satu di kakinya."
Dada Kembang Arum berdebar-debar. Sikap para pemuda yang tidak dikenalnya itu terasa memuakkan.
Meskipun begitu dengan sekuat hati ia tahan gelora dadanya, supaya tidak menimbulkan hal yang justru akan menutup kemungkinan untuk bertemu kakaknya.
Lebih dari itu, iapun tidak mau menyalakan api dalam genangan minyak seperti yang terjadi saat ini di tlatah Manyuran.
"Kakak, apakah aku diperbolehkan lewat?" Gadis itu bertanya dengan sopan.
"He," pemuda yang berkumis dan berjambang itu mengerutkan keningnya, "Tentu, tentu boleh. Tetapi siapa namamu adik?"
"Kembang Arum."
"Kembang Arum? Namamu begitu manisnya. Aku tidak menyangka bahwa di tanah pesisir yang gersang dan panas ini ada wajah semanis wajahmu."
Kembang Arum menahan hatinya sehingga keringat telah membasahi sebagian pakaiannya. Hampir saja ia mengatakan dirinya sebagai puteri Ki Sumbu Karang yang dulu menguasai pesisir Karang Kepoh ini.
Tetapi maksud itu dia urungkan, dikatupkannya saja mulutnya rapat-rapat.
"He, Kembang Arum, siapakah yang sedang kamu cari? Apa kau mencari aku atau salah seorang di antara kami?" berkata pemuda yang ada di paling depan itu dan disambut suara tertawa teman-temannya.
Kembang Arum tidak menjawab bahkan semakin lama ia menjadi semakin malas untuk menjawab pertanyaan orang-orang itu.
"Turunlah," berkata pemuda itu lagi, "tidak baik berbicara dengan orang yang lebih tua dari atas kuda."
Kembang Arum menjadi ragu, pemuda itu benar juga. Mungkin sikap mereka yang menyakitkan itu karena sikapku yang kurang sopan.
Apakah sebaiknya aku turun dan minta maaf supaya segera aku diijinkan lewat? Tetapi Kembang Arum masih juga ragu-ragu.
"Turunlah," pemuda di paling depan itu melangkah maju lagi sehingga bulu tengkuk Kembang Arum bergidik.
"Hai adik, aku hanya mau menjawab pertanyaanmu kalau kau turun dari atas punggung kuda. Apakah orang tuamu tidak pernah mengajarimu?"
Suara pemuda itu nampak bersungguh-sungguh membuat Kembang Arum semakin ragu. Sekali lagi dipandanginya wajah pemuda itu, keningnya berkerut dan alisnya terangkat hampir bertemu matanya.
Akhirnya diputuskannya untuk memenuhi permintaan orang itu, turun dari kudanya.
Dengan sedikit mengangguk ia berkata:
"Maaf kakak, aku kurang sopan. Aku sangat tergesa-gesa, sehingga aku telah melupakan adat kesopanan. Kini aku telah turun, apakah aku boleh lewat?"
Ternyata pemuda itu menjadi agak tegang. Tiba-tiba tanpa disangka pemuda itu membungkukkan badannya dan tangannya meraih sesuatu dari atas tanah.
Tanpa diduga pula orang itu melempar batu ke arah kuda Kembang Arum. Akibatnya kuda itu terkejut, meringkik dan melonjak.
Karena Kembang Arum tidak menduga sama sekali maka tali kendalinya pun terlepas. Kuda itu meloncat dan berlari kencang sekali.
Para pemuda lain yang berdiri di belakang berloncatan menepi, menghindarkan diri dari sergapan kuda Kembang Arum.
Sekejap Kembang Arum berdiri terpaku. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain berdiri tegak di tempatnya.
Anak itu baru sadar ketika kemudian terdengar suara tertawa riuh. Suara para pemuda yang ada di depannya. Selangkah Kembang Arum mundur, ditatapnya wajah orang-orang yang sedang tertawa itu.
Gadis itu pun menggeretakkan giginya. Sekarang ia merasa tertipu oleh sikap orang itu. Apalagi kini orang-orang yang lain pun tertawa pula.
"Kau hebat kakang," terdengar salah seorang berteriak. "Nampaknya kau akan berhasil memetik bunga dari tanah pesisir ini."
Perkataan itu terasa menusuk perasaan Kembang Arum, sangat sekali. Hampir saja ia menjerit.
MMMMMMMMM
Namun ia segera ingat nasehat Nyai Ageng yang diangkat dari salah satu ayat :
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (Al- 'Imraan: 200).
Teringat ajaran Nyai Ageng itu, tiba-tiba disadarinya bahwa ia membawa sebuah pedang di lambungnya. Ia kini bukan seorang gadis kecil yang berlari-lari melihat seekor tikus di hadapannya.
"Nah, begitulah adik," berkata pemuda yang berwajah seram itu, "begitulah berbicara dengan orang yang lebih tua. Kau harus bersikap hormat dan jangan melawan. Bukankah kau dengar kawanku menyebutmu bagaikan sekuntum bunga ?"
Dada Kembang Arum berdentangan mendengar kalimat itu. Dengan tegang ia berdiri tegak di atas kedua kakinya.
Para pemuda itu kini benar-benar nampak liar. Sedang Kembang Arum merasa belum pernah menghadapi orang-orang seperti itu.
Demikian mudahnya ia dapat dikelabuhi sehingga kudanya terlepas. Apalagi kini ia menghadapi sikap yang paling menyakitkan dari laki-laki yang kasar dan liar itu.
"Mengapa diam saja Kembang Arum?" terdengar suara salah satu pemuda itu.
Kembang Arum sama sekali tidak menjawab, yang terdengar adalah gemeretak giginya beradu.
"Apakah kau marah, manis?"
Mmmmmmmm
Namun ia segera ingat nasehat Nyai Ageng yang diangkat dari salah satu ayat :
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (Al- 'Imraan: 200).
Teringat ajaran Nyai Ageng itu, tiba-tiba disadarinya bahwa ia membawa sebuah pedang di lambungnya. Ia kini bukan seorang gadis kecil yang berlari-lari melihat seekor tikus di hadapannya.
"Nah, begitulah adik," berkata pemuda yang berwajah seram itu, "begitulah berbicara dengan orang yang lebih tua. Kau harus bersikap hormat dan jangan melawan. Bukankah kau dengar kawanku menyebutmu bagaikan sekuntum bunga?"
Dada Kembang Arum berdentangan mendengar kalimat itu. Dengan tegang ia berdiri tegak di atas kedua kakinya.
Para pemuda itu kini benar-benar nampak liar. Sedang Kembang Arum merasa belum pernah menghadapi orang-orang seperti itu.
Demikian mudahnya ia dapat dikelabuhi sehingga kudanya terlepas. Apalagi kini ia menghadapi sikap yang paling menyakitkan dari laki-laki yang kasar dan liar itu.
"Mengapa diam saja Kembang Arum?" terdengar suara salah satu pemuda itu.
Kembang Arum sama sekali tidak menjawab, yang terdengar adalah gemeretak giginya beradu.
"Apakah kau marah, manis?"
Masih tetap diam. Tidak ada jawaban.
"Jangan kau sesali kudamu yang lepas itu. Aku akan menggantinya kuda yang jauh lebih baik. Tidak hanya seekor, tetapi berapapun yang kau inginkan. Setidaknya kami setiap orang dapat menggantikan seekor."
Orang itu kemudian berpaling ke belakang sambil bertanya, "Benarkan teman-teman?"
Terdengar gelak tawa meledak di antara para pemuda itu. Salah seorang menyahut, "Aku akan memberinya dua atau tiga ekor."
Dan yang lain lagi bersuara, "Aku empat ekor."
Sedang yang berada di sisi lain yang lebih gemuk, "Aku malah berapapun yang dimintanya."
Pemuda yang ada di paling depan menatap tajam pemuda itu, tetapi kemudian ia pun tertawa pula.
Katanya, "Nah kau dengar. Semua bersedia memberikan berapa saja yang kau minta."
Orang itu berpaling dan berkata lagi kepada kawan-kawannya.
"Sikap yang sangat memuakkan," gumam Kembang Arum di dalam hatinya.
Tetapi mulutnya masih terkatup rapat-rapat dan giginya masih bergemeretak.
"Nah, bagaimana sekarang?" bertanya pemuda itu. "Kini letakkan saja pedangmu. Tidak pantas seorang perempuan membawa pedang. Bagiku kau akan lebih cantik apabila memakai pakaian yang biasa layaknya seorang perempuan."
Kembang Arum sama sekali tidak menyahut.
"Jangan hanya diam," berkata pemuda itu pula, "jawablah walau sepatah kata, apa tujuanmu sebenarnya. Kau harus tahu bahwa kami bukan orang Manyuran. kami adalah para priyayi pelabuhan Kambang Putih yang datang ke sini karena diperlukan. Maka Manyuran harus memberikan sambutan yang sebaik-baiknya kepada kami."
Kembang Arum masih tetap mematung. Ia benar-benar sudah muak. Kini kedua tangannya telah bersilang, yang kanan memegang hulu pedangnya.
"He," pemuda yang berdiri di paling depan berseru, "apakah kau akan melawan?"
Kembang Arum tidak menjawab. Tetapi sorot matanya memancarkan kemarahan yang memuncak. Pemuda yang berjambang itu tertawa.
"Jangan nakal adik, jangan bermain-main dengan senjata. Lihatlah kami juga bersenjata. Pedangmu terlampau kecil untuk melawan golok-golok kami yang jauh lebih besar. Jangan bermain-main dengan kami."
Kembang Arum tetap tidak menjawab, hanya darahnya yang terasa kian mendidih.
"Lepaskanlah pedang itu," berkata pemuda itu.
"Cepat, buanglah senjata yang tidak akan berarti apa-pa."
Kini gadis itu telah sampai pada batas kesabarannya. Ia bertekad melawan orang-orang itu.
Ia belum tahu seberapa jauh kemampuan mereka, tetapi ia tetap harus melawan, membela dirinya agar tidak mengalami perlakuan yang lebih jelek daripada mati.
Karena itu saat pemuda yang berkumis dan berjambang itu maju lagi selangkah sambil tertawa-tawa, Kembang Arum juga melangkah surut.
Dalam sekejab tangan kanannya telah menggenggam pedangnya. Langkah pemuda itu terhenti. Tampak dia menjadi heran.
Meski begitu sejenak iapun tertawa lagi. Bahkan lebih keras, dibarengi tertawa pemuda lain di belakangnya.
"Ah, jangan nakal, adik," berkata pemuda yang berkumis dan berjambang itu. "Apa kau kira pedangmu itu akan berguna?"
Kembang Arum semakin bersiap.
"Letakkan pedangmu wahai adikku," suara pemuda itu semakin menjengkelkan. "Aku tak menyangka bahwa di tanah yang keras dan di sekitar deru ombak ini dapat berkembang bunga yang sangat pemberani."
Terasa kini seluruh tubuh gadis itu menjadi dingin dan keningnyapun basah oleh keringat. Tangan Kembang Arum menjadi gemetar. Ujung pedangnya pun semakin menunduk.
"Bagus," desis pemuda itu sambil tersenyum,
"letakkanlah. Letakkan di situ."
Namun ketika ujung pedang itu menyentuh tanah, tiba-tiba serasa ada yang menggelora di dalam dadanya.
Ia merasa mendapatkan tenaga yang luar biasa dari tanah di mana ia dilahirkan. Serentak hatinya bergolak dahsyat.
"Tidak!" tiba-tiba gadis itu membentak. Tanpa disangka oleh laki-laki itu, maka ujung pedang Kembang Arum terangkat kembali.
Bahkan kini terjulur lurus ke depan. Terdengar ia kemudian berkata, "Jangan kurangajar. Aku akan menumpas kalian."
Pemuda yang ada di paling depan itu mengerutkan keningnya. Kini anak-anak muda itu tidak tertawa lagi.
Dilihatnya mata Kembang Arum memancarkan sinar yang teramat tajam menusuk dada mereka.
Mereka merasa heran, gadis ini nampak bersungguh-sungguh. Dan Kembang Arum memang bersungguh-sungguh. Ia tidak mau bergurau dengan orang-orang gila.
He struggles to get efficient zone entries as a result of his lack of high-finish 우리카지노 skating capability
BalasHapus