Rusmannulis
Rabu, 09 Januari 2019
SURODIRO JAYANINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI
Oleh: RUS RUSMAN
Adalah Raden Ngabehi Ranggawarsita ( 1802-1873), seorang pujangga besar pada masa Kasunanan Surakarta.
Beliau menyusun "Serat Witaradya." yang salah satunya memuat pupuh kinanti (semacam tembang).
Dalam pupuh itulah ada dua deret kalimat yang seperti tak pernah sepi menjadi paugeran (pedoman hidup) masyarakat kita.
Tidak lain bunyinya: Surodiro Jayaningrat lebur dening Pangastuti. Artinya: keberanian, kekuatan, keberhasilan dan kedudukan itu jika dijalankan dengan sewenang-wenang, maka ia akan segera hancur oleh do'a dan kesabaran.
Ada kisah yang melengkapi isi pupuh kinanti itu, salah satunya kisah peperangan Prabu Salya dengan Sri Puntodewa.
Di sini penulis telah mengembangkan cerita tersebut menjadi begini:
Satu lagi kisah yang menginspirasi kita dalam panggung kehidupan manusia yang penuh fenomena.
Kali ini yang ingin saya tampilkan adalah epos pewayangan dalam kisah Mahabarata.
Saat itu hari ke-18 yang juga hari terakhir dalam perang Bharatayuda. Para Kurawa tinggal beberapa orang saja yang masih hidup.
Hampir semua para senopati andalan "ludhes khewes" gugur dalam perang dunia ke-4 (versi wayang Ki Narta Sabda).
Namun justru di hari-hari terakhir ini sang penasehat agung Pandhawa yang tak ada lain adalah Sri Kresna berkali-kali menarik nafas panjang.
Sinyal-sinyal kewisnuannya seperti membisikkan tentang beratnya perjuangan para satriya utama Pandhawa.
Buru-buru lelaki pilihan ini segera mencari tempat yang agak teduh dan dengan naluri linuwihnya Sri Kresna memejamkan mata terhubung dengan Sang Pencipta.
Ternyata benar, Kurawa telah menabuh genderang perang lagi.
Kali ini mereka mengangkat seorang senopati baru yang maha sakti, ialah Prabu Salya, raja Mandaraka yang tak lain adalah mertua Sang Duryudana sendiri.
Sebagaimana diketahui bahwa Salya muda yang saat itu bernama Raden Narasoma telah mewarisi aji candrabirawa dari mertuanya mendiang begawan Bagaspati.
Begitulah, waktu itu mataharipun sudah agak condong ke barat.
Di padang kurusetra sang Arjuna dan Wrekudara sudah hampir berputus asa, melayani daya kesaktian Aji Candrabirawa yang digelar oleh sang Salyapati.
Sudah hampir seratus kali rasanya buta-buta bajang itu jatuh terkapar, namun sesaat itu juga justru jumlah mereka semakin berlipat.
Maka setangguh apapun kedua satriya itu dalam berperang akhirnya tenaganya kian susut pula.
Dalam keadaan seperti itu, Prabu Kresna yang sidiq ing paningal segera membisikkan mantra gaibnya ke alam kewisnuannya.
Seketika jleg ...! Tanpa membutuhkan waktu lama Sarira Wisnu tiba-tiba saja hadir di hadapan Prabu Yudistira.
"He, titah ulun ngger Puntadewa. Cobalah lihat susahnya kedua adikmu menghadapi keangkaramurkaan itu."
Yudistira yang saat itu berdiri menyaksikan mengarahkan pandangannya ke arah yang dituju Kresna.
Kaget bukan main sang Yudistira, menyaksikan Arjuna dan Wrekudara yang sedang dikerubung seribu Candrabirawa.
Ada yang merangkul kakinya, ada yang merakut pundaknya, bertengger di kepala, bahkan darah dua adiknya itu sudah mulai mengalir karena garutan cakar dan gigitan para buta bajang.
"He, titah ulun ngger Puntadewa. Jangan hanya diam seperti anak kecil, kehadiran ulun di depanmu harus kau jawab sebagaimana darmanya seorang ksatriya sejati."
Laksana sebuah dentuman keras, kata-kata Kresna yang sedang sedang nyarira Wisnu itu laksana lonceng yang berdentang dalam sanubari raja Amarta itu.
Maka seperti tak perlu berpikir lagi Yudistira pun mengarahkan laju keretanya untuk menggantikan peran adik-adiknya.
Raja Amarta yang berdarah putih, perilakunya lembut tak pernah marah, tak mau perang kalau tak dipaksa Kresna (Wisnu).
Dalam pada itu, Prabu Salya yang sedang mengerahkan aji Candrabirawa masih berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Birawa, birawa, birawaa..!" bibirnya yang sudah mulai keriput itu tak henti-hentinya membisikkan rapal birawa.
Sekarang kemenangannya atas para Pandhawa seperti tinggal menunggu waktu.
Sementara tak jauh darinya ia menyaksikan anak-anak bajangnya itu masih bergerak liar. Mengobrak-abrik daya pertahanan Arjuna dan Bima.
Namun tak seberapa lama datanglah sebuah Kereta Kencana Kerajaan Amarta.
Seorang lelaki nampak turun dari pintu kereta yang tak lain adalah Sang Yudistira.
Bukan main kagetnya Prabu Salya, seketika terbayang dalam benaknya dua satriya kembar anak si Madrim yang tidak lain adalah keponakan yang sangat dikasihinya.
Tergoyang oleh susana batin itu maka tangannya yang sedang bersilang itu bergetar hebat.
Dan orang tua itupun hanya bisa berdiri tanpa mampu mengendalikan anak-anak bajang di depannya.
Di pihak lain, Arjuna dan Bima yang menyaksikan kehadiran kakaknya Puntodewa atau Yudistira segera tanggap ing sasmita.
Seperti sama-sama sepakat keduanya segera bergerak meloncat ke belakang. Kini yang tinggal hanyalah Prabu Yudistira.
Polah tingkah para buta bajang yang liarnya melebihi singa itu kontan terhadang oleh figur yang hanya berdiri di depan mereka, hanya diam tanpa ekspresi permusuhan dan amarah.
Terkejut bukan main anak-anak bajang itu, seperti berhadapan dengan orang yang selama ini mereka rindukan, ialah bapak Bagaspati.
Maka gerakan dan tingkah laku liar Candrabirawa bagaikan luluh dan justru menyusut jumlah mereka kembali menjadi satu.
Sifat liar dan keperkasaannya tersedot oleh darah putih sang Yudistira, dan akhirnya buta bajang yang tinggal satu itupun merangkul tubuh sang Yudistira.
"Aku elok kowe hapaak !" Tangisnya dan tiba-tiba anak bajang itupun hilang dari pandangan mata.
Menyaksikan drama kehidupan yang ada di depannya itu, akhirnya tubuh Prabu Salya pun jatuh terjerembak.
Tak ada siapapun yang menyerangnya sebab Puntodewa dari awal sudah bertekad untuk tidak melemparkan pusakanya ke arah sang paman.
Ternyata hanya karena hembusan bau keringat Yudistira yang di matanya saat itu adalah mertua yang dulu dia binasakan.
Maka pemuda Narasoma yang kini sudah berusia lanjut itu mati atas penyesalanya sendiri.
Begitulah, sekali lagi:;"Surodiro jayaningrat, lebur dening pangastuti". Semoga bermanfaat.. !
Tasikmadu, 090119.
Keterangan:
Penulis adalah praktisi pendidikan dan pemerhati masalah budaya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar