-

Rusmannulis

Sabtu, 12 Januari 2019

SEMAR MEJANG KHAYANGAN


Oleh: RUS RUSMAN.

Dalam dunia wayang makna Memayu Hayuning Bawana terlihat jelas pada lakon "Semar Mejang Khayangan."

Saat itu Semar atau Sang Jiwa Minulya melalui instink gaibnya merasakan bahwa dunia akan mengalami kerusakan akibat polah tingkah sebagian manusia.

Namun alangkah myasgulnya hati Semar saat ia tahu di khayangan Suralaya pun keadaan tidak jauh berbeda.

"Para Dewa yang seharusnya menjadi panutan para titah, jebul keadaannya seperti ini."

Tegur Semar kepada Bethara Guru.
"Maafkan aku kakang Ismaya," suara Bethara Guru.

"Kamu tidak sepantasnya minta ma'af kepadaku. Mintalah restu dan ma'af kepada Rama Pukulun, " tegur Semar setengah marah,"tapi begini ya Guru, sepanjang anak-anakmu kamu biarkan bertindak sewenang-wenang di khayangan ataupun di tengah manusia, maka keadaan ini tidak akan berubah baik.Apa yang diamanahkan Rama Pukulun tidak akan bisa kau capai."

"Ya kakang, aku hanya bisa pasrah kepadamu kakang."

"Aku dan Kakange Sarawita sudah rela melepas kamulyan di sini, kaulah yang mewakili kami, tumplek bleg kau terima semua dari kanjeng Rama pukulun. Eee.. jebul kelakuanmu sendiri seperti ini."

"Ya kakang Ismaya, aku terima salah. Terus laku apa baiknya kakang."

"Oo Guruu, Guru..! Sudah sana, undang semua anakmu saat ini juga. Inti kedewaan mereka harus disegarkan kembali melalui kuncung janggan yang diamanahkan Rama Pukukun ini."

"Baik kakang."
Begitulah Semar pada hari itu juga madeg suraningdriya jumeneng sebagai guru besar di antara para dewa.

Eling-eling Semar sejatinya adalah Bethara Ismaya atau Sang Hyang Wungku yang menghuni alam Sunyaruri ribuan tahun lamanya, maka para dewa muda itu bagaikan terhipnotis oleh magnet kedewataan Semar.

Tak ada yang berani memandang cahaya yang memancar dari tubuh sang Jiwa Minulya Semar saat sukma Jatiwisesa-nya sedang manjing.

Semarlah satu-satunya dewa yang menegang amanah mustika manik astagina yang murni, terdiri dari delapan daya kegaiban yang kemudian terikat sebagai kandungan kuncung janggan di kepalanya.

Ialah:
1. Ora bakal kaluwen (tak akan lapar)
2. Ora bakal keturon (tak pernah tidur)
3. Ora bakal kesusahan (tak pernah bersedih)
4. Ora bakal nista (tak pernah bertindak jelek)
5. Ora bakal gerah (tak pernah sakit)
6. Ora bakal kepanasan
7. Ora bakal kadhemen (tak akan kedinginan)
8. Ora bakal kayungyung (tan akan jatuh cinta).

"He.. Brahma, Bayu, ... lan jeneng kita kabeh para putra wayah kadewatan, kabeh budi candhala, rasa iri dengki jahil methakil yang manjing dalam jiwa raga kalian akan lumpuh dengan sendirinya apabila kalian mampu mempertemukan tiga kekuatan inti kehidupan, ialah sumbering panembah, sumbering kapribaden, dan sumbering bebrayan (pusat keimanan, pusat kepribadian dan pusat kebersamaan).

Sumbering panembah tidak ada lain kecuali Allah Swt. Tuhan Yang Maha Esa dan itu ada di dalam kitab suci kalian.

Oleh karena itu harus sering-sering kawaos.
Sumbering kapribaden tidak lain adalah inti kekuatanmu sendiri yang berpedoman pada nilai dan norma keutamaan agamamu.

Dan sumbering bebrayan ialah cipta, rasa, karsa yang semua mengkristal dalam sikap dan perilakumu untuk mengamalkan nilai dan norma keagamaanmu itu.

Jika inti kekuatan dapat terkumpul dalam genggaman kalian maka semua keangkaramurkaan dunia akan terkikis dengan sendirinya.

Begitulah Sang Hyang Ismaya bertausiyah dan di akhir ceramahnya Semar sengaja berdiri di atas panggung, memancarkan sinar kegaiban yang berasal dari kekuncungan janggannya.

Maka tak pelak, Bethara Guru dan semua dewa muda yang hadir memandang dengan gemetar dan akhirnya menunduk malu kepada perbuatannya masing-masing.

Singkat cerita khayangan para dewa dan keadaan dunia telah kembali normal setelah Semar turun tangan.

Matahari, bulan dan seluruh isi alam semesta kembali berada pada jalur dan garis peredarannya masing-masing.

Dan kehidupan manusiapun telah terproses sesuai dengan fitrah dan kapasitas kemanusiaannya.

Semua kesadaran yang tercipta akan membuat hidup atau urip menjadi urup (menyala) dan ada karunia.

Urip sing urup itu pada haekatnya adalah lelaku atau memayu.

Memayu berarti membangun jiwa dan raga. Kita diminta untuk mampu mengendalikan nafsu aluamah (kerakusan) dan nafsu amarah.

Sebaliknya banyak memelihara nafsu supiyah (keindahan) dan  nafsu mutmainah (kebajikan).

Itulah laku yang akan membimbing langkah manusia menuju hidup barokah sejahteda dunia dan akhirat.

Amiiin YRA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar