-

Rusmannulis

Rabu, 16 Januari 2019

SIKAP ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA

Oleh: RUS RUSMAN.

Satu lagi pitutur jawa yang amat populer di tengah masyarakat kita adalah agar kita menghindari sifat: "Adigang Adigung Adiguna."

Hampir semua orang jawa pernah mendengar pitutur tersebut, mungkin dari ayah ibu atau kakek nenek, saudara atau teman maupun sahabat-sahabat kita.

Istilah adigang adigung adiguna merupakan istilah yang pertama kali dituliskan oleh Sri Pakubuwana IV (1788-1820) melalui karya beliau Serat Wulangreh.

Tercantum khususnya pada Pupuh ke-3 (Sekar Gambuh) bait 4-10.

Serat Wulangreh yang dikarang raja Surakarta ini sekarang tersimpan di Museum Radya Pustaka di Surakarta.

Isinya terdiri dari 13 pupuh, antara lain: Dhandhanggula, Kinanthi, Gambuh, Pangkur, Maskumambang, Megatruh, Durma, Wirangrong, Pucung, Mijil, Asmarandana, Sinom, dan Girisa.

Setiap pupuh isinya berupa tuntunan yang perlu dilaksanakan oleh semua manusia agar hidupnya selamat serta tidak terjerumus ke hak-hal yang bersifat nista.

Jadi isinya sesuai benar dengan judul bukunya, yaitu "Wulangreh" yang artinya ajaran atau pitutur menuju jalan keutamaan.

Pada pupuh ke-3 bait ke 4 itu digambarkan tentang apa yang dimaksud adigang adigung adiguna itu. "Pan adigang kidang adigung pan esthi Adiguna ula iku Telu pisan mati sampyoh."

Kalau diterjemahkan menjadi begini: Adiguna adigang adigung; Kijang adalah adigang dan gajah adalah adigung; Adiguna adalah ular; Ketiganya mati bersama (sampyuh).

1. Sifat Adigang

Kata adigang berasal dari kata "adi" yang artinya sesuatu yang lebih. Sedangkan "gang" mengandung arti kuat.

Jadi istilah adigang diartikan sebagai "kekuatan yang berlebihan" (sok kuat), yang oleh sang raja digambarkan seperti sifat hewan "kijang".

Penggunaan hewan kijang sebagai gambaran sifat "adigang" ini memang menimbulkan pertanyaan.

Secara harfiah kata adigang itu adalah kekuatan yang tinggi. Di sini tentu lebih mengabdalkan kekuatan otot atau fisik.

Kalau begitu mengapa Sri Pakubuwana tidak menggunakan singa atau harimau atau banteng misalnya?

Mengapa harus kijang, yang dalam kesehariannya justru menjadi incaran para predator hutan?

Menurut penulis di sinilah justru letak kelebihan beliau dalam menjangkau perkiraan masa depan. Istilahnya "sidik ing paningal," pikirannya menjangkau jauh ke masa depan.

Coba lihat sekarang, setelah dua abad kemudian kekuatan otot justru hanya menjadi orang suruhan.

Mereka yang terbukti kuat di jaman melinium ini adalah mereka yang mampu membuat jaringan sosial, yang lincah merakit komunikasi dengan para kolega, ibarat kijang yang melompat ke sana kemari menunjukkan superiornya sebagai orang profesional di bidangnya.

Para anak bangsa tentu wajib bangga dengan kepiawaian beliau sebagai seorang futurolog sejati.

Tidak kalah dengan para pendekar futurolog masa kini seperti Alfin Toffler yang menggegerkan dunia dengan karyanya "Future Shock" (1970) atau John Naisbitt melalui ide gilanya "Megatrends" (1982).

Masih tentang si kijang yang dalam Serat Wulangreh disebut memiliki sifat adigang (sok kuat).

Pada bait kelima dijelaskan "Si kidang ambegipun Angandelaken kebat linumpatipun."

Artinya: watak seperti si Kijang adalah mengandalkan kecepatannya melompat.

"Ambeg adigang iku Ngandelaken ing kasuranipun. Para tantang candhala anyanayampahi Tinemenan nora pecus Satemah dadi guguyon."

Artinya: sifat adigang itu mengandalkan kesaktiannya. Setiap orang ditantang ternyata tidak berhasil sehingga menjadi bahan tertawaan."

2. Sifat Adigung

Terdiri dua kata ialah "adi" dan "agung". Agung artinya kuasa atau kekuasaan atau kedudukan.

Jadi secara harfiah kata adigung berarti berkuasa secara berlebihan (Sok kuasa).

Dalam Wulangreh sifat adigung ini digambarkan seperti sifat hewan "gajah".

Dijelaskan pada bait ke-6 sebagai berikut: "Pan gajah ngandelaken geng ainginggil." (Sedangkan Gajah mengandalkan tubuhnya yang tinggi besar).

Lantas dikengkapi nasehat kepada sang putra raja: "Suteng nata iya sapa ingkang wani. Iku ambege wong digung. Ing wusanane dadi asor.

(Jangan mengandalkan bahwa kamu itu anak raja. Siapa yang berani. Itu adalah sifat Adigung yang merendahkan martabat).

Sebagai akibat perilaku gajah yang sok kuasa tadi digambarkan: "Pan si gajah alena patinereki", artinya: akibatnya si gajah mati akibat perbuatannya sendiri.

3. Sifat Adiguna

Adiguna terdiri dari kata adi dan "guna". Guna digambarkan sebagai hal yang penting atau bisa pula pintar.

Jadi istilah "adiguna" diartikan sebagai sikap merasa paling pintar, paling diperlukan atau paling dibutuhkan (sok pintar atau sok penting).

Wulangreh menjelaskan sifat ini dimiliki oleh hewan "ular". Ular yang selalu menari-nari saat berjalan dan menyerang dengan racunnya kepada siapapun yang dia anggap mengancam.

Wulangreh membahas hal ini pada bait ke 7 dan 8 yang masing-masing menjelaskan sifat adiguna sebagai sikap yang membangga-banggakan kepintarannya, atau sering menyinggung peranannya yang penting dalam suatu persoalan.

Sifat yang pongah dengan kedudukannya yang sangat penting, seolah-olah tidak ada orang lain yang berperan pula.

Tetapi Ternyata kemudian terbukti apa yang ia banggakan itu tidak sesuai. Ia gagal akhirnya hanya menjadi bahan tertawaan.

Adapun bait ke 9 dan 10 berisi pesan supaya orang hidup tidak perlu berperilaku seperti tiga sifat itu.

"Ing wong urip puniku Aja nganggo anggep kang tetelu anganggoa rereh ririh ngati-ati. Den kawangwang barang laku Den waskitha solahing wong."

(Orang hidup itu tidak petlu memakai watak tiga tersebut. Gunakanlah kesabaran, kehalusan serta kehati-hatian dalam semua perbuatan. Waspadalah dengan perilaku manusia).

Bait ke-10: "Dene katelu iku si kidang suka ing patinipun, Pan si gajah alena patinereki, Si ula ing patinipun Ngandelaken upase mandos."

(Akibat ketiga hal itu, Si kijang mati karena selalu bersenang-senang; Si gajah mati karena dia lengah; dan si ular mati karena selalu mengandalkan racunnya yang manjur).

Kita hendaknya tetap selalu "rereh ririh", dalam kradaan ngati-ati dan waspada.

Jangan seperti kijang, gajah dan ular yang akhirnya mati karena lengah dan akibat ulah mereka sendiri.

Demikian semoga bermanfaat.***

Keterangan:
Penulis adalah praktisi pendidikan dan pemerhati budaya, tinggal di Tasikmadu Tuban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar