Oleh: RUS RUSMAN.
Kehidupan masyarakat Indonesia memang penuh dengan pitutur (nasehat) yang diwariskan secara turun temurun dari para pendahulunya.
Pitutur itu umumnya dalam bentuk kalimat atau ujaran yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai luhur, yaitu nilai yang merupakan kristalisasi dari pengalaman-pengalaman nyata para leluhur.
Berbeda dengan jaman "now" yang umumnya cara sosialisasinya menggunakan media massa atau media sosial, untuk pitutur-pitutur ini para orang tua kita hanya menggunakan cara informal, seperti keluarga, lingkungan tetangga, atau lewat media cultural.
Media cultural yang dimaksud misalnya pentas wayang, kethoprak, ludruk, dsb.
Salah satu butir kalimat yang sering menjadi pedoman bagi kehidupan penduduk negeri ini khususnya wong Jawa adalah:
"Sawang Sinawang" (Saling Mau Mengerti).
Pemahaman kita tentang makna sawang sinawang ini umumnya sama, ialah bahwa orang hidup itu tak semudah yang dilihat orang, tak seindah pandangan orang lain.
Apa yang kita saksikan dari luar seolah-olah "kehidupan si dia itu kok selalu mulus ya, seperti tak pernah menemukan kendala apapun,".
Ternyata belum tentu seperti itu. Jadi kehidupan setiap orang itu bersifat relatif, tergantung dari bagaimana cara memandang kita, cara memaknai kita dan cara menyimpulkan kita.
Mereka yang hidupnya terlihat indah dan nyaman, siapa tahu sesungguhnya tidak seperti itu.
Ada kemungkinan kesulitan dan beban orang tersebut tidak kita ketahui. Bahkan bisa juga mungkin justru lebih berat daripada beban kita.
Coba saja pandang dengan seksama pemandangan alam yang berupa pegunungan nun jauh di sana.
Bukankah permukaannya nampak lurus tiada cacat?
Tapi ketika suatu saat kita ke sana, ternyata tanah permukaannya penuh dengan lobang dan jurang yang terjal.
Nah, lihat pula air laut di tengah-tengah sana, nampaknya begitu tenang dengan panoramanya yang kebiru-biruan.
Tapi ketika kita mendayung perahu ke tengah-tengah sana ternyata gulungan ombak bisa mendebarkan jantung pula. Nah, betul kan?
Lantas hikmah apa yang mesti diambil dari ajaran para orang tua kita itu
Salah satu maknanya adalah bahwa kita tidak boleh iri terhadap nikmat dan karunia yang diamanahkan Allah SWT kepada saudara-saudara kita itu.
Tidak boleh dengki tentang anugerah yang diterima oleh tetangga, sahabat maupun handai taulan kita.
Allah SWT maha adil, karunia yang dia terima pasti merupakan buah dari perjuangan yang tidak mudah.
Tentu banyak yang harus dia lalui sebelum akhirnya memetik hasil panennya
kitapun juga harus mengambil nilai positifnya, bahwa kitapun harus berjuang dengan keras melalui cara yang benar agar dapat memperoleh karunia dari Allah SWT.
Nah, itulah falsafah "Sawang Sinawang" yang maknanya adalah saling mau mengerti.
Semoga bermanfaat.***
Keterangan:
Penulis adalah pemerhati budaya, tinggal di Tasikmadu Tuban.
Dikehidupan sawang sinawang perlu,karena dengan sawang sinawang kita dapat bercermin drngan kehidupan orang lain.
BalasHapusSemoga sukses dan dapat terusberkreasi di dunia pendidikan.
Inna Feriani SDN PANYURAN II
Matur nuwun Mbak Inna. Begitu pula penjenengan, sukses selalu.
BalasHapus