Oleh: Drs. RUSMAN, M.Pd.
"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa" (Al Furqon : 74).
ISTRI DAN ANAK adalah penyejuk hati bagi suami, sebaliknya ayah atau suami merupakan pengayom sejati bagi keluarga. Itu semua merupakan keluarga idaman "sakinah-mawardah-warohmah" bagi semua orang.
Tentu suasana yang damai dan tentram dalam keluarga hanya bisa tercipta apabila atmosfir keluarga diliputi oleh cakrawala iman dan taqwa kepada Allah SWT.
Keluarga adalah kebun bunga bagi anak-anak kita. Tempat mereka tumbuh dan berkembang layaknya bunga mawar dan melati yang segar dan indah.
Selaras dengan itu Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk mewujudkan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin) pikiran (intelek) dan jasmani anak, menuju ke arah kedewasaan dalam arti kesempurnaan hidup.
Kesempurnaan hidup mengandung arti yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang selaras dengan alamnya dan masyarakatnya.
Kedewasaan akan tercapai pada akhir windu ketiga, yaitu tercapainya kesempurnaan hidup selaras dengan alam anak dan masyarakat.
Jadi dapat diartikan bahwa pendidikan terutama berlangsung sejak anak lahir hingga anak berusia sekityar 24 tahun. Namun selanjutnya orang akan berkembang sesuai dengan kompetensinya di masyarakat.
MENURUT KI HAJAR rasa cinta, rasa bersatu serta perasaan yang lainnya serta keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsumngnya pendidikan, teristimewa pendidikan budi pekerti.
Pendidikan budi pekerti terdapat dalam kehiduipan keluarga dengan rasa cinta sehingga tidak dapat digantikan oleh pusat-pusat pendidikan lannya.
Dalam kehidupan keluarga penuh dengan sifat gotong royong, serta rasa kekeluargaan. Juga keluarga merupakan peletak dasar utama bagi pendidikan keagamaan.
Di dalam keluarga anak pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan 0rang lain, belajar bekerja sama, bantu membantu.
Di sinilah berarti dia sudah belajar untuk menjadi makhluk sosial. Pengalaman dalam berinteraksi di lingkungan keluiarga turut membantu cara-cara untuk bertingakh laku nyata dalam masyarakat kelak.
Apabila interaksi sosial anak dalam keluarga kurang baik, maka kemungkinan besar interaksi anak dalam masyarakat pada umumnya juga kurang baik.
Jadi di samping fungsinya dalam peranan umum, keluarga juga merupakan kerangka sosial yang pertama, tempat manusia belajar mengembangkan diri sebagai makhluk sosial.
Nah, dengan kesadaran akan pentingnya peranan keluarga itu maka setiap orang tua dan guru harus berusaha membangun suasana yang damai dan menyejukkan bagi anak-anak mereka.
Ingatlah Allah SWT telah mengingatkan pada kita:
"Innamā amwālukum wa aulādukum fitnah, wallāhu 'indahū ajrun 'aẓīm"
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar" (Attaghobun : 15).
Karenanya atas peringatan sang Kholiq itu, kita semua harus selalu berhati-hati. ***
Demikian semoga bermanfaat.
Penulis adalah Pengawas sekolah di Kabupaten Tuban.
Tasikmadu-Palang-Tuban.


Silahkan teman2 aktivis yang mau memberi komentar terhadap tulisan tersebut. 👍
BalasHapusMangga berkomentar !
BalasHapus