OLEH :
Drs. RUSMAN, M.Pd
Bagi kehidupan manusia, keluarga manakah
yang tidak ingin memiliki anak? Anak
adalah harapan terindah yang sekaligus juga merupakan amanah (titipan) dari
Tuhan kepada setiap orang tua. Karena itu sungguh berdosa jika sebuah keluarga
sampai tega membuat kehidupan anaknya menjadi menderita. Orang tua hendaknya
memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh
menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani, dan barakhlaqul karimah
serta memiliki daya kecerdasan yang tinggi.
Ingatlah bahwa anak dapat membuat hati
kedua orang tuanya berbahagia, yaitu apabila anak tersebut berbakti kepada
mereka, serta taat dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinannya. Namun
di lain sisi anak juga dapat membuat kedua orang tuanya menderita jika anak
tersebut tidak berbakti kepadanya, tidak taat beribadah, ataupun malah terlibat
dalam kenakalan yang berurusan dengan hukum, Na'udzubillahimindzalik. Dengan
gambaran di atas maka jika sebuah keluarga sudah dikaruniai anak maka tidak ada
pilihan lain baginya kecuali harus mengarahkan anaknya agar memiliki
kepribadian yang baik.
Apa yang dimaksud dengan kepribadian? Kepribadian
atau “personality” berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “proposon” yang
berarti topeng (masker) yang biasa digunakan oleh bangsa Yunani kuno untuk
bermain sandiwara. Atau berasal dari bahasa Romawi: “personae” yang berarti
pemain drama (sandiwara). Topeng tersebut sering dipakai pemain-pemain panggung
untuk menggambarkan perangai, watak atau pribadi seseorang.
Misalnya untuk menggambarkan seseorang
yang angkara murka, serakah dan lain sebagainya, maka lalu dipakai topeng yang
bergambar raksasa. Sedangkan untuk menggamabrkan seseorang yang berbudi luhur,
ditopengkan dengan ksatria. Begitu seterusnya.
Mengapa harus topeng ? Hal ini tidak lepas dari perangai
manusia yang dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu menampakkan dirinya apa
adanya. Akan tetapi lebih cenderung suka menutupi kelemahan dan menampakkan kebaikannya.
Hal ini dimaksudkan agar kehadirannya di tengah-tengah masyarakat dapat
diterima dengan tanpa noda. Demikianlah maka manusia dikatakan selalu
menggunakan tutup muka guna menyembunyikan kekurangannya.
Kembali pada keterkaitan dengan anak tadi, bahwa tugas orang
tua menjadikan anaknya untuk memiliki kepribadian yang baik, jujur dan memiliki
perangai serta perilaku yang terpuji. Kalo berupa topeng ya berarti topeng
seorang ksatria utama, bukan topeng raksasa yang memiliki wajah seram dan
menakurkan. Tentu saja hal itu melalui proses yang lama, membutuhkan kesabaran
serta keteladanan dari orang tua sendiri.
Dua hal yang harus dipahami oleh orang tua yaitu :
1.
Pada umumnya orang tua tidak menyadari bahwa situasi
dan kondisi dalam keluarga tidak lepas dari perhatian anak-anak mereka.
2.
Kondisi kejiwaan anak yang masih rentan terhadap
gangguan dari luar dirinya akan cepat bereaksi terhadap kondisi yang kurang
dalam keluarganya. Bagi anak yang emosional maka setiap kondisi yang ada di
lingkungan keluarganya akan dia tanggapi dengan caranya sendiri. Tidak menutup
kemungkinan akan dapat mempengaruhi aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya jika tingkat
ekonomi orang tua kurang, maka anak cenderung bersikap minder tehadap
teman-temannya, merasa rendah diri yang tentunya dapat mengganggu kegiatan dan
keberhasilan belajarnya. Meskipun itu tidak mutlak, anak yang berasal dari
keluarga lemah ekonomi sering juga jauh lebih rajin belajar dan berprestasi. Hal ini tentunya juga sangat
dibutuhkan peran orang tua dalam menyikapi keadaan tersebut.
Sebaliknya apabila
keluarga sudah dalam kondisi yang cukup secara ekonomi, itupun juga tetap harus
pandai-pandai menyikapi. Sebab keadaan ekonomi keluarga yang cukup/mewah,
sering kali mengakibatkan kemunduran belajar, dan kedewasaan yang terlambat.
Hal ini dikarenakan umumnya anak sering dimanja, semua kebutuhannya selalu
terpenuhi. Akibatnya anak akan menjadi malas belajar, nakal dan lain
sebagainya. Meskipun itu juga tidak mutlak, keadaan sosial budaya yang tinggi
juga dapat menciptakan kondisi yang menunjang kegiatan belajar anak di sekolah.
PERILAKU
ANAK
Selama ini banyak orang
mempertanyakan tentang hubungan antara budi pekerti dengan moralitas.
Sebenarnya budi pekerti jika diterjemahkan dari pengertian moralitas mengandung
beberapa pengertian, antara lain adat istiadat, sopan santun dan perilaku. Budi
pekerti berkaitan dengan sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa serta alam sekitar. “Oleh
sebab itu pengertian budi pekerti yang paling hakiki adalah perilaku. Sebagai
perilaku maka budi pekerti meliputi sikap yang dicerminkan oleh perilaku” (Edi
Sedyawati, 2002).
Jadi secara konkrit dapat
ditegaskan bahwa perilaku adalah bentuk konkrit dari budi pekerti. Oleh karena
budi perkerti merupakan salah satu unsur dalam kejiwaan manusia, maka pada
hakekatnya perilaku mencerminkan kondisi psikologis seseorang. Sedangkan salah
satu wujud dari perilaku anak (orang) yang dipandang sesuai dengan nilai serta
norma yang berlaku di masyarakat adalah kesusilaan.
Mengenai kesusilaan ini
Ngalim Purwanto (1997) menjelaskan sebagai berikut: Kesusilaan bukan berarti
hanya bertingkah laku sopan santun, bertindak lemah lembut, taat dan berbakti
pada orang tua saja, melainkan lebih luas lagi. Selalu bertindak jujur,
konsekwen, bertanggung jawab, cinta bangsa dan sesama manusia, mengabdi kepada
rakyat dan negara, berkemauan keras, dan berperasaan halus”.
Erat dengan kaitannya
dengan masalah perilaku anak adalah misalnya pergaulan antar teman. Banyak
faktor yang dapat mempengaruhi apakah seorang anak diterima atau disingkirkan
dari pergaulan antar teman. Hubungan harmonis antar teman atau sebaliknya
hubungan yang tidak harmonis antar teman, dapat pula membawa dampak psikososial
di masa remaja dan dewasanya kelak. Jadi antara persoalan psikologis dan
persoalan sosial dalam arti pergaulan antar teman di masa anak-anak ini saling
terkait.
Untuk dapat mengerti
dengan baik tentang sikap dan perilaku diperlukan pemahaman keterkaitan antara
sikap dan perilaku dengan budi pekerti dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa serta alam sekitar. Pernah diadakan
pengkajian serta rekonseptualisasi terhadap nilai-nilai tersebut, namun kiranya
untuk dapat merumuskan secara eksplisit unsur-unsur yang terkandung agaknya
terasa sulit.
Jadi intinya adalah bahwa untuk mengatasi kondisi mental anak
akibat berbagai kekurangan keluarga jelas diperlukan kreativitas orang tua.
Sebab dengan kreativitas maka pengaruh negatif akan semaksimal mungkin dapat
teratasi. Yang dimaksud sikap kreatif di sini adalah sikap di mana orang tua
tidak mudah berputus asa, tidak mudah menyerah dengan keadaan, selalu berusaha
menutupi kekurangan dengan cara berbuat sesuatu yang terbaik, dan cara-cara
lain yang tergolong kreatif.
Dalam masalah ini Dedi
Supriadi (1996) mengemukakan pendapat sebagai berikut :
“Dalam perspektif sosial
budaya, kreativitas dipengaruhi oleh faktyor-faktor ekonomi, sosial, politik
dan sejarah. Iklim kehidupan sosial budaya favourable memungkinkan kreativitas tumbuh subur.
Sebaliknya iklim sosial budaya yang mengekang dan kurang menjamin rasa aman
mengakibatkan kreativitas terhambat”.
Memang
jujur saja, sebenarnya iklim dalam sosio budaya kita sangat tidak menjamin
tumbuhnya kreativitas. Budaya yang mudah menyerah, mengalah, tidak gigih, malu,
sungkan, dan sebagainya. Tidak mengherankan jika sering para pemuda kita ketinggalan
dengan kemajuan pemuda dari bangsa-bangsa lain. Agaknya pengaruh penjajahan
yang terlalu lama menyebabkan generasi tua kita selalu menaruh curiga tehadap
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita berharap seiring dengan
perkembangan zaman serta regenerasi sekarang ini sinisme itu berubah menjadi
“wellcome”. Semoga ! ***
Keterangan:
Penulis adalah Pengawas Sekolah di Kabupaten Tuban
Tidak ada komentar:
Posting Komentar