-

Rusmannulis

Minggu, 16 Mei 2021

MENOLAK KISAH PENYEBAB GUGURNYA SULTAN TRENGGONO

Oleh: Rus Rusman



REMBULAN masih memancarkan sinarnya, ayam jantanpun sudah berkokok dua kali, pertanda sang fajar telah siap menanti.  Dari kejauhan lamat-lamat masih terdengar suara emban Sentika menyenandungkan gambuh piweling. 


Suaranya mendayu-dayu, terkadang terdengar agak jelas namun sekejap kemudian seperti tertiup angin dan hilang ditelan redupnya malam.


"KANG sumembah sungkem ipun ...

Mring Hyang Sukma ...

Elinga sireku ...

Apan titah sadaya ... 


Amung sadermi ...

Tan welangsira andhaku ...

Kabeh kagungan Hyang Manon ..."


"Sujudku dan sungkemku ...

Hanyalah kepada Tuhan semata ...

Ingatlah istriku ...

Bahwa manusia ini ...

Sekedar menerima dan menjalankan ...

Hanya itu pesanku ...

Kita semua hanya milik Sang Pencipta."


Di tengah suasana sunyi itulah tiba-tiba terdengar isak tangis dari dalam bilik Kedaton. Seorang perempuan telah cukup lama menumpahkan kesedihannya. Wajahnya tertelungkup di pinggir pembaringan. Sebentar-sebentar tangannya mengusap air mata yang mengucur membasahi wajah dan sebagian rambutnya.


Siapakah wanita itu? Dia adalah Kanjeng Ratu Pembayun, permaisuri Demak Bintoro yang juga putri sunan Kalijaga. Seorang wanodya  trahing waliyullah linuwih yang sudah pasti seorang istri yang Solehah. Namun saat ini perempuan separuh baya itu sedang menerima ujian dari Allah SWT., ialah dengan wafatnya sang guru laki.


Malam itu suasana haru dan sedih  menyelimuti hati semua orang. Demak Bintoro kehilangan raja kinasih menyusul wafatnya Sultan Trenggono yang terluka saat berjuang dalam peperangan di Panarukan (1546 M).


Jika runtuhnya Majapahit cinandra melalui Sandyakalaning Majapahit dan Sirna Ilang Kertaning Bumi, maka redupnya Kasultanan Demak tergambarkan sebagai murcaning awewadag sang Alam Akbar III (Gelar raja Demak).

Sebagaimana diuraikan MC Ricklesfs dalam buku A Historis Of Modern Indonesia Since 1200 (2001) bahwa Kerajaan Demak berdiri menjelang abad ke-15 atau 1475-1518. Didirikan oleh Raden Patah putra Brawijaya (Ari Welianto, kompas.com Selasa, 17 Desember 2019).

Adalah kerajaan Islam pertama dan terbesar di tanah Jawa, yang tidak lain adalah hasil Karya nyata para Walisongo, yakni orang-orang pilihan Gusti Allah yang dihadiahkan untuk umat-Nya di Nuswantara.


Meskipun sejarah mencatat keruntuhan Demak Bintoro terjadi di tahun 1549 M, yaitu ditandai dengan berdirinya Kerajaan Pajang, namun sesungguhnya suramnya langit itu sudah terasa sejak wafatnya Sultan Trenggono. 


Memang benar setelah itu Demak masih berkibar bersama Sultan Prawoto sebagai penggantinya, tetapi ibarat seekor burung ia sudah kehilangan sayapnya. Demak bagaikan kereta yang kehilangan roda, berjalan terseok dan tinggal menunggu kapan runtuhnya.


Tulisan ini sengaja hanya menyisir sejarah Demak pada bagian akhir, yaitu sekitar wafatnya Sultan Trenggono yang bagi penulis masih meninggalkan pertanyaan besar.


KISAH YANG DIRAGUKAN


SEBAGAIMANA diuraikan dalam berbagai sumber bahwa Sultan Trenggono gugur di medan perang saat mengepung Panarukan (Situbondo) yang saat itu dikuasai Blambangan. 


Namun bukan gugur saat mengangkat senjata di tengah palagan, melainkan karena kemarahan pelayan kecilnya yang nekat menghujamkan pisau   saat sultan sedang memimpin rapat.


H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud dalam bukunya "Kerajaan Islam Pertama di Jawa (2001: 89)", mengisahkan bahwa Sultan Trenggana meninggal karena ditusuk anak umur 10 tahun. Hal yang sama juga tertuang dalam manuskrip karya Gusti Raden Ayu Brotodiningrat, yang berjudul “Kerajaan Demak”.  


Tak ketinggalan pula Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Arus Balik, menceritakan hal serupa, meskipun dengan variasi yang berbeda.


Terus terang ada beberapa kejanggalan yang menggelantung dalam pikiran penulis  dalam menanggapi kisah-kisah di atas.


Pertama, bagaimana mungkin seorang pelayan raja (anak kecil pula) diperkenankan hadir dalam pertemuan penting untuk bisa menyusun strategi perang?


Kedua, anggaplah benar ia berada di dalam ruangan itu, seberani itukah pelayan raja hanya dimarahi karena lupa menyediakan sirih lantas membalas dengan tusukan pisau, bukankah raja saat itu juga dikerumuni para senopati pilihan?


Ketiga, andaikan benar ada pisau yang meluncur ke tubuh sang sultan, semudah itukah sarira Sultan menjadi sasaran empuk bagi tusukan pisau tangan kecil seorang bocah?


Bukankah Sultan Trenggono konon memiliki ajian Lembu Sekilan, dan ajian Macan Putih dari Sunan Kalijaga yang pasti tingkatannya tidak kalah dengan menantunya Mas Karebet.


Diceritakan Mas Karebet yang waktu itu sudah menjadi Sultan Pajang (1550 M), pada suatu malam di tengah tidurnya telah diserang dengan keris oleh utusan Arya Penangsang yang sudah pasti orang pilihan. Tapi berkat aji lembu sekilan sultan muda itu selamat dan justru memberi hadiah kepada orang tersebut.


Sultan Trenggono sudah pasti adalah juga orang yang sakti, ia adalah mertua Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya, ia juga menantu Sunan Kalijaga, dan seorang raja besar yang berhasil menaklukkan banyak kadipaten.


Tercatat di antaranya raja Demak ini mampu merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran, menghalau tentara *Portugis* yang akan mendarat di tanah sunda (1527), menakhlukkan Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan  Malang (1545). 


Pada saat pemerintahanyalah armada laut Demak sangat perkasa di Selat Sunda dan Laut Jawa. Karena itulah untuk menuju ke Maluku, Portugis lebih memilih menyusuri Pantai utara Kalimantan dan Sulawesi Utara (R. Moh. Ali, 1963).


Rasanya menjadi *risih naluri batin* kita mendengar seorang ratu binatara tewas hanya karena sebuah pisau si bocah kecil. Bukankah sering digambarkan kesaktian raja-raja Jawa sebagai insan linuwih, ibarat *tinatah mendat jinara menter,* Ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindro.


Maka kisah tentang gugurnya Sultan Trenggono itu adalah sebuah pelecehan besar bagi kedaulatan dan  martabat ilmu *kanuragan Jawa.*


Mengapa kita mau terbelenggu oleh cerita yang tidak masuk akal itu. Terus terang sebagai pecinta sejarah bangsa, saya (penulis) ingin *memberontak* terhadap cerita murahan ini.


Lagi pula kenapa orang sekelas Pramudya Ananta Tour dan H.J De Graf yang dikenal sebagai Sejarahwan Profesional ikut-ikutan terperosok oleh kisah lucu dan aneh seperti itu? Mungkinkah karena beliau tidak ada pilihan lain kecuali harus menelan pil pahit dari satu-satunya sumber yang bisa dipercaya?


Inilah sebenarnya kelemahan fatal bangsa kita atau para leluhur di zaman dulu. Pada masa itu menulis adalah pekerjaan besar yang hanya bisa dilakukan oleh seorang pujangga. Jangankan menulis untuk membacapun hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang.


Namun sekarang, setelah zaman melompat berabad-abad ke depan, nyatanya tak jauh berbeda pula. Memang sekarang hampir semua orang sudah pasti *melek baca dan tulis,* tapi untuk menemukan orang yang sebenar-benarnya membaca rasanya masih sangat jarang. Apalagi menulis yang  sungguh-sungguh menulis. 


Padahal menulis ibarat melukiskan pikiran dan bekerja dalam keabadian. Orang boleh saja pandai setinggi apapun, tapi kalau tidak menulis ia akan mudah ditelan zaman. Pekerjaan menulis tak ubahnya dengan menggapai umur yang jauh melebihi usia fisik kita. 


KISAH YANG TENDENSIUS


Kembali pada Sultan Trenggono, untuk bisa mengungkap misteri wafatnya beliau, pekerjaan pertama yang harus kita lakukan adalah mengungkap *siapakah sumber pertama* dari cerita yang ngaya wara itu.


Berita kematian Sultan Trenggono pertama kali ditemukan dalam buku catatan seorang warga negara Portugis  *Fernandez Mendez Pinto.*


Orang Portugis itu datang bersama 40 temannya dan ikut ke Panarukan bersama rombongan 7.000 tentara Cirebon yang dikirim oleh Sunan Gunung Jati. Pasukan dipimpin oleh Faletehan atau menantunya. Inilah sebenarnya *ketedoran pertama* yang telah dilakukan oleh pasukan Demak.   


Mengijinkan orang asing (apalagi Portugis) dalam jumlah tidak sedikit untuk suatu tugas negara adalah sebuah kesalahan besar. Meskipun Fernandez Pinto telah diyakini sebagai pengamat perang namun kewaspadaan mestinya tidak boleh berkurang.

Lalu siapakah teman-temannya yang berjumlah 40 orang itu?


Apakah tidak mungkin sebagian  dari mereka adalah *telik sandi* Portugis yang sengaja menyamar sebagai pengamat? Hal itu sangat mungkin mengingat Portugis saat itu berambisi sekali untuk menguasai Nuswantara.


Segala daya upaya tentu dilakukan mereka, apalagi Demak sendiri tak henti-hentinya

menjadi penghalang utama bagi keinginan negeri penjajah. Sejak di zaman Raden Patah Demak telah membuyarkan perundingan Portugis dengan Prabu Girindrawardana dari Majapahit (1478 M).


Begitu pula pada zaman Sultan kedua, yakni Adipati Yunus, Demak bahkan berani menyerang Portugis di  Malaka. *J.C. Van Leur* mengisahkan: 


"Pati Unus, a Moslem who

from Jepara had made an *unsuccessful* attack on Portuguese 

Malaka in 1513 " (J.C. Van Leur, I dalam Djojomardojo, Muljono, dkk., 1982/1983).


Sekali lagi rombongan Fernandez Pinto sangat mungkin adalah pasukan yang disusupkan. Mereka bertugas mengobrak-abrik strategi perang pasukan Demak Bintoro dan kalaupun mungkin menghabisi pelaku utama. Mengapa tidak?


Maka jangan heran kalau Demak selalu gagal dalam penyerangan. Sudah tiga bulan Panarukan berhasil dikepung  namun musuh tetap berhasil bertahan dan bergerilya.


Kontan hal itu sangat membuat pusing Sultan Trenggono. Musuh seperti selalu bisa membaca rencana-rencana perangnya. Bahkan sultan seperti tidak menyadari tentang berkeliarannya orang-orang tak dikenal di dalam pasukannya.


Menurut analisa penulis bukan tidak mungkin orang-orang berkulit putih itu dibekali senjata-senjata khusus. Atau bahan-bahan untuk membuat senjata rakitan.


Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi terhadap diri Sultan Trenggono. Ia sengaja ditembak oleh seorang sniper saat berperang di medan laga. Atau ada bom rakitan yang  sengaja dipasang di perkemahannya.


Kalau dihubungkan dengan jenis luka yang disebut dalam kisah Fernandez Pinto (ditusuk pisau) maka kemungkinan terbesar lebih mengarah pada cara penembakan. 


Dan setelah pekerjaan yang berbahaya itu sudah sukses dilaksanakan, maka giliran tugas Fernadoz Pinto untuk menyusun laporan yang menggelikan.


Tujuannya adalah untuk mengaburkan suasana sekaligus bersih-bersih seolah-olah tentara Portugis tidak tahu menahu tentang persoalan itu.


Sebenarnya jurus *dis-opinion making* itu bukan saja dilakukan Fernandez Pinto saja, namun sebelumnya penulis Portugis lainnya, *Tomi Peres* pada sekitar tahun 1515 M telah juga mempunyai penilaian negatif terhadap Sultan Trenggono. 


Orang ini yang sedang mengumpulkan data untuk bukunya "Summa oriental" berpendapat bahwa Sultan Trenggono terlalu terlena dengan kenikmatan keputren, ia bergaya mewah dan berfoya-foya serta banyak mengabaikan urusan kenegaraan.


Kesimpulan ini jelas terlalu tendensius, terutama jika kita kaitkan dengan kesuksesan Raja Demak ke-3 ini memperluas wilayahnya. Demak menjadi semakin berkibar saat Sultan Trenggono ini memimpin.


Wallahu a'lam.


Demikian semoga bermanfaat.


Tasikmadu,   Mei 2021.

AUTO BIOGRAFI PENULIS



Rusmantuban atau Rus Rusman bernama lengkap: Drs. Rusman, M.Pd. 

Adalah penulis yang tinggal di Kabupaten Tuban Propinsi Jawa Timur. 

Nama aslinya adalah Rusman, lahir di Kecamatan JATIROGO Tuban pada bulan Desember tahun 1961. 

Setelah lulus dari SDN Wotsogo II Jatirogo, berlanjut ke SMPN I di kota yang sama. Menempuh bangku SPG Negeri di Tuban dan lulus tahun 1980. 

Berlanjut pula ke jenjang Sarjana Muda IKIP PGRI Tuban lulus tahun 1985, Sarjana Kurikulun Dan Teknologi Pendidikan (1988), dan Magister pendidikan (2005). 

Dari segi karier: 

Pada Desember 1981 diangkat sebagai Guru SDN Besowo, lalu SDN Ngepon (1983), SDN Paseyan II (1985), SDN Socorejo Kec. Jenu (1988) dan SDN Patihan Kec. Widang (1990). 

Pada Juli 1994 diangkat sebagai Kepala SDN Simorejo I Kec. Widang, lalu mutasi ke SDN Tegalsari I (2000). 

Pada Nopember 2002 diangkat sebagai Pengawas SD di Kecamatan Senori Tuban, Pengawas SD Kec. Kerek (2003), dan Pengawas SD Kec. Palang (2010). 

InsyaAllah pada bulan Januari 2022 akan memasuki masa pensiun.


PENGALAMAN KERJA 

Pada tahun 1990 Rusman ikut bergabung sebagai Koresponden Harian Karya Darma yang bermarkas di Surabaya.

Penulis lepas di Harian Jawa Pos, membuka Biro Penulisan Skripsi dan sebagai Konsultan Informal Penelitian di bidang pendidikan. 

Rusman juga berkiprah di bidang organisasi, antara lain sebagai Kordinator Pengawas sekolah Kabupaten Tuban (2011-2018).

Sebagai Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Kabupaten Tuban (2008-2017), sebagai Pengurus Pusat APSI (2007-2012). 

Menjadi Tim Penilai Angka Kredit Jabatan Guru Propinsi Jawa Timur (2007-2009), Asesor Akreditasi TK dan SD (2004-2019), Tim Penilai PKKS Kab.Tuban, Lomba Gugus TK dan SD, dan Lomba Budaya Mutu.

Pada tahun 1990 terpilih sebagai Guru Teladan II Kab. Tuban dan tahun 2007 terpilih sebagai Pengawas sekolah berprestasi Kab. Tuban.

Pada awal tahun 2002 menjadi Juara III Nasional dalam lomba menulis desain pembelajaran bermuatan karakter bagi guru SD se Indonesia.

Sekarang aktif dalam kegiatan menulis bidang pendidikan, sejarah dan seni budaya, melalui:

1. Facebook Rus Rusman

2. Blog rusmannulis

3. Youtube Rus Rusman

4. WA: 081335643562

Senin, 14 Desember 2020

DUA ALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Oleh: RUSMAN

“Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun kang katon tinonton kono"

 
(Serat Wredatama, 67, KGPAA Sri Mangkunegara IV).

Artinya:

 
Saat kita dalam kehati-hatian penuh, maka yang nampak adalah diri pribadi seutuhnya.

 
Begitulah raden Wrekudara yang tak lain adalah Bima, pada suatu hari telah diperintahkan oleh sang guru yakni Guru Drona untuk mencari tirta amerta ke dasar samodra. 

Menurut Guru Drona tirta amerta adalah air kehidupan, siapapun yang memperolehnya ia akan memikiki hakekat hidup seutuhnya. 

Setiap manusia memiliki dua alam, ialah mikrokosmos yang tak lain adalah dunia dalam diri pribadi, sedang alam satunya adalah makrokosmos yakni alam semesta dengan segala isinya.

 "Dua-duanya ada di dalam air kesucian itu ngger. Dan di antara semua muridku hanyalah kau Bima yang akan mampu mendapatkannya." Kata Guru Drona. 

 "Baik guru, apapun perintahmu aku akan lakukan." Jawab si murid tanpa bertanya lagi.

 Maka berangkatlah Bima ke dasar samodra. Sebenarnya ini hanyalah suatu siasat yang dibuat Drona atas permintaan kurawa agar Bima mengalami mala petaka. 

Jebakan yang pertama telah dibuat namun tak mampu mencelakakan panengah Pandawa itu. Bima telah ditugaskan Drona untuk mengambil air kesucian di sebuah goa di puncak gunung Candradimuka. 

Namun berkat pengawalan Anoman maka kakak Arjuna itu bisa selamat. Namun kini Guru Drona telah membuat penjerat baru, ialah agar Bima mencari air amerta itu ke dasar lautan. 

Bima adalah lambang kejujuran, dan orang jujur selalu di sisi Tuhan. Maka tanpa prasangka apapun satriya tinggi besar itu segera menuruti perintah gurunya. 

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, namun Bima belum muncul juga. Menangislah hati Drona, yang ada hanyalah penyesalan nengapa dia begitu tega terhadap muridnya yang sangat setia kepadanya itu.

 Pikir punya pikir akhirnya Drona pun bertekad untuk menyusul Bima ke dalam lautan. Tekadnya hanya satu, menolong Bima meskipun harus berkorban nyawa sekalipun. 

Demikianlah ketika dua orang itu sudah sekian lama tak kunjung kembali, maka pendhawa dan kurawa pun membuat kemah di tepi pantai. 

Puntadewa dan adik-adiknya tak senggang sedikitpun selalu berdoa agar Bima dan Drona keduanya dalam keadaan selamat (dan akhirnya dikabulkan). 

Sedangkan Duryudana dan adiknya tak henti-hentinya menangis dan berteriak memanggil nama Drona agar segera kembali. Tetapi ternyata di dasar samodra Bima yang lugu dan jujur itu dilindungi oleh Tuhan.

 Setelah melalui berbagai ujian dan rintangan Bima justru memperoleh kemuliaan. 

Sekali lagi: Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun kang katon tinonton kono" Itulah gambaran yang telah dialami oleh Bima saat berada di dasar samodra.

 Dalam keadaan antara hidup dan mati di mana Bima mengalami berbagai ujian, maka yang ada hanyalah tekad untuk menjalankan perintah sang Guru. 

Maka di antara batas dua alam itu Bima justru menemukan kebenaran sejati. Bima telah menemukan jati dirinya, yaitu sesosok bima dalam bentuk keramat dan kecil.

 Dialah Dewa Ruci yang tidak lain adalah intisari Bima sendiri. Dewa Ruci adalah Bima dalam bentuk kecil (Bima Kunthing). 

Dewa Ruci adalah Bima di pintu kesadaran manusiawi. Dewa Ruci adalah saripati dari Bima sendiri yang muncul dalam kepasarahan total kepada Sang Maha Pencipta. 

Alam Barzakh Sebenarnya alam yang dijalani Bima itu telah diajarkan pula oleh Ibnu Arabi, seorang sufi yang amat terkenal di dunia Islam. 

Beliau menyebutnya sebagai alam imajinal atau alam barzakh (antara). Alam antara dunia dan akhirat, antara materi dan ruhaniah. 

Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Arabi Al-Hasmi atau dikenal dengan nama Ibnu Arabi (1165-1240M) merupakan ulama besar di dunia Islam. 

Beliau menjelaskan pula bahwa sifat alam ini masih merupakan campuran antara materi dan ruhaniah. Meskipun begitu sifat alam ini kedudukannya lebih tinggi dari alam keduniawian. 

 Sementara itu Plato telah menguraikannya pula jauh sebelum manusia tahu akan sejarahnya. Plato adalah seorang filosof Yunani (427- 347 SM), dia berpendapat bahwa semua jiwa manusia pada hakekatnya merindukan kegaiban.

 Dunia inilah yang pada intinya akan dicapai oleh siapapun. Tetapi manusia akan selalu menghadapi hambatannya. Mereka sering salah dalam mengambil jalan, acap gagal dalam mencapai kebaikan.

 Itulah sebabnya baik Plato maupun Ibnu Arabi menasehatkan agar manusia selalu berhati-hati, jangan sampai tergelincir ke bawah sadarnya dan kehilangan keseimbangan jiwani. 

Dalam cerita pewayangan misalnya, hilangnya keseimbangan jiwa itu pernah dialami oleh dua tokoh sakti, ialah Prabu Arjuna Sasrabahu dan Ramabargawa. 

Meskipun konon keduanya sempat dititisi jiwa Wisnu, namun mereka menjadi tergelincir karena keangkuhannya sendiri. 

Prabu Arjuna Sasrabahu yang amat sakti itu menjadi gila karena ditinggal mati oleh permaisurinya karena ulah Rahwana. 

Maka hidup sang raja itu selanjutnya bagaikan layang-layang putus talinya. Sementara Ramabargawa atau Ramaparasu mengalami degradasi mental dan menganggap bahwa hakekat hidupnya adalah justru kematian itu sendiri, sebab baginya kematian adalah kebaktian yang paling sempurna. 

Syahdan, pada suatu hari dalam pengembaraannya Arjuna Sasrabahu yang mantan raja agung Maespati itu tiba-tiba perjalanannya terhalang oleh sesosok tubuh yang kekar, tinggi besar dan hanya memakai cawat seperti manusia purba. 

Meski demikian ternyata dari tubuhnya telah memancar sinar yang cemerlang. Di tengah kekagumannya itulah Arjuna Sasrabahu tanpa sadar berkata : 

"kini aku menemukan Wisnu". 

Sebaliknya si purba Ramabargawa yang juga melihat cahaya terang dari tubuh Arjuna Sasrabahu iapum berkata:

 "Aku telah bertemu dengan siapa yang kucari, ialah kau Wisnu". 

Setelah kedua-duanya saling berpandangan, maka terjadilah dialog: 

"Hai, bukankah engkau Wisnu? Tolonglah aku, binasakan aku," ujar Arjuna Sasrabahu. 

Ramabargawa menjawab: "jangan menggigau, engkaulah yang wisnu. Hayo binasakan aku, lemparkan senjata cakra itu."

 Agaknya kedua sosok itu sama-sama merindukan kematiannya. Karena dua-duanya adalah wisnu yang keadaan samar maka yang bisa membinasakan mereka haruslah wisnu juga. 

Kewisnuan Arjuna Sasrabahu telah redub karena akan sirna, sedang si purba Ramabargowo kewisnuannya baru akan mesanggrah. 

Maka terjadilah pergulatan yang amat seru di antara kedua orang sakti itu. Prabu Arjuna adalah raja yang pernah mengalahlkan Rahwana, bahkan si Dasamuka itu telah dihukumnya dengan cara mencincang tubuhnya dan menyeret dengan kereta kerajaan. 

Sedangkan di pihak lain Ramabargawa telah berhasil membunuh semua ksatria yang dijumpainya karena dendamnya atas perbuatan nista Raden Citrarata kepada ibunya. 

Namun perang tanding antara kedua satriya sakti itu telah membuat raja Maespati Prabu Arjuna Sasrabahu terbunuh.

 Sepeninggal Arjuna Sasrabahu, maka Ramabargowo menerima keutuhan wisnunya. Akhirnya dia memilih untuk menjadi pertapa di tempat yang belum pernah diinjak manusia. 

Tapi bagi pertapa sakti ini roda kehidupan ternyata harus tetap berputar, apalagi sejak seorang lelaki telah menemukan tempatnya. Tidak lain adalah Raden Dewa Brata pangeran Astina yang akhirnya menjadi muridnya pula. 

Dewa Brata ini kelak dikenal pula dengan nama Begawan Bisma, yaitu pewaris asli Kerajaan Gajahoya atau Liman Benawi atau Astina. 

Jadi pelajaran yang dapat kita petik dari uraian di atas adalah bahwa manusia tidak bisa hidup sempurna. 

Agar dapat mencapai kebaikan penuh maka pertama ia harus “tarlen mung pribadinipun” yang artinya sering berintrospeksi, mengaca, atau mengenal diri sendiri. “Man arafa nafsahu arafa rabbahu”. 

Barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya. 

Kedua ia harus pandai pula mengendalikan hawa nafsunya demi kebaikan sesama. Banyak mengekang kemauan dan mengutamakan keikhlasan. 

Jika manusia masih banyak kemauannya maka ia akan menemukan kekecewaannya. 

Jika ia banyak kekecewaannya maka ia akan terbelenggu kedewasaannya, dan jika ia tak mencapai kedewasaannya maka manusia akan dikuasai hawa nafsunya. 

Demikian semoga berguna.*** 

Keterangan: 

Penulis adalah pengawas sekolah senior di Kabupaten Tuban.

Senin, 29 Juni 2020

NASEHAT SULTAN AGUNG DALAM SATRA GENDHING



*Pramila Gending Yen Bubrah. Gugur sembahe mring Widdhi*

*Batal wisesaning salat. Tanpa gawe ulah gending*

*Dene ngaran ulah gending. Tukireng swara linuhung*

*Amuji asmaning Dzat. Swara saking osik wadi*

*Osik mulya wataring cipta surasa.*

*TERJEMAHAN:*

*….Maka gending apabila rusak. Rusak pula peribadahan kepada Tuhan*

*Batal kehidmatan shalat. Tanpa guna melakukan gending*

*Adapun tembang gending itu. Melalui irama yang agung*

*Memuji ASMA DZAT. Irama dari kedalam rahasia*

*Rasa rahasia mengendap dalam sukma.*

(https://salafytobat.wordpress.com/2018/06/29/serat-sastra-gendhing)