-

Rusmannulis

Sabtu, 10 November 2018

PENGAWAS SEKOLAH DALAM LINGKARAN PROBLEMA



SALAH SATU tantangan terberat bagi dunia pendidikan kita adalah pada ranah  literasi. Sebagaimana acap kali digelorakan dalam setiap kesempatan bahwa idealitas kurikulum 2013 antara lain adalah bagaimana mendorong insan pendidikan agar lebih bergairah dalam berliterasi.

Sementara itu inti dari aktivitas literasi adalah "demen baca, demen nulis dan demen memaknainya." Padahal justru di wilayah "3 demen" inilah agaknya bangsa ini telah mempunyai prestasi yang mengagumkan, yakni prestasi"betah duduk tanpa bacaan."

Memang sungguh mengenaskan, apabila kita cermati baru pada taraf awal saja, yakni tahap "demen baca", kita sudah disuguhi tantangan yang sangat berat. Telah hampir 75 th memproklamasikan diri sebagai bangsa yang merdeka, namun ketidaksukaan membaca selalu ditimpakan kepada mantan penjajah. Banyak orang Indonesia kalau ada hal buruk selalu mengatakan, ini akibat terlalu lamanya terkungkung oleh penjajahan.

Yang sungguh mengenaskan lagi adalah saat kita ketahui bahwa guru-guru di Indonesia ternyata juga tergorong insan yang enggan membaca. Hal ini juga tidak terlepas pula di dalamnya, yaitu kalangan para pengawas sekolah yang konon merupakan simbahnya guru.

Tentu saja ini bukan isapan jempol, dari setiap sepuluh link artikel yang sering saya share ke group-group WA maupun jaringan pribadi pengawas sekolah, rata-rata hanya 2 artikel yang tertandai telah dibaca. Umumnya hanya dapat lirikan mata saja. Kondisi itu terlihat pada angka yang muncul di sebelah penanda bacanya.

Lantas bagaimana dengan tahapan yang kedua, yakni "demen nulis", aduh emak, kalau pada tahap input saja sepi aktivitas mana bisa outputnya tumbuh subur. Padahal orang bisa memproduksi kalimat demi kalimat tentu saja harus memiliki bahan yang cukup.

Lantas, harus bagaimana ini? Satu-satunya jalan bagi para pengawas adalah harus merubah mainset (pola pikir). Bagaimana orang-orang super ini akan me-literasi-kan para guru jika dirinya sendiri kebiasaannya hanya sebatas "melirik" judul bacaan saja. Bagi para super intendent ini jelas kegiatan berkarya tulis harus dijadikan sebagai kebutuhan dasar sebagaimana Maslow katakan dalam teori "The Herarchy Of Need" (1989)  bahwa yang paling bisa menggerakkan motivasi manusia adalah fakor kebutuhannya itu sendiri. Semoga

10 komentar:

  1. Itulah realitas yg ada....sy juga miris melihat fenomena ini. Tp sy ttp positif thinking, suatu saat pasti berubah mind seatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siip oke. Mari kita sama2 berpositif thinking..👍

      Hapus
    2. Sepakat sekali budaya literet harus dibangun di kalangan insan pendidikan di negeri ini. Melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan sebenarnya upaya yang dilalukan sehingga insan pendidikan wajib meciptakan mahakarya pengalaman empirisnya dalam setiap kinerja profesi. Saya telah merasakan dengan karya kita akan mendapat keberkahan ketika hasil kinerja saya penulisan buku teks mendapat penghargaan dari Kementrian dibeli pusat perbukuan selanjutnya dicetak untuk memenuhi ketersediaan buku teks di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.

      Hapus
  2. Kalo membaca smua orang bisa digaris bawahi: ya harus sering membaca agar tambah ilmu pengetahuan dsb. Tapi kalo menulis yg konon terkenal menghasilkan sebuah karya tulis ini masih perlu mendptkan perhtian yg lebih. Krn kalo menulis yg berupa buah karya yg diharapkan ... masih bisa dikaikkaitkan dg kesibukan dg bakat dan berbagai macem... fakta jelas

    BalasHapus
  3. Ya itu fakta ... trims pencerahannya...

    BalasHapus
  4. Ini mmg fakta btp sulitnya kebiasaan demen baca kembali dpt kt gerakkan mari bersama2 cr solusinya

    BalasHapus
  5. Senang sekali dan menyambut baik atas komentar serta masukan dari rekan2 sejawat. Terimakasi atas apresiasinya. Kita berharap suatu saat dunia akan berkata lain terhadap kondisi pendidikan kita dan itu bukan mustahil jika kita mengamati progresivitas kader2 kita yang masih muda. Meskipun mereka masih berstatus GTT. Salam !

    BalasHapus
  6. Harus jujur, kemarin baru saja melihat n memperhatikan instruktur saat off menyajikan materi tidak berhenti membaca, sekarang membaca tulisan p Rusman, saya jadi malu. Bismillah....

    BalasHapus
  7. OK,,,,EMANG ITU KEADANNYA,,,,,,
    SOLUSINYA,,,,YA DI ALINEA TRAKHIR ARTIKEL TSB,,,,,
    QT PARA PENGAWAS HARUS MAU DAN 'BRANI' MERUBAH MINDSET,,,,,
    YANG ASALNYA ENGGAN MEMBACA,,,,,MENJADI GEMAR MEMBACA,,,,,
    CARANYA :
    1. Jika perhi ke mall, luangkan waktu ke stan buku, sekedar baca2,
    2. Kita sisihkan rejeki kita untuk beli buku,,,untuk langkah awal tidak harus runtin,,,,,,beli bukunya,,,,
    3. jika beli buku berat,,,,,,kita gunakan medsos untuk nyari bahan bacaan.
    4. ketika membahas sesuatu (diskusi)dengan tmn diusahakan diselipi argumen dr buku yg tlh dibaca
    dan banyak cara yg dilakukan ,,,,tergantung kita,,,,

    BalasHapus