-

Rusmannulis

Sabtu, 20 Oktober 2018

MENGEMBANGKAN PARADIGMA PEMBELAJARAN



Oleh: RUS RUSMAN.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui kementerian terkait. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan / penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran, ketercukupan sarana belajar, dsb.
Pada sisi lain harus disadari pula terutama oleh para guru bahwa mengajar bukan semata persoalan menceritakan, menjelaskan materi ajar kepada siswa. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa, melainkan bahwa belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. 
Penjelasan dan pemeragaan saja tidak akan dapat menghasilkan hasil belajar yang tahan lama. Yang dapat menjadikan hasil belajar dapat dimengerti maknanya dan tahan lama hanyalah kegiatan belajar aktif.
Kalau demikian, apakah yang menjadikan belajar siswa menjadi lebih aktif? Agar belajar menjadi aktif siswa harus belajar secara menyenangkan. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. 
Belajar akif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud)
Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Tidak cukup dengan itu, siswa juga perlu "mengerjakannya", yakni menyelesaikan suatu tugas dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.
Jika demikian harus ada perubahan paradigma pendidikan, khususnya dalam konteks pembelajaran, bahwa mainset guru, siswa maupun tenaga kependidikan yang lain harus terjadi pembaharuan. Terutama guru atau pendidik yang secara langsung beperan sebagai pengelola pembelajaran. 
Guru tidak boleh bertahan dengan pola pikir yang lama, ialah bahwa yang penting melaksanakan tugas mengajar, bahwa mengajar itu sekedar mentransfer pengetahuan ke dalam otak siswa, bahwa metode ajar yang paling pokok adalah ceramah, bahwa gurulah yang harus lebih aktif sedang siswa harus diam mendengarkan penjelasan guru saat diterangkan, dsb.
Telah puluhan tahun pola pikir semacam itu mencengkeram dunia pendidikan kita, membelenggu daya nalar dan pemikiran para siswa kita. Wajar saja kalau kemudian outcomes pendidikan kita selama ini belum maksimal. Masih banyak para lulusan yang cenderung verbalistis atau hanya sekedar mampu menjelaskan namun miskin dalam memaknai persoalan. 
Mereka sekedar mampu mencapai nilai tinggi ulangan, tuntas dalam mengerjakan soal-soal tes tulis dan mungkin terampil berbicara menjawab petanyaan-pertanyaan. Namun ketika dihadapkan pada tuntutan "skill priority" mereka kalah bersaing.
Terutama dalam pembelajaran IPA yang banyak menuntut pendekatan unjuk kerja, percobaan, laboratorium dan semacamnya, maka mau tidak mau guru harus berani merubah pola pembelajarannya dari verbalisme menjadi factualisme. 
Guru tidak boleh lagi bersikap konvensional, terlalu mempertahankan cara kerja tempoe doeloe. Dia harus welcome terhadap paradigma yang bersifat inovatif, harus uptodate, bekerja dengan target-target yang terukur, dan berjuang keras jika target belum terpenuhi pada waktu yang sudah dijadwalkan.
Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang progresif dan komunikatif, artinya IPA itu selalu berkembang ke arah yang lebih sempurna dan penemuan-penemuan yang ada merupakan kelanjutan dari penemuan sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah dalam rangkaian proses menemukan suatu kebernaran ilmiah.
Sedangkan selama ini sesuai dengan pengamatan penulis masih banyak pembelajaran IPA di sekolah-sekolah yang belum menunjukkan dinamika yang diharapkan. Masih banyak guru yang sekedar menerangkan dengan metode ceramah, sementara para siswa hanya sekedar duduk dan mendengarkan penjelasan dari guru.***
Keterangan:
Penulis adalah Pengawas Sekokah di Kabupaten Tuban

6 komentar:

  1. Pembelajaran ini sangat baik dan sangat menyenangkan bagi siswa dan guru khususnya siswa yang aktif dalam belajar sehari hari yang berhubungan dengan K 13 religius nasionalis mandiri gotong royong dan integritas

    BalasHapus
  2. Betul sekali bapak..bahwa paradigma itu sudah tradisi lama..diera sekarang guru harus bisa paham IT. Kreatif, inovatif supaya siswa bisa belajar dengan menyenangkan. Di samping sekarang diberlakukan kurikulum K-I3 yang mana didalam nya sudah banyak konsep konsep pembelajaran yang juga menanamkan karakter anak..

    Dari : Siti Aminah,S.Pd
    SDN Sumurgung Palang

    BalasHapus
  3. Dalam pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh seorang guru adalah rasa aman,nyaman,dan gembira terhadap siswa, karena dengan rasa tersebut maka pembelajaran akan berjalan dengan baik dan menyenangkan, sehingga tercipta suasana nyaman kemudian akan berimbas kepada kejiwaan siswa, akhir siswa dapat menerima pembelajaran dengan senang.

    BalasHapus
  4. Pembelajaran dikelas yg dilakukan oleh guru bukan hanya untuk mengajarkan dan mendidik saja akan tetapi terdapat beberapa aspek dan pengaplikasian dengan konsep rasa cinta pada tanah air, rasa nasionalisme pada anak dan kebiasaan untuk menanamkan karakter baik bagi anak dan mengkonsepkan untuk membiasakan anak untuk selalu meningkatkan sisi kereligiusan pada anak di sekolah. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter itu juga penting untuk meningkatkan pendidikan anak. Dan tidak hanya berpatok pada nilai hasil ulangan harian dalam mendefinisikan indikator anak pintar 😊

    Sari sri asih
    SD MUH 2 Palang
    Fb : sarii srii asiih

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Paradigma sendiri adalah suatu cara pandang orang terhadap diri dan lingkungan yang nantinya akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan di Indonesia sendiri paradigma pendidikan sudah melalui tahap-tahap revolusi, sehingga saat ini adanya kurikulum 2013. Salah satu yang berperan dalam dunia pendidikan adalah guru dan siswa. Dimana pada tempo dulu, memang sistem pendidikan hanya guru yang aktif di dalam kelas. Yang nantinya akan menimbulkan siswa stagnan dan merasa bosan dalam proses pembelajaran. Sedangkan pendidikan itu bertujuan memanusiakan manusia bukan mengkerdilkan siswa.
    Sebenarnya, "All back your self" bagaimana kita sebagai guru mampu menguasai kompetensi guru dan kreatif dalam pelaksanaan pembelajaran. Bagaimana kita sebagai guru mampu mendorong terbentuknya karakter siswa yang positif.
    Jadi, kita sebagai guru harus menyadari dan meyakini bahwa ketika kita ingin merevolusi pendidikan bahwa sebenarnya semua akan tercapai dengan taufiq dan hidayah Allah SWT, usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh kebijaksanaan.

    Nama : Siti Habibatur Rohmah
    Sekolah : SDN Dawung 02
    Twitter : bibahrhmh

    BalasHapus