Rusmannulis
Sabtu, 27 Oktober 2018
GUGUSKU BAGAIKAN TANAMAN MENUNGGU DISIRAM
Judul tulisan ini, hem.. sepertinya sengaja ditulis sebagai sindiran terhadap keadaan nyata dari gugus sekolah di tempatku. Tentu saja hatiku merasa tergelitik, setengah tidak bisa menerima sentilan yang menyakitkan itu. Sebagai seorang yang telah cukup lama berkecimpung di bidang pendidikan dan hidupkupun sedikit banyak tergantung dari profesi ini, terus terang aku merasa tersinggung. Tak tahu apa yang dimaksud penulis dengan menuangkan judul yang menurutku sembarangan saja itu.
Pertama, aku tidak bisa menerima karena bagaimanapun juga orang-orang yang bernaung di organisasi ini (tentu termasuk aku lah) adalah insan yang terhormat. Bagaimana tidak, kita ini adalah guru-guru atau kaum pendidikyang pasti di hadapan orang tua atau setidaknya para siswa mendapatkan tempat yang khusus. Terhormat begitulah !
Yang kedua, kita-kita ini setiap hari selalu saja berkecimpung di dunia mengajar, melatih, bahtingkan mendidik. Orang berkata kita ini adalah sumber belajar utama atau resourche of knowledge, patern of norm, atau pokoknya yang semacam itulah.
Dan yang ketiga, lha ini yang paling penting bahwa kita adalah orang yang sudah kenyang makan asam garamnya orang berorganisasi. Soal bekerja sama dengan sesama guru, kita adalah orangnya. Soal mengelola kelas dan sekolah, kita tokohnya. Apalagi hal yang terkait dengan pengelolaan anggaran, pengelolaan SDM, atau bahkan mengatasi berbagai kesulitan tentu kita sudah terbiasa semua. Jadi ..., kembali pada judul yang dipasang di atas, terus terang aku kurang setuju lah, meskipun aku juga tidak bisa menyalahkan.
Tapi kalau aku lihat dan aku rasakan kayaknya sudah lama juga ya pengurus gugus ini tidak mengundang rapat. Sudah kira-kira 6 bulan atau 7 bulan gitu kami tidak pernah berkumpul lagi. Dulu memang sering saat gugus kami ditunjuk mewakili lomba. Saat itu kami para pengurus dan teman-teman guru lain bagaikan tiada hari tanpa rapat.
Banyak yang harus kami kerjakan, mulai dari administrasi, menghias kelas, memperindah halaman, atau bahkan berlatih tentang pembelajaran. Banyak pula orang tua siswa yang kami libatkan, sering bertemu dan sampai sekarang juga masih kenal. Pak guru kok enjing, bu guru mangga, itu kalau kami bertemu dengan mereka sampai saat ini.
Kayaknya benar juga, kami perlu bertemu lagi untuk menghidupkan kembali silahturahmi yang sempat terputus. Beberapa hari kemarin memang teman-teman guru bertemu membahas penyusunan soal kisi-kisi, soal UTS, dan semacamnya. Tapi rasanya bukan itu saja yang perlu kami hidupkan lagi, ada suasana yang penting untuk kami nikmati lagi, ada atmosfir yang kami rindukan, mulai dari kebersamaan, keakraban, kekompakan, dan untuk itu darah organisasi harus kembali mengalir di antara sumber-sumber kekuatan yang kami miliki.
Tapi bagaimana ya memulainya ? Hem... !
***
.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Bagai mimpi disiang bolong "untuk menyiram tanaman gugus' karena seni keterpaksaan akan membuahkan hasil keikhlasan yang membahagiakan siswa...semangat berubah menuju kebersamaan dalam memamen buah dari gugus2 kita..😊
BalasHapusSeni adalah talenta bagi semua orang.Dan dengan talenta itu, semua pasti akan ketemu.Salam!
HapusKita harus mempunyai kekuatan dan semangat yg tggi untuk menghidupkan gugus kami yg fakum n kondusif.demi kelancaran kbm dan suksesnya dunia pendidikan.meski berat kita jalankan namun dg semangat kebersamaan akan mjd kebiasaan dg didasari rasa ikhlas.
BalasHapus👍👍terimakasih masukannya..bagus dan teruskan. Kami tunggu!
Hapus👍mks ya komentar2nya.. bagus. Teruskan selalu menggali inspirasi.
BalasHapus