-

Rusmannulis

Minggu, 16 Mei 2021

AUTO BIOGRAFI PENULIS



Rusmantuban atau Rus Rusman bernama lengkap: Drs. Rusman, M.Pd. 

Adalah penulis yang tinggal di Kabupaten Tuban Propinsi Jawa Timur. 

Nama aslinya adalah Rusman, lahir di Kecamatan JATIROGO Tuban pada bulan Desember tahun 1961. 

Setelah lulus dari SDN Wotsogo II Jatirogo, berlanjut ke SMPN I di kota yang sama. Menempuh bangku SPG Negeri di Tuban dan lulus tahun 1980. 

Berlanjut pula ke jenjang Sarjana Muda IKIP PGRI Tuban lulus tahun 1985, Sarjana Kurikulun Dan Teknologi Pendidikan (1988), dan Magister pendidikan (2005). 

Dari segi karier: 

Pada Desember 1981 diangkat sebagai Guru SDN Besowo, lalu SDN Ngepon (1983), SDN Paseyan II (1985), SDN Socorejo Kec. Jenu (1988) dan SDN Patihan Kec. Widang (1990). 

Pada Juli 1994 diangkat sebagai Kepala SDN Simorejo I Kec. Widang, lalu mutasi ke SDN Tegalsari I (2000). 

Pada Nopember 2002 diangkat sebagai Pengawas SD di Kecamatan Senori Tuban, Pengawas SD Kec. Kerek (2003), dan Pengawas SD Kec. Palang (2010). 

InsyaAllah pada bulan Januari 2022 akan memasuki masa pensiun.


PENGALAMAN KERJA 

Pada tahun 1990 Rusman ikut bergabung sebagai Koresponden Harian Karya Darma yang bermarkas di Surabaya.

Penulis lepas di Harian Jawa Pos, membuka Biro Penulisan Skripsi dan sebagai Konsultan Informal Penelitian di bidang pendidikan. 

Rusman juga berkiprah di bidang organisasi, antara lain sebagai Kordinator Pengawas sekolah Kabupaten Tuban (2011-2018).

Sebagai Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Kabupaten Tuban (2008-2017), sebagai Pengurus Pusat APSI (2007-2012). 

Menjadi Tim Penilai Angka Kredit Jabatan Guru Propinsi Jawa Timur (2007-2009), Asesor Akreditasi TK dan SD (2004-2019), Tim Penilai PKKS Kab.Tuban, Lomba Gugus TK dan SD, dan Lomba Budaya Mutu.

Pada tahun 1990 terpilih sebagai Guru Teladan II Kab. Tuban dan tahun 2007 terpilih sebagai Pengawas sekolah berprestasi Kab. Tuban.

Pada awal tahun 2002 menjadi Juara III Nasional dalam lomba menulis desain pembelajaran bermuatan karakter bagi guru SD se Indonesia.

Sekarang aktif dalam kegiatan menulis bidang pendidikan, sejarah dan seni budaya, melalui:

1. Facebook Rus Rusman

2. Blog rusmannulis

3. Youtube Rus Rusman

4. WA: 081335643562

Senin, 14 Desember 2020

DUA ALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Oleh: RUSMAN

“Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun kang katon tinonton kono"

 
(Serat Wredatama, 67, KGPAA Sri Mangkunegara IV).

Artinya:

 
Saat kita dalam kehati-hatian penuh, maka yang nampak adalah diri pribadi seutuhnya.

 
Begitulah raden Wrekudara yang tak lain adalah Bima, pada suatu hari telah diperintahkan oleh sang guru yakni Guru Drona untuk mencari tirta amerta ke dasar samodra. 

Menurut Guru Drona tirta amerta adalah air kehidupan, siapapun yang memperolehnya ia akan memikiki hakekat hidup seutuhnya. 

Setiap manusia memiliki dua alam, ialah mikrokosmos yang tak lain adalah dunia dalam diri pribadi, sedang alam satunya adalah makrokosmos yakni alam semesta dengan segala isinya.

 "Dua-duanya ada di dalam air kesucian itu ngger. Dan di antara semua muridku hanyalah kau Bima yang akan mampu mendapatkannya." Kata Guru Drona. 

 "Baik guru, apapun perintahmu aku akan lakukan." Jawab si murid tanpa bertanya lagi.

 Maka berangkatlah Bima ke dasar samodra. Sebenarnya ini hanyalah suatu siasat yang dibuat Drona atas permintaan kurawa agar Bima mengalami mala petaka. 

Jebakan yang pertama telah dibuat namun tak mampu mencelakakan panengah Pandawa itu. Bima telah ditugaskan Drona untuk mengambil air kesucian di sebuah goa di puncak gunung Candradimuka. 

Namun berkat pengawalan Anoman maka kakak Arjuna itu bisa selamat. Namun kini Guru Drona telah membuat penjerat baru, ialah agar Bima mencari air amerta itu ke dasar lautan. 

Bima adalah lambang kejujuran, dan orang jujur selalu di sisi Tuhan. Maka tanpa prasangka apapun satriya tinggi besar itu segera menuruti perintah gurunya. 

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, namun Bima belum muncul juga. Menangislah hati Drona, yang ada hanyalah penyesalan nengapa dia begitu tega terhadap muridnya yang sangat setia kepadanya itu.

 Pikir punya pikir akhirnya Drona pun bertekad untuk menyusul Bima ke dalam lautan. Tekadnya hanya satu, menolong Bima meskipun harus berkorban nyawa sekalipun. 

Demikianlah ketika dua orang itu sudah sekian lama tak kunjung kembali, maka pendhawa dan kurawa pun membuat kemah di tepi pantai. 

Puntadewa dan adik-adiknya tak senggang sedikitpun selalu berdoa agar Bima dan Drona keduanya dalam keadaan selamat (dan akhirnya dikabulkan). 

Sedangkan Duryudana dan adiknya tak henti-hentinya menangis dan berteriak memanggil nama Drona agar segera kembali. Tetapi ternyata di dasar samodra Bima yang lugu dan jujur itu dilindungi oleh Tuhan.

 Setelah melalui berbagai ujian dan rintangan Bima justru memperoleh kemuliaan. 

Sekali lagi: Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun kang katon tinonton kono" Itulah gambaran yang telah dialami oleh Bima saat berada di dasar samodra.

 Dalam keadaan antara hidup dan mati di mana Bima mengalami berbagai ujian, maka yang ada hanyalah tekad untuk menjalankan perintah sang Guru. 

Maka di antara batas dua alam itu Bima justru menemukan kebenaran sejati. Bima telah menemukan jati dirinya, yaitu sesosok bima dalam bentuk keramat dan kecil.

 Dialah Dewa Ruci yang tidak lain adalah intisari Bima sendiri. Dewa Ruci adalah Bima dalam bentuk kecil (Bima Kunthing). 

Dewa Ruci adalah Bima di pintu kesadaran manusiawi. Dewa Ruci adalah saripati dari Bima sendiri yang muncul dalam kepasarahan total kepada Sang Maha Pencipta. 

Alam Barzakh Sebenarnya alam yang dijalani Bima itu telah diajarkan pula oleh Ibnu Arabi, seorang sufi yang amat terkenal di dunia Islam. 

Beliau menyebutnya sebagai alam imajinal atau alam barzakh (antara). Alam antara dunia dan akhirat, antara materi dan ruhaniah. 

Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Arabi Al-Hasmi atau dikenal dengan nama Ibnu Arabi (1165-1240M) merupakan ulama besar di dunia Islam. 

Beliau menjelaskan pula bahwa sifat alam ini masih merupakan campuran antara materi dan ruhaniah. Meskipun begitu sifat alam ini kedudukannya lebih tinggi dari alam keduniawian. 

 Sementara itu Plato telah menguraikannya pula jauh sebelum manusia tahu akan sejarahnya. Plato adalah seorang filosof Yunani (427- 347 SM), dia berpendapat bahwa semua jiwa manusia pada hakekatnya merindukan kegaiban.

 Dunia inilah yang pada intinya akan dicapai oleh siapapun. Tetapi manusia akan selalu menghadapi hambatannya. Mereka sering salah dalam mengambil jalan, acap gagal dalam mencapai kebaikan.

 Itulah sebabnya baik Plato maupun Ibnu Arabi menasehatkan agar manusia selalu berhati-hati, jangan sampai tergelincir ke bawah sadarnya dan kehilangan keseimbangan jiwani. 

Dalam cerita pewayangan misalnya, hilangnya keseimbangan jiwa itu pernah dialami oleh dua tokoh sakti, ialah Prabu Arjuna Sasrabahu dan Ramabargawa. 

Meskipun konon keduanya sempat dititisi jiwa Wisnu, namun mereka menjadi tergelincir karena keangkuhannya sendiri. 

Prabu Arjuna Sasrabahu yang amat sakti itu menjadi gila karena ditinggal mati oleh permaisurinya karena ulah Rahwana. 

Maka hidup sang raja itu selanjutnya bagaikan layang-layang putus talinya. Sementara Ramabargawa atau Ramaparasu mengalami degradasi mental dan menganggap bahwa hakekat hidupnya adalah justru kematian itu sendiri, sebab baginya kematian adalah kebaktian yang paling sempurna. 

Syahdan, pada suatu hari dalam pengembaraannya Arjuna Sasrabahu yang mantan raja agung Maespati itu tiba-tiba perjalanannya terhalang oleh sesosok tubuh yang kekar, tinggi besar dan hanya memakai cawat seperti manusia purba. 

Meski demikian ternyata dari tubuhnya telah memancar sinar yang cemerlang. Di tengah kekagumannya itulah Arjuna Sasrabahu tanpa sadar berkata : 

"kini aku menemukan Wisnu". 

Sebaliknya si purba Ramabargawa yang juga melihat cahaya terang dari tubuh Arjuna Sasrabahu iapum berkata:

 "Aku telah bertemu dengan siapa yang kucari, ialah kau Wisnu". 

Setelah kedua-duanya saling berpandangan, maka terjadilah dialog: 

"Hai, bukankah engkau Wisnu? Tolonglah aku, binasakan aku," ujar Arjuna Sasrabahu. 

Ramabargawa menjawab: "jangan menggigau, engkaulah yang wisnu. Hayo binasakan aku, lemparkan senjata cakra itu."

 Agaknya kedua sosok itu sama-sama merindukan kematiannya. Karena dua-duanya adalah wisnu yang keadaan samar maka yang bisa membinasakan mereka haruslah wisnu juga. 

Kewisnuan Arjuna Sasrabahu telah redub karena akan sirna, sedang si purba Ramabargowo kewisnuannya baru akan mesanggrah. 

Maka terjadilah pergulatan yang amat seru di antara kedua orang sakti itu. Prabu Arjuna adalah raja yang pernah mengalahlkan Rahwana, bahkan si Dasamuka itu telah dihukumnya dengan cara mencincang tubuhnya dan menyeret dengan kereta kerajaan. 

Sedangkan di pihak lain Ramabargawa telah berhasil membunuh semua ksatria yang dijumpainya karena dendamnya atas perbuatan nista Raden Citrarata kepada ibunya. 

Namun perang tanding antara kedua satriya sakti itu telah membuat raja Maespati Prabu Arjuna Sasrabahu terbunuh.

 Sepeninggal Arjuna Sasrabahu, maka Ramabargowo menerima keutuhan wisnunya. Akhirnya dia memilih untuk menjadi pertapa di tempat yang belum pernah diinjak manusia. 

Tapi bagi pertapa sakti ini roda kehidupan ternyata harus tetap berputar, apalagi sejak seorang lelaki telah menemukan tempatnya. Tidak lain adalah Raden Dewa Brata pangeran Astina yang akhirnya menjadi muridnya pula. 

Dewa Brata ini kelak dikenal pula dengan nama Begawan Bisma, yaitu pewaris asli Kerajaan Gajahoya atau Liman Benawi atau Astina. 

Jadi pelajaran yang dapat kita petik dari uraian di atas adalah bahwa manusia tidak bisa hidup sempurna. 

Agar dapat mencapai kebaikan penuh maka pertama ia harus “tarlen mung pribadinipun” yang artinya sering berintrospeksi, mengaca, atau mengenal diri sendiri. “Man arafa nafsahu arafa rabbahu”. 

Barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya. 

Kedua ia harus pandai pula mengendalikan hawa nafsunya demi kebaikan sesama. Banyak mengekang kemauan dan mengutamakan keikhlasan. 

Jika manusia masih banyak kemauannya maka ia akan menemukan kekecewaannya. 

Jika ia banyak kekecewaannya maka ia akan terbelenggu kedewasaannya, dan jika ia tak mencapai kedewasaannya maka manusia akan dikuasai hawa nafsunya. 

Demikian semoga berguna.*** 

Keterangan: 

Penulis adalah pengawas sekolah senior di Kabupaten Tuban.

Senin, 29 Juni 2020

NASEHAT SULTAN AGUNG DALAM SATRA GENDHING



*Pramila Gending Yen Bubrah. Gugur sembahe mring Widdhi*

*Batal wisesaning salat. Tanpa gawe ulah gending*

*Dene ngaran ulah gending. Tukireng swara linuhung*

*Amuji asmaning Dzat. Swara saking osik wadi*

*Osik mulya wataring cipta surasa.*

*TERJEMAHAN:*

*….Maka gending apabila rusak. Rusak pula peribadahan kepada Tuhan*

*Batal kehidmatan shalat. Tanpa guna melakukan gending*

*Adapun tembang gending itu. Melalui irama yang agung*

*Memuji ASMA DZAT. Irama dari kedalam rahasia*

*Rasa rahasia mengendap dalam sukma.*

(https://salafytobat.wordpress.com/2018/06/29/serat-sastra-gendhing)

Sabtu, 02 Mei 2020

JALAN BERLIKU SEJARAH MATARAM


OLEH: KI GURU RUSMAN



Priya bertubuh dempal dengan kumis tebal melintang itu bernama Raden Mas Rangsang atau Pangeran Jatmika. Dia adalah putra Sultan Hanyokrowati (1601-1613), raja ke-2 Kerajaan Mataram Islam patutan dengan Dyah Banowati putri Pangeran Benowo.

Kini setelah duduk sebagai raja ke-3 di kasultanan Mataram iapun mengenakan gelar Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo (1613-1645).

Sehari setelah pelantikannya sebagai sultan, pria itu merenungkan perjalanan hidupnya, sekilas rasa bersalah terhadap adik tirinya sempat membayang dalam pikiran.

Adimas Wuryah adalah adik yang sangat disayanginya meskipun ia bukanlah saudara seibu. Sementara eyang Juru Martani dengan gamblang telah membeberkan duduk persoalannya.

Konon sebelum Rama sultan Hanyokrowati atau Raden Mas Jolang menikahi ibuku, beliau telah memiliki istri ibunda Tulungayu Dari kadipaten Ponorogo. Waktu itu mendiang Rama Sultan Hanyokrowati masih berkedudukan sebagai calon raja (Putra Mahkota).

Menurut eyang Martani, Rama pernah berjanji kepada istrinya bahwa kelak jika dirinya jumeneng nata yang akan menggantikan beliau sebagai Putra Mahkota adalah anak yang lahir dari rahim ibunda Tulungayu.

Tapi karena lama sekali tidak dikaruniai anak maka Rama kemudian menikah lagi dengan ibu Dyah Banowati sekar kedaton dari kadipaten Pajang. Dari rahim ibunda Banowati itulah kemudian lahir diriku.

Tentu saja ketika Rama jumeneng sultan menggantikan raja ke-1, yaitu eyang Panembahan Senopati (1587-1601), rama sultan lantas mengangkat diriku sebagai Putra Mahkota.

Tetapi ternyata Tuhan menciptakan kisah hidup manusia tidaklah sesederhana itu. Empat tahun setelah pengukuhanku sebagai pangeran utama, tanpa disangka ibunda Tulungayu anggarbeni dan lahirlah Adimas Wuryah.

Adalah kebetulan sekali, mungkin sudah ginaris ing pepesthen bahwa Adimas Wuryah lahir dengan keadaan kurang beruntung, yakni ia memiliki cacad atau tuna grahita.

Menyadari akan hal itu maka menjelang wafatnya Rama Sultan Hanyokrowati berpesan agar sebelum diriku duduk di singgasana, Adimas Wuryah harus dinobatkan dulu sebagai raja sehari, yaitu sebagai bukti dari janji Rama sultan terdahulu.

Sabdo pandhita pangandikaning ratu datan kena wola-wali.

Begitulah yang terjadi waktu itu, setelah di pagi hari Adimas Wuryah mengenakan ageman keprabon dan duduk di kursi singgasana maka pada sore harinya semua atribut itu lantas berpindah pada diriku. Semua itu dipandu oleh sesepuh utama, ialah kanjeng eyang Juru Martani.

Bismillah, ingsun amung sadermo, tan ambibiti ala, mula wahyuning keraton tan bakal sirna.

Sigap tanggap cerdas trengginas, begitulah jika Sri Sultan Agung Hanyokrokusuma telah bertekad menerima amanah para leluhur. Dan sudah menjadi wataknya, sekali kaki melangkah tak akan ada yang membuatnya jengah.

Eling-eling Raden Rangsang adalah tedhaking Kusuma rembesing madu,  sekali tangan bersedekap menyatukan cipta rasa karsa maka dhel .., seleret asap tipis mengitari sakujur sarira. Seketika hening - heneng - hanung.


".. sesungguhnya Allah beserta dengan orang-orang yang sabar .... maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah" (QS: Al-Ma’arij ayat 5)

Itulah pertanda terbentuknya harmonisasi antara makrokosmos (jagat gedhe) dan mikrokosmos (ndonya cilik) di mana orang-orang pilihan senantiasa mampu menjadi titik keselarasan hakekat alam semesta dan cita-cita luhur kemanusiaan.

Dan Sultan Agung Hanyokrokusuma sebagai pewaris perjanjian mistis antara segitiga kekuatan, yaitu Panembahan Senopati, Ratu Laut Selatan dan Penguasa Merapi (Ki Juru Taman) artinya beliau telah menyediakan diri untuk menjadi ajang (layah) bagi jantraning lelakon sejati.


**

MALAM INI di kamar paleremannya, sultan Agung Hanyokrokusuma sengaja ingin menyendiri. Ia sudah berpesan untuk tidak diganggu oleh siapapun, meski itu oleh nimas ayu permaisuri.

Apa yang harus aku lakukan dalam kedudukanku sebagai raja? Pikirannya melayang-layang memenuhi isi batinnya. Bisakah aku menjunjung tinggi amanat para leluhur, mengibarkan bendera Mataram sebagai kerajaan besar?

Maka lamunan sang sultan muda itupun segera merayap menelusuri kebesaran silsilah keluarganya. Urutan darah leluhur yang terus saja akan selalu membuatnya senang dan bangga.

Sesuai dengan isi kitab pusaka keraton Mataram yang sempat dibacanya, konon orang-orang besar kerajaan Majapahit adalah merupakan leluhur para raja Mataram.

Jika diurut dari keberadaan Rama Sultan Hanyokrowati adalah putra Panembahan Senopati, + putra Ki Ageng Pemanahan, + putra Ki Ageng Enis, + putra Ki Ageng Sela, + putra Ki Ageng  Getas Pandawa, + putra Ki Bondan Kejawen/lembu peteng, + putra Brawijaya V raja Majapahit (Soedjito Abimanyu, Sejarah Mataram, 2015: 30).

Mengingat itu semua tiba-tiba saja sang sultan muda meraba punggungnya. Pelan ia menghunus keris piandelnya. Matanya yang tajam memandang lama benda itu seolah-olah ada yang perlu ia cerna di antara gerat-gerat logam pusaka.

Tiba-tiba saja tubuh yang dempal itu bergetar hebat, sambil terus memandang keris di tangannya mulut berkomat-kamit membisikkan sesuatu yang tak jelas. Semakin lama getaran badannya kian bertambah keras, kini tubuh itu bahkan bergoyang-goyang, keringat pun bagaikan gerimis keluar dari lubang pori-porinya.

Pria itu sekarang tak peduli lagi, entah apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Tapi Sultan Agung tetap teguh pendirian, tak hendak melepaskan keris piandelnya, tak akan pula berhenti memandang dan mengucap do'a-do'a mantranya.

Hai kalian semua saudara sinorowedi, Mar Marti kakang Margo Ino, Kakang Kawah sedulur putih yang ada di timur, Adi ari-ari sedulur kuning yang ada di barat, Getih abang yang ada di selatan, si Puser sedulur hitam yang ada di utara, dan Sedulur"Pancer" yang ada di tengah.

Mari bergandeng tangan dengan saudara kalian si Rangsang, aku butuh bantuan kalian seperti saat kita bersama brol keluar dari guwo garbo ibu. Oh, saudaraku lingkari aku, jangan ada lubang sekecil apapun yang dapat tertembus oleh siapapun.

"Ingsun nedya ngumboro !"

DAN TIBA-TIBA saja tubuh yang semula bergetar penuh keringat itu kini  berangsur tenang, lees ..., tersandar dinding di sudut ruang. Sedang keris pusaka yang semula tegak tergenggam kini lungkrah di pangkuan. Matanya terpejam, tiada gerakan sedikit apapun.

Yang ada hanya wadag, sementara sang sukma sejati tengah berkelana menjalani sebuah lelakon. Itulah ajian rogoh sukma atau lelaku astral yang telah dikuasai sang sultan secara turun temurun.

Sultan menganggap lelaku ini harus ia lakukan, setidaknya untuk saat ini juga, karena dirinya ingin memastikan masihkah sinyal-sinyal energi dalam segitiga mistik yang pernah terhubung itu bisa dihidupkan kembali.

Bisakah Kanjeng Ratu Kidul dan Ki Juru Taman Merapi memandangku sebagai figur pengganti eyang Panembahan Senopati? Bisakah bukit Geger Boyo yang membentengi Mataram dari amukan lahar tetap dipertahankan?

Itulah misi utama sang sukma agung angumboro, menerjang kedalaman dasar samudra serta menelusup mega mendung andedel pethit ing arga. Sementara di ruang semedi para dulur sinorowedi puguh kukuh angugemi ing sesanggeman.***

(Bersambung)

Tasikmadu-Palang-Tuban.